Mikhayla gadis berusia 19 tahun, tiba-tiba harus mengalami kejadian yang tak terlupakan. Dia yang datang ke Bali dengan niat berlibur setelah menang undian. Harus menerima kenyataan saat tak sengaja dia melakukan hubungan terlarang dengan Azka. One standing night yang tanpa sengaja mereka lakukan membuat Mika hamil. Apa yang Azka dan Mika harus lakukan? bagaiman dengan Sheryl kekasih Azka? Bagaimana juga dengan Fariz orang yang diam-diam Mika suka? Penasaran? yuk baca, cekidoooooot
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzwa Chazanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part_25
Fariz terus mencari Mika kesana kemari, hujan gak dia hiraukan, bahkan dia sempat terjebak banjir, hingga mobilnya dia tinggalkan di jalan, beralih menggunakan jasa tukang ojek. Namun nihil sampai malam hari Fariz pulang ke rumah dengan keadaan kacau tanpa membawa Mika.
"Fariz, bagaimana? Mika dimana?" tanya Oma cemas melihat wajah kusut cucunya.
"Fariz gak tau, Mika gak di rumah ataupun di toko ibunya. Fariz nyari sampai ke terminal dan stasiun tetep gak ketemu, Oma Fariz minta maaf," sesal Fariz.
"Udah, kamu istirahat yang penting udah usaha," balas Oma.
"Bang Azka mana, Oma?"
"Azka masih di rumah sakit nemenin Sheryl," ucap Oma.
"Kebangetan, Bang Azka bininya kabur malah ngurusin orang gila," geram Fariz.
"Udah ... cukup Fariz Azka gak tau Mika pergi. Oma sengaja gak ngasih tau, biar dia pusing nyari istrinya." Oma juga sebal dengan kelakuan cucunya.
Fariz pergi ke kamarnya dia segera masuk ke kamar mandi mengguyur kepalanya dengan air menikmati tetesan demi tetesan yang entah mengapa terasa menyakitkan. Kepergian Mika dari rumah ini membuat dia sungguh terpukul.
Azka pulang ke rumah, dia kaget karena Mika gak ada, bahkan dia menemukan lemari dalam keadaan berantakan serta sebagian baju Mika yang lenyap. Azka yang kebingungan segera mencari ke segala ruangan tetapi Mika gak ditemukan.
"Nyari apa?" tanya Fariz dingin.
"Lu pasti tau 'kan Mika dimana?" Azka mencengkeram kerah baju Fariz.
"Ck, Mika bini lu, Bang. Bukan bini gue? Apa pantas seorang suami tanya keberadaan istrinya pada orang lain?" sinis Fariz.
"Katakan dimana, Mika atau gue hajar lu." Fariz melepaskan cengkeraman Azka.
"Yang harusnya di hajar itu lu, biar otak lu balik normal. Lu itu udah kehilangan Mika, jadi ini kesempatan buat gue, kalo gue nemuin Mika pertama kali, gue gak bakal lepasin lagi Mikhayla." Fariz menatap Azka tajam.
"Dia masih istri gue," teriak Azka.
"Hah? Istri lu? Gak salah. Bro, kalo lu anggep dia istri lu harusnya lu dari tadi di sini, menghapus air mata Mika saat dia sedih, nenangin Mika saat dia gundah. Lu ngapain aja dari tadi? Nemenin siluman rubah akting di rumah sakit," cibir Fariz. Azka terdiam semua yang Fariz katakan benar. Azka pergi meninggalkan Fariz.
"Mau kemana? Gak ada yang tau dia ngilang kemana, ibunya juga shock bahkan Celi juga gak tau. Puas lu bikin semua orang bingung," teriak Fariz.
Azka semakin frustasi mendengar teriakan Fariz, Azka tetap melajukan mobilnya menyusuri jalanan, mencari keberadaan Mika. Malam kian larut Azka gak peduli di pikirannya hanya harus menemukan Mika.
"Tuhan, apa yang gue lakuin, maafin Abang, Dek. Kamu dimana?" gumam Azka sambil terus mencari keberadaan Mika.
Sampai pagi, Azka tetap gak nemuin Mika. Dia pulang dalam keadaan capek dan langsung menuju ke kamarnya. Ada nyeri di hati saat masuk ke kamar, biasanya ada Mika yang menyambut dengan senyum, ada Mika yang menyiapkan segala kebutuhannya, ada Mika yang ngingetin dia terus buat sholat, dan yang paling dia rindukan mengusap perut buncit Mika.
