Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan, begitu pula yang dirasakan Amira. Dia adalah korban keegoisan kedua orang tuanya. Apalagi setelah ibunya menikah lagi, dia semakin kehilangan kasih sayang ibunya.
Dapatkah dia bertahan dalam menghadapi kerasnya hidup, atau pergi dan mengakhiri semuanya?
Tahap Revisi 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rijal Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Camer Matre
"Pagi-pagi sudah rapi dan cantik begitu, mau ke mana memangnya kamu?" tanya Aura ketika sedang menyantap sarapannya.
"Mau tahu aja apa mau tahu banget?" tanya Amira sengaja mau buat Aura penasaran.
"Kalau papa sih, nggak usah dikasih tahu juga sudah tahu duluan kamu mau ke mana," ucap pak Andi ikut menimpali.
"Mau ketemu camernya tu," tambah Dimas.
"Kamu nggak takut memangnya, Mir?" giliran bu Diandra yang bertanya.
"Ngapain takut, memangnya Amira punya hutang sama mamanya Rangga, kan nggak," jawabnya santai.
"Kamu harus bisa ngambil hatinya tante Anet, biar direstui gitu hubungan kamu sama Rangga," ujar Aura memberi saran.
"Apaan tu, kalau aku ambil hatinya, tante Anet bisa mati dong. Haha... Kak Aura pagi-pagi gini bikin lelucon aneh." Amira tertawa ngakak.
Mereka semua heran melihat tingkahnya, bahkan pak Andi yang sedang makan pun berhenti sejenak, hening tidak ada suara hanya terdengar suara tawa Amira.
"Lho, kok pada jadi patung semua?" tanya Amira, dia meneguk habis air dalam gelasnya, dan kemudian berpamitan pada kedua orangtuanya.
"Aku rasa dia terlalu bersemangat hari ini," ucap Dimas.
"Dia aneh," tambah Aura, ia kembali melanjutkan makannya yang tadi sempat tertunda.
"Semoga aja lancar," harap bu Diandra.
"Ya, papa juga berharap begitu."
********
"Aku ajak Cici dulu ya, kamu tunggu di sini aja, aku nggak bakalan lama kok," ucap Amira saat akan turun dari mobil.
"Oke sip," jawab Rangga singkat, dia melihat kekasihnya itu sudah masuk ke dalam rumah mewah yang berdiri kokoh di depannya.
Hari ini mereka sepakat untuk ke rumah bu Anet, mama tirinya Rangga, dan semoga saja mamanya itu kali ini berlaku baik sama Amira, tidak seperti sebelumnya.
"Lho, Cici mau ke mana?" tanya Amira heran saat Cici membuka pintu belakang mobil.
"Cici di belakang aja, Kak," jawab Cici dengan gaya imutnya.
"Di depan aja bareng kakak," suruh Amira.
Rangga tidak ikut-ikutan karena urusan dia saat ini hanyalah fokus mengemudi.
"Nggak ah, entar Kak Amira cemburu lagi sama Cici," ucap Cici, dia tidak memandang Amira sama sekali, matanya malah terus menatap ke arah luar jendela.
Plak!
Seperti ditampar berkali-kali, perkataan Cici tadi membuat Amira kena mental. Amira mendengus kesal, sedangkan Rangga hanya bisa menahan tawanya, ingin tertawa lepas takut ditonjok sama Amira.
Amira memilih untuk tidak bicara selama dalam perjalanan, sedangkan Cici malah nyanyi-nyanyi nggak jelas.
"Potong bebek angsa, angsa di kuali nona minta angsa, angsa sudah mati. Belok ke kiri, belok ke kanan..."
"Lho, kok kamu belok ke kanan sih, Rangga?" tanya Amira. Rangga segera mengerem mobilnya mendadak, syukur saat itu dia nggak kencang bawa mobilnya dan keadaan juga sedang sepi, kalau nggak, entah apa yang akan terjadi.
"Ini gara-gara lagunya Cici ni, makanya deh aku belok ke kanan," jawab Rangga, dia melihat ke arah Cici dengan menunjukkan rasa kesal.
"Ya udah kita muter lagi berarti, Cici nggak usah nyanyi lagi. Apa apaan itu, lagunya pun salah semua."
Kata-kata Amira malah membuat Cici tertawa.
"Haha, Kak Amira, itu lagu yang diajarin sama papa, kayaknya papa sudah mengubah liriknya deh," ucap Cici sambil terus tertawa.
"Udah, Mir. Anak kecil dibiarin aja, nggak usah diladeni," kata Rangga dengan nada ketus.
******
Sekarang mereka sudah sampai di rumah mamanya Rangga, begitu keluar dari mobil, bu Anet langsung menyambut mereka dengan wajah yang cukup ramah bahkan Amira diperlakukan sangat baik.
Tentu saja, karena sebelum datang ke sana, Rangga sudah memberi tahu mamanya bahwa mereka akan datang bertamu hari ini.
"Rangga, Amira. Masuk dulu sayang!" ucap wanita itu mempersilakan.
