Bercerita tentang seorang wanita bernama Anita Sheila, seorang gadis yang memiliki sifat cuek terhadap hal yang menurutnya tak penting. Fokus terhadap nilai dan prestasinya semasa sekolah, justru membuatnya tak memiliki teman dan susah bergaul.
Namun pandangan Anita berubah ketika suatu hari ia bertemu Zain Azriel. Zain yang memiliki sifat berkebalikan dengan Anita memberi kisah baru dalam romansa tersebut.
Zain merupakan lelaki yang ceria, suka bermain, nakal dan bahkan dihari pertama sekolah ia bertengkar dengan seniornya, walau sebenarnya ia lelaki jenius dalam mata pelajaran.
Hubungan keduanya terbentuk ketika pertama kali Anita mengunjungi Zain untuk mengantarkan sebuah catatan. Namun saat itu juga Anita melihat sisi berbeda Zain dari rumor yang selama ini ia dengar. Dari situlah pertemanan keduanya dimulai.
Saat ini hubungan mereka semakin dekat, namun keduanya bingung dengan ikatan tersebut karena belum pernah memiliki pengalaman sebelumnya.
bagaiman kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemuja Emosi
"Yang aku lakukan ini gak salah, yang ku lakukan gak salah, aku gak melakukan kesalahan," pikirku berlari tergesa menaiki anak tangga.
"Tapi, kenapa? Kenapa kejadian ini terulang lagi? tenang, tenang, tenang," batinku bersandar pada tiang pembatas jalan begitu lelah.
Disisi lain Zain yang baru masuk ke toko Rio, meletakkan makanan di meja, berbaring di sofa.
"Zain, pizza ini, gak mau?" ujar Rio
"Enggak, buatmu aja Rio," balas Zain.
"Apa ini?" lanjut Rio menyentuh bingkisan di meja.
"Pemberian Alea. Sayang, aku harus meminumnya pas lagi kesal."
Zain terus melamun menatap rembulan malam dari sisi jendela kaca sembari tersenyum sendiri, "Anita kamu memang manis sekali ya."
"Oh begitu, jadi ceritanya lagi di mabuk asmara? Yah kalau begitu tetap semangat ya," pekik Rio memberi semangat.
"Siap."
Keesokan paginya di hari festival budaya sekolah.
Suara gemuruh saling bersautan membujuk para tamu yang ada untuk berkunjung mencoba stand yang telah di persiapkan oleh masing-masing kelas.
"Selamat datang, berkunjunglah ke cafe asia 11-D."
"Ada yang mau di ramal?"
"Selamat datang, berkunjunglah kerumah hantu kami," sahut Alea.
"Lama gak bertemu, kami masuk tiga orang."
"Oke, terimakasih silahkan masuk," balas Alea.
Didalam stand rumah hantu kelas 10-B.
"Selamat datang para tamuku, kalian harus di suntik loh," sapaku datar mengenakan kostum suster menyeramkan.
"Lagi apa kamu? Kutu buku!" sahut Rega.
"Pintu masuknya sebelah sini, silahkan lewat dan tetap hati-hati saat berjalan. Waktunya disuntik loh," singkatku menuntun umbi-umbian berjalan.
"Kenapa dari tadi bicarain suntik melulu sih?" pekik Rega.
"Kalian tau gak? Bangunan ini dulunya gak bisa di lihat, pemilik rumah ini sedang haus darah," lanjutku.
"Apaan, suster ini gadak serem-seremnya. Lagian kenapa pakai kostum suster segala sih," sahut Dion.
"Sampai jumpa semuanya, semoga beruntung," jelasku menghilang masuk dari sela pintu sulap.
"Sialan! Bikin merinding," ketus Tama.
Sreeekkkk! (Tubuh terseret di lantai)
Sreekkkkk!
Ki....kik...ikiki!!!!! (Suara wanita tertawa kecil)
Cit....cit....! (Suara tikus)
"Lord! Lord...." ucap Tama mengumpat di belakang tubuh Rega.
"Apasih! Beginian aja takut!" balas Rega menghadap Tama.
"It...it....itu...." balas Tama susah berbicara menatap menunjuk sesuatu.
"Apa? Itu apa? Yang jelas!"
"AHHHHH......HHHHH" Teriak Dion melihat tepat depan matanya membuat Tama ikut menjerit.
"Alamak, begitu aja takut!" pekik Rega berjalan menghampiri Zain berkostum hitam membawa sabit panjang menggeret tubuh Azi yang berlumur darah.
"Woi, Zain, pada ngapa sih" lanjut Rega.
Zain menatap tajam Rega dengan wajah berantakan, mata terlepas hidung rusak dengan wajah hancur sehancurnya.
Seketika Rega menganga sebelum akhirnya tersandar ketika Zain menyemburkan cairan merah dari mulut ke arah Rega juga ke Dion dan Tama.
Wusshhhh....Burrrrrr!!!!!!!!!
"Maksudnya apa ini anjir?"
"Hahaha, gimana muntahan darahku? mantap kan?" ujar Zain.
"Kimpat lah Zain, kalau begini mana bisa kami ngecengin cewek! Sebagai gantinya, kenalkan kami dengan cewek-cewek yang ada disini!" ketus Rega.
"Cewek-cewek? Oh."
Di belakang stand rumah hantu, aku yang sedang termenung sendiri.
"Seharusnya aku gak perlu marah sampai seperti itu. Tapi, sikap Zain masih sama seperti sebelumnya dan sejak kapan aku jadi gampang gelisah begini?"
