Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊
Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Setelah melewati waktu liburan yang lumayan lama, hari ini Nisya dan keluarga nya memutuskan untuk pulang. Selain waktu liburan yang habis, Nisya juga merasa tak nyaman karna terus di ganggu oleh Gani melalu sambungan telpon. Gani terus bertanya kemana dirinya dan juga keluarganya sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang membalas pesan dari Gani atau pun mengangkat telpon Gani.
Ya, Nisya dan keluarga nya sepakat untuk sementara tak menggubris apapun yang berhubungan dengan Gani dan juga keluarganya.
Bahkan beberapa kali Bu Ratih mengirimkan pesan yang sesekali membuat Nisya menyeritkan kening.
"Bener kan apa kata bapak, ibu mertua mu itu pasti akan pura-pura peduli sama kamu dan anak-anak dengan menanyakan kabar kalian!" kata Pak Sabar menatap putri pertamanya.
"Bener banget Pak, Mama juga nggak nyangka kalau mereka akan cepat memainkan perannya!" kata Mama Nisya.
"Entahlah, Bu Ratih itu orang yang licik. Kalau kita tidak balas dengan kelicikan lagi, dia pasti akan dengan mudah membodohi kita. Aku yakin, selama Nisya tinggal dirumah kita dia dan juga anak perempuannya itu pasti tinggal dirumah Gani!" kata Pak Sabar membuat Nisya menatap bapaknya dengan pandangan tak percaya.
"Dari mana bapak tau?" tanya Nisya dengan heran.
"Apa bapak benar? Apa Gani memberitahu kamu sesuatu sampai ekspresi kamu kaget seperti itu?" tanya Pak Sabar pada Nisya.
"Iya.. Mas Gani memang bilang kalau ibu dan juga Lika sekarang tinggal dirumah kami, ini lah membuat Nisya sangat berat kalau harus tinggal satu rumah dengan mereka!" kata Nisya sambil menganggukkan kepala.
"Siapa tau aja cuma sementara Mbak, nanti setelah kamu pulang mereka juga akan pulang kerumah mereka" kata Syahrul yang juga di benarkan oleh Ryan.
"bener apa kata Mas Syahrul Mbak, siapa tau nanti kalau Mbak pulang mereka juga pulang" kata Ryan.
"Mudah-mudahan aja benar, tapi bapak tau sekali mereka seperti apa. Meskipun apa yang Syahrul bilang pun ada benarnya, tapi kamu juga harus waspada kalau mereka tidak juga pergi dari rumah itu. Apalagi kita sendiri juga tau kalau minimarket mereka sedang dalam kesulitan" kata Pak Sabar menatap anak dan istrinya bergantian.
"bener juga apa kata Bapak kamu Nis, bisa saja mereka sengaja ingin tinggal disana agar pengeluaran mereka dirumah bisa mereka gunakan untuk hal lain, kan kalau dirumah kalian ada Gani yang akan memenuhi semua kebutuhan mereka" kata Mama.
"Bener banget tuh Mbak apa kata Mama, aku sih sepemikiran sama Mama ya. Karna yang namanya orang licik itu nggak tau pikirannya kemana, apalagi mereka baru aja tau kalau keluarga kita nggak semiskin yang mereka bayangkan" kata Lia sambil memangku Hawa yang tengah tertidur. Saat ini mereka tengah berada di perjalanan menuju kembali kerumah.
"Nah.. Bener itu kata adik kamu!" kata Mama.
"Jadi... Nisya harus gimana?" tanya Nisya menatap Pak Sabar dan Mama bergantian.
"Kalau saran Mama sih sebaiknya kamu tidak tinggal lagi dirumah itu kalaupun kalian mau kembali bersama!" kata Mama.
"bener apa kata Mama Mbak!" kata Lia menimpali.
"Aku nggak setuju sih, kalau pun harus ada yang pergi dari rumah itu bukan Mbak Nisya dan juga Bang Gani. Tapi mereka berdua!" Kata Syahrul dengan nada tegas.
"Bener apa yang Syahrul bilang, kalau harus ada yang pergi bukan kamu dan juga Gani. Tapi mereka!" kata Bapak menyetuji perkataan Syahrul.
"Tapi gimana caranya pak? Bapak kan tau sendiri gimana Bu Ratih, ditambah lagi dengan Lika yang pasti akan membantu ibu nya!" kata Mama.
"Gampang aja Ma. Kita kan bisa gunain Bang Gani, tinggal suruh aja Bang Gani pilih siapa yang harus tinggal dirumah itu. Bu Ratih dan anak perempuannya yang gila itu, atau istri dan anak-anaknya!" kata Ryan.
"Nggak sesederhana omongan kamu Ryan. iya kalau Gani milih Nisya dan anak-anaknya, kalau nggak gimana?" tanya Mama.
