Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.
"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.
"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Status Aira
Sebagai pelaksana acara, Aira terlihat begitu sibuk kesana kemari di ruangan yang dekat dengan kantor Ibrar. Ibrar yang memperhatikan di depan ruangannya sampai perlu mencegat wanita ini untuk berkata, "Kamu bisa menyuruh anggota timku untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Tidak perlu menghubungi orang-orang fashion jika ada hal yang memerlukan bantuan."
"Tidak apa-apa, Pak."
"Gilang, panggil semua anak di ruangan sebelah untuk segera membantu Aira!" Ibrar langsung memanggil anak buahnya. Dia tidak peduli penolakan Aira.
"Baik, Pak," sahut mereka.
"Suruh saja mereka," imbuh Ibrar. Aira melihat ke arah cowok-cowok yang berada di dalam ruangan.
"Terima kasih, Pak." Aira terpaksa memakai tenaga mereka. Segera setelah semua orang di ruangan teknisi keluar, Aira memberi komando pada mereka semua. Perempuan ini ternyata memang butuh bantuan, hanya saja dia merasa tidak enak jika memakai anggota tim manajer building.
Pak Yuta juga muncul kemudian dan mendekati Ibrar yang juga ikut memberi masukan. Dia di minta Aira untuk memberi pidato singkat nanti. Karena tamu adalah wakil deputi bank negara, Yuta menyanggupi.
"Semangat sekali kamu mengikuti acara ini?" tegur Yuta.
"Kamu sudah muncul rupanya. Memangnya hari ini saja, aku bersemangat?" Ibrar tidak setuju pendapat itu.
"Tidak. Hanya saja ... kali ini terlihat berkali-kali lipat ganda semangatnya. Apa karena dia?" Bola mata Yuta dan dagunya bergerak menunjuk Aira yang sedang berbincang dengan seseorang.
"Kenapa dia?"
"Aku tahu kamu mulai tertarik padanya. Masih pura-pura mengelak lagi. Jadi siapa lagi yang bisa membuatmu bersemangat seperti ini." Tangan Yuta mempersembahkan keseluruhan diri temannya itu.
"Bukannya kamu melarangku untuk mendekatinya?"
"Aku memang melarangnya, tapi aku tidak bisa menahan hati kamu yang sudah tertarik padanya," cibir Yuta.
"Hmmm ..." Ibrar tersenyum mendengar Yuta bicara.
Tempat acara pun sudah selesai di tata. Tak lama EO dari bank negara datang. Hingga semuanya selesai, acara realisasi uang palsu pun mulai berjalan. Sekitar lima jam acara baru usai. Semuanya berjalan lancar sesuai dengan harapan. Meskipun ada kendala, tapi masih bisa di atasi.
Ibrar menyodorkan botol air mineral pada Aira. Kepala wanita itu mendongak dan terkejut saat muncul botol air di depan wajahnya. "Aku sedang membawa ini. Saat melihatmu seperti sedang kelelahan, aku pikir kamu butuh minum."
"Terima kasih." Aira tahu bahwa pria ini juga membawa botol air mineral yang lain. Aira segera meminum minuman itu dengan cepat. Di temani Ibrar yang duduk di sampingnya.
"Bapak dan ibu bagaimana kabarnya?"
"Temui saja jika Anda ingin melihat keadaan beliau lebih jelas. Saya tidak tahu, Pak. Kemungkinan mereka baik."
"Kamu ... tidak ke sana? Kita bisa ..."
"Maaf. Saya belum ada urusan di rumah." Aira langsung memotong. Ibrar mengangguk. Rencana mengajak Aira datang bersama ke rumah Wira gagal. Wanita ini membentengi diri darinya.
...----------------...
"Kamu harus menikah, Aira," ujar ayah saat perempuan ini mampir ke rumah orangtuanya. Aira menghela napas jika ayahnya sudah berkata soal ini. Seperti enggan dan kesal.
"Aku masih ingin sendiri, Ayah," ujar Aira penuh dengan kelembutan.
"Sendiri dengan statusmu itu tidak baik, Ai. Ibu mengerti ... kamu masih takut karena kegagalan pernikahan pertamamu."
"Hhh ... " Mendengar kalimat ibunya, Aira mendesah lelah. "Ini bukan hanya soal kegagalan pernikahanku, Bu. Aku masih tidak ingin bersama seseorang," jelas Aira.
"Ayah ingin kamu tidak berkecil hati, Ai. Karena tidak semua lelaki itu seperti Eros. Memang ayah sempat kecewa dengan pilihanmu itu, tapi Ayah juga tidak selalu punya pikiran negatif soal pilihanmu."
