"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."
"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."
Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.
"Bismillah, semoga aku bisa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Seribu Kuil
Desa Ambal. Ya, Sekar sekarang berada di Desa Ambal. Tempat Sekar dilahirkan, setelah menginjak usia tujuh bulan, barulah Sekar mengikuti kedua orangtuanya merantau di Sumatera.
Disinilah tempat Ibu dan Bapak Sekar berasal. Satu desa, satu deret rumah. Kalau jodoh memang begitu. Padahal, dulu kata Bapak, Ibumu itu banyak penggemar, salah satunya polisi. Entah alasan apa, sampai pada saat itu, Ibumu mau menunggu Bapak dari Jakarta, menyelesaikan pendidikan.
Aku berada di pantai. Rumah Nenek, dekat dengan pantai. Akses yang ditempuh sangat mudah, sepuluh menit kalau naik.sepeda motor.
Kuambil gawai. Lalu kucoba mengarahkan kamera canggihku ke arah ombak pantai, sebentar lagi matahari tenggelam, tapi pantai semakin ramai.
Setelah kurasa mendapatkan gambar yang bagus, aku pilih beberapa fotoku dengan latar belakang matahari terbenam. Wah, cantik. Mataharinya. Kucari kontak dengan nama Mas Akbar Z, lalu kukirimkan hasil jepretanku ke calon suami. Sekar tersenyum.
Akbar sedang gelisah. Duduk pinggir pantai, merenung seorang diri. Teman kerjanya masih duduk di villa. Hanya Akbar sendiri yang sibuk mencari signal.
Dari pagi, kekasihnya itu, belum menghubungi atau memberikan pesan. Akbar tahu, hari ini adalah hari istimewa untuk Sekar. Wisuda. Akbar tidak bisa datang ke Jogja, dikarenakan tidak ada hari libur. Akbar bisa saja meminta izin kepada bosnya. Hanya saja, Akbar tidak mau seperti itu, Akbar punya tanggung jawab yang lebih.
Ting
Ada pesan masuk pada gawai canggih Akbar. Dengan segera, ia membuka pesan dari kekasih tersayangnya.
Ada beberapa foto wisuda dan foto di pantai. Tunggu, Sekar ke pantai? Pikir Akbar. Segera Akbar menghubungi Sekar. Tapi tidak aktif.
Lalu muncul lagi, sebuah pesan yang membuat wajah Akbar cemberut sekaligus kesal.
'Maaf Mas, di sini lumayan susah signal, jaringan tidak mendukung untuk kartu yang aku pakai. Fotonya sudah sampai? Bagaimana? Cantikan mana sama kandidat pilihan Mas Akbar yang dulu? wkwkwkw'
Lucu. Kamu lucu, De. Makasih sudah buat aku tertawa.
Beberapa bulan kemudian.
Sekar sudah pulang kembali ke daerah asal, Palembang. Kedua orangtuanya menyuruh Sekar segera pulang kampung setelah menerima ijazah. Akbar juga mendukung keputusan Sekar. Disamping itu, Akbar tidak lupa memberi kabar bahwa tes masuk kuliah S2 di Bandung bulan Juli. Jadi, Sekar harus bersiap segalanya.
"Pak Akbar, mau ikut kami keliling Kota Singkawang, sekali-kali keliling bareng kami." Ajak salah satu teman dosen Akbar.
"Ikut saja, Pak. Kita lihat lampion, pasti rame, makan nasi goreng tempat Pak Jokowi juga, ya guys!" Tambah dosen lain.
"Baiklah, saya ikut. Ada tempat untuk ambil gambar baguskah, Pak Mirta?"
"Ada Pak, tujuan kita kesana. Mari bersiap."
Besok Singkawang akan mengadakan Festival Cap Go Meh. Nyala lampion merah sangat terang. Singkawang, salah satu kota toleran di Indonesia. Inilah yang disukai oleh Akbar. Akbar sangat menyukai hal yang berupa budaya dan adat.
Sekarangpun, kamera canggihnya, tidak lepas dari kedua tangan kokohnya. Kamera yang dibeli dari hasil penelitian sewaktu di Jogja.
Membidik objek yang menurut Akbar langka dan estetis. Teman kerja Akbar sudah hafal dengan Akbar. Kalau sudah menyangkut hal budaya, adat dan sejenisnya, Akbar akan selalu ingin tahu.
Akbar berhenti di depan Vihara Tri Dharma Bumi Raya, inilah salah satu vihara yang ada di Singkawang. Mengambil gambar dengan lensanya. Akbar selalu memposting di sosial medianya tentang acara ataupun adat. Tidak hanya Cap Go Meh, pada saat Isra' Mi'ra pun, di Singkawang mengadakan acara yang berhubungan dengan keislaman.