NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Labirin Putih dan Penyesalan yang Terlambat

Alana tidak tahu bagaimana kakinya bisa melangkah sejauh ini. Begitu berhasil mencapai kamar pribadinya di lantai teratas mansion, dia langsung mengunci pintu ganda berlapis baja itu dari dalam. Tubuhnya merosot di balik daun pintu, terduduk di atas lantai marmer yang dingin, sementara jemarinya mencengkeram erat gaun beludru hitam di bagian dada—mencoba menahan detak jantungnya yang mendadak berpacu begitu liar hingga terasa menyakitkan.

Napasnya memburu, dangkal, dan tercekat. Di dalam kepalanya, suara dengung frekuensi tinggi mendadak berdering kencang, merubuhkan seluruh kewarasan taktis yang selama ini dia banggakan.

Pandangannya tidak lagi melihat kemewahan kamar Monako. Kamar itu perlahan memudar, digantikan oleh visualisasi ingatan yang menyerbu masuk bagai air bah yang menjebol bendungan. Pikirannya ditarik paksa, tenggelam ke dalam garis waktu satu tahun yang lalu, ke dalam sebuah neraka yang selama ini dikunci rapat oleh otaknya sendiri.

Flashback — Satu Tahun Lalu

Dunianya adalah putih yang mutlak, putih yang membutakan, dan putih yang membunuh kewarasan.

Tidak ada siang, tidak ada malam. Tidak ada jendela yang menunjukkan matahari terbit, tidak ada desir angin laut Monako. Alana yang berusia satu tahun lebih muda terjebak di dalam sebuah ruangan persegi berukuran empat kali empat meter. Seluruh permukaan ruangan itu—dinding, lantai, langit-langit—dicat dengan warna putih bersih yang steril. Di atas kepalanya, barisan lampu neon putih dengan daya tinggi menyala dua puluh empat jam tanpa henti, memancarkan pendaran konstan yang membakar retina matanya setiap kali dia mencoba memejamkan mata.

Ini adalah White Room Torture—siksaan isolasi sensorik total yang dirancang oleh Arthur Vance untuk mematahkan jiwa manusia hingga menjadi budak tanpa perlu menumpahkan setetes darah pun.

Alana duduk meringkuk di sudut ruangan, memeluk kedua lututnya yang gemetar hebat. Dia hanya mengenakan pakaian katun putih tipis yang longgar. Tidak ada perabotan, tidak ada bantal, tidak ada jam dinding. Tidak ada suara apa pun dari luar karena dinding beton itu telah dilapisi bahan kedap suara tingkat militer oleh Doni atas perintah Eleanor.

Satu-satunya suara yang bisa didengar Alana selama puluhan jam terakhir adalah detak jantungnya sendiri yang berdentum abnormal dan suara napasnya yang perlahan berubah menjadi keputusasaan yang parau. Ketiadaan stimulus visual dan suara mulai membuat otaknya mengalami halusinasi parah. Dinding putih di hadapannya seolah bergerak, menyusut, merayap mendekat, dan siap menghimpit tubuh kecilnya hingga hancur.

“Tanda tangani dokumen persetujuan aliansi pernikahan ini, Alana,” suara Eleanor Rossi, ibu tirinya, bergema dari speaker tersembunyi di langit-langit. Suara itu terdengar begitu distorsif, dingin, dan tak tersentuh. “Arthur Vance telah menyiapkan segalanya di Swiss. Kau hanya perlu menjadi boneka yang penurut di sana, dan penderitaanmu di ruangan ini akan berakhir.”

Alana tidak menjawab. Bibirnya kering, pecah-pecah, dan berdarah karena dehidrasi. Makanan harian yang diberikan lewat celah kecil di bawah pintu besi hanyalah bubur putih hambar dan air putih tanpa mineral—sengaja dirancang agar dia kehilangan seluruh indra perasanya.

Saat jam berubah menjadi hari, siksaan psikologis itu mulai mencabik-cabik jiwanya. Rasa takut yang paling mengerikan bukanlah kegilaan ruang putih itu sendiri, melainkan sebuah kesadaran yang perlahan meremukkan batinnya: Tidak ada yang mencari dirinya. Tidak ada satu pun.

Di mansion besar ini, Alana tahu dia memiliki lima orang kakak laki-laki yang berkuasa. Dominic yang memimpin pasukan taktis, Xavier yang mengendalikan alur finansial, Julian, Adrian, dan Cedric. Namun di dalam kedinginan ruang putih yang mencekik ini, Alana dipaksa menelan kenyataan pahit bahwa bagi kelima kakaknya, dia hanyalah seonggok daging tak berguna. Anak haram yang kehadirannya diabaikan, yang hilangnya dianggap sebagai angin lalu.

Malam itu, dalam kesunyian yang mematikan, Alana hancur. Dia menangis histeris tanpa suara, ujung-ujung jarinya mencakar dinding putih yang licin itu dengan putus asa hingga kuku-kukunya patah, mengelupas, dan meninggalkan bekas goresan darah samar di permukaan dinding yang steril. Dia memohon dalam hatinya, menjerit memanggil nama kakak-kakaknya satu per satu agar mereka menyadari kehilangannya, mendobrak pintu ini, dan memeluk tubuhnya yang kedinginan.

Kak Dominic... Kak Cedric... Kak Xavier... tolong aku...

Namun, hingga hari ketiga, tidak ada satu pun langkah kaki yang datang. Ruangan itu tetap sunyi. Mereka semua benar-benar mengabaikannya, membiarkannya membusuk sendirian dalam kegilaan putih. Sebelum kesadarannya runtuh sepenuhnya dan otaknya memutuskan untuk mengunci memori mengerikan ini ke dalam labirin amnesia disosiatif, jiwa Alana yang hangat telah mati di ruangan itu—menyisakan cangkang kosong yang kelak menjelma menjadi The Ice Queen yang kejam.

