Ye Chenlong adalah aib terbesar Klan Ye.
Di hari ujian bakat, ia dinyatakan memiliki bakat kultivasi terburuk sepanjang sejarah. Tunangannya memutuskan pertunangan di depan semua orang, keluarganya mengusirnya tanpa belas kasihan, bahkan nyawanya hampir berakhir di hutan terlarang.
Namun, di ambang kematian...
Darah yang telah tertidur selama ribuan tahun akhirnya terbangun.
Bukan kekuatan yang langsung membuatnya tak terkalahkan, melainkan serpihan ingatan dari leluhur Naga Purba yang menuntunnya menuju teknik kuno, warisan yang hilang, dan rahasia yang sengaja dikubur oleh dunia.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak kebenaran yang terungkap.
Mengapa Klan Naga Purba dimusnahkan?
Siapa yang memburu seluruh pewaris garis darah naga?
Dan mengapa namanya telah tercatat dalam takdir jauh sebelum ia dilahirkan?
Ketika seluruh dunia menganggapnya sampah...
Tak seorang pun menyadari bahwa naga yang mampu mengguncang langit telah membuka matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 :LELUHUR
ye chenlong benar benar bingung, namun akhirnya ia di jelaskan.
kalau sosok jiwa di depannya adalah leluhur terdahulu klan ye.
itu adalah legenda klan ye, ye yuanzi.
mengetahui hal ini, ye chenlong langsung berlutut.
"maafkan generasi muda ini, karena telat menyadari keberadaan leluhur"
tentu ye chenlong tau nama ini, nama pahlawan klan terdahulu.
pilar utama klan ye pada masa jayanya.
energi lembut keluar dari ye yuanzi, mengangkat ye chenlong untuk berdiri.
"bangkitlah..."
"sekarang aku hanya sisa jiwa, aku juga tau apa yang terjadi dengan di klan, sebagai pendiri klan aku justru yang harus meminta maaf"
ye chenlong buru buru menggeleng.
"tidak leluhur, semua ini bukan salah anda"
"ini karena aku saja yang tak berguna di klan"
"sudahlah nak, aku tau kesulitanmu."
"bahkan jika kau menyimpan dendam sekalipun itu bisa di bilang wajar"
ye chenlong menunduk.
"maaf leluhur, sebenarnya aku memang menyimpan dendam kepada klan"
"aku tau ini tampak seperti penghianat, tapi jujur saja aku tak bisa melupakan sikap mereka"
ye yuanzi tak langsung menjawab, ia melemparkan sebuah gulungan ke arah ye chenlong.
ye chenlong menangkap gulungan itu, ia menatapnya bingung.
"bukanlah"
ye chenlong perlahan membuka gulungan itu.
"peta?" bingungnya.
ye chenlong memperhatikan peta itu, dan tujuan peta adalah sebuah sekte di barat laut.
"pergilah ke sana, di sana kau akan bisa meningkatkan kekuatanmu dengan cepat apa lagi ada sesuatu di sana yang bisa membantumu"
"sesuatu"
ye yuanzi mengangguk.
"sekarang aku tak bisa memberi tahu"
"pergilah sendiri menempuh jalanmu, tenang aku tak akan menghalangi jalanmu."
"tapi satu hal"
"orang tua ini sudah terlalu lama menjadi sisa jiwa, setelah kau kuat bantulah orang tua ini membentuk tubuh lagi"
ye chenlong langsung menunduk hormat.
"tentu leluhur, aku pasti melakukannya"
ye chenlong tak mau menunggu lama, lagi pula kini kekuatannya telah meningkat ke alam bumi tahap awal, akibat penyerapan jiwa iblis sebelumnya.
walau ye chenlong tak tau tentang ini, tapi dia percaya ini sudah di atur oleh garis darahnya.
ye chenlong ke luar gua, dengan peningkatan yang ini kecepatannya meningkat beberapa kali lipat, bahkan jangkauan kekuatan jiwanya sudah meluas.
saat dalam perjalanan, ia merasakan ada sosok yang mengejarnya tadi.
kali ini mereka sedang mengejar orang lain, awalnya ia tak mempedulikannya.
tapi saat merasakan orang itu terdesak ia berhenti.
"ada apa" tanya ye yuanzi dari dalam pedang.
"aku merasakan, ada orang lain"
"arang lain?"
"apa itu pemuja iblis yang mengejarmu tadi"
"pemuja iblis"
"jadi mereka adalah pemuja iblis" batin ye chenlong.
ye chenlong terdiam, menimbang nimbang keadaan.
"chenlong, ada apa"
"kenapa kau diam?"
"tidak leluhur.. "
"sebenarnya orang yang ku rasakan bukalah mereka tapi orang lain."
"dia sedang di kejar kejar pemuja iblis itu, aku hanya bimbang akan menolongnya atau tidak"
"kalau soal itu, aku tak bisa membantu mengambil keputusan, semua terserah kepadamu"
"tapi di dunia ini kau tak bisa terlalu baik ataupun jahat"
"kita belum tau dia akan seperti gagal yang saat di tolong akan membalas budi"
"atau seperti anjing yang bisa saja malah menggigitmu setelah kau menolongnya"
Tak jauh dari ye chenlong berdiri.
ada satu pria memegang pedang dengan bersimbah darah.
di depannya ada 3 sosok pemuja iblis.
