NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Gadis Pujaan

Mengejar Cinta Gadis Pujaan

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:157.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: ririn rira

Seorang pengusaha muda berparas tampan bernama Gavin Dafidra Pratama jatuh cinta pandangan pertama pada gadis yang tak sengaja bertabrakan dengannya di pelataran kafe. Jantung berdebar kencang ketika mendapati gadis itu adalah salah satu karyawannya, banyak cara di lakukan Gavin untuk menarik perhatian sang gadis pujaan. Hingga suatu fakta di temui jika gadis itu trauma dalam menjalin kasih setelah di tinggal mati sang kekasih di malam pertunangan. Gadis yang berprofesi sebagai desainer di butiknya sendiri dan juga karyawan di kantor Gavin sangat menutup diri. Si pengusaha muda nan tampan ini sangat berjuang keras untuk meluluhkan hati gadis bernama Atira Mauhan ini.

Apakah Gavin berhasil atau mundur dengan teratur karena bekunya hati si gadis pujaan ?

IG. Iyien_02
FB. Ririn Rira

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gavin sakit

Hari - hari telah berlalu, Atira dan Gavin terlihat semakin dekat. Atira sudah mulai terbiasa dengan segala tingkah Gavin. Setiap hari pria itu seakan tak pernah kehabisan akal untuk mencari perhatian Atira, hal - hal baru selalu dihadapi Atira tanpa ia tahu semua sudah direncanakan Gavin.

Sesekali Atira merasa berdebar bila bersama Gavin tapi secepatnya ia tepis, mungkin karena keseharian nya selalu bersama Gavin jadi berbeda disaat ia bersama para sahabatnya. Hari ini Gavin sedikit berbeda karena banyak pekerjaan membuatnya kurang beristirahat.

"Tuan anda sepertinya tidak sehat, apa sebaiknya anda tidak datang kekantor hari ini."

" Enggak Jer, aku cuma sedikit capek nanti di kantor aku bisa beristirahat diruang pribadiku." Balas Gavin sambil memasukkan tubuhnya ke mobil. Ia terlihat lesu dan sedikit pucat tapi menolak untuk tinggal di rumah, sepanjang perjalanan ia tak banyak bicara.

"Tuan apa kita ke rumah sakit ? Saya khawatir melihat kondisi anda" Jerry menjadi khawatir dengan keadaan bos nya.

"Gak perlu Jer, aku masuk angin" jawab Gavin.

...----------------...

Gavin masuk kedalam gedungnya dengan sedikit sempoyongan. Jerry sigap menggandeng bosnya itu. Para karyawan menyapa tapi tidak dibalas seperti biasanya, mereka yakin jika presdirnya tidak baik - baik saja.

" Apa jadwalku hari ini ?" Tanya Gavin sambil mendaratkan tubuh di kursi.

"Vin, kamu sepertinya kurang sehat , apa sebaiknya dikosongkan saja jadwal kamu ?" Ujar Atira sudah tidak bicara formal lagi karena Gavin tidak menyukainya.

"Kamu khawatir sama aku ?" Tanya pria itu senang

"I—iya tentu kamu atasanku, kalau kamu kerja dalam keadaan sakit nanti hasilnya gak akan bagus. " Atira tiba - tiba gugup.

Gavin tersenyum senang mendapat perhatian kecil dari gadis pujaannya. "Aku baik-baik aja cuma capek, ayo lanjut kerja."

Waktu semakin maju membawa diri, Gavin sesekali menguap merasakan hawa tubuhnya sangat panas bahkan matanya sudah berair dan merah tak hanya itu tubuhnya terasa juga lemas.

"Vin, ini kopi nya." Atira melangkah masuk setelah mendapatkan sahutan dari ketukannya di daun pintu. Langkah gadis itu terhenti kala netranya tertuju pada sosok yang kini menelungkupkan kepala di atas meja. "Vin." Panggil gadis itu kembali.

"Hm" jawab Gavin sambil mengangkat kepalanya.

