Aku masih berusia 17 tahun dan mereka dengan santainya mengatakan niatnya untuk menjodohkanku dengan putra sahabat ibuku. Apakah dunia hanya sebesar daun kelor? Bagaimana tidak. Calon suamiku adalah wali kelasku sendiri! Dimanakah aku harus menyembunyikan wajahku dari anak-anak satu sekolah? Bagaimana mungkin seorang Carlina Deani menikah dengan Krisan Yosia yang adalah wali kelasnya?
Tak pernah terpikir bahwa aku akan kehilangan masa remajaku. Semua orang seusiaku umumnya baru mengenal cinta -meskipun itu cinta monyet, berpacaran, ya menjalani masa penjajakan. Tapi aku sekarang sudah harus menikah? Apakah aku bisa menjadi istri yang baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eunike lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
“Winda!” teriak seseorang yang ternyata adalah sahabatnya. Ia mengulurkan sebuah amplop putih padanya. “Dari Kak Al.”
Apa ini?
Winda menatap benda itu sejenak lalu meraihnya. Ia menaruh sedikit curiga. Bukan pada Laura. Namun pada Al yang pergi di saat ia sangat ingin membagi kebahagiaannya.
Laura mengajaknya duduk di kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Winda ragu untuk membuka surat itu. Namun lagi-lagi Laura meyakinkannya. “Kakakku cuma titip pesan buat menjagamu. Dan aku tidak tahu apa maksudnya.”
Perlahan sepasang matanya meneteskan air mata. Ia menuruni kedua pipi tirusnya kemudian membasahi kerah kemejanya. Laura menatap Winda dengan rasa penasaran. Ia tak tahu masalah inti dari sang kakak yang membuatnya tidak hadir di malam kelulusannya. Padahal Winda sangat mengharapkan itu.
Maaf jika aku baru bisa mengatakan semua ini. Aku tahu kamu sedang merindukan seseorang. Dan aku tahu siapa orang yang sedang kau rindukan. Jika kau tahu di saat kau bertanya mengapa aku tetap mencintaimu? Jawabku hanya satu: janjiku. Ya karena aku sudah berjanji padamu sebelas tahun lalu di Beijing yaitu untuk menjagamu. Dan maaf jika hari ini aku mengingkarinya.
Aku tidak bisa menemanimu seharian ini dan mungkin tidak akan pernah ada di sisimu sampai waktu yang tak dapat aku tentukan. Aku harus segera terbang ke kampung Digi, untuk mengabdikan diriku di sana. Ini sudah keputusan kepala rumah sakit. Ia mengandalkanku. Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, sayang. Aku pergi demi kemanusiaan.
Bolehkah aku kembali meminta janji? Jika ya, aku berjanji akan kembali di sisimu secepatnya dan akan menikah denganmu. Peganglah janjiku, Winda. Aku kali ini tak akan mengingkarinya. Dan tetap jadilah Windaku yang selalu membahagiakanku.
Alfian Lee.
“Alfian? Kak Al–fian? Janji sebelas tahun lalu. Kenapa ia meninggalkanku lagi?” katanya di sela isak tangisnya.
Winda kini tahu siapa orang yang selalu dirindukannya dan siapa orang yang selama ini selalu bersamanya. Mereka adalah orang yang sama: Alfian Lee, seorang dokter spesialis onkologi yang merangkap sebagai guru Sastra Indonesia di sekolahnya dan juga kekasihnya. Orang yang selalu mencintainya meski ia tak lagi sempurna.
“Kapan Kak Al memberikan surat ini?” tanyanya kepada Laura.
“Belum lama, Nda. Paling dia masih di dekat sini.”
Winda menatap ke sekeliling. Ia melihat seorang pria sedang masuk ke mobilnya. Dan ia tahu kalau pria itu pasti kekasihnya. “Kak Al!”
Tubuhnya terlempar dan terjatuh tak berdaya. Wajahnya sangat pucat. Darah mengalir membasahi dan mewarnai amplop dan setangkai mawar yang tadi dibawanya. Laura segera menghampiri tubuh Winda. “Winda, bangun, Win!”
Banyak orang seketika mengerumuni mereka. Krisna yang kebetulan lewat pun meraih pergelangan tangan Winda. Ia mendekatkan telinganya di dada Winda. Krisna hanya ingin memastikan keponakannya baik-baik saja.
Gawat!
“Ara, nanti kamu kabari Carlina ya. Dia sedang ngobrol sama Mama mu di atas!”
Laura mengangguk. “Tapi Winda nggak apa kan, Pa?”
“Papa nggak janji. Kamu berdoa saja.”
Krisna segera mengangkat tubuh Winda dan mendudukkannya di kursi samping kemudi. Pria paruh baya itu dengan cepat menerobos kepadatan jalan pusat kota. Syukur saja jalanan tidak macet total. Hanya ramai lancar.
Krisna: Alfian… kenapa kamu ninggalin dia lagi sih? Penyakitnya baru parah, Nak.
Pesan itu segera dikirimkan ke putranya. Sesaat setelah ia melakukan tindakan pada Winda.
*Al Lee:***Apa?