"sial, kenapa harus bertemu mereka" batin pemuda itu.
pemuda itu terus menatap ke 3 pemuja iblis yang juga bersimbah darah.
walau begitu, luka mereka tak separah pemuda ini, bahkan saat menatap pemuda ini mata mereka berbinar.
seakan hidangan lezat ada di depannya.
"serang" ucap pemimpin pemuja iblis.
secara serentak mereka menyerang.
pemuda itu juga tak mundur, ia juga maju menyerang.
ting....
tring........
slas............
bunyi pedang beradu nyaring, bahkan sesekali darah menyembur dari pertarungan.
walau melawan 3 sekaligus, pemuda ini mampu mengimbangi mereka.
namun, bagaimanapun dia hanya sendiri.
sekuat apapun dia mengimbangi.
musuh akan lebih banyak mendapatkan celah, seperti sekarang.
Salah satu dari pemuja iblis sudah berada di belakang pemuda itu.
sebenarnya ia tau ini, tapi dia sedang menahan 2 lainnya yang menyerang dari depan.
pemuda itu sedikit menoleh, menatap ayunan pedang di belakangnya.
"apa aku akan mati di sini" batinnya.
wus.....
sering......
bug............
sebuah kepala jatuh ke tanah, di susuk tubuh tanpa kepala.
tak jauh dari tubuh itu, ada pedang usang yang menancap ke tanah.
mendapatkan cela untuk mundur, pemuda itu langsung menjaga jarak.
pedang usang yang menancap di tanah bergetar, sebelum akhirnya melesat kembali.
tampak sekarang pemuda yang berdiri di atas pohon, memegang pedang usang itu.
ia adalah ye chenlong.
ye chenlong melompat ke samping pemuda tadi.
"kau tidak papa"
melihat ye chenlong, pemuda itu menyatukan kedua tangan dan sedikit membungkuk.
"saya tidak apa apa tuan"
"Terima kasih telah membantu"
ye chenlong melambaikan tangan.
"tak usah berterima kasih"
"aku juga punya dendam dengan mereka"
"sekarang kau istirahatlah, untuk mereka sedangkan kepadaku"
"tapi tuan"
"mereka tidak lemah"
ye chenlong tak memperdulikan perkataan pemuda itu, ia berbalik menatap 2 sosok pemuja iblis.
"akhirnya kita bertemu lagi" ucap ye chenlong.
"hahaha, bocah lemah"
"tak ku sangka kau berhasil keluar dari gua serigala. tapi tak apa, ku rasa itu malah bagus."
"dengan begini, hari ini kami akan mendapatkan makanan besar"
"ouh....."
"ingin membuat aku menjadi makananmu?"
"apa kau yakin?"
"cih...... "
"hanya karena berhasil keluar dari gua serigala kau sudah berlagak"
sosok pemimpin pemuja iblis menatap ke belakang.
"adik ke 2, mari kita beri tahu siapa kita kepada bocah sombong ini"
sosok di belakangnya mengangguk, dan mereka kembali maju.
melihat 2 sosok menyerang, ye chenlong tidak panik, ia mulai memasang kuda kuda.
"nak, ingat yang ku ajarkan."
"alirkan qi milikmu secara perlahan ke dalam pedang" ucap ye yuanzi lewat transmisi suara.
ye chenlong mengangguk, qi tipis mengalir lembik ke dalam pedang.
saat mereka dekat, ye chenlong ikut menyerang, seperti gaya bertarungnya.
ye chenlong menghindar setiap serangan, hanya sesekali ia menahan serangan.
gerakannya tak terlihat seperti sedang bertarung lebih terlihat seperti sedang menari.
pemuda tadi terdiam, menatap cara bertarung ye chenlong.
"teknik apa ini.... "
"apa ini teknik bertarung atau seni bertarung"
namun, walau terlihat halus dan lembut, dua sosok itu berhasil terdesak.
bahkan mereka mundur dengan luka di beberapa bagian.
pemimpin pemuja iblis itu menatap ye chenlong.
"kultivasinya meningkat..... bagaimana bisa"
"apa yang sebenarnya dia lakukan di gua serigala?"
"bagaimana kak?"
"kekuatan anak ini terlalu aneh"
pemimpin sosok pemuja iblis itu menatap adiknya.
"maaf, tapi hanya ini yang bisa kita lakukan"
setelah kata kata itu terucap, ia memegang tubuh adiknya.
"kak apa yang kau lakukan" teriak adiknya.
namun pemimpin sosok itu tak peduli, qi kental terus mengalir ke tubuhnya.
tak cukup dengan adik yang masih hidup, dia juga melakukan hal yang sama kepada adik yang telah mati.
"nak, cepat hentikan dia"ucap ye yuanzi.
ye chenlong menyipitkan matanya, ia menggenggam erat pedang di tangan, dan dia melesat cepat.