"Abang, kangen, Dek. Maafin Abang," lirih Azka. Azka terlelap dengan penyesalannya.
"Shey, kita berhasil. Mika udah pergi dari rumah," pekik Mami Niar girang, saat menjenguk Sheryl di rumah sakit.
"Yang bener, Mi. Sheryl seneng banget, akhirnya tau diri juga dia. Harusnya udah dari awal dia mundur dari Azka." Sheryl dan Mami Niar berpelukan bahagia.
****
"Bu, tolong kasih tau Azka, Azka mohon," pinta Azka pada Bu Tia. Azka ke toko mertuanya mencari tahu keberadaan Mika.
"Ibu juga gak tau Mika dimana? Dia cuma bilang baik-baik saja dan mau nenangin diri," ketus Bu Tia, dia masih kesal dengan kelakuan mantunya.
"Tolong, kalo Mika telepon Ibu lagi, bilang Azka minta maaf dan sangat merindukan dia," ucap Azka tulus.
Bu Tia menatap menantunya, mencari kebenaran di matanya.
"Azka, dari dulu Mika yang selalu berjuang buat hubungan kalian, sekarang tinggal kamu, buktikan jika kamu pantas dan layak untuk Mika. Cari dia sampai dapat dan luluhkan hatinya," pungkas Bu Tia, dia pergi meninggalkan Azka yang masih bingung karena mencari Mika.
"Ini pelajaran buat kamu Azka, agar kamu mengerti apa arti penyesalan," batin Bu Tia sambil menatap menantunya.
Azka tak patah arang dia pergi ke kosan Celi mencari Mika.
"Heh, Ferguso makanya lu tu mikir jadi orang, sekarang nyesel, kan. Pusing nyari Mika sama anak lu. Rasain," ketus Celi pada Azka.
"Pliss, Cel tolongin gue. Gue nyesel banget." Azka memohon pada Celi.
"Ogah! Denger, ya selama dedemit itu masih di rumah lu, dan lu gak bisa kasih bukti kalo itu bukan anak lu. Jangan pikir Mika bakal balik ke lu," sinis Celi.
"Gue yakin dia bukan anak gue."
"Keyakinan aja gak cukup buat ngebuktiin semua. Lu gak usah ngotot dan minta Mika buat percaya sama lu. Lu aja gak percaya sama Mika, jadi buat apa? Lu egois, cuma mikirin diri lu sendiri. Lu gak pernah tanya Mika apa dia sakit atau bahagia, Mika selalu terlihat tegar tapi dia nyimpen banyak luka. Dan kali ini dia udah gak kuat buat ngadepin cowo lembek kaya lu!" Celi menutup pintu kosannya setelah mengeluarkan semua unek-uneknya buat Azka. Azka hanya mematung tak berani menjawab apa yang Celi bilang karena semua emang benar.
Hari ini Sheryl pulang dari rumah sakit, dia tersenyum gembira karena Mika sudah pergi.
"Akhirnya gue bakal jadi nyonya Azka," ucap Sheryl girang.
"Jangan ngimpi, selama Oma masih hidup, gak bakalan itu terjadi," hardik Oma Diana.
"Oma jangan kaya gitu dong, kalo Oma masih bawel, Sheryl gak segan-segan buat nyakitin Oma lebih jauh," ucap Sheryl tenang sambil mencengkram bahu Oma kuat-kuat. Oma meringis kesakitan. Dan menepis kedua tangan Sheryl.
"Jauhkan tangan kotormu, aku gak sudi kamu pegang-pegang wanita laknat!" balas Oma.
"Sheryl lagi bahagia hari ini. Jadi, males buat ngeladenin, Oma." Sheryl pergi meninggalkan Oma yang masih geram.
"Azka, bagaimana kamu bisa kenal dengan wanita menyeramkan seperti dia," gumam Oma.
Mika memandang tetesan hujan dari balik jendelanya, ada kerinduan yang menyergap di relung hatinya. Hanya saja, dia harus lebih kuat untuk menahan, biarlah semua berakhir sebagaimana mestinya.
"Bang, Mika kangen," gumam Mika.
Bersambung.