Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 – Ruang yang Menyimpan Rahasia
Pagi menyapa Akademi Aetherion dengan langit yang jauh lebih cerah dibanding beberapa hari terakhir. Embun pagi masih menggantung di ujung dedaunan, memantulkan cahaya matahari yang menembus pepohonan di sekitar halaman utama akademi.
Burung-burung kecil beterbangan di antara menara-menara batu putih, sementara lonceng kristal berdentang lembut, menandakan aktivitas pagi telah dimulai. Sekilas, semuanya tampak kembali normal, seolah kejadian mengerikan di Hutan Ilusi hanyalah mimpi buruk, namun Aurelia tahu tidak ada lagi yang benar-benar sama.
Koridor menuju ruang kelas kembali dipenuhi para murid, mereka berjalan berkelompok seraya membawa buku-buku tebal dan tongkat sihir masing-masing. Namun, setiap kali Aurelia melintas, percakapan mereka berhenti.
“Itu dia gadis yang menyelamatkan Hutan Ilusi.” Ucap salah satu murid disana.
“Aku dengar bahkan monster itu sampai berlutut di depannya.” Salah satu murid yang lain menyahut.
“Katanya Kepala Akademi juga ingin menemuinya secara langsung. Aku pikir itu hanya rumor yang dibesar-besarkan, tapi aku melihat cahayanya sendiri.” Jelas seorang murid lagi.
Bisikan-bisikan itu terdengar jelas meski di ucapkan pelan, Aurelia menggenggam tali tasnya lebih erat. Ia menundukkan kepala, berharap bisa segera melewati lorong itu tanpa menarik perhatian.
“Relia,” suara Lyra terdengar dari samping. Gadis berambut merah muda itu menyelinap di antara kerumunan seraya membawa dua cangkir minuman hangat. “Aku membawa coklat hangat untukmu.” Tuturnya seraya menyerahkan cangkir itu dan membuat Aurelia tersenyum kecil.
“Kau tidak perlu repot-repot.”
“Wajahmu terlihat seperti orang yang semalaman tidak tidur.” Aurelia terkekeh mendengar pernyataan sahabatnya itu.
“Aku memang tidak tidur.” Jujurnya, karena semalaman ia hampir tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali menutup mata, ia kembali melihat perempuan berjubah putih yang memanggilnya.
“Anakku…” suara itu masih begitu jelas dan terasa sangat nyata. Namun setiap kali mencoba mengingat wajah perempuan itu, bayangannya akan selalu memudar.
Keduanya kemudian melanjutkan kembali langkahnya, namun baru beberapa langkah mereka berjalan, salah seorang professor menghampiri mereka—Profesor Cedric. Cedric menyapa setiap murid yang dilewatinya dengan ramah dan para murid pun menjawab sapaan tersebut dengan bersamaan.
“Nona Aurelia,” Cedric tersenyum tipis kala berdiri dihadapan Aurelia. “Kepala Akademi Aldric telah menunggu Anda di Menara Arcanum.” Jantung Aurelia berdegup sedikit lebih cepat.
“Sekarang?” Tanya Aurelia dan membuat Cedric mengangguk.
“Beliau mengatakan ini penting.” Ucap Cedric. Kemudian Lyra menepuk bahu sahabatnya.
“Aku akan menunggumu di perpustakaan.” Lalu Aurelia mengangguk pelan.
Menara Arcanum, sebuah menara yang berdiri dibagian paling utara di akademi, tidak semua murid diizinkan untuk masuk sana. Konon, menara itu telah berdiri bahkan sebelum Akademi Aetherion dibangun.
Dinding batunya dipenuhi ukiran rasi bintang yang tampak berubah posisi setiap kali dilihat. Semakin tinggi Aurelia menaiki tangga spiral menara tersebut, ia merasa suasana di sekitarnya akan terasa semakin sunyi.
Akhirnya, Aurelia tiba di sebuah pintu kayu besar berwarna putih gading. Di tengah pintu terukir lambang Astralis, Aurelia membeku, karena lambang itu sama persis seperti simbol yang muncul pada tongkat sihirnya.
“Masuklah.” Belum sempat ia mengetuk, suara Kepala Akademi sudah terdengar dari dalam.
Pintu terbuka secara perlahan dengan sendirinya. Ruangan itu jauh lebih luas dari pada yang dibayangkan olehnya. Rak-rak buku menjulang tinggi hingga langit-langit, puluhan bola kristal melayang perlahan di udara.
Di tengah ruangan berdiri sebuah meja bundar dari kayu hitam, dan dibelakangnya terdapat Kepala Akademi Aldric yang tengah memandang keluar jendela. “Silakan duduk, Aurelia.” Pintanya dan Aurelia menuruti permintaannya.
