Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 034
Kamar tamu di Vila Biru berubah dalam tiga hari.
Awalnya hanya ada ranjang rapi, lemari kosong, meja kecil, dan vas bunga yang diganti staf rumah setiap dua hari. Tempat itu bersih, mahal, tetapi tidak punya jejak siapa pun. Keira selalu meninggalkan barangnya dalam satu tas, seolah kapan saja bisa ditutup dan dibawa pergi.
Lalu kotak-kotak dari Mama Harto datang.
Selimut warna hijau sage. Bantal tambahan. Lampu tidur kecil yang cahayanya hangat. Satu keranjang rotan untuk alat jahit. Dua mug keramik, satu bergambar awan, satu bergambar bintang. Di atasnya ada kartu tulisan tangan Mama Harto:
Untuk kamar Keira di Vila Biru. Kalau warnanya tidak cocok, bilang. Rumah harus ikut selera orang yang tinggal.
Keira membaca kartu itu tiga kali.
"Kak Kei," Genki muncul di ambang pintu dengan membawa dinosaurus kecil, "Oma bilang ini kamar Kak Kei?"
Keira menurunkan kartu. "Sepertinya begitu."
"Berarti bukan kamar tamu?"
Pertanyaan itu membuat Keira menatap ruangan.
Bukan kamar tamu.
Kalimat sederhana itu membuat lantai terasa lebih nyata di bawah kakinya.
Rayhan berdiri di belakang Genki, membawa kotak terakhir. "Kalau kamu tidak nyaman, kita bisa atur ulang."
"Tidak." Keira cepat menggeleng, lalu sadar suaranya terlalu cepat. Ia tersenyum malu. "Maksudku, ini... bagus."
Genki berlari masuk dan menaruh dinosaurusnya di atas bantal. "Dino jaga kamar Kak Kei."
"Kalau Dino tinggal di sini, Genki tidur di mana?"
"Di kamar Genki. Tapi kalau malam ada monster, Genki boleh cek Dino."
Rayhan menaruh kotak di dekat meja. "Monster di Vila Biru sudah pensiun."
"Monster bisa balik kerja."
Keira tertawa. Ia merapikan selimut baru di ranjang. Tangannya bergerak pelan, seolah takut lipatan kain terlalu berani mengaku bahwa ia menyukai tempat ini.
Malam itu, untuk pertama kalinya, sikat gigi Keira berdiri di gelas kamar mandi Vila Biru, bukan disimpan kembali ke pouch. Di lemari, ada tiga baju kerja yang digantung. Di meja, laptopnya terbuka dengan sketsa After the Fold. Semua tanda kecil itu membuatnya gelisah sekaligus hangat.
Ia sedang benar-benar meninggalkan jejak.
Pukul sembilan, Genki mengetuk pintu dengan pola aneh: dua cepat, satu lambat.
"Kode rahasia?" tanya Keira saat membuka pintu.
"Kode keluarga."
Di belakangnya, Rayhan membawa buku cerita. "Dia menciptakan sistem keamanan sendiri."
"Kak Kei harus hafal. Kalau bukan kode, jangan buka."
"Baik, Pak Keamanan."
Genki masuk, naik ke ranjang tanpa diminta, lalu menepuk sisi kiri. "Kak Kei sini. Papa sana."
Rayhan mengangkat alis. "Ini kamar siapa?"
"Kamar Kak Kei. Tapi cerita untuk semua."
Keira duduk di sisi ranjang. Rayhan duduk di kursi dekat lampu tidur, tidak mengambil ruang terlalu banyak. Ia selalu begitu belakangan ini, hadir tanpa membuat Keira merasa dikepung.
Genki memilih buku tentang bulan yang mencari rumah. Saat Rayhan membaca, suaranya rendah dan stabil. Genki menyandarkan kepala di paha Keira. Jari kecilnya memainkan ujung cardigan Keira sampai gerakannya melambat.
"Bulan akhirnya pulang?" gumam Genki mengantuk.
"Iya," jawab Keira. "Karena ada yang menyalakan lampu untuknya."
"Kak Kei pulang juga?"
Rayhan berhenti membaca.
Keira menatap rambut Genki. "Kak Kei sedang belajar."
"Belajar pulang?"
"Iya."
Genki tampak puas dengan jawaban itu. Matanya menutup, tetapi beberapa detik kemudian ia membuka lagi. "Kalau Kak Kei belajar, Genki bantu."
"Bantu bagaimana?"
"Genki panggil."
Keira tidak langsung memahami. "Panggil apa?"
