NovelToon NovelToon
Alea & Adrian

Alea & Adrian

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Percintaan Konglomerat / Pernikahan rahasia / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.

Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.

Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Arsip 17

Sepanjang perjalanan pulang dari kediaman lama keluarga Corisand, keheningan yang tebal menyelimuti kabin mobil.

Tidak banyak percakapan yang terjadi di antara mereka berdua.

Hanya deru halus suara mesin sedan hitam milik Adrian dan ketukan ritmis dari rintik hujan yang sesekali kembali turun, membasahi kaca depan lalu disapu oleh wiper.

Pikiran Adrian dan Alea sepenuhnya tersedot oleh hal yang sama. Sebuah frasa yang mendadak terasa begitu sakral dan intimidatif,

Arsip 17.

Nama itu sebenarnya terdengar sangat sederhana, hampir seperti penomoran inventaris biasa di gudang perusahaan.

Namun, entah mengapa, kombinasi satu kata dan dua angka tersebut menyimpan beban psikologis yang begitu besar.

Terutama setelah mereka menemukan catatan tulisan tangan George Corisand yang terselip di album foto usang tadi.

"Jika kalian menemukan ini, berarti Aurora telah bangkit kembali."

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepala Alea.

Itu tidak terdengar seperti pesan hangat dari seorang ayah kepada putrinya.

Kalimat itu terasa dingin, sarat akan kalkulasi, dan lebih mirip sebuah peringatan darurat. Atau mungkin, sebuah warisan kelam yang sengaja ditunda penyampaiannya hingga waktu yang tepat tiba.

"Apa rencanamu setelah ini?" Alea akhirnya memecah keheningan, menoleh menatap profil samping wajah Adrian.

Adrian tetap fokus menyetir, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan erat. Sorot matanya lurus menembus jalanan yang basah.

"Kita langsung ke Arsip 17."

"Hari ini? Sekarang juga?" Alea sedikit terkejut dengan keputusan instan itu.

"Kalau kita menundanya bahkan hanya untuk beberapa jam, seseorang bisa lebih dulu sampai ke sana," jawab Adrian dengan nada suara yang dalam dan tanpa keraguan.

Alea terdiam, tidak bisa membantah argumen pria di sampingnya.

Adrian benar. Mereka sudah terlalu sering merasa tertinggal satu langkah dalam permainan bayangan ini.

Setiap petunjuk yang muncul belakangan ini mulai dari panel keamanan di penthouse hingga album foto di rumah lama selalu seolah-olah sengaja diletakkan untuk menunggu mereka.

Namun di saat yang sama, petunjuk-petunjuk itu juga terasa sangat rapuh, seakan bisa lenyap atau dihancurkan oleh pihak lain kapan saja.

"Kita bahkan tidak tahu tempat itu masih ada atau tidak," gumam Alea ragu, menatap keluar jendela ke arah deretan pohon yang bergerak mundur.

"Itu peta lama, Adrian. Daerah pinggiran kota bisa saja sudah berubah total dalam dua dekade."

"Kita akan segera mengetahuinya," sahut Adrian pendek.

Dua jam kemudian, mobil Adrian akhirnya meninggalkan batas terluar pusat Kota Valerika.

Pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang megah dan modern berangsur-angsur digantikan oleh lanskap yang kelam kawasan industri tua yang dibangun pada era pertengahan abad lalu.

Jalanan di sekitar mereka semakin sepi.

Aspalnya mulai berlubang dan digenangi air hujan.

Semakin jauh mereka berkendara, semakin terasa mereka sedang bergerak mundur membelah waktu, menjauh dari peradaban dan keramaian.

Kabut tipis yang dingin tampak menggantung rendah di antara bangunan-bangunan pabrik dan bengkel tua yang sebagian besar telah terbengkalai, dengan dinding-dinding beton yang menghitam oleh lumut dan jamur.

Layar GPS di dasbor mobil menunjukkan bahwa mereka semakin dekat dengan titik koordinat yang ditandai dengan lingkaran merah pada peta peninggalan George Corisand.

Setelah melewati tikungan terakhir yang sepi, mereka akhirnya tiba di depan sebuah kompleks pergudangan tua yang terisolasi.

Sebuah gerbang besi besar yang menjulang tinggi berdiri kokoh menghadang jalan. Cat hitamnya sudah mengelupas parah, memperlihatkan karat kemerahan di seluruh permukaannya.