"Iya tante," jawab Amira, dia berusaha menurunkan Cici dari gendongannya, tapi anak itu tidak mau turun sama sekali, terpaksa deh Amira harus menggendong anak kecil itu sampai ke dalam rumah.
*******
"Ini anak siapa?" tanya bu Anet saat melihat Cici yang terus berada di samping Amira.
"Ini adik Amira, Tante. Anak dari istri kedua papa," jelas Amira.
"Oh, hampir mirip ya," ucap bu Anet memperhatikan.
"Masa sih, Ma," tiba-tiba Rangga juga jadi penasaran, dan akhirnya memperhatikan wajah mereka berdua. Iya benar, mereka memang mirip, Cici itu bisa dibilang versi Amira kecil
"Wah benar Mira, dia memang mirip sama kamu," ucap Rangga membenarkan.
"Baru sadar? Kalau aku sih sudah menyadarinya dari kemarin-kemarin hari malah," jawab Amira, dia tersenyum ke arah Cici, tapi anak itu hanya melihatnya dengan ujung matanya saja, sinis gitu bikin Amira geram melihatnya.
"Cici sudah sekolah?" tanya bu Anet, wanita itu sebenarnya sangat menyukai anak kecil.
"Belum, tahun depan baru Cici sekolah, itu pun masih harus masuk Tk dulu."
"Memang harus begitu," ucap Rangga.
"Maunya sih Cici langsung SMP terus."
"Kenapa begitu?" tanya Amira penasaran.
"Soalnya ya, Cici mau cari pasangan hidup, biar ada teman mainnya tiap hari, kak Ririn bilang SMP itu kepanjangannya sekolah mencari pasangan," tutur Cici, ketiga orang di depannya saling tatap-tatapan. Kata-kata seperti itu keluar dari mulut anak sekecil Cici, sungguh aneh memang, dan sepertinya yang ngajarinnya pun nggak waras.
"Cici, itu bukan kepanjangan dari SMP. Siapa sih yang usil banget ngajarin Cici nggak benar gini?" tanya bu Anet.
"Kak Ririn, Tante," jawab Cici. Sekarang dia beralih duduk di pangkuannya Rangga, Amira hanya melihatnya saja, tidak bilang apa-apa.
Rangga pikir Amira ngambek lagi, jadi dia berniat ingin memindahkan Cici dari pangkuannya, namun Amira langsung mencegahnya.
"Nggak apa-apa, biarkan saja. Lagi pula anak kecil kok."
"Oh iya, Ma. Rangga sama Amira mau nikah akhir tahun ini, menurut mama bagaimana?" tanya Rangga meminta pendapat mamanya.
"Kabar bagus dong, yang pasti mama setuju aja, kalau kalian butuh bantuan mama, mama dengan senang hati bakal bantuin," jawab wanita itu penuh semangat.
"Cie cie .... Sudah dapat restu ni, sekarang mana janjinya, tepatin dulu!" ucap Cici mengingatkan, Rangga yang tidak tahu dia punya janji apa sama Cici, cowok itu jadi heran dengan pikiran penuh tanda tanya.
"Udah, nggak usah pura-pura lupa. Cici sudah tahu trik-trik seperti itu," ujar Cici lagi, dia menatap malas wajah Rangga.
"Punya janji apa kalian?" bu Anet juga jadi penasaran.
"Nggak ada." Mereka menjawab kompak.
"Nggak ada, Ci. Kamu bohong ya?" tanya bu Anet, Cici menggelengkan kepalanya.
"Cici nggak bohong, Tante. Ingat nggak waktu di mobil tadi?" Cici berusaha membuat Amira dan Rangga mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
DUA JAM SEBELUMNYA...
"Ci, diam dong pusing ni dengarnya, lagu kamu nggak ada yang benar satu pun," ucap Amira.
"Iya Ci, nanti aja nyanyi lagi ya. Kak Rangga ajarin deh," tambah Rangga.
"Oke, tapi Kak Rangga sama Kak Mira janji dulu sama Cici," suruh anak kecil itu.
"Janji apa?" tanya Mira.
"Beliin sepeda yang ada di toko tadi itu, yang harganya lima juta, sepedanya bagus harganya juga nggak mahal, kan Kak Mira sama Kak Rangga juga punya banyak duit".
"Iya kita beliin," jawab mereka, jawabnya sih asal-asalan, tapi sekarang jadinya betul-betulan, apes benar nasib mereka.
Sekarang mereka sama-sama baru ingat, sambil saling pandang Rangga dengan lemasnya berkata." Duit lagi Mir, apes benar."
"Sabar, Ga. Tadi sih kita juga ngejawabnya asal-asalan." Amira mengusap lembut punggung Rangga, tapi dalam hatinya dia itu sedang menertawakan kebodohan dirinya sendiri.
"Hahaha .... Kasian benar kalian dipermainkan sama Cici, " ucap bu Anet sambil tertawa melihat wajah murung mereka berdua.
Sedangkan Cici melompat kegirangan dan memeluk sang kakak sebagai tanda terima kasih karena permintaananya akan segera dipenuhi.
*****
itu sakit banget Amira, Rangga kok gitu sih