Krisna: Dia memaksa hadir di pesta kelulusan karena ingin bertemu denganmu.
“Maaf.” gumam Al ketika ia masuk ke ruang tunggu.
*Krisna:***Cepat pulang, Nak. Papa nggak ingin kamu mengecewakan Winda lagi.
Al Lee: Paling cepat satu tahun lagi, pa
Krisna melihat notifikasi itu lalu mematikan ponselnya dan meninggalkannya di mobil. Ia menghentikan mobilnya di area parkir rumah sakit lalu membawa Winda yang semakin lemah menuju ke IGD.
***
Krisna membuka sling bag yang dibawa Winda waktu pesta kelulusan. Ia mengambil sebuah amplop putih, setangkai mawar putih dengan pita melingkar di tangkainya dan secarik kertas surat yang ketiganya telah dihiasi bercak-bercak darah.
“Beasiswa Xiamen University?” gumam Krisna duduk di kursi kerjanya.
Ternyata Winda ingin Al tahu kalau dirinya menerima beasiswa universitas ternama di China tempat Al berkuliah dulu. Winda sangat mengidamkan untuk bisa menjadi mahasiswi di sana. Tapi takdir berkata lain. Winda koma dan kanker yang di deritanyapun semakin giat menggerogoti tubuhnya. Semua hanya menunggu mujizat.
“Kak, gimana kondisi Winda?” kata seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangannya.
“Tolong ketuk pintu dulu, Carlin.”
Ia tertawa. “Hehehe, maaf.”
“Dasar, kebiasaan!” gumamnya.
“Gimana keadaan anakku, Kak?” tanya Carlina lagi.
Krisna menghembuskan nafas kasar. “Dia lemah, Lin. Kondisinya juga semakin parah. Dia ada di ICU.” lalu Krisna mengambil barang-barang yang baru saja diambilnya dari tas Winda.
“Apa ini?”
“Simpan ini, Lin. Amplop dan bunga ini sepertinya mau dikasihkan ke Al. Tapi Winda malah –”
Carlina menerimanya kemudian duduk di kursi di hadapan Krisna. Ia memegang kepalanya. Sungguh ia tak menyangka Al pergi secara tiba-tiba dan menyisakan derita untuk Winda. “Apa kamu sudah menghubungi Al?”
“Sudah. Tapi ponselnya nggak aktif.”
“Mungkin sudah di pesawat atau mungkin –” Carlina menarik nafas sejenak. “Sudah sampai di Kampung Digi jadi tidak ada sinyal.”
Hening. Lagi.
“Mungkin kalau dia nggak pergi, putriku tidak akan mengejarnya.” ucap Carlina memecah keheningan.
Krisna menatap tajam Carlina.
“Maaf, Kak.” Carlina menatap langit pagi yang begitu cerah. “Atau mungkin kalau dia benar-benar bisa menemaninya di kelulusannya kemarin –”
“Cukup Carlina!” bentak Krisna. “Aku tahu dia bukan anak kandungku. Tapi aku menyayanginya. Aku tahu janjinya pada Winda waktu itu. Putraku sudah kembali dan menepati janji itu. Hanya saja waktu tak mengijinkan mereka segera menikah.”
Lagi-lagi hening. Semua larut dalam pikiran masing-masing. Semua menyatu dan meratapi takdir yang kini menimpa anak mereka masing-masing.
***
Tubuh itu semakin melemah. Wajahnya semakin pucat. Semua cara telah Krisna lakukan. Ia dan Febe telah mencoba melakukan operasi transplantasi sumsum tulang belakang. Namun nihil. Tak ada perubahan. Sel kanker telah menyebar kemana-mana dan mengakibatkan komplikasi yang cukup serius. Ditambah lagi dengan kecelakaan yang dialami Winda seusai pesta kelulusan, satu bulan yang lalu.
“Tubuhnya menolak obat-obatan yang disuntikkan.” kata Febe kepada ibu dan kakak Winda. “Kami sulit untuk memastikan kondisi Winda akan membaik.”
“Kak Febe suruh saja Kak Al pulang. Pasti Winda cepat pulih.”
“Sayangnya Alfian tidak bisa dihubungi.”
“Apa kita bawa ke Beijing lagi saja, Be?” tawar Carlina. “Dulu Winda juga sembuh di sana.”
“Sulit, Tante. Hanya 25% kemungkinan Winda kembali pulih.”
Oh astaga! Bisakah penyakit adikku aku saja yang menanggung?
“Kenapa ada yang menuruni penyakitku?” gumam Carlina. Tak disadarinya air mata itu mengalir.
“Kita berdoa sama-sama saja, Tante. Kami juga akan berusaha yang terbaik. Sekuat kami.”
***
haii mampir ke karyaku yu.. ENDINGKU BERSAMAMU
kisah romansa dua insan manusia
jangan lupa like, vote, rate dan komennya..
sumpah bingung
thor klw penjelasaan ceritanya beraturan bagus loh critanya...ini kesannya dipotong2 critanya pingin cpt2 selesai kah thor?
sama judulnya jg jd g pas...
ujung2nya ke sana jg
g ada ketegangan nih...tp klw itu tulang sumsum krisan, jd dia g boleh capek2 loh..