Tulisan atau logo perusahaan yang pernah terpampang di papan atas gerbang sudah pudar dan hampir tidak bisa dibaca lagi akibat hantaman cuaca selama bertahun-tahun.

Namun, ada satu penanda yang masih terlukis jelas dengan cat putih yang tebal pada pilar beton di sebelah gerbang.

17

Alea merasakan sekelumit rasa dingin merayap di tengkuknya.

Bulu kuduknya berdiri.

"Mereka... mereka benar-benar menyembunyikannya di tempat seperti ini."

Adrian menghentikan mobil tepat di depan gerbang, lalu mematikan mesin.

Tatapan matanya yang tajam segera menyapu area sekitar melalui kaca depan dan spion.

Sepi. Terlalu sepi. Tidak ada tanda-tanda aktivitas manusia, tidak ada kendaraan lain, bahkan tidak ada suara burung.

Sebagai seorang pria yang terbiasa menganalisis risiko dan membaca situasi bahaya, insting Adrian langsung mengirimkan sinyal tidak nyaman.

Ada sesuatu yang janggal dari kesunyian ini.

"Jangan jauh-jauh dariku, Alea," ucap Adrian seraya melepas sabuk pengamannya.

Alea menoleh, menatap wajah Adrian yang tampak tegang.

Ada sesuatu yang berbeda dalam nada suara pria itu kali ini. Itu bukan lagi nada perintah dingin dari seorang bos kepada bawahannya, bukan pula kesombongan seorang penerus takhta keluarga Hutama.

Melainkan sebuah nada kekhawatiran yang tulus dan protektif.

Dan entah mengapa, di tengah atmosfer tempat yang menyeramkan ini, kepedulian Adrian membuat dada Alea terasa sedikit hangat.

Mereka berdua turun dari mobil.

Udara di kawasan industri ini terasa lebih menusuk dan berbau besi berkarat.

Ketika mereka mendekati gerbang utama, Adrian mendapati bahwa gerbang tersebut ternyata tidak digembok secara resmi.

Pintu besi itu hanya ditahan oleh lilitan rantai tua yang sudah berkarat sepenuhnya.

Dengan mengerahkan sedikit tenaga dan dorongan bahunya, Adrian berhasil memutuskan kaitan rantai yang rapuh itu.

Gerbang besi terbuka dengan suara derit nyaring yang memecah kesunyian, menggema di antara dinding-dinding luar kompleks.

Mereka melangkah masuk ke dalam area halaman, lalu menuju pintu masuk utama gudang nomor 17.

Bagian dalam gudang itu ternyata jauh lebih luas dari perkiraan awal mereka jika dilihat dari luar.

Rak-rak logam raksasa setinggi hampir sepuluh meter berjajar rapi memenuhi ruangan, menciptakan lorong-lorong gelap yang panjang.

Sebagian besar rak tersebut sudah kosong melompong.

Namun, di beberapa sudut, masih terdapat tumpukan kotak-kotak arsip kardus yang telah tertutup lapisan debu tebal selama bertahun-tahun.

Sinar matahari pagi yang redup menembus celah-celah kecil dan lubang pada atap seng yang bocor, menciptakan berkas-berkas cahaya panjang yang memotong kegelapan udara di dalam gudang.

Butiran debu beterbangan di dalam berkas cahaya itu seperti kabut tipis yang bergerak lambat.

Tempat ini terasa seperti sebuah kapsul waktu, membeku dan terjebak di masa lalu, seolah sengaja dilupakan oleh dunia luar.

"Aneh," gumam Alea pelan, suaranya berbisik namun terdengar jelas karena gema ruangan.

"Apa yang aneh?" tanya Adrian yang berjalan selangkah di depannya, selalu memasang posisi waspada.

"Kalau tempat ini menyimpan dokumen atau rahasia yang begitu penting hingga Ayah harus menyembunyikannya dalam amplop emas, kenapa tidak ada penjaga sama sekali? Kenapa dibiarkan terbuka begitu saja?"

Adrian mengangguk perlahan, matanya terus bergerak meneliti setiap sudut gelap di balik rak.

"Aku juga memikirkan hal yang sama. Segala sesuatu yang kita temukan hari ini terasa... terlalu mudah. Dan dalam pengalaman hidupku, sesuatu yang terasa terlalu mudah biasanya menyimpan bahaya besar."

