Setelah 1000 tahun berlalu, Putri Amora yang merupakan putri dari kerajaan vampir telah terlahir kembali sebagai manusia biasa yang bernama Shania. Takdir juga mempertemukannya kembali dengan Pangeran Leon, pangeran dari bangsa serigala, yang bereinkarnasi menjadi Adrian.
Kisah cinta terlarang di masa lalu membuat keduanya terbunuh, dan pangeran Leon mendapat kutukan, dia tetap menjadi manusia serigala yang menjelma di tubuh Adrian dan begitu tertarik dengan jiwa murni Amora yang berada di tubuh Shania.
Kisah cinta merekapun terulang kembali. Akankah mereka bisa bersatu atau hubungan mereka akan berakhir tragis seperti sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Adrian membalikkan badannya lagi dan menatap Shania. "Oke, kalau kita memang reinkarnasi dari mereka, dulu dan mungkin sekarang kita tetap gak bisa bersatu!"
"Kenapa? Kenapa kita gak bisa bersatu? Dulu kita gak bisa bersatu karena bangsa kita berbeda. Tapi kalau sekarang, apa yang membuat kita gak bisa bersatu? Bukankah kita terlahir sama-sama manusia."
Adrian hanya menatap Shania dengan hati yang berkecamuk.
Shan, andai lo tahu kita masih berbeda. Gue masih terlahir sebagai manusia serigala. Dan keberadaan gue sekarang sangat mengancam nyawa lo. Gue takut, gue gak bisa nahan diri gue, padahal gue ingin bersama lo. Gue sangat mencintai lo.
"Ian, lo denger gue gak sih? Jawab pertanyaan gue!" Shania masih begitu kekeh karena sedari tadi Adrian hanya diam saja.
"Kita gak bisa bersatu Shan, sampai kapan pun!" Adrian meninggikan nada bicaranya yang membuat Shania sedikit tersentak.
"Tapi kenapa? Lo kasih satu alasan sama gue. Lo tahu, gue cinta sama lo!" Air mata itu kembali menetes di pipi Shania.
Adrian membuang jauh-jauh pandangannya karena dia sebenarnya tidak tega melihat Shania menangis. "Kalau lo sudah ingat sama masa lalu lo, lo pasti tahu tentang Edo, dan alasan kenapa dia bisa datang ke sini."
"Gue yakin bukan itu alasan lo. Iya kan?" Shania memegang kedua sisi jaket Adrian dan menariknya seperti memaksa Adrian untuk jujur. "Lo jujur sama gue. Gue mohon." Shania semakin menangis tapi tiba-tiba tubuh Shania lemas dan dia jatuh di pelukan Adrian.
"Shania.." Adrian langsung memeluknya. "Shan, lo kenapa?" Dia menepuk pelan pipi Shania agar tersadar dari pingsannya tapi Shania masih saja menutup matanya. "Shan, maafin gue. Gue mohon lo bangun Shan." Tetap tidak ada respon dari Shania. Adrian segera mengangkat tubuh Shania dan membawanya berlari menuju UKS.
Adrian sangat kecewa dengan dirinya sendiri. Dia benar-benar sudah membuat Shania terluka. Mungkin dirinya memang sudah tidak pantas lagi untuk Shania.
Sesampainya di UKS, Adrian merebahkan tubuh Shania. Dia mengusap lembut rambut Shania dan terus menatapnya. Hatinya begitu sakit melihat Shania seperti ini. "Gue udah terlalu sering nyakitin lo Shan. Gue gak mau liat lo sedih terus kayak gini."
Tanpa menunggu Shania sadar, dia keluar dari UKS meski dengan berat hati. Mungkin jika dia pergi dari kehidupan Shania, Shania tidak akan lagi mengalami hal seperti ini.
Baru beberapa langkah keluar dari UKS Adrian berpapasan dengan Edo. Rupanya Edo melihat Adrian saat menggendong Shania menuju UKS. "Shania kenapa? Lo udah apain dia?" tanya Edo dengan emosi.
"Shania gak papa. Lo mau jagain Shania kan? Sekarang buktiin kalau lo memang mau jagain dia. Gue titip Shania sama lo. Dan jangan bilang kalau gue yang bawa dia ke UKS." kata Adrian kemudian dia berlalu meninggalkan Edo yang masih berdiri di depan pintu UKS.
Edo pun masuk ke dalam UKS dan melihat Shania yang masih belum sadarkan diri. Beberapa saat kemudian Shania mulai membuka matanya. Dia melihat sekeliling tapi hanya Edo yang dilihatnya.
"Ian mana?" tanyanya. Dia yakin Adrian yang membawanya ke UKS.
"Adrian? Dari tadi Adrian gak ada di sini."
Shania begitu kecewa. Dia kira Adrian yang membawanya ke UKS dan menemaninya tapi mengapa justru Edo yang ada di sini. Shania perlahan duduk. Dia kembali teringat lagi bayangan masa lalunya bersama Edo. Apa dia juga reinkarnasi atau dia masih tetap vampir?
Shania menutup mulutnya dan melihat Edo dengan rasa takut.
"Shan, lo kenapa?" tanya Edo yang melihat ekspresi Shania tiba-tiba berubah.
"Elo vampir?" tanya Shania sambil menunjuk Edo.
"Hah, vampir? Lo ngomong apa?" kata Edo sambil tertawa. "Lo kira ini film twilight. Gue Edward dan lo jadi Bellanya. Iya?"
Shania menunjukkan gelang yang dia pakai, "Karna gelang ini, gue tahu masa lalu gue sebagai Amora."
"Lo dapat dari mana gelang itu?" tanya Edo yang tidak pernah menduga Shania bisa mendapatkan gelang Putri Amora secepat ini.
"Gak penting gue dapat darimana. Sekarang tolong lo jelasin sama gue. Apa lo vampir? Atau lo sudah bereinkarnasi menjadi manusia."
Edo terdiam beberapa saat. Dia kasihan melihat Shania. Kalau dia membohonginya lagi pasti Shania semakin bingung dan sakit hati. "Iya gue vampir dan gue bagian dari masa lalu lo."
"Apa?" Shania sangat terkejut sekaligus ketakutan.
"Lo jangan takut sama gue. Gue gak minum darah manusia. Lo mau kejujuran kan dari gue. Ini gue jujur sama lo. Gue gak mau lo semakin bingung dengan kebohongan yang terus bertambah." jelas Edo. Dia berusaha menenangkan Shania.
Shania sedikit tenang. Di dalam pikiran Shania vampir itu seperti yang ada di film-film. Begitu buas dan menghisap darah manusia, tapi ternyata vampir yang ada di hadapannya begitu tampan dan lembut.
"Kita memiliki tanda perjodohan di masa lalu. Yah meski gue tahu hati lo bukan buat gue." kata Edo lagi.
"Terus maksud dan tujuan lo ke sini apa? Apa gara-gara perjodohan itu?" tanya Shania ingin memperjelas semuanya.
Edo menggelengkan kepalanya. "Meskipun gue masih mencintai lo tapi gue udah gak memikirkan perjodohan itu lagi. Gue cuma ingin menjaga lo."
Shania hanya terdiam dan menatap Edo. Sedikit terkesan mendengar jawaban dari Edo. Meski sebenarnya dia juga bingung, Edo ingin menjaganya dari siapa?
jgn lupa mampir jg ke karyaku "faith"
ayok kita saling dukung😁