Vanila didesak keluarganya untuk segera menikah. Arshaka Bimantara tiba-tiba saja menggantikan Seno, pacarnya yang tiba-tiba kabur saat Vanila meminta melamarnya. Ketampanan dan sikap manis Shaka membuat Vanila tak berpikir lama untuk mengiyakan ajakannya, dari pada harus menunggu Seno yang tak ada kabar.
"Vanila, apa begitu susahnya membuka hatimu sedikit saja untukku?" ~Shaka
"Jangankan membuka hati, membuka baju pun aku rela, Mas!" ~Vanila
Siapa laki-laki yang bernama Shaka itu sebenarnya?
Bab 1-63 (End)
***
Empat tahun menjaga jodoh orang, membuat Junior Reynand Winata atau biasa disapa Jr merasa dirinya terpuruk saat mengetahui kekasih yang ia pacari selama ini hamil dengan teman dekatnya sendiri. Seolah ditusuk dari belakang, Jr menyesal selama ini telah menjaga kehormatan gadis yang ia pacari itu.
Mencoba mencari pelampiasan, tapi yang ada hidupnya semakin jungkir balik saat bertemu Bia, gadis yang dijual oleh kakaknya sendiri untuk menemani Jr malam itu sebagai penebus utang padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okta Diana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana Kalau Kita
"Aku mau mandi!"
Aku turun dari ranjang untuk menghindari Mas Shaka yang akan memelukku dari belakang. Sebelum pertahananku goyah, aku harus menghindari. Karena aroma parfumnya bener-bener kayak ngehipnotis aku gitu lagi.
Selesai mandi pun dia masih menungguku sembari berbaring di ranjang. Aku masih bisa mengintipnya dari lubang kecil pintu kamar mandiku.
Aku mencebikkan bibir. Dengan hanya memakai handuk untuk menutupi tubuh, aku keluar dari mandi, berjalan lenggak-lenggok dengan santainya. Sesekali melirik ke arah Mas Shaka yang seolah gak berkedip menatapku. Dia juga menipiskan bibir dan kadang juga menggigitinya.
"Mas, kamu hadap sana! Aku mau pakai bra, nih!" teriakku geram karena terus aja pandangannya gak mau lepas dariku.
"Aku kan suamimu, kenapa kamu harus malu? Bukannya dulu kamu menawarkannya padaku?"
"Dulu sama sekarang beda cerita ya, Mas!"
"Kamu masih marah sama aku?"
"Menurutmu?" tanyaku dengan mengangkat dagu. "Tolong dong, Mas! Kamu hadap sana!" pintaku lagi dengan wajah cemberut. Mas Shaka seperti terpaksa menurutinya dengan bibir mengerucut.
"Lain kali, kamu bisa 'kan pakai baju di kamar mandi?" sindirnya dengan terus membelakangiku.
"Ya suka-suka aku dong! Ini kan kamar aku," jawabku dengan mencebikkan bibir gak suka.
"Habis ini kita tinggal di mana?"
"Aku mau tinggal di sini aja sama Papa, Mama. Kalau Mas Shaka mau tinggal di apartemen ya, silahkan!" Dia terus mengerutkan dahi dan memautkan alisnya.
Aku kini hanya memakai lingerie lagi. Hanya berbeda warna, warna merah semoga aja bisa buat matanya gak berkedip.
Dengan santai aku duduk di depan cermin meja riasku. Mas Shaka kini tepat berada di sampingku. Dia melebarkan mata sempurna saat aku meliriknya.
"Vanila, apa kamu masih capek pagi ini?" tanyanya dengan terus menatapku menyeringai.
"Aku mau ke mini market, Mas!"
Aku mendengar Mas Shaka berdecak. "Terus kenapa kamu pakai lingerie pagi-pagi seperti ini?"
"Aku udah biasa kalau gak ada orang pakai pakaian seperti ini. Bahkan, kalau gak ada kamu, mungkin aku akan melepas bra!" jawabku santai dengan mengucir rambut panjangku ke atas seperti ekor kuda menghadapnya.
"Boleh minta waktumu satu jam aja?" Aku meliriknya tajam, napasnya mulai memburu menatapku.
"Lama banget, buat apa?"
"Vanila, aku ...."
Hpku tiba-tiba berbunyi. Dengan cepat aku menyambarnya karena terlihat Mama yang menelepon. "Ada apa, Ma?"
"Kamu sudah bangun, Vanila?"
"Udah, gimana keadaan Nenek?"
"Nenek udah sadar. Tolong kamu ke mini market! Karena hari ini banyak barang datang."
Aku melirik kembali ke arah Mas Shaka. "Iya, ini juga mau ke sana!"
"Ya udah, jangan sampai teledor!" Aku mendengkus, Mama selalu gak percaya padaku.
"Aku mau ke mini market!" pamitku pada Mas Shaka dengan kembali mengambil baju di lemari.
"Nanti aku antar, ini masih terlalu pagi. Lagi pula karyawanmu mana ada yang sudah datang" Dia berjalan mendekatiku. Tangan kanannya menyentuh bahu, sedangkan tangan kirinya menyentuh pinggangku. "Bagaimana kalau kita ...?"
Suara dari perutku yang keroncongan membuat Mas Shaka menatapnya gak suka. "Aku lapar, mau beli sarapan dulu, habis itu ke mini market."
Dia menggaruk rambutnya gusar. "Ya udah, ayo aku antar!" ucapnya dengan wajah geram.
"Mas Shaka tadi mau, apa?" tanyaku dengan menganggkat dagu mendekati wajahnya.
"Lupakan! Isi perutmu dulu!" jawabnya dengan berjalan keluar kamar. Sebelum membuka pintu, dia meliriku kembali, "aku tunggu di luar!"