NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Mainan yang Tidak Mau Patuh

"Impas?"

Arjuna Pratama mencibir pelan,bukan dengan amarah yang meledak, tapi dengan nada seseorang yang baru saja mendengar lelucon yang tidak cukup lucu untuk ditertawakan.

"Shafira Maharani." Ia menyebut nama lengkap itu perlahan, seperti mengunyah setiap suku kata. Suaranya rendah, berat, dan penuh tekanan yang tidak perlu ditinggikan untuk terasa berbahaya. "Sudah berapa lama kau berada di sisiku? Siapa di lingkaran kita yang tidak tahu bahwa kau adalah milikku?"

Ia bersandar kembali ke sofa, meregangkan kaki panjangnya dengan sikap meremehkan yang sudah menjadi bagian dari caranya bernapas.

"Dan sekarang kau pikir bisa menyelesaikan semuanya dengan melemparkan setumpuk uang receh?"

"Saya tidak bermaksud menghina Anda, Tuan Muda Arjuna." Suara Shafira stabil, tapi ujung-ujungnya bergetar tipis seperti tali gitar yang ditarik terlalu kencang. "Saya hanya ingin menjaga martabat saya."

"Martabat?" Arjuna tertawa pendek, dingin, tanpa humor. "Siapa yang memberimu keberanian seperti itu?"

Suhu ruang tunggu itu terasa turun beberapa derajat. Udara menjadi berat.

Arjuna menatapnya. Tatapan elangnya tidak sekadar marah ada sesuatu yang lebih primitif di baliknya. Hasrat yang di bungkus oleh perlawanan. Selama ini Shafira adalah burung kenari yang patuh, dan justru karena itulah ia mulai membosankan. Tapi Shafira yang seperti ini,yang mencoba lepas, yang berani menoleh ke arah lain.......adalah teka-teki yang berbeda.

Di benaknya, wajah Raka Hadiputra yang mengejek sekilas muncul. Dua bulan. Taruhan itu menggantung di atas kepalanya seperti pedang yang belum jatuh. Ia tidak akan kalah. Tidak dari permainan ini.

Shafira mundur setengah langkah. Jantungnya berdegup nyeri.

Ia tahu bahwa momen ini adalah titik penentu. Bukan hanya soal kontrak atau uang,tapi soal apakah ia bisa benar-benar keluar dari orbit pria ini dengan tubuh dan harga diri yang masih utuh.

Ia menatap Arjuna. Wajah yang pernah ia kagumi, bahkan ia puja diam-diam di saat-saat lemah. Kemarahan dan kesombongan di matanya kini terasa begitu nyata hingga sesaat, pikiran lama itu hampir menipu Shafira,mungkin dia peduli, mungkin ini bukan hanya soal ego.

Tapi kilatan dingin di mata Arjuna menghancurkan pikiran itu sebelum sempat tumbuh.

Dia marah karena kelancangannya. Bukan karena kepergiannya. Tersinggung karena mainannya berani punya kehendak sendiri—bukan karena hatinya terluka oleh kehilangan.

Rasa sakit itu menusuk lebih tajam dari kata-kata kasar mana pun.

Shafira menarik napas, memaksa punggungnya tegak kembali. Suaranya berubah dingin dan formal.

"Anda terlalu berlebihan, Tuan Arjuna. Saya hanya mengikuti klausul kontrak. Saya tidak ingin mengganggu kesenangan Anda lagi di masa depan."

"Heh." Arjuna berdiri.

Ia tidak bergerak cepat. Justru pelan,selangkah demi selangkah, seperti seseorang yang tidak perlu terburu-buru karena tahu hasilnya sudah pasti. Kemeja abu-abu gelapnya menempel pada bahu bidangnya, setiap langkah kakinya menginjak diam-diam saraf-saraf tegang Shafira.

Ia berhenti tepat di depannya. Jarak mereka terlalu dekat,cukup dekat untuk Shafira merasakan hawa panas dari napasnya.

Arjuna sedikit menunduk. Napasnya menyapu cuping telinga Shafira saat ia berbisik, suaranya merendah menjadi serak yang intim dan berbahaya sekaligus.

"Shafira Maharani, dengarkan baik-baik. Akulah yang selalu menetapkan aturan main di sini."

"Kau pikir kau bisa mengakhirinya begitu saja?" Jeda. "Siapa yang memberimu ilusi bahwa kau punya pilihan?"

Jari-jarinya terangkat, membelai garis rahang Shafira,gerakan yang hampir terlihat lembut, tapi sebenarnya adalah cara seorang kolektor memeriksa barang yang hampir hilang dari koleksinya.

"Mencoba menarik perhatianku dengan cara menolak ini?" Bibirnya melengkung. "Selamat. Kau berhasil."

Seluruh tubuh Shafira menjadi kaku. Ia ingin mendorong tangannya menjauh. Tubuhnya tidak bergerak.

Aroma maskulinnya yang kuat, dominasi aura yang menyesakkan, dan....lebih dari itu,sisa-sisa perasaan lama yang belum sepenuhnya mati. Semuanya bekerja bersama-sama melawan niatnya untuk pergi.

Tidak, batinnya, keras. Jangan. Bertahan.

Ia menolehkan kepala, menghindari jari-jari itu. Suaranya keluar lebih keras dari yang ia rencanakan, bergetar di antara keras kepala dan keputusasaan. "Arjuna Pratama! Jangan Kurang Ajar....!"

Arjuna menatap wajah Shafira yang berseri oleh amarah dan ketakutan yang bercampur jadi satu.

Jujur saja,ini jauh lebih menarik dari versi Shafira yang tersenyum patuh dan tidak pernah membantah. Versi itu mudah ditebak. Membosankan. Versi ini tidak.

Jakun Arjuna bergerak pelan. Alih-alih mundur, ia justru mencondongkan tubuh lebih dekat hingga bibirnya hampir menyentuh kulit leher Shafira.

"Kurang Ajar?" bisiknya, suaranya mengandung kepercayaan diri seorang pria yang tidak pernah diajarkan arti kata kalah. "Ini baru permulaan, Sayang. Kita masih punya banyak hal untuk dibicarakan."

Lalu ia menegakkan tubuhnya kembali,kembali ke postur malas dan angkuh yang biasa, seolah kedekatan intim beberapa detik lalu hanyalah hal biasa yang tidak perlu diingat.

Ia merapikan manset bajunya dengan santai.

"Baiklah. Silakan lanjutkan syuting. Jangan biarkan urusan pribadi kita menghambat produksi."

Shafira menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah.

Ia tidak berani tinggal satu detik lebih lama,takut air matanya jatuh dan membongkar semua yang sudah susah payah ia sembunyikan. Ia berbalik dan melangkah keluar dari ruang VIP dengan cepat, hampir seperti orang yang melarikan diri dari tempat yang terbakar. Ujung gaun sutranya berkelebat sebelum menghilang di balik pintu.

Begitu pintu tertutup, Arjuna mengeluarkan ponselnya.

Pesan dari Raka Hadiputra sudah menunggu:

[Arjuna, aku sudah mencatat taruhannya. Dua bulan. Jangan mengecewakanku, kawan.]

Senyum sinis melengkung di bibir Arjuna. Jarinya bergerak cepat di layar.

[Kenapa terburu-buru? Pertunjukannya baru saja dimulai. Dan kali ini, aku yang memegang kendali penuh.]

1
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!