"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Ciuman itu nggak terburu-buru. Lembut banget, kayak embun pagi yang menempel di daun. Lama juga dia nggak bergerak, cuma menempel pelan, bikin Galuh lupa segalanya—lupa napas, lupa kata-kata, lupa kalau mereka baru saja melewati hari yang penuh ketegangan.
Awalnya Galuh kaget banget, matanya masih terbuka sedikit menatap wajah Ranu yang dekat sekali. Tapi lama-lama, perlahan, kelopak matanya ikut terpejam. Tangannya yang tadi menggenggam erat sendiri, kini pelan-pelan naik menyentuh dada Ranu. Dia mulai menikmati rasanya, rasa aman dan hangat yang selama ini cuma dia impikan diam-diam.
Tiba-tiba...
"Bu... Bunda..."
Suara kecil itu terdengar samar dari dalam kamar.
Keduanya langsung melonjak kaget, menjauh secepat kilat seolah baru saja ketahuan berbuat nakal. Napas mereka sama-sama ngos-ngosan, saling pandang dengan wajah merah padam.
Ranu mengintip ke dalam kamar pelan-pelan. Arkan masih terlelap, posisinya berubah miring ke sisi lain, tangannya meraba-raba bantal.
"Ah... dia cuma ngelindur," bisik Ranu lega, lalu mengusap dadanya sendiri.
Galuh menutup mulutnya menahan tawa yang mau meledak, bahunya berguncang pelan. Dia menunduk dalam-dalam, rasa malunya menjalar sampai ke ujung telinga. Rasanya mau ngumpet di bawah kasur saja. Ranu sendiri juga menggaruk tengkuknya yang nggak gatal, senyumnya tertahan di bibir.
"Ya sudah... aku masuk kamar dulu ya," kata Ranu pelan, suaranya terdengar sedikit canggung.
"Iya... selamat istirahat, Mas," jawab Galuh pelan, matanya masih nggak berani menatap lama.
Ranu melangkah pergi, tapi belum sampai di depan pintu kamarnya, dia berhenti sebentar.
"Galuh..." panggilnya tanpa menoleh.
"Iya, Mas?"
"Tadi habis perjalanan jauh dan panas begini, badan rasanya lengket banget. Aku mau mandi dulu. Boleh tolong siapkan baju gantinya?"
Galuh tertegun sebentar. Biasanya Ranu siapkan sendiri, atau minta ke pelayan. Tapi dia cuma mengangguk cepat. "O... boleh, Mas. Sekarang aku siapkan."
"Terima kasih."
Ranu pun masuk ke kamarnya. Galuh berjalan ke lemari pakaian Ranu, tangannya gemetar sedikit saat mengambil kemeja tidur dan celananya. Hingga akhirnya tangannya berhenti di laci paling bawah. Wajahnya makin merah. Dia menelan ludah, lalu dengan cepat mengambil juga celana dalamnya, menyusupkan ke dalam tumpukan baju supaya nggak terlalu kelihatan jelas.
"Duh Galuh... kok sampai segitunya sih," gumamnya sendiri sambil menggeleng, tapi tangannya tetap nggak berani berhenti.
Baru saja dia taruh tumpukan baju itu di bangku depan kamar mandi, pintunya terbuka.
Ranu keluar.
Hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Rambutnya basah kuyup, tetesan air mengalir dari leher turun ke dada yang bidang.
Galuh langsung memalingkan wajah dengan cepat. "Baju... baju sudah di sini, Mas..." suaranya hampir tak terdengar.
Ranu terkekeh pelan melihat tingkah istrinya itu. "Terima kasih ya."
Tanpa berani menatap lagi, Galuh langsung berbalik dan cepat-cepat masuk ke kamarnya sendiri, menutup pintu rapat-rapat dari dalam. Dia bersandar di balik pintu, menahan jantungnya yang rasanya mau melompat keluar.
"Aaahhh... Apa maksudnya ini? Setelah mwnciumku, dia pamer tubuhnya?" gerutu Galuh seraya menutup wajahnya yang masih memerah.
####
Siang harinya, di sebuah restoran tenang di pusat kota.
Mama Anggun sudah duduk di meja pojok, menyesap teh hangatnya pelan. Tak lama kemudian, pintu kaca terbuka, dan seorang wanita yang tampak elegan berjalan masuk dengan wajah ceria.