Genki menguap. "Panggil Kak Kei pulang."
Kalimat itu hampir membuat Keira lupa bernapas.
Rayhan menutup buku pelan. Di luar jendela, hujan mulai turun tipis, mengetuk kaca seperti ujung jari. Kamar yang tadinya asing kini dipenuhi suara napas anak kecil, bau selimut baru, dan cahaya lampu tidur yang tidak terlalu terang.
Setelah Genki benar-benar tidur, Rayhan mengangkatnya hati-hati.
"Aku bawa dia ke kamar."
Keira berdiri. "Aku ikut."
Mereka berjalan pelan melewati koridor. Di kamar Genki, lampu berbentuk bulan menyala redup. Rayhan meletakkan anak itu di ranjang, Keira menarik selimut sampai dada kecilnya tertutup. Genki bergerak sedikit, tangan kecilnya mencari sesuatu.
"Kak Kei..." gumamnya.
"Iya, Kak Kei di sini."
Anak itu tenang lagi.
Di depan pintu kamar Genki, Keira dan Rayhan berhenti bersebelahan. Tidak ada yang langsung bicara.
"Aku takut terlalu nyaman," kata Keira akhirnya.
Rayhan menoleh. "Kenapa?"
"Karena kalau suatu hari aku harus pergi, rasanya akan lebih sakit."
Rayhan tidak menyangkal ketakutan itu dengan kalimat mudah. Ia tahu orang yang pernah dibesarkan dengan ancaman kehilangan tidak bisa disuruh tenang begitu saja.
"Kalau suatu hari kamu pergi karena kamu memilih jalanmu sendiri, aku akan menghormatinya," katanya. "Tapi kalau kamu pergi karena merasa tidak pantas tinggal, aku akan mengejarmu sampai kamu ingat itu tidak benar."
Keira menatapnya.
"Itu terdengar keras kepala."
"Aku belajar dari Genki."
Keira tersenyum kecil. "Dia guru yang berbahaya."
"Sangat."
Hening di antara mereka berubah lembut. Rayhan mengangkat tangan, menyentuh sisi wajah Keira dengan punggung jarinya. Tidak terburu-buru, tidak menuntut. Keira memejamkan mata sebentar, membiarkan sentuhan itu tinggal.
"Terima kasih sudah membuat ruang untukku," bisiknya.
"Ruang itu sudah ada," jawab Rayhan. "Kami hanya akhirnya berani menunjukkannya."
Malam itu, Keira tidur di kamar barunya tanpa mengemas tas.
Sebelum mematikan lampu, ia membuka pouch kecil yang biasanya selalu masuk tas. Lip balm, obat sakit kepala, karet rambut, dan cincin kecil peninggalan masa remajanya ia letakkan satu per satu ke laci meja. Tangan Keira berhenti lama di pegangan laci sebelum menutupnya.
Barang-barang itu tidak dibawa pergi malam ini.
Untuk pertama kalinya, ia membiarkan sesuatu miliknya menunggu besok di tempat yang sama.
Paginya, ia bangun karena aroma roti panggang dan suara Genki dari koridor.
"Papa! Jangan berisik. Kak Kei tidur di rumah."
Rayhan menjawab pelan, "Papa tidak berisik."
"Berisik bisik juga berisik."
Keira membuka mata dan menatap mug awan di meja. Untuk sesaat, ia tidak tahu di mana ia berada. Lalu ia ingat: Vila Biru. Kamar yang bukan lagi kamar tamu. Rumah yang sedang belajar memanggilnya dengan sabar.
Ketika ia keluar, Genki berdiri di depan pintu dengan nampan kecil berisi roti yang dipotong tidak rata. Rayhan berdiri di belakangnya, memegang gelas susu.
"Sarapan untuk Kak Kei," kata Genki bangga.
"Wah. Siapa yang buat?"
"Genki. Papa cuma bagian bahaya."
"Bagian bahaya?"
"Pisau dan panas."
Keira menerima piring itu, lalu duduk di lantai koridor agar sejajar dengan Genki. "Terima kasih."
Genki menatapnya lama, seperti sedang menimbang kata yang terlalu besar untuk mulut kecilnya. Bibirnya bergerak, hampir membentuk suara lain.
Rayhan melihatnya.
Keira juga merasakan sesuatu di udara.
Namun Genki akhirnya hanya tersenyum malu dan berkata, "Kak Kei makan ya."
Kata yang hampir keluar itu tertahan di antara mereka, kecil, hangat, dan belum berani lahir.