Tak pernah terpikirkan oleh Chiara jika hari pernikahan yang dia dambakan selama ini malah berakhir dengan kesedihan. Kesedihan yang begitu menyakitkan bagi Chiara.
Setelah satu tahun berpacaran , Chiara memutuskan menikah dengan Aldo - pria yang sudah menjadi tambatan hatinya selama ini. Bukan pernikahan indah yang dia dapatkan , tapi Chiara malah mendengar kabar kalau calon suaminya telah meninggal.
Nenek Dewi - selaku Nenek Aldo merasa sangat kasihan pada Chiara. Dia sudah menganggap Chiara seperti cucunya sendiri. Karena tamu undangan sudah banyak yang datang , Nenek Dewi lalu menyuruh Dario - cucu kesayangannya yang terkenal berandalan sebagai pengganti Aldo. Dario bersedia menjadi mempelai pengganti karena dia tidak tega melihat Neneknya yang terus memohon.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan lama ? Atau justru berpisah karena tak saling mencintai ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangat mencintainya
Malamnya
Dario berdiri di belakang pintu sambil memandang tubuh Chiara hingga beberapa saat. Berpikir sejenak, bagaimana caranya agar Chiara tidak marah lagi dengan dirinya. Dia rasanya tidak kuat melihat Chiara yang hanya diam saja.
Dario tahu kalau wanita itu sebenarnya belum tidur. Terlihat dengan jelas dari kakinya yang bergerak meski di bawah selimut.
"Chiara ," panggil Dario dengan hati - hati. Tak kunjung mendapatkan respon dari sang istri, Dario beringsut mendekatinya.
Chiara langsung pura-pura memejamkan matanya karena tidak ingin bicara dengan Dario. Jantungnya seketika berdetak sangat kencang ketika merasakan ada sebuah lengan kekar menyentuh dan melingkar di pinggangnya. Tangan Dario terasa jauh lebih hangat dari suhu kulitnya.
Jarak mereka juga sangat dekat. Chiara berharap Dario tidak mendengar detak jantungnya karena di ruang itu sangat sunyi. Hembusan nafas mereka yang pelan saja sampai terdengar jelas.
" Chiara, jangan marah lagi. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Aku sangat mencintaimu. Saat ini kau dan Nenek adalah penyemangat hidupku," kata Dario semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Chiara.
Sebisa mungkin Chiara tidak menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Dia takut Dario tahu kalau sebenarnya dia pura - pura tidur.
"Selamat malam, Chiara," ucap Dario setelah lima menit duduk di sisi Chiara.
Dario memberanikan diri mengecup dahi dan bibir Chiara. Ada perasaan takut yang muncul pada dirinya. Dario takut Chiara pergi meninggalkannya. Dia takut Chiara kembali dengan Aldo. Membayangkan semua itu rasanya kepalanya sakit dan dia sampai sulit tidur.
Tubuh Chiara bergetar hebat, seperti ada sengat arus listrik yang menjalar dari ujung kaki hingga berjalan pelan menuju ujung rambutnya. Jantungnya terasa berhenti berdetak ketika merasakan bibir lembut Dario menyapu kulitnya. Dadanya terasa sesak hingga rasanya sulit untuk bernafas. Ingin mendorong Dario tapi dia takut ketahuan sedang pura - pura tidur. Semuanya jadi serba salah.
Deru nafas Chiara semakin tidak menentu ketika ada sebuah tangan lembut menyusuri kulit wajahnya. Terasa menggelikan dan menggelitik kupu-kupu di perutnya.
Melihat pipi Chiara yang mulus , Dario mencondongkan kembali tubuhnya lalu memberikan kecupan singkat di pipinya.
Hati Chiara terasa ingin meledak merasakan bibir Dario kembali menempel di pipinya. Dia tak menyangka Dario ternyata begitu berani melakukan itu.
Sayang sekali, kali ini Chiara hanya bisa mengumpat di dalam hatinya. Padahal dia sangat geram karena Dario membuatnya tidak nyaman. Ada sesuatu yang bergelayar di tubuhnya, terlebih ketika hembusan nafas Dario menerpa telinganya.
" Dario, awas saja kalau kau sampai bertindak lebih jauh lagi," batin Chiara dengan geram.
Setelah kecupan singkat yang di berikan oleh Dario, mata Chiara semakin terasa berat. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Bahkan sekarang matanya sangat sulit untuk di buka. Hingga akhirnya dia benar-benar tidur.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Besok paginya
Suara burung milik tetangga berkicau bagaikan alunan melodi menjemput pagi yang indah.
Chiara meregangkan otot - otot tubuhnya yang terasa kaku , kemudian dia menggulingkan tubuhnya hingga punggungnya membentur dada bidang Dario.
