Seorang anak merupakan anugerah bagi sebuah keluarga, namun bagaimana jika anak itu terlahir dari sebuah hubungan yang salah?
Claresta, gadis dengan sikap yang dingin karena hasil perlindungan dirinya dari kerasnya kehidupan yang harus ia hadapi,
Luka itu bukan dari orang lain melainkan dari orang tuanya sendiri, orang tua yang seharusnya bisa disebut Rumah, Resta justru tak mendapati hal itu dari kedua orang tuanya ...,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JackRow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luapan Emosi Nyonya Emili
Christian terperanjat, pria itu nampak menampilkan senyum devil di bibirnya.
"Bolehkah aku ikut membersihkan diri bersama mu?"
"Jangan macam-macam!" Claresta nampak melotot, ia seketika mendorong tubuh Christian yang tiba-tiba telah mendekat.
"Bukankah kau telah menjadi milikku?" pria itu kembali berucap enteng sembari menyentuh dagu Claresta.
"Seorang pria bisa dikatakan telah memiliki wanitanya jika mereka telah mengikat janji suci dalam sebuah pernikahan! jangan katakan bahwa aku ini milik mu! dasar serigala mesum!"
"Waah, apa kau menginginkan untuk menikah di usia muda wahai kelinci liar ku?" pria itu kembali memasang wajah penuh tanya serta menaikkan satu alisnya.
"Diam lah! aku sungguh ingin membersihkan diri segera Tristan! aku mohon pinjamkan bajumu untuk ku! ini sudah tak begitu nyaman untuk ku kenakan."
Aku sangat suka melihat rengekan manja nya, ini sungguh menyenangkan,
sangat berbeda saat diriku bersamanya!
Christian kembali tersenyum memandangi Claresta yang masih saja mengomel pada dirinya,
"Aku akan menyiapkan nya! kau bisa ke kamar mandi sekarang!"
Seperti seorang anak kecil, Claresta nampak menurut begitu saja.
"Heyyy! ambil dulu bathrobe di almari itu! apa kau sengaja ingin telanjang dihadapan ku?" Christian nampak menjentikkan jari telunjuknya pada kening Claresta.
Lagipula kenapa tidak segera memberikan bajunya saja padaku?
Claresta kembali menggerutu dalam hati, ia nampak kesal juga salah tingkah karena perlakuan Christian.
...*****...
"Benarkah? aku masih penasaran, karena diriku juga menitipkan benih padamu tepat sebelum kau memadu kasih bersama Adam. Apa Adam juga sama sekali tak mengetahui tentang hal itu?"
"Haruskah aku melakukan tes DNA? jika memang Claresta tak ada hubungan darah dengan ku, maka aku tak akan lagi mengusikmu dan menanyakan hal tentang nya!" pria paruh baya itu dengan santai kembali menyematkan nikotin dan membuat asap menghambur keluar dari mulutnya.
"Kau? berani-beraninya kau memata-matai putriku!" nada bicara model ternama itu kini naik beberapa oktaf.
"Kau menganggap nya seorang putri? bukankah kau dan Adam saling melempar tanggung jawab tentang gadis itu?"
"Baiklah, aku akan pergi! tapi pikirkan untuk melakukan tes DNA atau aku akan datang sendiri menemui nya! tak ada salahnya menyapa anak perempuan yang selama ini telah ku nantikan, bukan!"
Bayangan pertemuan nya bersama Blare Dominic beberapa minggu lalu membuat wanita dengan paras cantik paripurna itu nampak begitu gelisah.
Apa dia telah menemui Claresta? kenapa aku tak mencari tahu hal ini sebelumnya?
bodoh nya dirimu Clara! dia pasti tak akan tinggal diam jika rumor ini sampai ditelinga nya,
Clara Emilia Ramsey, pikiran wanita itu kini kalut karena rencananya sendiri.
Jadi pukul berapa kita bisa bertemu?
Sebuah notifikasi pesan masuk nampak kembali tertera pada layar ponsel Nyonya Emili.
"Ada apa dengan Christian? kenapa dia tiba-tiba begitu ngotot dan meminta untuk bertemu? apa terjadi sesuatu pada dirinya?"
...****...
Dua hari berlalu,
Kehebohan yang sempat muncul karena nama Claresta di headline media masa nampak reda, meskipun wajahnya tak begitu terpampang dengan jelas, hal itu cukup mengejutkan bagi orang-orang yang selama ini kenal cukup dekat dengannya.
Plakkkk.
Wajah Claresta seketika ter_toleh ke kanan, rasa panas kembali menjalar dan terasa di pipinya.
