Sebelum baca cerita ini, baca dulu cerita Om I Love You
Aisha Putri adalah gadis cantik bermata coklat. Putri dari pasangan dari Zevanya Putri dan Alan Putra Xaquille. Tumbuh menjadi gadis bar-bar penuh energik.
Dia tidak menyangka diusianya yang masih muda harus jatuh cinta dengan pria dewasa, pria yang pantas menjadi papanya.
Untuk mendapatkan pria tersebut dia rela menjebak Devan agar pria dewasa itu mau menikahinya. Bagaimana cara Aisha atau gadis manis yang akrab dipanggil Aish menaklukkan duda tampan bernama Devan.
Apakah benar kata pepatah, cinta tak memandang usia ?
Karya CF kembali hadir dengan kisah romantis, wkwkwk ...
Dilarang plagiat dan boomlike karya asli Author CF.
IG : Abiyu 686
FB : Abiyuatalaz
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahyaning fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Kemarahan Mamih
"MAMIH!" Aisha syok sekaligus terkejut, Mamih Zee sudah berada di depannya, sambil tangannya mencengkram kuat asbak itu, tatapannya tajam bagaikan pedang yang siap menghunus seseorang.
"Siapa lagi dia?" gumam Sofia.
"Mamih, Kok Mamih bisa ada disini?" tanya Aisha.
"Siapa dia? Kenapa dia ingin menyakitimu?"
Sofie tersenyum lebar, "Saya adalah mantan istri Devan. Sebentar lagi kami akan rujuk. Aisha tau kok!"
Zee menatap ke arah putrinya, jari-jari Aisha saling meremat. Dia yakin Mamihnya pasti sudah mengetahui semua, dan dia harus bersiap-siap menerima amukan sang mamih.
Zee merangkum wajah Aisha. Memberikan tatapan tajam mengintimidasi, dia ingin mendengar langsung dari mulut Aisha.
"Apa itu benar?" tanya Zee.
"Iya, Mih! Dia mantan istri Om Devan!" jawab Aisha menunduk.
Zee menghela nafasnya berat. Dia menatap wajah Aisha dengan perasaan kecewa dan sedih. Kenapa putrinya harus membuat kebohongan besar itu. Apakah dia tidak merasa bersalah sudah membohongi seluruh anggota keluarga.
"Maafkan aku, Mih!" sesal Aisha.
"Kenapa dia datang ke sini dan tinggal disini?" tanya Zee.
"Itu ... !"
"Apakah tadi Anda tidak dengar. Aku dan Devan akan rujuk, karena diantara kami ada anak. Makanya kami memutuskan untuk bersatu kembali. Lagipula ya nyonya, sebelum Devan menikahi Aisha, saya dan Devan sudah berencana untuk rujuk. Eh, tau-tau dia datang mengacaukan segalanya!" jelas Sofia panjang lebar.
"Aisha, apa benar yang dikatakan wanita itu?" selidik Zee.
Aisha menunduk tanpa memberikan jawaban. Dan sudah dipastikan, apa yang dikatakan wanita itu memang benar adanya. Aisha lah yang memang mengacaukan segalanya.
"Sudah jelas semuanya Aisha. Sekarang ikut Mamih pulang. Kemasi semua barang-barang kamu. Ikut Mamih pulang!"
"Nggak bisa gitu dong, Mih. Aisha masih istri Om Devan. Mamih nggak bisa begitu saja mengajak Aisha pulang. Dan Aisha bukan anak kecil lagi, yang setiap hari harus laporan dulu sama Mamih!" kesal Aisha.
"Bukan anak kecil? Lalu selama ini sikap kamu seperti apa? Jika kamu memang tidak mau dianggap anak kecil, maka bersikaplah seperti wanita dewasa!" berang Zee.
"Sudah. Sana pulang saja, Anak kecil! Cuci tangan terus bobo!" sindir Sofia.
"Kemasi barang-barang kamu, Aish. Jika kamu nggak mengemasi barang-barang kamu, Mamih yang akan mengemasi semua barang-barang kamu!" ancam Zee.
"Oke, Aisha akan kemasi barang-barang Aish!"
Aisha naik ke lantai dua menuju kamarnya. Mengemasi semua baju-bajunya. Ia masukkan ke dalam koper besar. Mumpung dia masih di lantai atas, Aisha berusaha untuk menghubungi sang suami, sialnya nomor Devan tidak aktif. Dan itu membuat Aisha sangat kesal.
Sementara di lantai bawah, Zee menatap tajam ke arah wanita yang terlihat sangat angkuh. Zee tidak terima wanita itu hampir menyakiti putrinya.
PLAKKK ...
Satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi mulus Sofia. Semua pelayan yang bekerja di rumah Devan membuka matanya lebar, mereka sangat terkejut melihat tindakan yang tiba-tiba dari ibu kandung majikannya.
Wajahnya cantik dan juga tegas. Memiliki aura kepemimpinan yang kuat. Cara melindungi anaknya, bisa dilihat bahwa dia tidak terima kalau darah dagingnya diperlakukan semena-mena.
"Ini adalah balasan karena kau hampir mencelakai putriku!" ucap Zee setengah tersenyum.