Chiara langsung membalikkan tubuhnya. Kedua matanya sontak mengerjap . Chiara ingin mendorong tubuh Dario agar terjatuh, tapi melihat pria itu yang tidur begitu nyenyak dia jadi tidak tega melakukannya.
Chiara menggeser tubuhnya, memberi jarak dan ruang di antara mereka. Posisi mereka saat ini saling berhadapan dalam posisi miring. Dia memandang wajah Dario yang masih tertidur pulas cukup lama. Bibirnya tertarik ke atas lebar - lebar membentuk senyuman ketika teringat Dario semalam menciumnya.
Ada kuncup bunga yang kini berangsur - angsur mekar. Chiara lantas beranjak bangun lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi , Chiara kembali memandang Dario yang masih dalam posisinya. Pria itu tidur tanpa mengenakan selimut. Terlihat dengan jelas kalau pria itu sedang kedinginan.
Pelan - pelan Chiara membentangkan selimut untuk menutupi tubuh Dario. Semoga saja bisa mengurangi rasa dingin di tubuhnya. Terlihat dengan jelas wajah Dario yang tampak kelelahan. Padahal sudah waktunya Dario bangun untuk bersiap pergi bekerja , tapi dia tak tega membangunkan pria itu.
Tiba - tiba saja tangan kekar Dario mencengkram tangannya cukup kuat. Posisi Chiara yang tidak seimbang membuat tubuhnya masuk ke dalam dekapan Dario.
" Chiara, jangan tinggalkan aku ! Aku sangat mencintaimu. Aku mohon jangan pergi," racau Dario dengan mata terpejam. Wajahnya berkerut dengan raut ketakutan.
Chiara berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Dario yang memeluknya begitu erat. Namun dia kesulitan karena kekuatannya memang tidak sebanding dengan kekuatan Dario yang besar.
" Chiara, jangan pergi! Jangan pergi! "
Dario kembali meracau lalu melepaskan tubuh Chiara dari dekapannya. Kini kedua tangannya melambai seperti sedang meraih sesuatu. Setelah terlepas, Chiara segera pergi menjauh. Dengan nafas terengah - engah dia keluar dari kamar.
" Dasar pria aneh dan mesum," umpat Chiara sambil mengusap dadanya. Dia bergidik ngeri membayangkan tubuhnya di dalam dekapan Dario.
Beberapa menit kemudian Dario pun bangun dan langsung mengambil ponselnya yang di letakkan di atas nakas. Kedua mata pria itu terbelalak lebar ketika melihat jam di ponselnya.
" Ya , Tuhan. Kenapa alarmnya tidak berbunyi ? " ucap Dario yang langsung berlari menuju ke kamar mandi.
Hanya butuh waktu empat menit , Dario telah keluar dari kamar mandi.
Ketika Chiara membuka pintu kamarnya , dia tampak terkejut melihat Dario yang sedang mengenakan pakaian dengan tergesa - gesa. Pria itu seperti orang yang kesurupan, mengenakan baju saja sampai tidak rapi , padahal Dario paling tidak suka mengenakan baju tidak rapi.
" Dario, ada apa denganmu ? Kenapa sangat tergesa - gesa begitu ? " tanya Chiara yang hanya diam di tempatnya.
" Chiara , kenapa kau tidak membangunkan aku ? Sekarang aku hampir terlambat bekerja ? Aku juga tidak bisa memasak dan membersihkan rumah," ujar Dario seraya menyisir rambutnya di depan cermin.
Chiara berjalan mendekati Dario. "Aku memang sengaja tidak membangunkanmu karena aku lihat kau tampak kelelahan. Aku juga yang membuat ponselmu senyap karena berisik sekali," terang Chiara dengan jujur. Tadi dia memang tidak tega membangunkan Dario.
Dario pun tersenyum. Dia tersenyum karena Chiara peduli dengan dirinya.
" Terima kasih , Chiara. Terima kasih karena kau peduli padaku," sahut Dario sembari menatap wanita itu.
" Kenapa malah berterima kasih ? Bukankah kau seharusnya marah padaku karena gara - gara aku kau sekarang jadi terlambat pergi bekerja ? " tanya Chiara dengan raut wajah bingung.
"Marah ? Mana mungkin aku marah . Oh iya , pagi ini kau di rumah dulu ya ? Aku sedang buru - buru , nanti sore aku akan datang menjemputmu seperti kemarin. Kau tidak apa - apa kan di rumah dulu ? " tanya Dario sedikit cemas. Dia takut wanita itu marah seperti kemarin karena sendirian di rumah.
" Iya , aku tidak apa - apa," sahut Chiara.
" Aku sudah memesan makanan , mungkin sebentar lagi pasti datang. Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan lupa untuk makan," kata Dario yang kemudian meninggalkan Chiara.
semoga saja Chiara akan baik2 saja dan rencana nenek Dewi tidak jadi kenyataan .
kasihan Chiara dan Dario kalo sampe itu terjadi