Rasa cinta dan janji pada teman angkatannya, Tommy memotivasi Tari untuk menurunkan berat badannya dan menjadi Jaksa.
Namun setelah ia menjadi Jaksa, Tommy menghilang. Setelah berhasil melupakannya selama bertahun-tahun, Tommy kembali sebagai Hakim dan mendekatinya lagi.
Campur tangan orang tua dalam hubungan mereka memaksa mereka menikah padahal Tommy masih berpacaran dengan Christie, pacar sejak ia kuliah.
Akankah ini menjadi kisah yang berujung manis?
Salam kenal
Betha 🙋
Semoga terhibur dengan cerita ini✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Betha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saingan Tommy
"Oh jadi ini laki-laki yang buat kamu mau batalin pernikahan kita?" Kata Tommy berteriak dan berjalan menghampiri Tari dan Angga.
Tommy berjalan menghampiri Angga. Begitu Ia berada di depan Angga, Tommy langsung melayangkan tinjunya ke wajah Angga. Angga seketika jatuh terkena pukulan Tommy.
"Sudah Bang Tommy! Hentikan!" Teriak Tari sambil menghadang Tommy yang masih ingin meninju Angga yang masih terduduk.
Angga langsung bangkit. Kali ini Ia membalas tinju Tommy. Bukan hanya sekali, tapi 3 kali. Alhasil wajah Tommy langsung babak belur dan Tommy ambruk. Angga langsung mengambil posisi duduk di atas Tommy hendak meninju lebih banyak lagi.
"Sudah cukup!" Teriak Tari sambil menahan tangan Angga sambil terisak menangis.
Tari langsung menolong Tommy.
Bu Lusi dan Pak Bara langsung berlari keluar dari dalam mobil.
Betapa terkejutnya mereka menyaksikan Tommy sudah terkapar dengan wajah yang babak belur.
Pak Bara langsung memapah Tommy ke dalam ruang tamu.
"Kamu ikut masuk ke dalam dan jelaskan semuanya." Kata Pak Bara pada Angga dengan tatapan sinis.
Sementara Bu Lusi memeluk Tari untuk menenangkan Tari dan membawa Tari ke kamarnya.
•••
Tommy yang sudah tak berdaya, hanya terdiam saat Pak Bara mulai mengintrogasi Angga.
"Maaf Anak ini siapa? Dan kenapa bisa berantem sama calon mantu saya di rumah saya?" Kata Pak Bara menatap Angga.
"Maaf Pak.
Perkenalkan nama Saya Angga.
Saya baru mengenal Tari hari ini Pak.
Saya pemilik Restoran Danau Mas.
Tadi Tari menangis seharian dan pingsan di resto saya.
Saya hanya menolong dan mengantarkan dia pulang.
Lalu begitu sampai di depan rumah sini, tiba-tiba calon mantu Bapak ini langsung menuduh Saya selingkuh dengan Tari dan meninju Saya.
Saya betul-betul tidak ada niat lain. Saya hanya ingin menolong Tari.
Maaf jika saya juga kelewatan sampai bertengkar dengan calon mantu bapak." Jawab Angga dengan tegas pada Pak Bara.
"Oh jadi begitu. Nanti Saya coba jelaskan ke calon mantu saya." Kata Pak Bara sambil melirik Tommy yang sudah semaput.
"Apa perlu kita bawa ke rumah sakit saja Pak? Saya akan bertanggung jawab atas tindakan Saya." Kata Angga pada Pak Bara.
"Tidak usah. Biar diobati saja disini. Nak Angga juga harus diobati lukanya. Tunggu sebentar saya ambil kotak P3K dan air hangat." Kata Pak Bara sambil hendak melangkah ke dapur.
"Tidak perlu repot Pak. Terima Kasih atas perhatiannya. Nanti luka saya biar Saya obati di rumah saja. Saya pamit pulang dulu." Jawab Angga sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Baiklah kalo begitu. Hati-hati di jalan. Terima kasih sudah mengantar Tari pulang dengan selamat. Mari Saya antar ke depan." Kata Pak Bara sambil mengantar Angga ke depan pintu.
•••
Angga yang hendak masuk ke mobilnya seketika berbalik badan.
"Pak...
Boleh saya minta tolong sesuatu pada Bapak?" Kata Tommy sambil memegang tangan Pak Bara.
"Selama Saya bisa bantu, pasti saya bantu. Katakan saja." Jawab Pak Bara sambil menepuk pundak Angga.
