Anggi sama sekali tidak bisa menolak ia harus menikahi seorang pria tajir yang belum pernah dilihatnya sekalipun.
Rumah tangga yang ia jalani ternyata penuh lika-liku karena seorang wanita muda mengaku-ngaku telah hamil anak Agus Soeripto.
Bagaimana nasib Anggi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenz Harsel
Ibu Agus merasa ada yang tidak beres terhadap Jesika tiba-tiba datang ke kediamannya.
"Aku harus memberitahukan ini kepada Agus," ucapnya gemetar.
Agus dan Anggi masih aja bermain-main sampai mereka berdua dialihkan oleh dering ponsel.
"Mas, angkat ponselnya," ucap Anggi menahan tangan nakal Agus.
"Aku tidak mau," tolak Agus.
"Nanti aku marah lagi," ancam Anggi.
Agus dengan cepat langsung bergerak menuju nakas, wajahnya terlihat serius apa lagi melihat tatapan Anggi dia ketakutan.
"Halo mami," sahut Agus.
"Astaga ibu, aku sampai lupa mananya kepada nas Agus?!" pekik Anggi.
"Kalian sedang apa di sana?" tanya mami serius.
"Itu Agus baru menidurkan baby boy, mami sudah sampai kah?" tanya Agus alihkan obrolan.
"Mas, aku mau bicara dengan ibu," bisik Anggi.
"Kog cepat ditidurkan? Jangan-jangan kamu-" ucapan ibu berhenti karena mendengar suara Anggi.
"Ibu, sudah sampai?" tanya Anggi.
"Baru saja sayang, kamu bagaimana di sana ada masalah tidak?" tanya mami halus bahkan tidak seperti tadi ketus kepada Agus.
"Semua baik ibu, mas tanganmu hentikan," bisik Anggi karena tangan Agus nakal.
"Aku tidak bisa hentikan sayang," balas Agus.
"Nak, kalian masih di sana kan?" panggil mami karena tidak ada dia dengar suara Anggi.
"Maaf Bu. Jaringan tidak bagus," bohong Anggi.
"Baiklah, lain kali kita bicara lagi." Anggi menutup ponselnya lalu menatap Agus serius.
"Malam ini atau sampai mood ku kembali, jangan tidur Bersamaku!" Agus terbelalak di mana mungkin bisa tidur sendirian kalau sudah seperti ini.
"Aku tidak bisa sayang, kau tahu kan aku hampir gila karena kamu tidak ada disampingnya," protes Agus.
"Ini hukuman untukmu mas karena sudah menggangguku tadi," tambah Anggi.
"Aku tadi hanya bercanda sayang, lagian mami tidak tahu apa yang kita lakukan tadi," kekeh ya.
"Oh dasar modus," cebik ya.
Agus dan Anggi kembali ke kamar baby boy memastikan putra mereka sudah tidur dengan tenang.
"Mas masih belum mau memberikan nama Kepadanya?" singgung Anggi.
"Siapa ya? Aku belum bisa memberikan nama yang cocok untuknya," balas Agus.
"Mas, bagaimana kalau Kenz Harsel?" Agus langsung setuju yang dikatakan Anggi.
"Nama yang bagus, aku suka sayang," bisik Agus.
Mereka kembali ke kamar kali ini Agus akan memperlakukan Anggi sebaik mungkin.
Dia tidak mau melewatkan momen spesial mereka berdua yang sempat retak beberapa hari lalu. Agus tiba-tiba menangis sambil menangis dalam pelukan ya sendiri.
"Mas, apa yang kau lakukan?!" pekik Anggi.
"Maafkan aku ya sayang," lirihnya. Anggi berbalik lalu menatap Agus yang penuh merasa bersalah.
"Mas, sudahlah kita lupakan saja yang terjadi, aku ndak mau lagi mengingat itu." Agus semakin merasa bersalah.
Kini mereka berdua langsung tidur, Agus sangat sulit untuk memejamkan mata.
"Kenapa belum tidur mas?" tanya Anggi terusik karena tangan Agus mengusap wajahnya.
"Maaf ya sudah mengganggumu," bisik ya.
Anggi tidak menjawab justru menenggelamkan wajahnya balik leher jenjang itu.
"Aku mengantuk mas," ucapnya pelan.
"Tidurlah!" Agus seperti menidurkan bayi saja tapi ponselnya bergetar hingga mau tidak mau dia angkat.
"Mami?" ucap Agus pelan.
Pesan singkat masuk kembali Agus terkejut melihat Jesika jauh dari kata glamornya.
"Apa yang dilakukan Jesika di sana mami?" tanya Agus penasaran.
"Dia hanya ingin melihat mami habis itu pergi." Agus juga heran, tapi dia saat ini juga harus waspada.