NovelToon NovelToon
Warisan Kitab Inti Jagat

Warisan Kitab Inti Jagat

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:111.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Hinaan di Gang Sempit

Pagi berikutnya datang terlalu cepat bagi Mahesa. Sinar matahari yang mulai merambat masuk melalui celah-celah dinding papan rumah petaknya seolah memaksa pemuda itu untuk menyudahi tidur ayamnya di atas lantai semen. Setelah memastikan Neneknya sudah meminum sisa air hangat dan tertidur kembali dengan tenang, Mahesa bersiap untuk berangkat kerja. Ia mengenakan seragam biru mudanya yang longgar, membenarkan letak kacamata tebalnya, lalu melangkah keluar sembari menjinjing sebuah kantong plastik berisi pakaian kotor yang berniat ia cuci di tempat umum sore nanti.

Baru saja Mahesa melangkah tiga meter dari pintu rumahnya, suasana gang sempit yang padat itu sudah terasa menyesakkan. Di depan sebuah warung kelontong kecil yang letaknya tepat di tikungan gang, beberapa ibu-ibu kompleks dan seorang pria paruh baya berkaus kutang sedang berkumpul. Mereka adalah tetangga yang saban hari menjadikan kehidupan miskin Mahesa sebagai bahan gunjingan yang tak pernah renyah untuk dilewatkan.

"Eh, tuh tinggali, Si Culun baru keluar rumah," bisik Bu Parmi dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan sambil menyenggol lengan Bu RT yang sedang memilih sayuran di lapak depan warung.

Mahesa mendengar ucapan itu dengan jelas. Ia menurunkan pandangannya, berjalan sedikit membungkuk sembari mengulas senyum ramah yang dipaksakan. "Mari, Bu Parmi, Bu RT. Duluan, mau berangkat kerja," sapa Mahesa dengan nada suara yang halus dan penuh sopan santun, mencoba melewati mereka dengan damai.

Bu RT, seorang wanita paruh baya dengan daster bunga-bunga, melipat kedua tangannya di dada dan menatap Mahesa dari atas ke bawah dengan pandangan mencemooh. "Iya, Sa. Jam segini baru jalan, pantesan aja cuma jadi OB terus dari dulu. Nggak ada kemajuan hidupmu itu," sahut Bu RT dengan nada ketus yang menyengat telinga.

Mahesa menghentikan langkahnya sejenak, memaksakan diri untuk tetap berdiri tegak meski hatinya mulai terasa ngilu. "Iya, Bu. Kebetulan tadi malam Nenek sempat batuk-batuk lagi, jadi saya harus pastikan kondisi Nenek aman dulu sebelum ditinggal," jawab Mahesa dengan sabar, berusaha memberikan penjelasan yang masuk akal.

Pak joko, pria berkaus kutang yang sedang merokok di bangku kayu dekat warung, ikut menyemburkan asap rokoknya ke arah Mahesa sebelum menimpali. "Halah, alesan klasik lu, Sa! Dari tahun ke tahun alesan lu cuma Nenek sakit. Makanya, kalau miskin tuh tahu diri. Udah tahu nggak punya masa depan, kerjanya cuma bersih-bersih toilet, gaya-gayaan mau tinggal di Jakarta," cemooh Pak Joko dengan tawa renyah yang terdengar sangat sinis.

"Betul itu, Pak Joko! Kemarin saya lihat pemilik kontrakan nyariin kamu lagi, Sa. Utang kontrakan bulan lalu aja belum lunas, sekarang udah mau masuk bulan baru. Jangan bikin lingkungan kita ketularan sial karena ada warga yang hobi nunggak bayar," timpal Bu Parmi sambil mengibaskan tangannya ke udara, seolah-olah Mahesa adalah seonggok sampah yang membawa bau busuk ke gang mereka.

Mendengar rentetan kalimat tajam itu, jemari Mahesa yang memegang kantong plastik putih di sisi tubuhnya mencengkeram plastik tersebut hingga berkerut kencang. Dada pemuda itu bergemuruh. Rasa perih akibat potongan gaji di kantor kemarin belum juga sembuh, kini ia harus menerima hantaman mental dari orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Mereka tidak pernah tahu betapa kerasnya Mahesa memeras keringat, menahan lapar, dan mengorbankan masa mudanya demi sebotol obat penenang batuk darah untuk wanita tua yang sangat dicintainya.

"Maaf, Bu, Pak. Untuk urusan kontrakan, sore nanti setelah pulang kerja, saya akan langsung menemui pemiliknya untuk mencicil sebagian," ucap Mahesa dengan suara yang diusahakan tetap stabil, menelan bulat-bulat semua rasa terhina yang bergejolak di dalam sanubarinya.

Bu RT mendengus kencang, memutar bola matanya dengan ekspresi meremehkan yang sangat kentara. "Mencicil? Halah, uang dari mana kamu, Sa? Gaji OB itu berapa sih? Paling cuma habis buat beli obat Nenekmu yang udah sekarat itu. Lagian, dibilangin ya, mending Nenekmu itu dibawa ke kampung aja atau pasrahin ke panti asuhan. Bikin susah hidupmu saja, kamu jadi nggak bisa gaul, culun, dan nggak punya masa depan kayak pemuda lain," cetus Bu RT tanpa memikirkan bagaimana hancurnya perasaan pemuda di hadapannya itu.

