NovelToon NovelToon
Senyum Dua Bidadari

Senyum Dua Bidadari

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Janda / Anak Yang Berpenyakit / Tamat
Popularitas:52.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

"Dia putriku, Sofia." Begitu kata Judan ketika banyak perempuan bertanya siapa gadis cilik yang sedang bersamanya. Ia tidak ingin banyak orang tahu bahwa sebenarnya gadis cilik itu adalah keponakannya. Hingga akhirnya ia bertemu Runi, seorang Perawat di rumah sakit tempat ia menghabiskan waktu karena ingin melepas trauma buruk karena kematian kakak laki-lakinya yang tak lain adalah ayah dari gadis cilik itu.
"Dia adalah keponakanku," ungkap Judan akhirnya karena tidak mau perempuan itu salah paham. Ini pertama kalinya ia mau membuka diri pada seorang perempuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

Malam resepsi pernikahan Dokter Gio.

Judan tidak sabar menunggu Runi selesai berdandan. Bukan karena dia orang yang tidak sabaran, tapi dia cepat-cepat ingin melihat penampilan perempuan itu memakai gaun yang ia belikan khusus untuk acara ini. Mereka hendak pergi ke pernikahan dokter Gio bersama-sama. Seperti yang sudah di rencanakan oleh Judan.

Kepala Judan menoleh lagi ke arah pintu kamar perempuan itu. Ini sudah yang ke tiga kalinya. Namun pintu kamar itu masih tetap tertutup seperti tadi. Sesekali ia tersenyum ke arah Sofia yang memperhatikan dari dalam kamarnya yang tidak tertutup. Ia berusaha tetap tenang.

"Papa terlihat kesal ya, Bi?" tanya Sofia.

"Bukan. Pak Judan hanya tidak sabar melihat nona perawat sudah berdandan cantik," ujar Bu Misna tersenyum. Beliau tahu. Majikannya kini bagai bocah yang sedang kasmaran.

"Ya, pasti Tante Runi itu begitu cantik." Sofia sudah membayangkan bagaimana Runi memakai gaun.

Klak! Suara kenop pintu di dorong terdengar membuat Judan menoleh dengan cepat.

"Judan ... Aku pikir ini terlihat berlebihan untukku. Apakah tidak bisa ganti dengan yang lain?" tanya Runi sesaat menunduk melihat gaunnya sendiri lalu mendongak dan melihat ke arah Judan. "Benar kan Judan?" Runi butuh dukungan. Ia merasa gaun yang di bawa oleh Judan terlihat begitu mewah untuknya. "Judan?" tegur Runi menyebut nama pria ini lagi karena rupanya pria itu hanya diam seraya terus menatap Runi.

"Ya?"

"Kamu dengar apa yang aku katakan?"

"Soal gaun?" tanya Judan yang yakin sesaat tadi sempat blank karena takjub dengan tampilan Runi yang mempesona di matanya. Setiap hari saja dia sudah tergila-gila bahkan ketika perempuan itu berpenampilan biasa dengan sikap enggannya, apalagi ketika perempuan ini tampil seperti sekarang.

"Ya. Gaun yang kamu bawa terlalu wah. Aku merasa tidak nyaman. Ini tidak pantas untukku." Runi masih sibuk menilai dirinya sendiri dalam balutan gaun berwarna merah maroon itu.

"Benar. Kamu sudah cukup indah tanpa gaun itu," ujar Judan malah menggombal.

"Judan ..." Runi menatap Judan lurus-lurus. Dia protes karena ketidakseriusan jawaban Judan.

"Gaun itu terlihat sangat pas untukmu," puji Judan.

"Tapi aku tidak nyaman."

"Waktunya sudah tidak ada untuk mencari gaun lagi, Runi." Judan menunduk melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Runi mendesah lelah. Meskipun ada, Judan tidak akan memberi kesempatan Runi untuk ganti baju. Gaun yang di pakainya sekarang sudah sangat bagus dan indah. "Kamu datang bersamaku, jadi mungkin sedikit berkurang rasa tidak nyaman kamu karena tidak sendirian."

"Ah, baiklah. Sebentar, aku ambil tas dulu."

"Oke, jangan lama-lama ..." Karena aku ingin segera duduk bersama mu dan menatapmu yang begitu cantik malam ini, lanjut Judan dalam hati. Runi masuk sebentar, kemudian muncul lagi. "Sudah siap?"

"Ya."

Mereka pun berangkat menuju gedung resepsi pernikahan dokter Gio.

...****************...

Degup jantung Runi berdetak kencang karena hampir semua mata melihat ke arahnya dengan pandangan bermacam-macam.

"Sudah aku duga gaun ini akan membuatku tidak nyaman," gerutu Runi.

"Tersenyumlah. Bersikaplah tidak peduli seperti Runi biasanya," ujar Judan memberi nasehat. Runi menoleh pada pria ini. "Kamu cantik. Kamu indah. Tidak ada hal yang patut di keluhkan. Mereka hanya kagum dan takjub melihatmu, atau jangan-jangan mereka takjub melihatku," canda Judan membuat Runi menipiskan bibir mendengar kalimat percaya diri seperti itu. Namun ia tersenyum kemudian.

"Ya, benar. Mungkin mereka melihat pria tampan di sebelahku ini," ucap Runi membuat Judan senang. Mereka berjalan menuju panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai.

"Akhirnya kalian datang juga," kata Dokter Gio yang sepertinya sudah menunggu kedua orang ini.