Atira terkejut melihat wajah Gavin yang pucat dan matanya merah. Ia memberanikan diri menyentuh dahi Gavin. "Kamu sakit, badan kamu panas sekali, ayo aku bantu ke sofa." Ujar Atira memapah tubuh Gavin. Setelah meletakkan tubuh laki-laki itu dengan benar, Atira gegas berlari keluar memanggil Jerry. "Tuan masuk lah Gavin demam."

Jerry bergegas masuk untuk melihat kondisi Gavin. "Nona, sebaiknya kita bawa tuan ke ruang pribadinya." Ucapnya ketika melihat sang atasan menggigil.

"Iya bantu aku membawanya."

"Biar aku yang merawatnya." Seru Diana tiba-tiba datang. Gadis itu mengetahui kondisi Gavin dari beberapa orang di lantai kubikelnya.

"Tidak perlu ! Biar nona Atira saja karena itu tugasnya." Ujar Jerry tegas.

Diana mendengus kesal. "Atira gak tahu cara merawat Tuan Gavin. Dia harus dapat perawatan secepatnya." Gadis itu kekeh dengan kemauannya.

"Nona Diana, silahkan anda kembali bekerja. Tuan Gavin baik-baik saja dan tidak parah." Tekan Jerry yang sedari dulu muak dengan tingkah Diana sok baik menurutnya.

Atira mengambil kain kompres dan air, tak lupa melepaskan sepatu Gavin dan memakaikan selimut tebal pada tubuhnya sambil mengompres ia menelpon kakaknya. Sementara Jerry dan Diana masih adu argumen di dalam ruang kerja Gavin. Asisten tampan itu tidak membiarkan Diana melangkah sejengkal pun untuk masuk ke dalam ruang pribadi atasannya.

Tak butuh lama Hendri tiba di kantor Gavin diantar oleh seorang resepsionis. Jerry tersentak melihat seorang dokter yang tidak asing dalam ingatan. Ya, dokter di hadapannya ini adalah laki-laki yang memeluk Atira waktu itu. Jerry membatalkan niatnya untuk menelpon dokter keluarga Pratama

"Silahkan masuk Dokter." Jerry menggeser tubuhnya memberikan ruang.

"Terimakasih, dimana pasiennya ?" Hendri melemparkan senyuman tipis.

"Mari ikut saya, apa Nona Atira yang menelpon anda ?" Jerry bertanya sambil menuntun langkah.

"Iya." Langkah Hendri terhenti menunggu Jerry membuka pintu ruang pribadi Gavin. Di atas kasur seorang laki-laki memejamkan mata dengan kain putih tertempel di kening. Senyum Hendri tertarik melihat sang adik menatap wajah pria di hadapannya penuh rasa khawatir. "Sejak kapan dia seperti ini ?"

"Kak." Atira tersentak tidak menyadari kedatangan Hendir. "Sepertinya sejak pagi." Manik mata gadis itu bergulir ke arah Jerry yang berdiri di ambang pintu.

"Iya, sejak pagi tuan Gavin sudah merasa kurang sehat. Silahkan anda periksa." Jerry menimpali sambil melangkah ke arah kasur.

Hendri mengangguk lalu mengambil posisi di sebelah Atira. Hal itu tak luput dari perhatian Jerry, tanya mulai bercokol di dalam benak. Apa hubungan Atira dan Dokter itu.

"Dia hanya demam biasa selain itu juga faktor kelelahan, tidak perlu di rawat ke rumah sakit." Hendri melipat kembali stetoskopnya dan memasukan ke dalam tas. "Saya resepkan beberapa obat dan vitamin." Sambungnya menyerahkan kertas resep pada Jerry. "Saya tidak membawa obat itu tebus di apotik saja."

"Terimakasih dokter." Jerry memutar tumit setelah menerima kertas resep. Ia menanggalkan tanya yang bersarang di tempurung kepala.

"Kak boleh aku minta tolong tunggu dia bangun baru kakak kembali ke rumah sakit."

Hendri tahu adiknya khawatir lalu tersenyum tipis. Dejavu, Hal ini pernah terjadi ketika Daniel sakit dan Atira yang merawatnya sendiri alhasil Daniel dilarikan ke rumah sakit karena panas tinggi.

"Baiklah kakak akan disini sampai dia bangun. Bos kesayanganmu itu cuma demam."

