NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Panglima TNI.

Terjebak Cinta Panglima TNI.

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara / Cintapertama
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nakorang

Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Pesona yang tak bisa ditolak.

Axel mencoba memaksakan diri untuk mulai bekerja. Ia duduk tegap di kursi kebesarannya, mencoba memusatkan perhatian pada tumpukan berkas dan dokumen militer di hadapannya.

Namun, rasanya mustahil untuk fokus.

Di sudut ruangan, Aruna duduk sangat anggun di sofa tamu. Gadis itu bersandar santai layaknya seorang Ratu yang sedang duduk di atas singgasana. Kakinya disilukan rapi, tangannya memegang secangkir teh, dan wajahnya tampak tenang namun memancarkan aura karismatik yang kuat.

Jelas sekali keberadaannya di sana membuat semua orang di markas jadi penasaran dan heboh. Mereka semua bertanya-tanya dalam hati, 'Siapa sebenarnya wanita hebat yang sudah berhasil meluluhkan hati sang Panglima yang dingin dan keras itu?'

Dan terbukti saja... godaan itu datang bertubi-tubi. Para bawahan Axel mulai beraksi dengan alasan-alasan yang sangat konyol. Ada yang sengaja lewat lalu pura-pura salah masuk ruangan. Ada juga yang sengaja mondar-mandir bawa berkas hanya untuk bisa melirik sekilas.

Salah satunya adalah Pak Anjar, seorang perwira yang cukup senior tapi kali ini bertingkah konyol. Duda beranak satu itu

masuk dengan wajah sok sibuk, lalu menyodorkan sebuah map berwarna cokelat.

"Ini laporan tugasnya. Mohon diperiksa, Komandan!" ucapnya semangat.

Axel yang sedang fokus membaca dengan teliti, tanpa menoleh pun ia sudah tahu ada yang salah. Tapi ia tetap menerimanya.

Namun... saat Axel sedang membaca, Pak Anjar ini malah melamun. Matanya terus mencuri pandang ke arah Aruna. Tatapannya jelas sekali menunjukkan rasa suka dan kagum yang berlebihan, seolah-olah sedang melihat bidadari turun dari langit.

PLAK!

Dengan cepat dan dingin, Axel mengetuk-ngetuk kepala Pak Anjar menggunakan ujung berkas yang baru saja diterimanya. Suaranya cukup keras dan membuat kaget.

"Pak Anjar..." suara Axel terdengar sangat dingin dan menusuk, membuat suhu ruangan seketika turun. "Berkas ini adalah berkas yang sudah anda laporkan dan saya tanda tangani kemarin. Kenapa anda berikan lagi kepada saya hari ini? Apa mata anda bermasalah?"

Tapi yang bikin Axel hampir meledak adalah respon Pak Anjar itu sendiri. Pria itu sama sekali tidak mendengarkan omongan bosnya. Matanya masih terpaku menatap Aruna, dan dengan bodohnya dia bahkan melambaikan tangan ke arah gadis itu sambil tersenyum lebar.

"Halo Nona cantik..." gumamnya pelan tapi jelas terdengar.

Darah Axel langsung mendidih melihat kelakuan tidak tahu malunya anak buahnya sendiri. Tangannya siap meremas berkas itu sampai hancur. Sedangkan Aruna hanya membalas tatapan Pak Anjar dengan senyuman tipis yang sangat sopan, lalu mendelik malas seolah berkata 'Apaan sih... malesin banget'

Tapi sayangnya... senyuman sekilas itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat si duda beranak satu itu langsung salah tingkah parah. Wajahnya memerah padam, jantungnya berdegup kencang mau copot.

'Senyumannya... ah... mengalihkan duniaku...' batin Pak Anjar berbunga-bunga sambil memegangi dadanya. 'Kalau begini, aku malah ingin meninggalkan semua tugas dan mengejar dia... ah indahnya...'

BRUK!!!

Tiba-tiba suara gebrakan keras memecah lamunan si perwira itu. Axel sudah tidak tahan lagi. Dengan kasar ia menggebrak meja kerjanya sekuat tenaga, membuat seluruh peralatan di atasnya bergetar. Suaranya menggelegar membuat dinding seakan ikut bergetar.