"Dulu aku begitu teguh dengan pendirianku sendiri karena keputusanku selalu benar. Andai saja aku masih sendiri, apa aku akan merasakan gelisah seperti ini?"
Di halaman depan sekolah.
"Wah festival budaya begini memang keren, bener gak, Rio?" ujar Aldi memakan gulali.
"Apa maumu disini?"
"He? Kejem bener."
"Bukanya kemarin udah janji dengan Zain kalau kau gak bakalan nampakin batang hidungmu lagi di hadapannya kan?" jelas Rio memantik api menyalakan rokok di tangan.
"Soalnya aku dengar, Zain begitu antusias dengan festival budaya ini, makanya aku belain datang kemari."
"Dasar!" umpat Rio menghela asap rokok.
"Permisi, aku beli donat kacang merahnya dua ya," lanjut Aldi mencoba stand donat yang berada di sampingnya.
"Wokeh bos, siap! Ini bos pesanannya," jelas pedagang menyerahkan donat kacang merah.
"Terimakasih."
Aldi kembali duduk di samping Rio, "Kalau membayangan betapa marahnya dia melihat kemunculanku, malah aku jadi ingin datang!" ujar Aldi penuh semangat.
"Kalau begitu jangan libatkan aku."
"Hahaha...Canda doang kok."
"Mana bisa aku percaya segitu mudah," jelas Rio memakai kembali kacamata hitam sembari menghisap rokok di tangan.
Kembali ke sisiku.
"Yo," sapa seorang lelaki muncul dari semak belukar pepohonan belakang sekolah lengkap dengan daun-daun kering di atas kepalanya.
"Sedang apa kamu?" balasku.
"Gadak kok, aku pulang dulu, dah."
Lelaki tersebut pergi meninggalkanku dengan buru-buru, tak berselang beberapa menit muncul lagi dari semak yang sama ke hadapanku.
"Kamu tersesat? Harusnya kamu tanya jalan keluar sama orang lain," singkatku.
"Aku gak suka minta bantuan sama orang lain."
"Dih! Lagi kesasar aja masih sombong!" batinku.
"Ah disitu rupanya. Lah? Lagi apa kalian?" ucap Alea datang menghampiriku.
"Gak lagi apa-apa." (Jawab bersamaan)
Aku bangkit berdiri, "Kamu, mau ikut?" Tawaranku pada pria tersebut.
Di kandang ayam.
"Kampret lah Zain! Maksud kami bukan ini! Kami ingin kau kenalkan dengan cewek asli cewek beneran!" umpat Rega menatap Rahul yang Zain lepas dari kandang sembari memberi pakan jagung giling.
"Apa kabarmu nona manis?" lanjut Dion mengelus Rahul.
Pe...petok!!!!
"Maaf, soalnya aku khawatir sama dia, hehehe."
"Terus apa-apaan itu?" lanjut Rega menunjuk kandang.
"Dunia ini penuh dengan orang-orang jahil kan? Aku mencegahnya dengan membuat barikade itu, namanya Anita barier," jelas Zain tersenyum memicingkan mata tak sadar kehadiranku di belakangnya.
"Jangan pakai namaku seenaknya!"
"Woh, Gio, darimana aja kau?" sahut Rega melihat pemuda di sampingku.
"Dia kesasar di belakang sekolah," singkatku.
"Aku gak kesasar!"
"Zain, Azi butuh bantuanmu," lanjutku.
"Kenapa kau bersama pria ini?" pekik Zain mendekatiku.
"Hanya kebetulan."
"Kenapa kau buang muka gitu?" sahut Gio melirikku.
Kemudian Gio kembali melirik Zain dengan senyuman sinisnya, "Woi Zain, Zain, jangan kasar begitu dong sama cewek, menyedihkan!"
"Hah? Tunggu sebentar kau disitu lebih baik diam. Aku ingin bicara dengannya terlebih dahulu. Anita, kau melarangku menyentuhmu tanpa izin, tapi kenapa kau membiarkannya?"
"Gak juga."
"Sudah jelas ini buktinya aku langsung liat dengan mata kepalaku sendiri, masih ngelak?"
"Soalnya dia gak keberatan jika disentuh denganku, tapi dia bakal merasa jijik jika di sentuh denganmu," sahut Gio tersenyum.
"Menyingkir dari Anita!" bentak Zain coba melepaskan rangkulan Gio.
"Lambat," balas Gio menghindar dengan tangan masih merangkulku.
Zain yang tersulut emosi, menghempaskan satu pukulan ke arah Gio. Gio yang sedikit paham seni bela diri, justru menarik tubuhku menghadap Zain dan.......
BRUAKKKKK!!!!!!
Untuk kedua kalianya dalam hidupku, pukulan keras Zain tepat mengenai wajahku, menghempaskan tubuhku hingga tersungkur lemah bercucur darah dari lubang hidung dan mulut.
****
Sampai disini dulu kak akak semuanya, masih tentang prediksi cuaca hujan. Setelah mengkonfirmasi prediksi sharing dengan rara sang pawang hujan pengendali air, hasilnyal hari minggu besok kita off up ya kak, di lanjutkan senin. Lanjut... makasih gais...
biasanya berhati lembut dan penyayang 🙄
sebenarnya kenapa zain bisa di cap pembuat onar😑
hanya karna game nya kalah😤
pasti ada sebab akibat nya tak mungkin mencelakai orang tanpa alasan 🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️
peristiwa berdarah apa 😧
Segala rasa membelenggu jiwa