"Aira tidak punya pilihan. Karena Aira memang masih tidak ingin menikah. Ayah, Ibu ... mohon di mengerti. Entah itu karena pernikahan yang gagal atau karena tidak punya pilihan. Yang sekarang Aira ingin adalah tidak menikah."
"Lalu sampai kapan kamu tidak mau menikah?" tanya Ibu Aira menatap putrinya sedih. Aira lelah.
"Aira tidak mau membahas itu. Melihat Ayah dan Ibu sehat saja aku sudah bahagia. Lebih baik Ibu dan Ayah memikirkan mas Wira. Dia lebih tua dari aku. Seharusnya dia sudah memikirkan menikah." Aira mengalihkan pembicaraan ke Wira. Ayah dan ibu saling berpandangan.
Aira tidak mau terus menerus membahas pernikahannya. Dia masih muda. Hanya saja karena lebih beruntung segera mendapat jodoh, dia segera menikah. Namun ternyata itu bukan jodoh. Melainkan semacam pembelajaran baginya. Sebuah pelajaran kehidupan yang sangat berharga.
...----------------...
Menikah? Itu masih tidak ada dalam kamus Aira sekarang. Dia masih enggan. Statusnya sekarang memang sudah berbeda. Tidak bisa lagi bersikap layaknya saat dulu sebelum menikah dengan Eros. Aira adalah janda.
Kedua orangtuanya pasti juga memikirkan soal itu. Apalagi kadang kala tetangganya melihat Aira dengan sedikit aneh. Dengan umur masih muda dia sudah menikah, tapi tenyata ... pernikahan kandas yang menyebabkan menempelnya status janda di usianya yang belum tua. Juga masih dengan kisah pilu kehamilannya yang tidak bisa di pertahankan karena keguguran.
Aira mendesah lelah lalu menyeruput jus di depannya. Malam ini, dia sengaja datang ke cafe sendirian. Sepulang dari rumah orangtuanya, Aira enggan ke kontrakan. Dia ingin duduk di cafe dan melihat-lihat lalu lalang orang yang lewat untuk melepas penat.
"Ai .." teguran seseorang membuat perempuan ini tersentak kaget.
"Ya?" Aira menoleh dan menemukan Ibrar muncul di sana. Dia lagi. "Anda ..." Aira mengangguk memberi salam.
"Ini kunci motormu?" tanya Ibrar menunjukkan kunci motor dengan gantungan kunci karakter batman.
Aira mencoba mencari kunci motor miliknya. Karena walaupun yakin itu miliknya, dia mencoba melihat lagi apakah kuncinya tidak ada. Setelah di cari, ternyata memang benar itu miliknya. "Ya. Itu milik saya. Kenapa bisa berada di tangan, Bapak?" tanya Aira heran.
"Aku menemukannya masih tergantung di motor. Ku bawa masuk bermaksud memberikan pada pegawai cafe. Namun seseorang mengatakan kemungkinan motor itu milikmu."
"Iya. Itu memang punya saya." Ibrar menyerahkan kunci itu pada Aira. "Terima kasih."
"Aku boleh duduk disini?" tanya Ibrar menunjuk kursi kosong di depan Aira. Sebenarnya Aira tidak nyaman, tapi dia harus berterima kasih dengan bersikap sopan pada pria ini.
"Silakan." Aira mempersilakan.
Meskipun duduk dalam satu meja, tidak ada perbincangan apapun yang keluar dari bibir Aira. Gadis ini terus saja melihat ke arah luar cafe. Dimana semua orang sibuk di jalanan.
Ibrar menggunakan kesempatan ini untuk mengamati perempuan di depannya. Matanya selalu tegas tapi menyimpan sorot kesedihan. Sepertinya hidupnya penuh dengan luka.
Tangannya yang kecil dan lentik, tengah menyentuh gelas jusnya yang sudah berisi setengah. Rambutnya di ikat kuncir kuda. Menonjolkan telinganya yang lebar sempurna.
"Pak ..."
Bibirnya yang mungil juga membuat tampilannya kecil dan menggemaskan.
"Pak, Ibrar?" tegur Aira. Ibrar mengerjap menyadarkan dirinya sendiri bahwa Aira tengah menegurnya.
"Ya?"
"Anda mengamati saya barusan," ujar Aira membuat Ibrar tersentak kaget. Namun dia cukup ahli menyembunyikan keterkejutannya.
banyak pelajaran yang di dapat
berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?