"Anda mau sampai kapan berada di sini?!" bentak Axel dengan suara tinggi dan marah. "Atau justru anda ingin saya usir dulu, baru mau keluar dari sini?!"

Suara amukan sang Panglima itu sukses membuat Pak Anjar tersentak kaget setengah mati. Lamunannya buyar seketika, bulu kuduknya merinding semua.

Sementara itu, Aruna? Gadis itu sama sekali tak peduli. Ia tetap santai duduk bersandar, jari-jarinya asyik menari-nari di layar ponsel, seolah-olah pertengkaran di depannya ini hanyalah suara angin lalu.

"Maaf Komandan!!" teriak Pak Anjar panik, membungkuk berkali-kali. "Saya salah. Saya akan pergi sekarang!!"

Tanpa menunggu lama, pria itu langsung lari tunggang langgang keluar dari ruangan itu secepat kilat, takut dimakan hidup-hidup oleh bosnya yang sedang cemburu buta.

Ruangan kembali hening. Namun suasana di sana terasa sangat panas dan mencekam.

Axel menarik napas panjang dan dalam berusaha menahan emosi yang meledak-ledak. Ia sadar betul, keberadaan Aruna di sini sama sekali bukan pertanda baik. Justru malah membuat bawahannya bertingkah aneh-aneh.

Dengan langkah lebar dan penuh wibawa namun terlihat mengintimidasi, Axel berjalan mendekat ke arah sofa tempat tunangannya itu duduk. Tanpa basa-basi, tangan besarnya langsung menyambar ponsel Aruna dan menyimpannya ke saku celananya secara paksa.

"Hei! Aku lagi main pilih-pilih baju loh di online..."

Belum sempat Aruna protes, tangan Axel sudah mencengkeram dagu gadis itu, menarik wajah kecilnya agar mendongak dan menatap tepat ke manik matanya yang gelap dan penuh amarah.

"Aruna..." panggilnya dengan suara berat dan serak. "Sebaiknya kamu pulang sekarang juga. Aku tidak bisa konsentrasi kalau kamu di sini."

Axel menghela napas lagi, terlihat sangat kesal.

"Saya akan pesankan taksi online atau saya telepon Pak Tama buat jemput kamu sekarang juga. Ayo, saya antar ke depan."

Aruna memalingkan wajahnya kesal, bibirnya manyun membentuk huruf 'u' yang sangat manja dan menggemaskan.

"Gak mau!!" tolaknya keras kepala. "Lagipula aku kan cuma duduk diam di pojokan doang. Gak ngapa-ngapain juga. Gak bikin onar, gak teriak-teriak, gak bikin rusuh kantor kamu tuh..."

Axel menghela napas panjang menahan sabar setengah mati, melihat tingkah calon istrinya yang cuek tapi bikin naik darah.

"Ya tapi masalahnya kamu ada di sini, Sayang." jawab Axel mulai tinggi nada bicaranya. "Semua orang jadi penasaran, mata mereka semua pada melirik ke kamu terus. Bahkan mereka berani-beraninya bikin laporan palsu, bikin alasan aneh-aneh, cuma buat bisa masuk ke sini dan melihat kamu. Itu yang bikin aku gak fokus."

"Itukan bukan salahku dong..." ceplos Aruna santai sambil mendelik. "Kok marah-marahnya ke aku sih? Hah galak banget deh."

Melihat wajah Axel yang sudah merah padam menahan emosi, Aruna akhirnya mengalah sedikit tapi dengan syarat.

"Yasudah lah... aku mau pergi deh. Tapi..." Aruna mengulurkan tangannya meminta. "Aku minta kartu kredit kamu aja. Aku mau belanja Mau porotin kamu sampai miskin baru puas."

Ucapnya sambil berdiri dari sofa, membuat mereka kini berhadapan dekat sekali.

Namun... rencana Axel buyar seketika.

Matanya yang tadinya tajam marah, kini malah terpaku. Pandangannya tak bisa beralih sedikitpun dari wajah cantik di depannya. Matanya turun, dan berhenti tepat di bibir ranum milik Aruna yang saat ini sedang digigit-gigit pelan oleh gadis itu.

Aksi menggoda yang dilakukan tanpa sadar itu... mematikan.

