*KHUSUS PEMBACA UMUR 17+*
Pertemuan mereka berdua membuat roda takdir berputar.
Hari – hari indahnya bermula saat Dion bersama dengannya, mengawali dan menutup hari dengan mengucap namanya yang sudah terukir didalam hati. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua dari kebahagian itu, hingga suatu saat....
“Lebih baik aku tidak pernah bertemu denganmu.” Gumam Dion
Di malam hari, gelap, tanpa cahaya aku berdiri dan kembali menyesali perbuatanku. Awan besar menutupi rembulan, aku tak dapat berkata – kata lagi tanpa kusadari air mata telah mengalir.
“maafkan aku teman – teman....”
Disini, dikelas ini, diantara jasad seluruh sahabat2ku, aku menangis.
Dengan tatapan kosong dan tubuh bermandikan darah.
“anak iblis”
“Pembunuh”
“Penjahat”
Satu persatu sebutan itu terdengar ditelingaku hingga sampai membuatku lupa akan identitasku sendiri. 1 minggu kemudian Aku terbangun disebuah rumah sakit jiwa tanpa mengingat apapun dan langsung pindah ke kota Lando dan berseklah di SMA Violet
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahroni nurhafid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Dunia Tanpa Cahaya
Kami saat itu
benar – benar yakin bahwa dunia masih sore, mentari masih menyinari dan
cahayanya masih menembus jendela rumahku, tapi sesaat kami membuka pintu
menyusul kak Dion berlari tiba – tiba dunia menjadi gelap.
Aku, kak Jay dan
kak Rui hanya tak dapat berkata – kata melihat kejadian aneh tersebut.
Sepi, tak ada
orang sama sekali ataupun suara.
Kak Dion yang
baru saja meninggalkan rumah tiba – tiba sudah tidak ada.
“Dimana ini?”
gumam kecilku
“Bukankah tadi
masih siang?” lanjut kak Jay
Sedangkah kak Rui
hanya terdiam membisu tak bergerak.
“Kak Dion?” saat
teringat kak Dion aku langsung tersadar dan mulai mencarinya dan di ikuti oleh
kak Jay dan kak Rui dibelakangku.
Awalnya kami
berjalan tanpa tujuan hingga tiba – tiba sebuah lampu jalan menyala satu
persatu dan mengarahkan kesuatu tempat.
Saat kami
mengikuti iramanya sampailah kami di SMA Violet, sekolah kak Dion sekarang.
Sebuah bangungan
besar dengan 2 lantai serta atap terbuka,
“Apa itu Dion?”
tunjuk kak Jay ke lorong lantai 2
“benar, itu Dion!”
jawab kak Rui
Kak Dion terlihat
sangat fokus menatap kedepannya seakan ada sesuatu disana.
Beberapa detik
kemudian kak Dion berlari sangat cepat.
“A-Apa itu?!” aku
pun terkejut dengan apa yang kulihat, sebuah bayangan hitam.
Kak Dion
terhenti, mungkin dia menyadari kehadiran bayangan itu.
Bayangan itu
berdiri dan menatap ke kak Dion.
“KAK DION AWAS!!”
Teriakku dan tiba – tiba seluruh lampu di lantai 2 padam
“Ada apa Lina?”
“Kenapa Kau
berteriak?”
Tanya kak Rui dan
kak Jay dengan bingung.
“Apa kakak tidak
melihat sosok tadi?!”
“Sosok?”
Percuma berdebat
disini aku harus segera menyelamatkan kak Dion.
Ku berlari sekuat
tenaga masuk ke dalam gedung sekolah,
*Brak!
Ku dobrak pintu
masuk dengan sekuat tenanga sampai terjatuh tapi syukurlah berhasil terbuka.
Dengan cepat aku
langsung berdiri dan berlari mencari tangga menuju lantai 2.
Ku ambil jalur
kelorong kanan dan mencari tangga ke atas.
Semoga kak Dion
baik – baik saja.
Gelap!
Aku tak tau
kemana aku berlari, kuputuskan untuk memanggilnya dari jauh dan berharap
mendapat balasan.
“KA-“
Sebuah tangan
membungkam mulutku dan menarikku masuk kedalam sebuah kelas,
“EMMM! HMM! HMM!”
berontakku
“Diamlah atau dia
akan menemukan kita.”
*krek krek
Suara cutter yang
mendekat
Ku intip dari
pojok bawah jendela, terlihat sebuah bayangan hitam besar bermata merah menyala
sambil membawa cutter yang dipenuhi darah.
“HMM!” aku pun
kaget dan langsung berteriak
Bayangan itu
terhenti dan berputar arah menuju kelas tempatku bersembunyi.
*Krek krek
Tak ada suara
langkah kaki, hanya ada suara cutter yang dimainkannya saja yang semakin
mendekat.
*Grak!
Pintu kelas pun
terbuka,
Kami bersembunyi
dibawah jendela tepat disamping pintu masuk.
*krek krek
Bayangan itu diam
didepan kelas,
Dengan tubuhnya
yang tinggi dan besar yang bahkan melebihi ukuran pintu, bayangan itu
memasukkan kepalanya kedalam kelas,
Dengan kedua
tangan besarnya yang memegang kedua sisi tembok.
*tes tes
Terdengar tetesan
darah dari pucuk cutter ditangan kanannya, kelihatannya ada yang baru saja
terbunuh olehnya dan saat kuperhatikan bagian bawahnya bayangan itu tak
memiliki sebuah kaki dan juga dengan wujud tidak jelas.
