Kisah Molly Arkana yang di cintai dua pria tampan satu darah, yah, Alex kekasihnya sudah berusia 39 tahun, tapi memiliki putra berusia 23 tahun, hasil dari cinta terlarang di usia Alex yang ke 15 tahun.
Dan Farrell yang seharusnya menjadi anak tirinya, juga mencintai nya. Ini kisah Farrell yang mencintai kekasih papah nya.
Banyak bawang, jadi siap kan tissue, ada part ngakak nya juga, plus part bucin, romantis, sama geram sampe geregetan pengen gigit telinga orang, siap siap, dengan alur cerita naik turun nya. 😍♥️
Happy reading ♥️😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis amatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia milik papah..!!!
Rambut lurus seorang gadis kini beterbangan tertiup angin, dan di sebelahnya ada pemuda tampan yang masih setia menemani meski bicaranya selalu ketus.
Gemuruh angin, deburan ombak, membising di telinga, bahkan dinginnya malam benar-benar memekik tubuh. Tapi tak membuat keduanya beranjak dari posisinya. Mereka tetap duduk berdampingan dengan mata yang menatap ke arah yang sama. Laut lepas lah yang mereka pandang bersamaan.
"Kau dan mamah benar Rell, aku memang sial, aku anak sial" ucap Molly mengumpat dirinya sendiri tersadar.
Dan kini senyum datar tampak di sudut bibirnya saat mengingat kembali ucapan pedas sang ibu beberapa jam yang lalu.
"Jadi karena itu mamah tidak menginginkan ku. Karena aku anak haram, anak yang tak pernah di rindukan." ucapnya sendu. Dan Farrell masih setia menjadi pendengar saja.
"Kau tahu Rell, dulu aku sering iri pada Mike, ingin sekali aku makan dari tangan mamah, merasakan sentuhan nya, di khawatir kan oleh nya, sedari kecil aku ingin sekali bertanya kenapa mamah selalu saja membedakan ku dengan Mike." ujarnya dengan tatapan yang melekat pada lautan.
Sesekali matanya terpejam seraya menghela napas berat berusaha menguatkan dirinya.
"Tapi setelah mengetahuinya aku justru menyesalinya, meski mamah tak pernah menganggap ku ada, setidaknya dulu aku masih merasa punya papah yang selalu menjadi pelindung ku, selalu ada untuk ku dan membela ku, tapi setelah mengetahui kebenaran bahwa ternyata papah Roy bukan lah ayah kandung ku, ini lebih menyakitkan dari sebelumnya, harusnya sampai mati aku tidak perlu mengetahui kebenaran pahit ini, sekarang, aku merasa tidak memiliki siapapun di dunia ini" curah hatinya yang di akhiri dengan isak tangis.
Farrell menoleh menatapnya "Kau menangis? cengeng.!!" cibir nya.
"Yah, aku memang selalu benar, kau memang sial..!!" Farrell mendekatkan wajahnya sekilas kemudian kembali ke posisi semula menatap laut lepas.
"Tapi di dunia ini, bukan cuma kau saja yang merasa kesepian, kau tahu, saat kelas satu SMP mamah ku sudah pergi menyusul nenek ku ke surga" pemuda itu berujar tanpa menoleh dan sesekali napas berat terdengar darinya.
"Sepeninggal mamah, aku dan papah sempat depresi berjamaah.." tambahnya.
"Nenek Retno ku selalu bilang, bidadari itu memang tinggal nya di surga, dia lebih pantas berada di sana" imbuhnya tersenyum tipis penuh kerinduan.
Dan gadis itu sempat melihat senyum manis Farrell yang jarang-jarang itu membuatnya reflek mengulas senyum.
"Dia pasti cantik.." tanyanya dengan tatapan yang melekat.
"Humm.. dia sangat cantik, kau tahu, kau tak ada apa-apa nya di bandingkan dengan kecantikan mamah" jawab pemuda itu menoleh dengan senyum tipisnya menghiraukan Molly.
"Kau pasti sangat merindukan nya.?"
Farrell mengangguk dengan mata yang terpejam sekilas "Tentu saja, tapi hidup terus berjalan, kita harus tetap menghadapi segala tantangan dari yang ringan hingga yang terberat sekalipun, sabar, tawakal" ucap bijaknya.
"Lebih baik setelah ini kamu pulang saja, bukan hanya kau yang bersedih mengetahui kenyataan ini, aku yakin Om Roy lebih kalut darimu, dia hanya memiliki mu, dia bahkan rela tidak menikah lagi demi membesarkan mu, kau tahu, alasan kenapa lelaki tidak mau menikah lagi?" tanya Farrell. Dan Molly menggeleng menatapnya penuh makna.
"Bukan karena tidak laku, tapi karena tidak ingin menjadikan anaknya, anak tiri seseorang, dan itulah yang dulu sering papah ucapkan padaku." tambahnya.
"Tak perduli dia ayah kandung atau bukan, karena terjalinnya sebuah ikatan bukan dari hubungan darah saja, tapi karena ini...." Farrell menunjukkan letak jantung hatinya berada.
"Hati yang saling bertaut" ucapnya waras.
"Tapi siapa yang akan menjadi wali ku nanti? bahkan aku sendiri tak berani menanyakan siapa ayah kandung ku pada mamah, aku takut jika ternyata papah kandung ku bukan laki-laki baik seperti papah Roy ku" ujar Molly.
