Zefanya Emanuella, seorang gadis cantik nan periang, namun harus menjalani hari-hari yang begitu berat setelah kehilangan identitas di Bandara. Berniat untuk menemui om nya, namun justru malah membuatnya hilang dan tersesat.
Di saat dirinya frustasi, Zefanya di pertemukan dengan seorang nenek di Bandara yang sedang terpisah dari cucu nya. Berniat membantu, namun justru kesalahpahaman yang dia dapat. Zefanya terpaksa menjadi seorang pembantu di rumah nenek tersebut karena ancaman dari sang cucu.
Seorang nona muda yang terpaksa harus menjadi pelayan di rumah orang asing. Bagaimana kisah Zefanya selanjutnya. Dapatkah ia bertemu dengan keluarga nya? Atau dirinya justru terperangkap dalam rumah majikan barunya?
Jangan lupa follow akun
IG @Mommy_ar29 dan
Tiktok @Mommy_ar95 🥰🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamitan
...~Happy Reading~...
Dua hari sejak kejadian itu, Zefanya memutuskan untuk pergi dari rumah Batara. Tidak ada percakapan atau perkataan apapun yang di ucapkan oleh Batara dan Zefanya, keduanya hanya diam dan membisu.
Bahkan, ketika Zefanya pergi dengan di antar oleh Ben, pun. Batara hanya bisa diam dan menatap dari balkon kamar nya. Melarang atau menahan akan percuma, jadilah Batara memilih diam.
Saat hendak memasuki mobil, Zefanya menyempatkan menatap atas balkon kamar Batara, sebuah senyuman terbit di wajah cantik nya. Seolah memberikan isyarat perpisahan untuk Batara. Namun, laki laki itu masih bergeming dan malah mengalihkan pandangan nya ke samping sambil memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku celana.
"El, kamu yakin mau pergi sekarang?" Ben sekali lagi memberikan pertanyaan yang selalu mendapatkan jawaban sama dari sang empu nya, yakni sebuah anggukkan kepala.
"Bang Alvin, saya pergi dulu ya. Terimakasih karena selama ini udah mau jadi temen saya, next semoga kita bisa ketemu lagi!"
Zefanya langsung memeluk Alvin yang sedang berdiri di sebelah pintu mobil nya. Tentu saja, hal itu membuat Alvin maupun Batara yang ada di balkon langsung terkejut dan membulatkan matanya sempurna.
Berulang kali, Alvin mengerjapkan mata sambil melirik ke arah balkon. Dimana saat ini Batara tengah memberikan tatapan yang sangat tajam untuk nya.
"Ehemm, E—Ella, udah ya udah plis. Iya aku juga terimakasih karena kamu udah mau temenan sama aku," jawab Alvin sedikit panik dan terbata berusaha melepaskan pelukan Zefanya karena tidak ingin mendapatkan masalah dari sang majikan.
"Ela, kamu gak mau meluk aku juga?" Ben kini merentangkan tangan nya, pertanda juga ingin di peluk. Yang mana hal itu lagi lagi membuat Batara di atas sana semakin geram dengan sikap kedua sahabat nya.
"Ben, jangan macem macem. Gak lihat itu!" Alvin sedikit berbisik sambil sesekali melirik ke arah Batara.
Bukan takut, Ben justru semakin senang. Begitu pun dengan Zefanya yang juga langsung memeluk Ben untuk memberikan ucapan terimakasih. Membuat sosok laki laki di atas sana semakin berkobar seolah tidak terima.
"Akhirnya..." Ben merentangkan kedua tangan nya saat mendapatkan pelukan dari Zefanya, laki laki itu tidak membalas pelukan Zefanya.
Namun, bibir nya terangkat membuat sebuah lengkungan senyum, sambil terus menatap ke arah Batara, seolah melayangkan sebuah kemenangan.
"Lepas!"
Entah sejak kapan, Batara kini tiba tiba sudah berada tepat di belakang Zefanya. Laki laki itu langsung menarik tubuh Zefanya agar melepaskan pelukan itu dari Ben.
"Lo itu jadi cewek jangan kegatelan bisa!" seru Batara seolah tak suka dengan sikap Zefanya yang selalu bisa main peluk laki laki lain.
"Tapi saya sudah mandi Pak, jadi saya gak kegatelan. Bapak tenang saja," jawab Zefanya santai.
Tentu saja hal itu seolah mengundang amarah di hati Batara untuk ke sekian kali nya. Entah mengapa, jika dengan nya, Zefanya tidak pernah nyambung, selalu polos dan sangat menyebalkan.
sangat berbeda jika sedang dengan Alvin maupun Ben, maka ia akan sigap dan terlihat normal. Itulah yang membuat Batara semakin geram, karena memang kesabaran nya sangat lah tipis, bak tisu yang di belah menjadi seratus bagian.
"Bilang aja kalau lo juga kau di peluk, Bat. Pakai sok jual mahal lo!" sindir Ben menahan tawa nya.
"Berisik lo!" umpat Batara kasar, ia segera merampas kunci mobil di tangan Ben dan segera mengajak Zefanya agar segera masuk.
"Loh, kan gue yang mau anter, woy!" Ben memekik saat tiba tiba Batara masuk ke dalam mobil.
"Anter tuh di Alvin balik! Jangan ganggu gue!" ucap Batara langsung menjalankan mobil nya dan pergi meninggalkan halaman rumah nya bersama Zefanya.
"Ella hati hati!" Ben dan Alvin sedikit berteriak, yang mana langsung di balas sebuah lambaian tangan dari sang empu nya.
Mulai saat ini, rumah Batara akan terlihat sepi kembali. Mungkin, Ben dan Batara akan kembali sibuk di luar dan mereka tidak akan terlalu merasa kehilangan Zefanya.
Akan tetapi, untuk Alvin. Laki laki itu yang biasa selalu bersama, kini akan benar benar merasakan kesepian untuk kesekian kalinya.
...~To be continue... ...