GLEK!

Axel menelan ludahnya dengan kasar. Jantungnya berdegup kencang bukan main. Ia berusaha sekuat tenaga menahan hasrat liar yang tiba-tiba meledak, ingin rasanya langsung menerkam dan melahap bibir itu saat itu juga.

"Ayo cepetan!! Mana kartu kreditnya!!" desak Aruna tidak sabar sambil memukul pelan dada bidang calon suaminya.

Tapi... detik berikutnya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Dengan kekuatan supernya, Axel langsung mengangkat tubuh mungil Aruna dengan mudah. Dalam sekejap mata, Aruna sudah terduduk di atas meja kerja besar sang Panglima, tepat di tumpukan berkas-berkas penting. Belum sempat Aruna berteriak kaget, Axel sudah mendekap pinggangnya erat, dan...

MMMMPPPHHH!!

Tanpa ampun dan tanpa jeda sedikitpun, Axel langsung menyerbu bibir ranum dan menggoda itu. Ciumannya ganas, agresif, penuh tuntutan, dan meluapkan semua rasa cemburu serta rasa sayang yang tertahan selama ini. Aruna sampai terlempar ke belakang, memegangi bahu calon suaminya. Ia tak berkutik, terbius total oleh ciuman dahsyat itu. Tapi tetap saja, ciuman panas yang bertubi-tubi itu membuatnya kewalahan.

"Ah... Axel... pelan-pelan dong... ahhh... aku gak bisa napas... ungghhh..." rengek Aruna putus asa di sela-sela ciuman dahsyat itu.

Ia mencoba memalingkan wajahnya mencari udara segar, tapi tangan kokoh Axel terlalu cepat. Dengan mudah pria itu kembali menarik dagu gadis di hadapannya, memaksanya kembali menerima serangan ciuman penuh tuntutan dan gairah yang meledak-ledak.

Secara fisik Aruna berontak jelas, tangannya mendorong dada Tunangannya, wajahnya terlihat seolah tidak suka dan kesal. Tapi semakin dia berontak, sisi liar Axel justru makin terpancing dan makin menjadi-jadi.

Ciumannya makin agresif, pelukannya makin erat, posesifnya memuncak.

Dan yang paling mematikan... suara desahan lembut dan manja yang tak sengaja keluar dari mulut Aruna itu... membuat suhu ruangan seketika meningkat drastis. Tubuh Axel panas seketika, darahnya berdesir hebat, ia benar-benar tak ingin melepaskan gadis itu lagi.

"Ungghhh..."

 

Sementara itu, di balik pintu kayu tebal yang sedikit terbuka itu...

Mata-mata para bawahan dan perwira sedang sibuk mengintip. Mereka berkerumun diam-diam, mulut mereka ternganga melihat aksi 'liar' sang Panglima yang selama ini dikenal dingin dan kejam.

"Gila banget ya... Panglima Es yang katanya keras dan dingin itu akhirnya meleleh juga jadi air," bisik salah satu perwira dengan mata melotot.

"Padahal dulu, kalau ada cewek yang pakai baju seksi masuk kantor, langsung dia usir dengan tatapan mematikan sampai orang itu nangis dan lari keluar."

"Bener sekali..." sahut yang lain lagi berbisik heboh. "Aku ingat banget dulu ada polwan cantik yang berani godain dia, pakai baju ketat dan seksi banget. Eh tau-tau baju nya malah dirobek sama Panglima, terus orangnya kena tampar keras karena berani nyium dia seenaknya. Beliau itu dulunya anti banget sama cewek."

"Siapa sangka ya... sekarang beliau bisa se-agresif dan se-liar itu sama tunangannya sendiri. Bedanya jauh banget bagai langit dan bumi."

"Pantesan sih..." gumam salah satu sambil mengangguk-angguk setuju. "Emang secantik dan semenggoda itu Nona Aruna. Wajar kalau Panglima sampai lupa segalanya. Kalau aku yang punya istri secantik itu, mungkin aku bakal lebih ganas dari itu."

Mereka semua terkikik heboh, akhirnya tahu rahasia besar kenapa sang Panglima bisa berubah 180 derajat hanya untuk satu wanita.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!