Sofia memegangi pipinya yang sakit dan terasa panas akibat dari tamparan keras itu. Dia syok dengan tindakan tiba-tiba yang dilakukan oleh Ibu Aisha. Refleks Sofia akan membalas, tapi dengan gesit Zee memelintir tangan Sofia ke belakang punggungnya. Dia juga mengunci pergerakan tubuh Sofia, agar perempuan itu tidak bisa melakukannya tindakan macam-macam.
"Jika Kau berulah lagi, aku tidak segan-segan mengadukan Kau ke kantor polisi dengan bukti cctv di rumah ini!" ancam Zee, "Kau juga akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada anakmu!" ucap Zee menyeringai lebar.
Zee melepaskan Sofia, dan sedikit memberikan dorongan pada tubuh wanita itu. Hingga wanita itu terjerembab ke sofa. Aisha yang baru turun dari lantai dua dengan susah payah karena membawa banyak barang-barang, dia heran karena melihat Sofia yang terduduk di sofa dengan posisi yang sangat aneh, sambil memegangi pipinya.
"Saya bantu, Nyonya?" Pak Mun meraih tas koper yang dibawa Aisha, dan segera membawanya ke depan.
"Kenapa dia?" batin Aisha.
"Kau sudah siap?" tanya Zee dengan menyilang kan kedua tangannya di depan dada.
"Iya, Mih," jawab Aisha lirih.
"Ayo!"
Zee mendesak Aisha untuk masuk ke mobil, baru dirinya yang masuk dan duduk di sebelah putrinya. Zee menyuruh sopir untuk menjalankan mobilnya.
Saat mobil berbelok, mobil Devan baru sampai, lalu memasuki pekarangan rumahnya. Dia melihat mobil yang baru keluar dari halaman rumah, dan melihat Aisha ada di dalam mobil tersebut.
"Aishaaaaa!" panggilnya. Namun mobil yang Aisha tumpangi sudah menjauh dari rumah Devan.
Devan keluar dari mobilnya, dia bergegas masuk, ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. Namun melihat kekacauan rumahnya, dia semakin yakin telah terjadi sesuatu.
"Pak Mun!" teriak Devan memanggil kepala pelayan.
"Tuan Devan. Nyonya dibawa oleh orangtuanya!" jelas Pak Mun.
"Bagaimana bisa?"
"Sayaaaang!" tiba-tiba Sofia turun dari lantai dua bersama Noah yang ketakutan.
"Sofia, Noah. Sedang apa kalian dirumahku?" tanya Devan dengan suara yang agak meninggi.
"Ih, kok kamu ngomong kayak gitu sih? Aku sengaja datang ke rumah ini, karena Noah tidak ingin jauh-jauh darimu!"
"Apa?"
"Iya, aku menyuruh Noah untuk tinggal di sini. Tapi, gadis tengil itu membentak Noah hanya karena seorang pelayan. Aku tidak terima, dan aku labrak saja dia!" jawab Sofia dengan entengnya.
"Sofia, Kau benar-benar sangat keterlaluan. Kau dan Noah tidak berhak tinggal di sini. Ini adalah rumahku. Hanya aku yang bisa menentukan siapa-siapa yang bisa tinggal di sini. Dan aku juga tidak menyuruhmu membawa Noah kemari. Karena aku tidak mau menyakiti istriku!"
"Sayang, kau ini kenapa sih? Noah hanya ingin tinggal satu atap denganmu. Ingin merasakan kasih sayang papahnya. Apa aku salah?"
Devan tersenyum sinis, "Tentu saja kau salah. Karena dia bukanlah darah dagingku!" ujar Devan tegas, dia sudah sangat geram kepada mantan istrinya.
"Apa maksudmu?" tanya Sofia terperanjat.
"Kau pikir aku bodoh. Dia bukanlah anakku, bukan darah dagingku. Dia sama sekali tidak berhak tinggal di sini!"
"Sayang, semua bukti sudah ada. Noah itu anak kamu, darah daging mu!"
"Oh, ya. Mari kita buktikan!"
Devan mengambil sebuah map yang ada di mobilnya. Lalu, dia memberikan map itu kepada mantan istrinya. Devan menyuruh Sofia membaca dengan teliti.
Sofia yang sangat penasaran, dia bergegas membuka map itu dan membaca kalimat demi kalimat. Wajahnya nampak pias, aura ketakutan di depan mata. Rahasia yang ia susun dengan menguras tenaga dan otak, kini akan terbuka sekarang juga.
"Tidak mungkin! Pasti kau salah! Itu tidak mungkin!" Sofia mundur ke belakang, tubuhnya bergetar hebat.
"Sudah jelas bukan, dia bukan anakku! Lalu, siapa ayah kandung anak itu? Apa selingkuhanmu yang dulu?"
"Hah, Apa? Kamu salah paham, Devan! Dia bukan anak Martin. Noah anak kita!"
"Kau masih mengelak? Bagaimana dengan yang ini?" Devan menyerahkan beberapa foto kedekatan Sofia dengan seorang pria, dan jelas pria itu adalah Martin selingkuhannya.