"Ya kalau nggak berarti memang jodoh Mbak Nisya dana Bang Gani hanya sampai disana aja Ma. Lagian ini juga sebagai ujian bagi Bang Gani, siapa yang harus dia dulukan. Istri dan anaknya atau keluarganya, sebagai kepala keluarga seharusnya Bang Gani bisa memilih dan tau mana yang baik dan mana yang buruk!" kata Syahrul.
"Bener apa kata Syahrul Ma, kita memang harus melakukan ini untuk menguji Gani. Bapak juga ingin lihat dengan mata kepala bapak sendiri bagaimana Gani membela anak dan Istrinya di depan ibunya!" kata Pak Sabar.
"Tapi pak...."
"Nggak ada lagi tapi-tapian Mbak, ini udah keputusan yang paling tepat menurut aku. Memang sih mempertaruhkan rumah tangga Mbak sama Bang Gani, tapi apa salahnya kan. Ini juga demi kebaikan kalian, toh lebih baik kita tau lebih cepat dari pada kita harus menunggu terlalu lama kan Mbak?" kata Ryan yang juga di angguki yang lainnya.
"iyaa bener apa kata Ryan Mbak, lebih cepat lebih baik. Kasian anak-anak kalau terus lihat Mbak Nisya di perlakukan seperti itu oleh Bu Ratih yang notaben nya ada lah nenek mereka sendiri!" kata Syahrul.
"Baiklah, kalian benar. Aku harus melakukan ini agar cepat mengambil keputusan!" kata Nisya pada akhirnya.
"Lagian Mbak Nisya ini ketemu dimana sih sama lelaki model begitu? Kok bisa Mbak Nisya suka sama lelaki yang masih hidup di ketiak ibunya, kalau aku sih males banget dapat lelaki yang kayak gitu. Udah aku buang jauh-jauh!" kata Lia membuat Mama terkekeh kecil.
"Kalau kamu mah Li, jangan kan mau dapat mertua kayak gitu. Lelaki deketin kamu aja juga udah pada takut karna mulut kamu yang lemes itu!" kata Ryan membuat Lia mengerucutkan bibir.
"Ya biarin aja sih Mas, lagian mulut lemes gini juga bakalan bikin aku selektif memilih pasangan dan calon mertua. Siapa yang bisa bertahan dengan mulut lemesku ini, berarti dia yang cocok jadi suami dan mertua ku. Iya kan Ma?" kata Lia membuat Mama memelototkan matanya.
"Mertua mertua, seleseiin aja study kamu baru mikirin kayak gitu. Jangan sampe kamu nggak lanjut karna udah memikirkan soal kayak gitu ya?" kata Mama membuat Lia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Apa sih Ma, ini kan cuma misalkan. Lagian siapa juga yang mau cari calon sekarang, ada ada deh Mama. Lagian ini kan lagi bahas Mbak Nisya, kenapa malah jadi ke aku segala?" kata Lia memasang wajah kesal.
"Udah-udah, sekarang gimana Nis. Apa yang mau kamu lakuin setelah kita sampai dirumah?" tanya Bapak menatap Nisya penuh tanya.
"Mungkin aku akan pulang kerumah sendiri, Pak. Aku akan liat gimana respon mereka ketika lihat aku kembali kerumah itu tanpa anak-anak!" kata Nisya membuat bapak menganggukkan kepala.
"Bener banget, aku baru mau bilang kayak gitu sama kamu Mbak. Kamu harus liat dulu bagaimana respon mereka ketika melihat kamu kembali sendirian, ya alasan aja mau ambil apa gitu!" kata Syahrul.
"iya rencananya juga begitu, mungkin nanti aku akan menginap dirumah itu beberapa hari" kata Nisya.
"Kenapa harus menginap?" tanya bapak heran.
"Ya mau lihat bagaimana mereka memperlakukan aku dirumah itu, Pak. Apalagi?" kata Nisya.
"Nggak perlu sampai menginap Nis, sebaiknya kamu langsung selesaikan saja pada Gani. Tanyakan kenapa mereka bisa tinggal dirumah itu tanpa izin dari kamu?" kata Bapak.
"Bener apa yang bapak kamu bilang Nis, karna kalau kamu mau melihat bagaimana mereka memperlakukan kamu jelas mereka pasti akan berbuat baik sama kamu bahkan mungkin kamu akan di perlakukan layaknya ratu oleh mereka!" kata Mama sambil terkekeh.
"Iyaa bener tuh Ma, supaya Mbak Nisya gampang mereka manfaatin kedepannya!" kata Lia membuatku memelototkan mata.
"Apaan sih, Siapa juga yang mau di manfaatin sama mereka!" kata Nisya dengan kesal.
"Ya makanya kamu nggak perlu nunggu lama disana, kamu tinggal datang dan nginap disana satu malam sampai kamu dapat kesempatan bertanya pada Gani seperti apa yang tadi bapak bilang. Setelah itu kamu kembali kerumah bapak dan meminta Gani untuk memilih siapa yang akan bertahan dirumah itu!" kata Bapak membuat Nisya menganggukkan kepala.
Bersambungggg