Mereka mulai menjelajahi isi gudang secara metodis.

Satu per satu lorong di antara rak-rak logam raksasa itu mereka periksa.

Kaki mereka melangkah dengan hati-hati di atas lantai beton yang berdebu, berusaha tidak menimbulkan suara bising.

Sampai akhirnya, langkah Alea terhenti di ujung lorong terdalam gudang.

Matanya menangkap sebuah anomali di balik struktur bangunan.

"Adrian, lihat ini."

Pria itu segera berbalik dan mendekat ke posisi Alea.

Di bagian dinding paling belakang gudang, tersembunyi dengan sangat rapi di balik sebuah rak arsip logam besar yang sengaja digeser sedikit miring, terdapat sebuah pintu baja kecil berwarna abu-abu gelap.

Jika seseorang tidak berjalan hingga ke titik terdalam dan memperhatikan sela-selanya dengan saksama, hampir mustahil untuk bisa menemukan keberadaan pintu ini.

Namun, yang paling mengejutkan adalah apa yang terpasang di tengah-tengah pintu baja tersebut.

Sebuah panel angka elektronik.

Modelnya memang terlihat seperti teknologi dari dua dekade lalu, namun lampu indikator kecil pada panel tersebut masih menyala merah terang.

Alat itu masih memiliki aliran listrik. Masih berfungsi dengan sangat baik, meskipun seluruh bangunan di sekelilingnya tampak sudah mati dan ditinggalkan selama bertahun-tahun.

"Kau lihat itu?" bisik Alea, tangannya tanpa sadar meremas ujung jaket Adrian.

Adrian mengangguk pelan, rahangnya mengencang.

"Seseorang masih merawat tempat ini secara rahasia. Atau setidaknya, seseorang memastikan pasokan listrik ke pintu ini tidak pernah terputus."

Tepat di bawah panel angka elektronik tersebut, terdapat sebuah pelat logam kecil dengan tulisan grafir yang sudah agak memudar, namun masih bisa terbaca dengan jelas di bawah sorotan lampu ponsel Adrian:

AURORA ARCHIVE

Jantung mereka berdua berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Untuk pertama kalinya sejak awal pencarian penuh teka-teki ini, nama itu muncul secara resmi dan fungsional.

Bukan lagi sekadar coretan di atas kertas catatan pribadi George yang robek, bukan sekadar nama file digital yang terkunci di server Hutama, dan bukan lagi spekulasi liar di kepala mereka.

Melainkan bagian integral dari sebuah tempat fisik yang nyata.

Adrian melangkah maju, mengangkat tangannya, dan mencoba memasukkan beberapa kombinasi angka standar yang biasa digunakan dalam protokol lama keluarganya.

Tet... Lampu merah berkedip. Gagal.

Ia mencoba lagi menggunakan tanggal berdirinya holding perusahaan mereka. Tet... Gagal lagi.

Ia mencoba memasukkan nomor registrasi bisnis pertama milik keluarga Corisand.

Hasilnya tetap sama. Panel elektronik itu tetap dingin dan menolak akses masuk.

"Harus ada petunjuk di sekitar sini. Sistem ini tidak akan dibuat tanpa kunci yang logis bagi pembuatnya," kata Adrian, mulai merasa frustrasi saat meneliti sela-sela bingkai pintu baja.

Alea melangkah lebih dekat, mengamati tulisan di bawah panel dengan mata menyipit. Kemudian, sebuah detail kecil menarik perhatiannya. Di pojok kanan bawah pelat logam tersebut, terdapat sebuah ukiran kecil yang sangat halus.

Sebuah simbol berbentuk matahari dengan garis-garis sinar yang tegas. Simbol yang persis sama dengan yang ada pada segel amplop cokelat peninggalan ayahnya.

"Aku pernah melihat simbol matahari ini sebelumnya," kata Alea tiba-tiba.

Adrian menoleh cepat. "Di mana?"

"Di amplop emas milik Ayah yang kita temukan di rumah lama. Simbol ini adalah kunci visualnya." Alea menatap panel angka itu dengan kening berkerut, mencoba memutar otak.

Mereka saling berpandangan dalam remang-remang cahaya gudang, dan kemudian, seolah ada sirkuit yang terhubung di kepala mereka, keduanya hampir bersamaan mengingat sebaris kalimat.