Manik Sofia membola sempurna, "Dari mana kau dapatkan ini semua?"
"Kau tidak perlu tahu aku mendapatkannya dari mana. Yang jelas, setelah penghianatanmu itu, sekarang aku lebih berhati-hati. Dan satu hal lagi, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu. Selama ini aku menuruti semua kemauanmu, aku hanya ingin tahu apakah dia benar anakku atau bukan!" Devan tersenyum lebar, "Akhirnya kesabaranku berbuah manis, semua informasi yang aku butuhkan dengan mudah aku dapatkan. Aku tahu, Kau memanfaatkan anak itu untuk kepentinganmu dan pacarmu itu. Tapi aku tidak bodoh Sofia!"
"Hah, tidak. Semua informasi itu bohong. Kau jangan percaya, Sayang!"
"Stop membohongi aku, Sofia! Kau tidak bisa mengelak lagi!"
Sofia terbahak, "Ya, Kau memang cerdas. Dengan sangat cepat kebohonganku terkuak. Tapi, semuanya sudah terlambat. Aisha sudah pergi meninggalkanmu. Aku sangat bahagia dan puas!"
"PERGI KAU DARI RUMAHKU. DAN BAWA ANAK ITU BERSAMAMU. PERLAKUKAN DIA DENGAN BAIK, KARENA DIA HANYALAH ANAK-ANAK. KAU TIDAK PANTAS MEMANFAATKAN KEPOLOSANNYA HANYA UNTUK KEPENTINGANMU SEMATA. HARUSNYA KAU BERSYUKUR AKU TIDAK MELAPORKAN KASUS INI KE POLISI, KARENA AKU MASIH MELIHAT NOAH YANG MEMBUTUHKANMU. MAKA DARI ITU, PERGILAH! SEBELUM KESABARANKU HABIS!" usir Devan.
"Baik, aku akan pergi. Tapi aku tidak akan memaafkan apa yang sudah kau lakukan kepadaku. Ingat itu Devan!" gertak Sofia, "Noah kemasi barang-barang mau, kita pergi dari sini!"
"Tapi, Mah ... !" Noah terisak. Dia sudah menjadi seorang anak yang sangat kecewa. Awalnya dia begitu bahagia saat tahu dia memiliki seorang ayah, namun baru sebentar kebahagiaan itu hancur seketika, dan semua itu gara-gara kebohongan mamanya.
"Ayo cepat, kemasi barang-barangmu!"
"Iya, Mah!"
"Kau tau alasanku meninggalkan mu. Kau itu lemah, Devan. Aku sebagai seorang istri tidak pernah puas bercinta dengan mu. Kau sungguh lemah di ranjang. Berbeda dengan Martin, dia sangat kuat, dan sangat pandai memuaskan aku!"
"DIAM KAU! KAU TIDAK MALU BERBICARA SEPERTI ITU DI DEPAN ANAK MU!"
"Hahahaha, Dasar Lemah!" Sofia meninggalkan rumah Devan dengan amarah yang menggebu.
_____
_____
Devan duduk di tepi kasur, dia sadar kalau dirinya bersalah, membiarkan masalahnya berlarut-larut. Dan bodohnya, dia membawa Aisha terlibat dalam masalah itu.
Devan menyesal, dia ingin memperbaiki semuanya. Tapi bagaimana caranya dia menjelaskan semuanya pada keluarga istrinya, sementara dirinya sudah membuat kecewa semua orang.
Tok ... Tok ... Tok
"Masuk!"
"Tuan, Makan malam sudah siap. Apa Tuan akan makan malam sekarang?" tanya Pak Mun.
"Pak Mun ceritakan apa yang terjadi?" tanya Devan.
Pak Mun tau pasti majikannya sedang bersedih. Bagaimana tidak sedih, setelah semua masalah sedikit demi sedikit terselesaikan, justru istrinya pergi meninggalkan rumah. Bukan pergi karena keinginannya sendiri sih, memang dipaksa oleh ibu mertua. Dia bahkan bingung harus memanggil ibu Aisha apa, sementara usia ibu Aisha lebih muda darinya.
Ibu kah? Mama? Atau seperti Aisha, Mamih?
Ah, Rasanya begitu gamang, dan susah untuk di terima akal sehat.
Pak Mun menceritakan semua kepada majikannya, dari awal kedatangan Noah, sampai Noah yang tidak berlaku sopan kepada Aisha, hingga Sofia yang datang ke rumah dengan marah-marah. Dan akhirnya terjadi peristiwa lempar barang-barang ke arah Aisha, yang tidak bisa di terima oleh orang tua Aisha.
"Terimakasih atas penjelasannya Pak Mun!"
"Sama-sama, Tuan," jawab Pak Mun, "Sebaiknya Anda datangi rumah Nyonya, Tuan, dan jelaskan semuanya!"
"Baiklah. Nanti akan aku pikirkan," jawab Devan.
to be continued ...
Jangan lupa komen dan Like nya ....
lagi" gw udah gak mood baca, pdhl baru satu bab dan itu langsung loncat bavanya..eh dptnya ini🙃
biar si devan sadar diri udah tua juga belagu