Untuk beberapa saat, ruangan tersebut dipenuhi keheningan. Aldric masih memandang langit, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat, barulah kemudian ia berbalik. Tatapan matanya terlihat tampak lebih lelah dibanding biasanya.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanyanya dan Aurelia tampak sedikit terkejut, ia mengira akan langsung di interogasi.
“Aku baik,” jawab Aurelia sedikit ragu.
“Benarkah?” Aurelia kemudian terdiam saat Aldric kembali memastikan jawaban yang dilontarkan olehnya, namun Aurelia segera menggeleng pelan.
“Sebenarnya masih banyak yang tidak kupahami.” Aldric tersenyum tipis mendengar ucapan Aurelia barusan.
“Itu jawaban yang lebih jujur dari sebelumnya,”
Pria tua itu berjalan menuju salah satu rak buku. Ia mengambil sebuah buku tua yang sampulnya mulai menguning karena dimakan usia. Kemudian, ia meletakkan buku tersebut secara perlahan di atas meja.
“Apa kau tahu…” katanya pelan. “… kenapa Akademi Aetherion didirikan?” Aurelia lekas menggelengkan kepalanya. “Semua murid mengira akademi ini dibangun untuk mengajarkan sihir, padahal itu hanya salah satu tujuannya.” Aldric membuka halaman pertama buku itu.
Di halaman tua tersebut terdapat gambar sebuah langit yang dipenuhi bintang. Di tengahnya berdiri lima sosok berjubah putih, masing-masing dari mereka memegang senjata yang berbeda. Ada yang memegang tongkat, pedang, busur, tombak, dan ada pula sebuah buku.
“Lima Penjaga Bintang.” Gumam Aurelia dan Aldric menatapnya.
“Jadi, kau pernah melihat mereka?” Aurelia seakan langsung merasa menyesal karena sudah mengatakan hal itu terlalu cepat. Namun Aldric tampak tidak terkejut dengan ucapannya, justru seolah seperti sudah menduganya. “Akademi ini… dibangun untuk menjaga sesuatu. Namun bukan sesuatu berupa benda, melainkan sebuah warisan.” Lanjut Aldric yang langsung membuat jantung Aurelia kembali berdegup lebih cepat.
“Warisan Astralis?” Aldrid tidak menjawab. Ia hanya menutup buku itu perlahan.
“Lupakan pertanyaan itu untuk saat ini, karena ada hal lain yang lebih penting.” Aldric menggeser sebuah amplop bersegel emas ke hadapan Aurelia. “Ini adalah undangan resmi.” Aurelia membukanya perlahan dan kedua matanya langsung membelalak.
Undangan Latihan Khusus Tim Elit Akademi Aetherion.
Latihan dimulai dalam tiga hari yang akan dipimpin langsung oleh Kepala Akademi, dan dibawah daftar peserta ia melihat beberapa nama yang sudah dikenalnya. Dalam daftar tersebut terdapat nama Kael Arvendis, Lucien Arvendis, Rowan Arvendis, Lyra Violette, dan Orion Vestran.
“Tunggu…” Aurelia mengernyitkan keningnya. “… Orion? Bukankah dia…” Kalimatnya terhenti dan nama itu perlahan menghilang dari kertas seolah tidak pernah tertulis, hingga hal tersebut membuat Aurelia membeku dan Aldric langsung tersenyum tipis.
“Kadang, ada beberapa nama yang belum boleh diketahui semua orang.” Ucapan itu justru membuat rasa penasaran Aurelia semakin besar.
Sementara itu, ditempat yang sangat jauh dari Akademi Aetherin, tepatnya di dalam ruang bawah tanah benteng hitam, obor-obor berwarna ungu menyala redup. Di tengah ruangan tersebut berdiri sebuah lingkaran sihir raksasa dengan empat sosok berjubah hitam yang telah berkumpul. Mereka berdiri mengelilingi seseorang yang masih duduk di atas singgasana batu.
“Apa kabar itu benar?” tanya salah seorang di antara mereka, kemudian pria di singgasana hanya mengangguk pelan.
“Penjaga Pertama telah dibebaskan.” Ruangan itu langsung mendadak sunyi.
“Itu berarti.. Pewaris Astralis benar-benar telah bangkit.” Pria itu berdiri. Dibalik jubah hitamnya, tampak sebuah lambang berbentuk mata yang dikelilingi duri. Lambang yang sama sekali tidak dikenal oleh dunia sihir saat ini.
“Kirim Pemburu Bintang.” Begitulah perintahnya. “Tapi ingat! Jangan bunuh gadis itu. Karena kita masih membutuhkannya.” Ia tersenyum tipis. Di sudut ruangan, sebuah bola kristal kembali memunculkan bayangan Aurelia.
Tanpa disadari oleh siapapun, perburuan terhadap Pewaris Astralis telah memasuki babak baru. Sementara Aurelia tengah bersiap menghadapi latihan Tim Elit, karena kini musuh-musuhnya sudah mulai menghitung setiap langkah yang akan ia ambil.