Pertemuan Aurora dipindahkan ke tanggal 17. George menulisnya sendiri.

"Tujuh belas," gumam Adrian. Ia segera menekan angka 1 7 0 6, kombinasi tanggal wafat George Corisand.

Tet. Gagal.

Adrian mencoba lagi, menekan angka 1 7 1 2—tanggal di mana merger besar pertama antara Hutama dan Corisand ditandatangani dua puluh tahun lalu.

Tet. Tetap gagal.

Alea menghela napas panjang, menutup matanya sejenak demi meredakan denyut nyeri yang kembali timbul di pelipisnya.

Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, bayangan foto masa kecil itu kembali muncul. Dua anak kecil yang berdiri di bawah bayang-bayang orang tua mereka.

Satu gelang anyaman biru laut.

Dan sebuah memori tentang taman yang samar.

"Tunggu, Adrian. Berhenti dulu," ujar Alea, membuka matanya.

Adrian menoleh, tangannya masih menggantung di atas panel.

"Apa?"

"Kalau Proyek Aurora ini sejak awal bukan tentang proyek bisnis... bagaimana kalau kode ini sama sekali bukan tentang urusan perusahaan atau tanggal-tanggal resmi korporasi?" Alea menatap lurus ke dalam manik mata Adrian.

"Maksudmu?"

"Pikirkan tentang foto masa kecil kita yang kita temukan di dalam album. Di pojok kanan bawah bingkai cetakan foto fisik itu, ada tulisan angka kecil yang dicetak oleh kamera tua, kan? Angka yang menunjukkan tanggal pengambilan foto tersebut."

Mata Adrian seketika membesar saat ia menangkap arah pemikiran Alea. Memori fotografisnya langsung memutar kembali detail foto fisik yang mereka lihat di rumah lama.

Tanggal yang tercetak di sana dengan tinta oranye pudar.

"Tujuh belas Juli," bisik Adrian.

"Ya," Alea mengangguk cepat dengan napas memburu. "1 7 0 7."

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Adrian mengarahkan jemarinya ke panel elektronik. Ia menekan tombol angka dengan tegas: 1 7 0 7.

BEEP!

Lampu indikator yang semula merah pekat mendadak berubah menjadi hijau terang yang benderang.

Mereka berdua membeku di tempat, menahan napas. Detik berikutnya, terdengar suara gesekan mekanis yang berat dari dalam mekanisme pintu.

Klik. Clang.

Pintu baja tebal itu perlahan-lahan bergerak membuka ke arah dalam, menyingkap sebuah ruangan tersembunyi di baliknya.

Ruangan di balik pintu baja itu berukuran jauh lebih kecil, namun memiliki desain yang berbanding terbalik dengan kondisi gudang di luar.

Tempat itu sangat modern, bersih dari debu, dan steril. Dinding-dindingnya dilapisi oleh lempengan baja anti-peluru berwujud futuristik. Suhu udara di dalam ruangan itu terasa jauh lebih dingin, dikendalikan oleh sistem pengondisi udara otomatis yang bekerja dalam senyap.

Dan tepat di tengah-tengah ruangan, di atas sebuah pilar besi silinder, hanya ada satu benda yang diletakkan.

Sebuah kotak hitam besar bermaterial serat karbon yang kokoh, terkunci rapat dengan sistem pengaman biometrik non-aktif. Di bagian atas penutup kotak tersebut, terukir dengan sangat indah lambang yang kini sudah sangat akrab di mata mereka: simbol matahari Aurora.

Sementara itu, tepat di bawah simbol matahari tersebut, terdapat sebuah pelat logam kecil dengan tulisan grafir yang membuat seluruh aliran darah di tubuh Alea seolah-olah berhenti mengalir seketika.

UNTUK ADRIAN HUTAMA DAN ALEA CORISAND

Mereka berdua berdiri mematung di ambang pintu, benar-benar tidak percaya dengan apa yang sedang tersaji di depan mata mereka.

Nama mereka. Nama lengkap mereka berdua. Terukir di sana secara permanen sejak bertahun-tahun yang lalu.

Hal ini seolah membuktikan sebuah fakta yang mengerikan, seseorang, dua puluh tahun yang lalu, telah memprediksi atau bahkan merencanakan bahwa hari ini akan datang.