"Lalu bagaimana jika dia tidak mau mengakui ku dan menikah kan ku?" tambahnya bertanya.
"Bodoh, kau galau karena itu?" sergah Farrell ketus. Dan gadis itu mengangguk.
"Sebenarnya papah tiri atau papah angkat bisa menjadi wali, tapi dengan cara mewakilkan, tawkil namanya, pasti kau tahu hal itu kan?" ujar Farrell menatap gadis yang kini menggelengkan kepalanya polos.
"Wali asli dari pihak perempuan, harus mewakilkan perwalian pernikahan padanya terlebih dahulu" jelas nya.
"Tapi jika wali asli dari si perempuan itu gaib, hilang entah kemana, atau mungkin tak mau mengakui putrinya, wali hakim bisa menjadi solusi" paparnya.
Farrell berkerut kening "Apa kau sungguh-sungguh tidak tahu tentang hal ini? ini pengetahuan dasar sekali, kau serius tak mengetahuinya?" tanyanya mencecar heran. Dan Molly masih menggeleng polos.
"Itu karena kau lebih fokus dengan dandanan mu saja, kau sibuk memangkas rok pendek mu, hingga otak mu beku, tak tahu apapun..!!" sindir ketus Farrell kemudian.
"Ucapan mu selalu menyakitkan..." gerutu Molly.
Dan kini gadis itu menatap Farrell dengan tatapan yang berbeda, ternyata masih ada sisi lain dari pemuda congkak itu. Hidup di Amerika tak membuat Farrell melupakan ajaran ajaran Gus nya.
Dan sepertinya angin malam yang terus menerus menerpa tubuh mulai membuatnya lapar. Untungnya kedai dua puluh empat jam itu menyediakan makanan, meskipun hanya ada satu pilihan yaitu mie instan. Tapi cukuplah untuk membungkam cacing cacing agar tak keruyukan di dalam sana.
Bak pasangan sungguhan keduanya memakan mie instan dengan telur plus sayur di iringi deburan ombak laut lepas, sejenak Farrell melupakan sajian mewah yang biasa pemuda itu makan, dan lagi-lagi karena Molly Farrell melakukan hal yang sama sekali tak pernah dilakukan sedari pemuda itu kecil.
Meskipun Alex sukses saat usia Farrell dua belas tahun, tapi Atmadja sang kakek sudah memberikan kemewahan padanya sedari pemuda itu lahir.
Dan kini waktu sudah menunjukkan pukul 03:10, rasa kenyang dan pikiran yang mulai tenang membuat Molly mengantuk. Lelah, sebab akhir akhir ini gadis itu sering tak tidur.
Setelah meminta bantuan pada beberapa pria di kedai akhirnya mobil Molly terisi bahan bakar kembali, dan tanpa Molly ketahui, Farrell menggendong kembali tubuh Molly masuk ke dalam mobil.
Sebelum kemudian berpamitan dengan beberapa pria yang masih bermain gaplek di teras kedai.
"Saya doakan semoga cepat dapat momongan mas, aamiin" kalimat doa yang terucap dari beberapa pria bersarung itu dengan tawa renyah nya.
Huh.. seandainya saja Molly benar-benar istrinya, mungkin pemuda itu takkan membawanya pulang, bermalam pertama di tepi pantai pasti akan lebih romantis.
Dengan berjalan gontai Farrell memasuki pintu mobil bagian kemudi, pemuda itu bermaksud membawa kembali calon ibu tirinya pulang.
Tak mau berlama-lama Farrell lantas menarik sabuk pengaman Molly, gadis yang masih tertidur di jok sebelahnya, pemuda itu juga merendahkan sandaran jok Molly agar lebih nyaman.
Tapi matanya terbelalak sempurna saat kepalan tangan meraih kerah bajunya mendekat padanya, hingga terpangkas lah jarak diantara keduanya, hembusan napas Molly kini terasa bersahutan dengan dera napasnya, dengan mata yang masih terpejam gadis itu meracau.
"Aku bukan anak sial, aku anak papah, ya kan hum?" igau nya. Dan Farrell masih diam tak menyahut, debaran jantungnya mulai kacau saat bibir mereka hampir tak berjarak "Jawab aku, jangan diam saja" igau Molly lagi seraya menarik-narik kerah baju Farrell mendekat padanya.
"Emmh, iy iya, tentu saja" jawab gugup Farrell.
"Kau memang bukan anak sial, mana ada anak sial secantik dirimu, jika benar begitu pun, hidup mu akan segera beruntung, karena secepatnya papah ku akan membuat mu bahagia" tambahnya.
Cup,..!!!
Kedua bibir mereka bersatu saat Molly tak sengaja menarik kembali kerah baju Farrell membuat mata pemuda itu membelalak, tak bisa Farrell pungkiri ia memang sudah bisa di pastikan tertarik pada gadis itu, tapi mencium? bahkan membayangkan nya pun tak pernah.
Tapi rasa damai itu membuatnya memejamkan matanya menikmati keserakahan nya, hidungnya menghirup aroma wajah gadis itu, dan semakin lama aroma damai itu membuatnya semakin ingin membuka mulutnya, lidahnya gatal ingin sekali meraba bibir lembut itu.
Tapi tidak..!! Ini tidak benar Rell..!! Gadis ini milik papah..!! Gadis ini kekasih papah..!! Lepaskan dia, jauhi dia..!! Tolaknya tersadar.
...----------------...
Bersambung... Silahkan utarakan keluhan kalian di bawah ini...🤭