Angga menghela nafas panjang sambil menarik tangan Pak Bara menjauh dari pintu agar Tommy tak mendengar obrolannya dengan Pak Bara.
"*Sebenarnya hari ini Saya seperti ditakdirkan bertemu Tari 2x di tempat berbeda.
Pertama siang hari di Swalayan daerah Kota dan Sore hari di Resto Saya di daerah Kalimas.
Dari 2x pertemuan dengan Tari, Ia selalu dalam keadaan menangis tersedu-sedu.
Bukannya Saya bermaksud ikut campur dalam masalah keluarga Bapak.
Tapi menurut Saya sebaiknya masalah Tari segera diselesaikan.
Terlebih sebelum Tari menikah.
Karena Saya yakin ini bukan masalah dengan Bapak dan Ibunya.
Tapi dengan calon suaminya.
Dan tadi sikap Tommy sangat kasar ke Tari.
Saya mohon Bapak sebagai ayahnya juga harus campur tangan sebelum pernikahan. terjadi untuk kebahagiaan Tari dimasa depan." Jelas Angga sambil menatap dalam mata Pak Bara*.
Pak Bara terdiam, Ia merasa ucapan Angga ada benarnya juga. Dan Ia merasa ucapan Angga sangat tulus.
"Baiklah nanti saya coba bicara dengan Tari dahulu. Terima kasih sarannya. Seringlah mampir kemari." Kata Pak Bara sambil ganti menggenggam tangan Angga.
"Terima kasih Pak atas tawarannya. Saya rasa nanti kedepannya Saya tidak boleh kesini lagi. Terlebih jika Tari sudah menikah. Saya takut nanti mulai timbul salah paham lagi." Jawab Angga sambil tersenyum pada Pak Bara.
"Baiklah kalo begitu, Nanti Bapak yang main ke Restomu." Kata Pak Bara sambil tersenyum.
"Baik Pak. Nanti Bapak akan saya menjamu dengan baik di Resto Saya. Saya pamit dulu ya Pak. Selamat malam." Jawab Angga sambil mencium tangan Pak Bara.
"Baik. Hati-hati dijalan." Kata Pak Bara.
Pak Bara terus menatap kepergian mobil Angga.
Ia tak mengerti kenapa Ia begitu menyukai sikap Angga.
"*Seandainya saja Tari masih belum bertunangan, Aku pasti menjodohkannya dengan Angga. Anak itu baik dan sopan. Bahkan sangat peduli terhadap Tari.
Kalau semua yang diucapkannya benar, Lebih baik pernikahan Tari dan Tommy dibatalkan saja!
Aku tidak rela anakku hidup menderita bersama laki-laki yang tidaj menghormati dan memperlakukannya dengan baik!" Gumam Pak Bara dalam hati*.
Pak Bara berjalan masuk ke dalam rumah sambil menelpon melalui HP nya. Pak Bara menghubungi dokter yang merupakan tetangga komplek tersebut untuk mengobati luka Tommy.
Tak lama kemudian, Bu Lusi menghampiri Pak Bara di ruang tamu.
"Tommy gimana Pa? Tadi itu siapa?" Tanya Bu lusi dengan wajah cemas.
Pak Bara menarik tangan Bu Lusi menuju ke luar rumah.
Lalu Pak Bara menceritakan semuanya secara mendetail pada Bu Lusi.
"Kalau semua yang dikatakan Angga itu benar...
Pernikahan ini harus dibatalkan!
Mama tidak rela anak kita satu-satunya hiduo menderita bersama laki-laki yang kasar!"Kata Bu Lusi dengan emosi yang berapi-api.
Beberapa saat kemudian, dokter yang tadi ditelpon Pak Bara sudah tiba dan segera mengobati luka Tommy.
Setelah selesai diobati, Tommy mulai sadar.
"Ma, Pa... Tari mana? Ke mana si b******* itu?" Tanya Tommy dengan suara serak.
Pak Bara dan Bu Lusi saling bertatapan. Mereka tidak menyangka Tommy yang dikenalnya sangat baik dan sopan bisa berkata kasar seperti ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat Membaca😃
Mohon Dukungannya✌️
Betha🙋
Semangat update bab barunya thor😍
Salam dari
"Infinity" (romance)
"Ve" (mystery thriller)
"Aku (Bukan) Pelakor" (young-adult romance)