NovelToon NovelToon
DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

DEAK PARUJAR (Putri Langit Yang Menciptakan Dunia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sasip

Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:

"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian III)

...Doa yang Terbang Bersama Burung Erung...

..."Doa bukanlah suara yang naik ke langit. Doa adalah cahaya yang menemukan jalannya pulang."...

^^^—Petuah Burung Erung^^^

Setelah bisikan dari Banua Toru menghilang, Perpustakaan Angin kembali tenang dan terlihat beraktivitas seperti sebelumnya. Para Panurirang melanjutkan pekerjaan mereka. Gulungan-gulungan angin kembali berputar di antara lengkungan-lengkungan udara.

Namun Deak Parujar mengetahui, rasa keheningan itu tidak lagi sama. Kini ia sadar bahwa bahkan kesunyian pun ternyata memiliki pemilik.

"Guru..." bisiknya kepada Raja Angin, "Apakah setiap doa pasti sampai kepada Ayah?"

Raja Angin tidak langsung menjawab. Beliau justru mengangkat telunjuknya ke langit, "Lihatlah."

Di antara awan-awan putih yang berlapis-lapis, seekor burung besar meluncur tanpa mengepakkan sayap. Tubuhnya diselimuti bulu putih keperakan. Lehernya panjang dan anggun. Paruhnya berwarna emas pucat. Sementara kedua matanya memancarkan cahaya lembut seperti fajar pertama.

Burung Erung.

Namun kali ini, Deak melihatnya jauh lebih dekat daripada sebelumnya. Dan ia menyadari sesuatu yang belum pernah ia perhatikan dengan seksama.

Pada setiap helai bulu sayap Burung Erung, terukir garis-garis halus yang menyerupai aksara. Bukan aksara manusia tentu saja, melainkan tulisan cahaya.

"Tulisan apa itu?" tanya Deak kemudian.

Raja Angin tersenyum, "Itu bukan tulisan."

"Lalu?" tanya Deak lagi.

"Itu lantunan doa-doa wahai Putri-ku."

Burung Erung melayang semakin rendah. Begitu ia mengepakkan sayapnya, ribuan titik cahaya seperti aksara itu beterbangan dari sela-sela bulunya.

Titik-titik itu tidak jatuh ke bawah, mereka justru melayang ke atas. Naik semakin tinggi, menembus awan dan bahkan menembus cahaya. Hingga akhirnya lenyap di balik langit yang paling terang.

Deak memandangnya tanpa berkedip dan kembali bertanya: "Apakah semua itu... doa?"

"Ya." jawab Raja Angin.

"Doa siapa?" tanya Deak lagi.

"Semua makhluk." jawab sang Raja Angin lagi, "Bahkan..." Raja Angin sempat memandang Jonggi yang bertengger di bahu Deak sebelum kembali berkata: "...seekor burung kecil pun memiliki doa."

Jonggi berkicau lirih. Seolah merasa malu karena rahasianya telah diketahui.

...****************...

Saat Burung Erung mendarat di sebuah dahan angin yang melayang di udara, seluruh Panurirang menundukkan kepalanya masing-masing. Parhudon berlutut. Pardalan Bintang melipat sayap. Bahkan angin pun terasa melambat.

Burung tua itu melangkah perlahan mendekati Deak. Tidak ada kesan angker pada sosoknya. Yang terpancar justru kebijaksanaan yang telah melewati banyak zaman.

"Putri Langit." Sapa suara Burung Erung yang terdengar lembut. Seakan lebih lembut daripada angin.

Deak membungkuk hormat dan menjawab, "Ompung Erung."

Burung tua itu tersenyum, "Engkau telah mulai belajar untuk mendengar. Tetapi hari ini... engkau akan belajar untuk melepaskan."

Burung Erung itu lalu membuka salah satu sayapnya. Di bawah sayap itu terdapat bulu-bulu yang bersinar lembut. Namun ada satu bulu yang tampak kosong. Tidak bercahaya.

"Cabutlah." kata Burung Erung memberi perintah tegas.

Deak terkejut, "Aku?"

"Ya. Dengan lembut." jawab sang Burung tenang.

Deak mengulurkan tangan. Begitu ujung jarinya menyentuh bulu itu, bulu tersebut terlepas tanpa rasa sakit. Begitu ringan, namun begitu terasa hangat.

"Pegang di dekat dadamu." perintah sang Burung Erung lagi.

Deak menurut.

Burung Erung menutup mata.

"Sekarang... Diamlah tenang, jangan berbicara. Jangan berpikir. Jangan meminta. Hanya rasakan."

Dengan patuh Deak memejamkan mata. Ia tidak mengucapkan doa. Tidak meminta apa pun. Ia hanya membiarkan hatinya tenang.

Dalam keheningan itu, muncul satu gambaran. Ia melihat hamparan air yang luas. Terasa kosong dan sunyi untuk sementara. Kemudian, ia melihat daratan. Gunung dan lembah, hutan dengan pepohonan dan sungai yang mengalirkan air jernih.

Lalu ia dapat melihat anak-anak berlari. Seorang ibu menyelimuti bayinya dengan kain ulos. Seorang ayah mengajarkan anaknya menanam pohon. Orang-orang yang saling membantu bergotong-royong membangun rumah.

Ia tentu saja tidak mengenali wajah-wajah mereka. Tetapi ia dapat merasakan gelombang kasih yang begitu besar. Tanpa ia sadari, air mata kembali mengalir di pipinya.

Burung Erung membuka matanya dan bertitah: "Buka telapak tanganmu nak."

Ketika Deak membuka genggamannya, bulu putih itu telah berubah. Kini bulu itu telah memancarkan cahaya keemasan.