Bahwa mereka berdua akan terjebak dalam takdir yang sama, berjalan menyusuri petunjuk yang sama, dan akhirnya berdiri bersama di dalam ruangan rahasia ini.

"Ini... ini tidak masuk akal, Adrian," bisik Alea, suaranya bergetar hebat karena rasa takut yang mendalam.

"Bagaimana mungkin nama kita ada di sana sejak dua puluh tahun lalu?"

"Tidak, Alea," jawab Adrian dengan suara yang teramat pelan namun terdengar tajam.

Tatapannya sama sekali tidak lepas dari kotak hitam itu.

"Justru dengan adanya ini, semuanya mulai masuk akal. Pernikahan kontrak kita, persaingan orang tua kita... semuanya bagian dari skenario yang lebih besar."

Namun, tepat sebelum mereka sempat melangkah maju untuk mendekati pilar dan menyentuh kotak hitam tersebut

Sebuah suara lengkingan alarm tiba-tiba pecah dan menggema dengan hebat di seluruh penjuru gudang rahasia.

PIIIP! PIIIP! PIIIP!

Lampu-lampu indikator darurat berwarna merah darah mendadak menyala dan berputar di setiap sudut langit-langit ruangan, mengubah atmosfer yang semula sunyi menjadi mencekam dalam sekejap.

Adrian secara refleks langsung berbalik, mengulurkan tangannya yang kokoh, dan menarik tubuh Alea ke belakang punggungnya demi melindunginya dari segala potensi ancaman.

"Sistemnya mendeteksi pembukaan paksa. Ada seseorang di luar sana yang langsung tahu kita berhasil membuka tempat ini!"

Suara raungan alarm terus memekik, memekakkan telinga dan memicu adrenalin di dalam darah mereka.

Sementara itu, jauh di luar kompleks gudang nomor 17, sebuah mobil SUV hitam dengan kaca yang sangat gelap perlahan-lahan bergerak memasuki area halaman luar yang sepi.

Mobil itu melaju perlahan tanpa menyalakan lampu utama, membelah rintik gerimis.

Di dalam kabin kendaraan tersebut, duduk tiga orang pria bertubuh tegap yang mengenakan pakaian serba hitam.

Salah satu dari mereka yang duduk di kursi penumpang depan menatap tajam ke arah layar sebuah tablet militer di pangkuannya. Sebuah notifikasi berwarna merah berkedip-kedip di layar digital tersebut.

AURORA VAULT OPENED

"Target sudah masuk ke dalam ruangan inti," ucap pria itu dengan nada suara yang datar dan dingin.

Seorang pria paruh baya yang duduk di kursi belakang, yang wajahnya sebagian besar tersembunyi di balik bayang-bayang topi, mengangguk pelan sekali.

"Bagus. Mereka lebih cepat dari perkiraanku."

"Lalu, apa perintah Anda selanjutnya? Apakah kita perlu menyelesaikannya di sini?" tanya sang pengemudi seraya menghentikan laju mobil beberapa puluh meter di depan pintu masuk gudang.

Sebuah senyuman tipis, dingin, dan penuh kemenangan perlahan muncul di wajah pria di kursi belakang. Matanya menatap tajam ke arah pintu gudang nomor 17 yang terbuka sedikit.

"Mulai fase berikutnya. Biarkan mereka mengambil apa yang menjadi hak mereka... sebelum kita merebut semuanya kembali."

Di dalam ruang rahasia Aurora, terkepung oleh raungan alarm dan pendar lampu merah yang mengintimidasi, Adrian dan Alea belum menyadari sepenuhnya bahwa kotak hitam di hadapan mereka adalah kunci dari rahasia terbesar dan terkelam dari sejarah keluarga mereka.

Dan di luar sana, pusaran bahaya yang sesungguhnya kini telah resmi bergerak mendekat untuk menghentikan langkah mereka selamanya.

1
Vanni Sr
bnr² woyyyy di bab ini blg lg wallianm ayah adrian , gmn sih nulis ny
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
Vanni Sr
g nyambungggg, george itu kakek apa ayah alea?? clarissa itu apa bianca ganti² , ngaco sih ini
typ
apa part 40 dan 41 terbalik?
Althea Shalmaira: benar, terima kasih mengingatkan,, akan saya coba althe perbaiki yah🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!