"Selamat sudah menikah meski terlambat, Gio," ujar Judan seraya bercanda dengan mencela. Runi melebarkan mata mendengar kalimat Judan. Namun Gio tidak marah, pria itu malah tergelak. Ini membuat Runi lega.

"Ini bukan terlambat, Judan. Terlambat itu adalah tidak adanya kepastian dalam suatu hubungan. Karena kita tidak tahu kapan ada waktu untuk menikah," balas Gio tepat sasaran. Ia meledek Judan yang masih belum mendapat kesempatan untuk menyatakan cinta pada Runi meskipun mereka sering bertemu, bahkan tinggal dalam satu atap.

"Sialan," desis Judan seraya tersenyum kalah. Mereka pun terkekeh bersama-sama. Sepertinya istri dokter Gio mengerti apa yang di maksud suaminya. Perempuan itu menoleh pada Runi sambil tersenyum. Runi membalas senyuman itu tapi tetap tidak mengerti kalau yang di bahas dua pria ini adalah dirinya.

Setelah itu mereka berfoto bersama.

"Nikmati pesta dan hidangan dengan tenang. Perawat Runi, kamu juga harus makan yang banyak," pesan dokter Gio sebelum mereka turun dari panggung pelaminan.

"Hei Judan!" seru seseorang dari sebelah kanan. Kedua orang ini menoleh. Runi mengerjapkan mata tidak mengenal sama sekali pria itu. Namun sebaliknya, Judan tersenyum dan bersalaman. Rupanya dia teman Judan. Dari ramainya tamu undangan, muncul Lena sahabatnya. Dia melambaikan tangan dengan kuat. Menandakan kalau ia begitu gembira bertemu dengan Runi.

"Teman kamu?" tanya Judan yang tahu keberadaan Lena.

"Ya. Aku mau ke mereka sebentar," pamit Runi tanpa menunggu Judan mengeluarkan kata-kata. Perempuan itu membungkuk sedikit pada teman Judan, lalu langsung beranjak menuju ke arah para perempuan didepan mereka. Padahal Judan ingin melarang, tapi apa daya ... dia tidak punya hak untuk melakukannya. Jadi dia membiarkan wanita itu berjalan menjauh darinya.

"Wanita itu kekasihmu?" tanya teman Judan. Pria ini menoleh mendapat pertanyaan itu dengan bibir yang tersenyum.

"Bukan. Dia perawat yang merawat putriku." Meski ingin mengatakan iya,

"Oh, Sofia? Apa dia sakit?"

"Ya. Dokter mendiagnosa dia terkena leukemia."

"Benarkah? Oh maaf aku baru saja mendengarnya. Jadi aku belum menjenguk putrimu."

"Tidak apa-apa."

Pyarrr!!! Terdengar suara nyaring dari arah tempat Runi bersama teman-temannya. Judan menoleh cepat.

"Runi?" desis Judan.

...----------------...

1
Apriska Manalu
luar biasa
Inah Ilham
berdamai dengan masa lalu, percayalah walaupun luka itu tetap ada tetapi itulah salah cara untuk meraih bahagia
Santunah Darlis
keren kak
✨rossy
ada yg baru ya thor tapi belum sempat singgah 🙏🙏🙏
✨rossy
tamat lagi sayang2nya ini.....
✨rossy
maka nya punya ego itu jangan selalu di turutin
Desilia Chisfia Lina
eh tamat /Frown/
susi_ambarsari
Berharap kak Lady khilaf terus ada extra partnya 🤭 dkasih hati minta ginjal 🤣🤣🤣... Yok lanjut Getir yok kak 😘 semangat kakaaaaaak 💪🏽💪🏽💪🏽
Siti Sarifah
Ikut emosional bacanya, bagus critanya
✨rossy
bagus lah kau harus jujur
✨rossy
teruslah berdrama Sofia biar mereka bersatu
LisA: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Inah Ilham
kisah Runi mirip dengan kisahku, suamiku pernah dipaksa untuk menceraikanku atau dia tidak akan mendapatkan apapun tp dia tetap mempertahankan aku. disini anak Runi masih hidup meskipun dipalsukan kematiannya sedangkan anakku lahir dalam keadaan meninggal 😭😭😭 sampai ketika Ibu mertuaku terkena stroke aku dan suami yg merawatnya dan sekarang kami sudah baik2 saja. Tapi terus terang luka itu tidak bisa sembuh dan masih ada, setiap kata hinaan dan makian yg terlontar masih terngiang tp aku berusaha untuk ikhlas memaafkan. maaf ya teman" jadi curhat kan
LisA: Peluk erat-erat dari jauh🤗
total 1 replies
Desilia Chisfia Lina
mungkin bu Dewi buka jalan buat menyelesaikan masalah mereka
✨rossy
kann bener dugaan ku
Desilia Chisfia Lina: wah apay kira2 permintaan sofia
total 1 replies
✨rossy
ibu Dewi ini sebenarnya mau menunjukkan Runi tak serendah pikiran nya
✨rossy
akhirnya mama Judan dapat lawan yg seimbang ga melulu merendahkan Runi
✨rossy
sampai ga bisa berkata kata melihat mama Judan... pingin langsung jorokin aja
Inah Ilham: ayok lah ku bantuin...
total 2 replies
Desilia Chisfia Lina
wah semakin seru nih lanjut 👍💪
✨rossy
kannnn
.. jangan sampai mengacaukan hasil tes DNA
✨rossy
duhh mak Lampir kah??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!