"Kakak bicara apa, dia cuma bos ku" Atira protes sambil mengerucutkan bibirnya.

Gavin mengerjapkan mata untuk bangun, ketika suara asing menembus ruang rungu nya. Laki-laki itu berusaha menjernihkan pandang untuk mengenali pria yang duduk begitu dekat dengan Atira. Perasaan Gavin tetiba sesak saat mengenal dokter tampan itu adalah pria yang memeluk Atira saat akan pergi liburan.

"Kamu sudah bangun." Suara Atira begitu lembut penuh perhatian.

"Hm, kepala pusing." Keluh Gavin sambil menipiskan senyum.

"Saya periksa lagi ya." Hendri bangkit dari posisinya lalu melakukan rangkaian pemeriksaan lagi.

"Dokter ini obatnya." Jerry datang sambil menenteng dua plastik putih di tangan.

"Masih panas, sepertinya perut anda kosong, usahakan sebelum minum obat makan dulu minimal lima sendok makan. Kalau misalkan tiga hari masih demam atau tidak ada perubahan bawa saja ke rumah sakit, kita cek darah." Jelas Hendri menatap tiga wajah di dalam ruangan itu satu satu- persatu. "Jangan menunda makan siangmu." Sambungnya meninggalkan kecupan singkat di pucuk kepala Atira. "Saya akan kembali ke rumah sakit." Pamit Hendri pada Jerry dan Gavin.

"Terimakasih dokter." Jerry mengulurkan tangan untuk bersalaman.

"Hati-hati, Kak."

Jerry mengantar Hendri untuk keluar dari ruangan. Sementara Gavin menghela nafas panjang berusaha melegakan rongga dada yang bergemuruh.

"Sekarang kamu makan buburnya dulu ya." Atira meraih kotak bubur.

"Apa dia selalu seperti itu padamu?" tanya Gavin tak senang

"Ya dia selalu begitu, dia sangat menyayangiku." Atira tersenyum

Gavin sangat geram mendengarnya, ia merasa tersaingi lagi.

1
iiN
seru dan singkat
Ririn Rira: Terimakasih 🥰
total 1 replies
al-del
semoga Husnul khatimah Daniel 🤲

aku mampir Thor...🙏
silviaanugrah
10like thor, aku tunggu feedback-nya di cerita ku yaaa.
Aster
Like 🥰🥰🥰🥰🥰
Aster
Gavin 🤣🤣🤣🤣🤣
Aster
Astaga saya sampai ☺☺ dengan tingkah lucu Gavin 🤣🤣🤣🤣🤣
Aster
Guling....🤣🤣🤣🤣🤣🤦🏻‍♀️
Aster
deg deg deg....🤣🤣🤣🤣🤣
Aster
😭😭😭😭😭
Samsul Maarif
aku udah 2kali balik sinii,tapi yg like sama komen masih bisa dibilang dikitt padahal menurutku ini ceritanya baguss konflik gak serius seriuss amattt,terkesaan santuy dannn enak aja gitu bacanyaa gk beribet sama eps yg panjang lagiii,semoga aja cerita ini makin bertambaahh yg bacanya yaaa kaakk amin..
Bunga Tanjung
oh Gaviiin 😄😄
flora sweet
akoh baca ulang tpi masih aja bapperrr ma babang gafin...yaaa walaupun blom move on dri babang zef...😂😂😂😍😍😍😍😍
flora sweet
aq baca ulang....😍😍😍
Christien Atmoko
😂😂😂🤣🤣🤣
Christien Atmoko
bru awal dh bkin mewekkk thor...😭😭😭😭
Marlina Ak Rantau
therbaik thor...
nisa
ok kk critanya...
mksih 😘😘😘
zemangat trs berkarya
up up up
Ririn Rira: Terimakasih 🥰🥰🥰
total 1 replies
silviaanugrah
hai thor, 10 like mendarat utk karyamuu.
semangat up dan semoga ceritanya sukses.
aku tunggu feedback nya di karyaku ya. 😊❤
Lilah Kholilah
🤣🤣🤣🤣🤣
Lilah Kholilah
Gavin Gavin...😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!