Di permukaannya muncul motif yang sama seperti pada Ulos Cahaya milik Deak —akar Hariara yang menjulur, pusaran air dan gambaran sebuah gunung yang belum pernah ada.

Burung Erung mengangguk pelan, "Doamu telah menemukan bentuknya Putri."

"Aku tidak mengucapkan apa-apa." sanggah Deak perlahan.

"Doa yang paling murni... jarang lahir dari bibir. Ia lahir dari belas kasih." Burung Erung menjawab, lalu ia mengepakkan sayapnya.

Bulu bercahaya itu terangkat ke udara. Tidak jatuh. Tidak diterbangkan angin. Ia terbang sendiri. Naik perlahan. Melewati Perpustakaan Angin. Melewati awan. Melewati cabang tertinggi Hariara Bolon. Terus naik hingga menjadi setitik cahaya. Kemudian, lenyap.

...****************...

Mulajadi Nabolon, yang saat itu berada di Balairung Cahaya, perlahan membuka telapak tangan-Nya. Di atas telapak itu, bulu bercahaya tadi mendarat dengan lembut.

Beliau memandangnya lama. Lalu tersenyum. "Anakku..." bisik-Nya, "Engkau bahkan belum mengenal dunia... namun telah mendoakan seluruh kehidupan di dalamnya."

...****************...

Di Banua Toru, Naga Padoha kembali merasakan getaran halus. Bukan berupa suara. Bukan pula berkas cahaya. Melainkan secercah kehangatan yang tidak pernah dikenalnya sebelumnya.

Ia tidak memahami apa itu. Tetapi sesuatu dalam dirinya yang telah membeku selama ribuan zaman... retak sedikit. Sangat sedikit. Seperti batu yang baru pertama kali disentuh oleh kehangatan sinar matahari.

...****************...

Burung Erung kembali menatap Deak dan berkata: "Putri, suatu hari nanti... engkau akan belajar bahwa tidak semua doa dikabulkan sesuai keinginan. Tetapi setiap doa yang lahir dari kasih... akan selalu mengubah dunia. Walaupun hanya sebesar tetesan embun."

Raja Angin kemudian melangkah ke sisi Deak dan berkata: "Pelajaran hari ini telah selesai. Tetapi masih ada satu guru lagi yang belum engkau temui."

"Siapa?" tanya Deak.

Raja Angin tersenyum misterius dan menjawab: "Guru yang tidak pernah berbicara. Namun seluruh semesta belajar darinya."

Deak mengernyit dan kembali bertanya: "Siapa dia?"

Raja Angin memandang jauh ke arah timur, tempat cahaya pertama selalu dilahirkan, lalu ia menjawab: "Lihatlah saat fajar berikutnya. Di sanalah engkau akan bertemu... Sang Penjaga Waktu."

...****************...

Saat mereka meninggalkan Perpustakaan Angin, kawanan Panurirang telah kembali bekerja seperti sebelumnya, Parsinuan menebarkan serbuk mimpi di taman-taman langit, Sijongjong Daun teelihat mulai menidurkan tunas-tunas muda, sementara Pargondang Langit memainkan gondang dari cahaya bintang untuk mengiringi datangnya malam.

Banua Ginjang kembali bernapas dalam iramanya yang agung.

Dan Deak Parujar melangkah pulang dengan satu keyakinan baru. Bahwa kehidupan tidak hanya diciptakan oleh kekuatan. Ia juga dipelihara oleh doa-doa kecil yang terus terbang, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.

...****************...

Horas! 🌿

Mauliate godang.. 🤎

📖 Bersambung ke Bab 8. Penjaga Waktu.

1
MayAyunda
mampir kak ..cerita bagus ..lanjut
B042
unyu² sekali siula yak.. 😍
sasip
mohon maaf kalau terasa aneh, namanya jg imajinasi penulis.. semoga suka ya walau aga aneh.. 🙏🏻
Zed Analytical Number Nine
warna kelopak nya indah
sasip: terima kasih.. seindah dukungan kakak loh.. 😍
total 1 replies
Tio Buki
Moga lancar ya thor🙏🙏🙏
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki
Siapakah dia, siapa namanya?????
Tio Buki: Kisah Sumatra ya. Tapa nuli, atau Toraja nih.
total 2 replies
Tio Buki
Iya, seperti itu
Tio Buki
Oh, begitu ya
Tio Buki: Oke dek. Semangat ya🙏
total 2 replies
Tio Buki
Aneh
Tio Buki
Kok begitu
Tio Buki: Oh begitu ya dek
total 2 replies
MayAyunda
lanjut kak keren
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
B042
cakep² ish gambarnya.. 😍
B042
ternyata bukan manusia yg mempunyai perasaan, tapi perasaanlah yg mempunyai pemilik.. seperti kesunyian atau kesendirian, apakah bisa dimiliki bersama² yak? secara kalo bareng² memilikinya, enggak sendiri dunks ya itu artinya..
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
B042
bagus banged ya kalau manusia bisa berkomunikasi dg alam.. jadi keinget sama mba rara neh.. wkwkwkwkwk..
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/
B042
wow banyak mahluk² ajaibnya.. 😍🥰😘
B042
KEREN..
B042
Ulos adalah kain tenun tradisional Batak (Sumatra Utara) yang melambangkan kehangatan, perlindungan, dan kasih sayang. Dikenal sebagai "pengikat kasih sayang," kain ini sakral dalam budaya Batak karena mendampingi setiap fase kehidupan manusia—mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. (mbah google) 😉
B042
part ini mengingatkan pada sekolah alam yg sempet hapapening beberapa waktu yg lalu itu ya.. 😆😋😏
B042
"air menyimpan kenangan dan ia akan selalu mengingat", jadi kebayang film Frozen 2 yak? macam dengar kata² Olaf gitu deh.. 😋😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!