*krek krek
Bayangan itu
menoleh kekanan dan kekiri mencari kami berdua,
Didalam ruang
gelap ini muncul sebuah cahaya merah dari mata bayangan itu membuat kami
ketakutan setengah mati.
Jika tubuhku
terlihat sekali atau dengan kata lain terkena cahaya merah itu maka tamatlah
riwayatku.
Tangan orangn
yang membungkam mulutnya juga terasa bergetar ketakutan.
Kulihat langit –
langit ada sebuah cicak yang merayap dan terjatuh tepat diatas meja didepan
kami berdua.
*Bak!
Bayangan itu
langsung menoleh kearah tempat kami bersembunyi,
Cahaya merah itu
semakin dekat,
Semakin dekat,
Pucuk kakiku
hampir terlihat,
Kupejamkan mata
dan berdoa.
*Bruak!
Terdengar suara
pintu terbuka disebelah.
Disaat yang sama
kubuka mataku dan melihat bayangan itu pergi dan menuju ke ruangan sebelah.
*krek krek
Tubuhku tak bisa
bergerak,
Jantungku terasa
seperti berhenti berdetak,
Perlahan – demi perlahan
suara cutter mulai menjauh dan dia pun melepaskan tangannya dari mulutku.
“hah! Hah!”
Kami berdua
mengambil nafas.
“A-Apa, makhluk
macam apa itu?” tanyaku dengan nafas terengah – engah
“Dia adalah
penghuni dunia ini.” jawabnya sambil mengintip jendela memeriksa situasi
Aku tak bisa
melihat wajah maupun bentuk tubuh orang itu karena terlalu gelap namun dari
suaranya ia adalah seorang gadis.
“Tunggu, kau
bilang ‘penghuni dunia ini’ apa aku tidak salah dengar?”
“seperti yang kuduga,
kau adalah manusia sama sepertiku. Perkenalkan namaku Diana, dan kau?”
“Aku Lina, hey
apa maksudmu tadi?”
“disini bukanlah
dunia kita, ini adalah dunia gaib. Yah itulah yang ku dengar dari ketua.” Jelasnya
“bagaimana bisa
kita masuk kedunia gaib?! Ini benar – benar tak masuk akal!”
“Ssttt! Diamlah!”
*Bruak!
Suara keras dari
ruangan sebelah.
“Suara apa itu?”
bisikku
“entahlah, namamu
Lina tadi ya? Ayo ikut aku, disini terlalu berbahaya.” Ajak Diana sambil
menarik tanganku
Ia membawaku ke
lantai 2, namun
“berhenti, Diana!”
ucapku sambil menarik tangan Diana menghentikan langkahnya
“Ada apa?”
Ku pungut sebuah
surat tergeletak ditangga,
Sebuah surat
dengan logo hati berwarna hitam.
“Tidak, bukan apa
– apa, Maaf.”
Kemudian Diana
membawaku kesebuah ruangan paling pojok di lantai 2, dengan arah berlawanan
dari tempat aku melihat kak Dion tadi.
Sambil ditarik
Diana ku menoleh kebelakang namun tak ada kak Dion disana.
Ternyata ruangan
yang dituju Diana adalah ruang osis,
Diana mengetuk
lantai 3x didepan pintu dan tiba – tiba pintu terbuka kecil.
“Cepat masuk!”
jawab orang dari dalam ruangan
Diana menoleh
kekanan dan kekiri memastikan keadaan dan langsung membawaku masuk ke dalam.
“Siapa anak ini?”
tanya gadis yang membuka pintu tadi
“aku menemukannya
di bawah tadi, nampaknya dia korban yang baru.” Jelas Diana
“perkenalkan
namaku Lina, apakah kau bisa menjelaskan tempat macam apa ini? dan bagaimana
kita bisa keluar dari sini?”
“Aku Tiana. Aku tidak
handal dalam menjelaskan lebih baik kau tanya ketua saja.”
“Ketua?”
“Namamu Lina ya?”
Tiba – tiba terdengar
suara lain,
Dibawah jendela
besar, di kursi ketua osis arah suara itu berasal.
“Siapa kau?”
Kursi itu berputar
dan menghadap kearah kami, dari balik cahaya rembulan terlihat sosok pemuda
yang duduk diatas kursi tersebut,
“tak penting
namaku, kau bisa memanggilku ‘ketua’ seperti yang lainnya.”
“Baiklah, Ketua. Sebenarnya
siapa makhluk hitam besar tadi?”
“entahlah, aku
tidak tau namanya tapi kami memanggilnya ‘shadow’ disini.”
“Shadow? Tadi aku
bertemu dengannya dan ia membawa sebuah cutter.”
“kau sangat tidak
beruntung ya, shadow dibagi menjadi 2 yaitu shadow yang netral dan yang satu
lagi adalah shadow pembasmi itu, kusarankan agar kau tidak melawannya karena,
kau tau sendiri kan?”
Aku pun teringat
dengan darah yang menetes dari cutter yang dibawa shadow tadi,
*Duar!
Sebuah suara
keras dan di ikuti getaran kuat.
“Apa ini?!
gempa?!” aku pun panik
Ketua berdiri dan
mengintipnya dari jendela dan melihat keluar sekolah.
“sepertinya kita
juga tak beruntung.”
“memangnya ada
apa ketua?” tanyaku sambil ikut mengintip dan di ikuti oleh Diana dan Tiana
“M – Makhluk macam
apa itu?!” kata Diana dengan wajah pucat
Sebuah laba –
laba raksasa seukuran gedung sekolah ini sedang berjalan lurus kemari.
ISTRI MUDAKU MAFIA
kalo seru saya supor
kalo enda seru saya like