Kata-kata tentang Neneknya yang disuruh dipasrahkan ke panti asuhan seolah menjadi paku panas yang ditancapkan langsung ke jantung Mahesa. Matanya sempat menatap tajam ke arah Bu RT dari balik lensa kacamata tebalnya. Ada kilatan amarah yang sangat langka muncul di sana. Namun, bayangan wajah teduh sang Nenek yang sedang terbaring lemah di dalam rumah petak seketika meredam gejolak itu. Mahesa kembali menundukkan kepalanya, mengembuskan napas panjang yang sarat akan kepasrahan.

"Nenek adalah satu-satunya orang tua saya, Bu RT. Selama saya masih punya tangan dan kaki untuk bekerja, saya tidak akan pernah menelantarkan beliau," tegas Mahesa dengan nada bicara yang rendah namun sarat akan keteguhan batin.

Pak Joko tertawa terbahak-bahak hingga perut buncitnya bergoyang, menganggap ucapan Mahesa sebagai sebuah lelucon konyol dari seorang pecundang. "Sok pahlawan lu, Sa! Lu itu cuma pion kecil di kota ini. Nggak usah belagu ngomongin tanggung jawab kalau buat beli baju layak pakai aja lu kagak mampu. Lihat tuh seragam lu, kedodoran kayak jubah hantu! Hahaha!" ejek Pak Joko yang langsung disambut tawa cekikikan dari ibu-ibu di sekitar warung.

Mahesa tidak lagi menyahut. Ia menyadari bahwa melayani perdebatan dengan orang-orang yang sudah menutup mata hatinya hanya akan membuang energi dan waktunya yang berharga. Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi lewat lima belas menit; jika ia terlambat sampai di Graha Subroto, hukuman pemotongan gaji lainnya sudah pasti menantinya.

"Saya permisi dulu, Bu, Pak. Sudah siang, takut terlambat absen di kantor," pamit Mahesa seraya membungkukkan badannya sedikit, lalu melangkah lebar-lebar membelah gang sempit tersebut tanpa menoleh ke belakang lagi.

"Idih, dikasih tahu malah ngacir! Dasar bocah ora nduwe masa depan!" teriak Bu Parmi dari kejauhan, menutup percakapan penuh kebencian pagi itu dengan sebuah umatan kasar.

Naratif kehidupan memang sering kali tidak adil bagi orang-orang seperti Mahesa. Sepanjang jalan menuju halte bus, langkah kakinya terasa berat, bukan karena beban tubuhnya, melainkan karena beban psikologis yang kian menumpuk. Hinaan dari rekan kerja di lantai dasar kantor dan cemoohan dari para tetangga di gang rumah seolah menjadi melodi ganda yang terus menghantam harga dirinya setiap hari. Namun, di balik semua kerapuhan lahiriahnya, Mahesa memiliki benteng kesabaran yang luar biasa kokoh. Ia terus berjalan menembus debu jalanan ibu kota, mengunci semua luka itu rapat-rapat, dan bersiap menghadapi gulungan ombak kehidupan berikutnya yang sudah menanti di tempat kerja.

1
Fatur
kayaknya author seorang profesional jomblo nih...🤣
Fatur
kritik dikit....biasanya kalo orang kaya banyak pelayan nya Thor...Alena kok malah dibiarin ga ada pelayan?
Fatur
thor.. lompatan ceritanya kecepetan, proses Jadi ga alami
Fatur
bagus....👍...susunan kata dalam kalimatnya pas..
Muhamad Hasbi
maklum,, author juga manusia, jadi wajar kalo lupa jalan cerita nya, hehe
pauzi aja
aq l8at judilnya,,JUDUL CERITANYA JADI BODIGAT ,ya sdh malas bacanya sdh ega bagus masah sdh d hina masih aja jadi bodigat,trs tumbuh cinta ,dasar babi anji lu tor babi.
pauzi aja
goblok berhenti aja ,knpa mcnya d bikin goblok sih
Edi Sulaiman
cerita bagus namun dengan mc kita tdk perlu dibuat misterius dan culun, mc harus ter ekspos buat yg ngebaca plong, oke thor semangat..
Attax Hamzah
an... ng tambah parah ini cerita. ini bukan bodyguard tapi babu. thor kayaknya tdk ada harga dirinya👎👎👎
Attax Hamzah
ceri lelet apaan ilmu padi itu harga diri bro. emang MC tdk punya harga diri
Amiera Syaqilla
hi author👋🏻
Gusti Abdul Nasir
memanfaatkan ilmu yang didapat dengan sepenuh hati.
ImaFatima Latief
bukannya nenek sdh d obati pake ilmu adeeehhhh
Teti Masdiana
kamu sangat hebat tthor membuat alur cerita yg sangat bagus sukses srlalu 👍
Roger Lee
banyak kata kata yang di ulang ulang, jadi bosan membacanya.
Ria Gazali Dapson
kocak.nih author nya, bikin penisirin😄😄😄
Abady Ehm
😁🤭😂☺️
Ria Gazali Dapson
koq masih tinggal d rumah reot , gaji 100juta ,masih nyeker ja , ga punya kendaraan , aneh, lagian knpa nenek nya masih sakit² an , kn udh d obatin
Ria Gazali Dapson
kirain mah mo jadi ceo, sultan, milyader, kaya raya, eh ga tau nya jadi bodiguard , jdi tukang pukul doang , sayang sma ilmu yg d dapat , tetep aja d rendahin orang, di hina² terus sama elena
Ria Gazali Dapson
maksudnya, gmn sih cerita nya, koq jdi pura² bodoh terus, culun terus, gmb mo tau, kalo d tutupin terus , yg ada , jdi makin susah hidup nya
Aplogic: kita ikuti saja alur sang sutradara 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!