"Anggun! Maaf ya lama menunggu," sapa wanita itu sambil duduk di hadapan Anggun.
"Nggak apa-apa, Jeng. Aku juga baru sebentar sampai," jawab Anggun dengan senyum tipis, senyum yang nggak sampai ke matanya.
Pelayan datang membawakan menu, tapi wanita itu nggak buru-buru melihatnya. Dia malah menatap Anggun penuh harap.
"Anggun, kamu panggil aku ke sini ada kabar baik kan? Soal pertunangan Ranu sama Cindy? Kapan kita tetapkan tanggalnya?" tanya mamanya Cindy.
Anggun meletakkan gelas tehnya pelan di atas meja. Wajahnya jadi lebih serius.
"Jeng... aku minta maaf banget," ucapnya pelan tapi jelas.
Alis mamanya Cindy langsung berkerut. "Maksudmu?"
"Begini... aku mengundangmu ke sini karena ingin membicarakan soal perjodohan ini. Sepertinya... kita batalkan saja ya."
Wajah mamanya Cindy langsung berubah. Dia mundur sedikit ke sandaran kursi.
"Apa? Batalkan? Kenapa tiba-tiba begitu, Anggun? Kita kan sudah sepakat dari lama!"
"Bukan swpakat, jeng. Tapi, kita hanya coba mengenalkan anak-anak kita. dan Ranu... Dia sepertinya tidak terlalu cocok sama Cindy." Anggun menunduk sebentar, lalu menatap kembali.
Mamanya Cindy membelalakkan mata. "Apa kamu bilang? Tidak cocok katamu!? Apa yang membuat tidak cocok!? Cindy itu anakku yang paling berbakat! Dia bahkan sengaja mau kerja di kantor anakmu hanya demi biar bisa dekat! Bisa-bisanya bilang ngak cocok!"
"Ya, nyatanya memang begitu. Ranu tak suka," jelas Anggun pelan.
"Apa!? Apa kelebihan anakmu itu sampai bisa bilang tak suka, hah?"
Air muka mamanya Cindy berubah merah padam menahan marah dan malu. Tangannya mengepal di atas meja.
"Ahh, jeng. Apa maksudmu itu? Apa kau mau bilang kalau anakku tidak kompeten!?"
"huh! Aku tau! Anak sulung mu itu kan yang koma beberapa tahun itu kan? Huuh, apa dia masih bagus? Sok-sokan sekali menolak anakku!"
"heeh! Apa maksudmu masih bagus!?" Mama Anggun jadi ikutan naik pitam gara-gara Ranu disebut 'Apa masih bagus?' apa ranu itu barang?
"Huh! Mungkin saja dia sudah tidak seperti pria normal lainnya. Yahh, bertahun-tahun koma pasti bibitnya sudah jelek."
"Heh! Kurang ajar!"
Mama Anggun dan mamanya Cindy jadi adu mulut sampai, pihak resto terpaksa membawa mereka ke pos pwnjagaan dan memanggil suami masing-masing.
"Hahahaha!"
Pak Deni yang datang menjemput dan kini sudah berada si dalam mobil bersama istrinya itu tertawa ngakak setelah mendengar kronologi nya dari Mama Anggun. Mama Anggun sendiri cemberut sambil mwmbuang muka.
"Aku tak terima anakku dikatai bibitnya nggak bagus!"
"lagian sih, Ma. Kamu juga ngapain pake mau jodohin Ranu segala? Kan papa bilang nggak perlu. Kamu nya ngeyel."
"Pah! mama kan juga nggak tau kalau Ranu sudah nikah! Lagian kenapa sih anak kita dua-duanya kelakukan sama? Nikah diam-diam?"
"Sudah lah, ma. Jangan marah-marah lagi. Ingat kolesterol."
"tidak bisa. Mama harus buktikan kalau Ranu itu masih bagus! Premium!" omel mama Anggun yang langsung mengambil hpnya dari tas. Lalu menekan tombol di layar.
"Mama ngapain?" tanya papa Deni melirik sekilas istrinya yang duduk di samping.
Mama anggun tak menjawab, tapi dia bersuara tegas ketika telponnya tersambung.
"Halo, Ranu! Cepat, buat Galuh hamil!"
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up