Masa Sekarang — Kamar Alana

Alana tersedak, menarik napas dalam-dalam seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam. Air mata yang selama satu tahun ini tertahan di balik topeng esnya, kini luruh membanjiri pipinya yang pucat. Tubuhnya masih bergetar hebat dalam posisi meringkuk di lantai marmer, persis seperti posisinya di ruang putih satu tahun lalu. Dia memeluk dirinya sendiri dengan erat, meratapi robekan trauma masa lalu yang ternyata tidak pernah sembuh, melainkan hanya terkubur hidup-hidup.

Sementara itu, di luar pintu kamar Alana, atmosfer koridor mansion telah berubah menjadi neraka fungsional yang mencekik.

Kelima kakak laki-lakinya berdiri di sana. Tidak ada lagi keangkuhan faksi, tidak ada lagi ego penguasa. Wajah Dominic, Cedric, dan Xavier tampak mengeras, hancur oleh campuran kepanikan yang gila dan rasa penyesalan yang teramat pekat. Di belakang mereka, Julian dan Adrian menatap pintu baja itu dengan tubuh yang kaku dan mata yang memerah.

Brak!

Cedric menghantamkan kepalan tangannya ke dinding marmer di samping pintu hingga buku jarinya pecah, mengalirkan darah segar yang menetes ke lantai. Pria yang biasanya haus darah itu kini tampak rapuh, dadanya kembang kempis menahan sesak. "Satu tahun lalu... saat kita sibuk memperebutkan wilayah logistik luar, dia ada di bawah tanah kita sendiri. Dikurung dalam ruangan gila itu... dan aku bahkan tidak pernah mempertanyakan ke mana dia pergi selama tiga hari itu! Aku mengabaikannya!"

Xavier bersandar pada pilar koridor, tangan yang biasanya dengan tenang memegang pemantik api perak kini bergetar begitu hebat hingga benda mewah itu jatuh dan berdenting keras di lantai. Matanya yang tajam tampak kosong, dipenuhi oleh rasa bersalah yang mencekik lehernya hingga dia kesulitan bernapas. "Kita yang membuatnya menjadi sedingin es seperti sekarang, Cedric. Kita yang memaksa mentalnya membangun dinding pertahanan itu karena saat dia menangis membutuhkan kita... kita semua memilih untuk tidak peduli."

Dominic melangkah mendekati pintu, meletakkan telapak tangan raksasanya di atas permukaan baja yang dingin. Pria militer yang biasanya bisa meruntuhkan barikade musuh dengan mudah itu kini terdengar sangat hancur, suaranya parau menahan tangis. "Alana... buka pintunya, Kakak di sini. Maafkan kami... demi Tuhan, maafkan kami karena telah membiarkanmu hancur sendirian satu tahun lalu."

Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Keheningan Alana justru menjadi cambukan yang jauh lebih kejam bagi mereka berlima dibandingkan dengan peluru atau bilah pisau mana pun di dunia.

Julian mendongak, matanya di balik kacamata berkilat oleh amarah murni yang telah mencapai titik absolut. Paranoia taktisnya kini sepenuhnya terarah pada satu nama. "Arthur Vance. Bajingan tua itu yang merancang metode isolasi tersebut bersama Eleanor. Dia yang ingin menghancurkan mental Alana sejak awal."

Adrian, yang biasanya selalu menyeringai sinis di depan layar monitornya, kini mengepalkan tinju hingga kuku-kukunya memutih, mengeluarkan aura destruktif yang mengerikan. "Aku sudah melacak koordinat suar satelit miliknya dari brankas Doni, Kak Julian. Sinyalnya mengarah ke sebuah safehouse terenkripsi di kawasan pegunungan bersalju St. Moritz, Swiss."

Xavier menegakkan tubuhnya kembali. Perlahan, ekspresi hancurnya digantikan oleh aura membunuh yang begitu pekat, pekat, dan dingin hingga suhu di koridor itu seolah anjlok drastis. Penyesalan atas masa lalu yang tidak bisa diubah kini menjelma menjadi bahan bakar pembalasan dendam yang gila.

"Siapkan jet pribadi sekarang," perintah Xavier, suaranya rendah namun bergetar oleh kegilaan yang absolut. "Kita tidak akan membiarkan Arthur Vance mati dengan mudah di Swiss. Setiap detik kedinginan, ketakutan, dan isolasi yang dirasakan Alana satu tahun lalu... akan kita bayar balik dengan menghancurkan seluruh dinastinya hingga menjadi abu."

Dominic berbalik, matanya merah menyala oleh amarah tak terkendali. "Cedric, bawa seluruh pasukan bayangan terbaikmu. Julian, Adrian, lumpuhkan seluruh jaringan siber aliansi Swiss dalam waktu dua jam. Kita akan meratakan St. Moritz malam ini juga."

Di balik pintu baja yang terkunci, Alana mendengarkan pergerakan kakak-kakaknya di luar. Perlahan, getaran di tubuhnya mulai mereda. Air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh sorot mata yang perlahan kembali mengeras—namun kali ini, bukan lagi sekadar dingin, melainkan sarat akan dendam murni yang siap membakar dunia.

Dinding memorinya memang telah runtuh dan menyakitinya, namun dari reruntuhan itu, sang Ratu bangkit kembali dengan kesadaran penuh tentang siapa yang harus dia seret ke dalam neraka berikutnya.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!