"Bagus! setelah membuat begitu banyak keributan, kau akhirnya kembali menampakkan diri sekarang!" wanita itu menghentikan langkah Claresta dengan tatapan tajam dan tangan yang bersilang di dada.
"Katakan! darimana saja kau selama dua hari ini?" Nyonya Emili kembali berucap datar dihadapan putri nya.
"Aku menginap di kediaman salah satu temanku!" gadis itu tertunduk dengan memegangi pipinya.
"Kau ingin mencoba kabur dariku? dasar anak sialan! aku bahkan harus membayar ganti rugi karena kelakuan konyol mu itu!"
"Anak mana yang tidak akan kabur saat ibunya mencoba untuk merusak tubuh putrinya? katakan mom? tolong katakan! apa belum puas kau melukai fisik juga mental ku? aku ini terlahir dari tubuh mu! tak adakah sedikit rasa belas kasihmu untuk diriku? ibu mana yang menginginkan putrinya untuk menjadi seorang pelacur dan melayani pria-pria hidung belang dari kalangan orang-orang seperti mereka? aku mohon! kasihanilah gadis bastard ini ...," gadis itu tertekuk lutut sembari memeluk kaki ibu kandungnya dengan linangan air mata.
Kalwa beserta pelayan lain yang berada di rumah itu nampak turut menatap iba pada Nona Muda mereka,
"Ikut aku sekarang!" Emili kembali menarik kasar pergelangan tangan Claresta dan membawa gadis itu menuju gudang penyimpanan barang.
"Mom tolong lepas, kau menyakitiku!" Claresta mencoba memberontak namun sia-sia.
Gadis itu hanya bisa sesekali mendesis karena ulah Nyonya Emili yang menekan kuat pergelangan tangannya yang berbalutkan kain kasa.
Bruuugh.
Claresta kembali tersungkur, ia terjatuh dan terjerembab dalam ruangan gelap tempat Emili biasa menyimpan barang-barang tak terpakai dirumahnya.
"Tinggal lah di ruangan ini, sampai kau menyadari kesalahan mu Claresta! kau yang bilang bahwa diriku tak memiliki belas kasih bukan! baiklah aku aku adalah penjahat untuk kali ini!" Nyonya Emili membanting kasar pintu ruangan dan menguncinya seketika.
"Mom! tolong jangan lakukan ini, aku mohon! buka pintunya! aku mohon ...," teriakan di iringi isak tangis dari suara Claresta semakin terdengar pilu,
Gadis itu berkali-kali memanggil ibunya dan memohon, namun nihil! pintu ruangan itu tetap saja terkunci dengan sempurna.
Tuhan, apa diriku benar-benar sendirian? kapan Kau melunak kan hatinya untuk ku? tolong Tuhan, aku mohon ...
Apa semua ini salah ku? apa diriku merupakan manusia dengan lumuran dosa dimasa lalu? sehingga Kau memberikan kehidupan seperti ini padaku sekarang?
Jika memang seperti itu, kenapa kau tak membiarkan wanita itu membunuh ku saja saat itu Tuhan? kenapa kau masih membiarkan nyawa ini menempel ditubuh ku?
Aku mohon, luluh kan lah sedikit saja hati ibuku.
Aku ingin mendapatkan kasih sayangnya walaupun sedikit saja Tuhan, aku mohon ...
Rapalan do'a itu selalu mengalir dan terucap dalam relung hati Claresta, gadis itu berharap bahkan sangat berharap untuk melihat perubahan dari sang ibu.
"Jangan sampai ada yang berani membuka pintu untuk nya! jika itu terjadi maka bersiaplah untuk angkat kaki dari rumah ini! kalian paham?" wanita itu tampak memperingatkan seluruh pelayan nya.
Semua pelayan dirumah itu hanya tertunduk serta mengiyakan perkataan sang Nyonya besar,
Kenapa Nyonya Besar setega itu pada Nona Claresta?
Kalwa, pelayan tertua dikediaman Nyonya Emili itu nampak menitikkan air matanya melihat perlakuan kejam sang Nyonya pada gadis yang dulu sempat ia asuh selama beberapa tahun.
Disisi lain Christian nampak gelisah, pria itu berkali-kali mencoba menghubungi nomor ponsel Claresta, namun sama sekali tak ada jawaban.
"Apa yang telah terjadi padanya? kenapa rasa khawatir ini tak juga reda? apa Clara melakukan sesuatu padanya?" pria itu kembali mondar-mandir dengan menghela nafas kasar sembari mencoba menghubungi gadisnya.