NovelToon NovelToon
Dikira Sampah Ternyata Pemegang Nasib Dunia

Dikira Sampah Ternyata Pemegang Nasib Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.

Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.

Sejak saat itu, hidupnya berubah.

Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.

Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.

Dan ini baru permulaan.

Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan-jangan... Itu Kamu?

Salah satu bandit melangkah maju sambil memutar tombak di tangannya.

Pria bertubuh besar itu menyeringai lebar. Tombak Vassal berwarna hitam dengan ukiran merah darah memancarkan aura yang tidak menyenangkan di bawah cahaya matahari sore.

Di belakangnya, bandit-bandit lain juga mulai bersiap.

Seorang pria bertubuh kekar mengangkat kapak Vassal bermata dua di pundaknya. Bandit lain memainkan belati kembar berwarna kebiruan di sela jemarinya. Seorang pemanah menarik tali busur Vassal berwarna hijau tua sambil membidik dengan santai.

Pemandangan itu sudah biasa bagi siapa pun di dunia ini.

Senjata Vassal adalah sesuatu yang diperoleh saat upacara kedewasaan. Semua orang memilikinya. Atau setidaknya... hampir semua orang yang ada di benua ini.

Bandit bertombak itu memutar senjatanya sekali lagi sebelum menunjuk Luc dengan ujung tombaknya.

"Heh," ujarnya sambil menyeringai. "Bocah sepertimu berani ikut campur?"

Lea langsung menarik tali busurnya.

"Luc!" serunya tanpa mengalihkan pandangan dari para bandit. "Fokus!"

Namun sebelum Luc sempat menjawab, tubuh bandit itu mendadak menghilang dari tempatnya berdiri.

Mata Luc langsung membelalak.

Cepat! gumamnya dalam hati.

Clang!

Luc mengangkat pedangnya secara refleks. Benturan keras mengguncang kedua lengannya. Tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang.

"Ugh...!"

Bandit itu tertawa kecil. "Oho?" gumamnya. "Bisa nahan juga."

Tombaknya kembali bergerak.

Clang!

Clang!

Clang!

Serangan demi serangan menghujani Luc tanpa henti, hingga membuatnya terpaksa bertahan mati-matian.

Pedangnya bergerak kaku, berusaha mengikuti ritme lawannya. Namun perbedaan kemampuan mereka terlalu jelas. Bandit itu jauh lebih berpengalaman. Sementara Luc masih mengandalkan dasar-dasar yang diajarkan Chiron.

"Heh," ejek bandit itu sambil melompat mundur beberapa langkah. "Amatir banget."

Ia kembali menyerang.

Clang!

"Tangkisanmu lambat."

Clang!

"Kuda-kudamu berantakan."

Clang!

"Dan napasmu udah mulai kacau."

Luc menggertakkan giginya. Lengannya mulai mati rasa akibat benturan bertubi-tubi. Keringat membasahi dahinya. Namun ia tetap mengangkat pedangnya.

Bandit itu menyeringai semakin lebar. Pandangannya sekilas melirik pedang biasa yang berada di tangan Luc.

"Pedang biasa?" tanyanya dengan nada mengejek. "Wah, ternyata rumor itu benar juga."

Luc mengernyit. "Hah?"

Bandit itu tertawa kecil. "Aku sempat dengar kalau ada pangeran gagal dari Kerajaan Astoria yang nggak dapat Senjata Vassal."

Mata pria itu berkilat penuh ejekan. "Jangan-jangan..." Senyumnya melebar. "Itu kamu?"

Tubuh Luc sedikit menegang.

Bandit itu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Jadi benar? Pangeran sampah itu ternyata masih hidup!"

Urat di pelipis Luc sedikit berkedut. "Diam," ujarnya pelan.

Bandit itu masih tertawa. "Pantesan pakai pedang murahan begini. Ternyata memang nggak punya Vassal."

Luc mengangkat pedangnya sedikit lebih tinggi. Tatapannya berubah dingin. "Aku bilang..." gumamnya.

Bandit itu memutar tombaknya sambil tersenyum meremehkan. "Gimana? Sakit hati dibilang nggak berguna?"

Luc menatap lurus ke arah pria itu. "Hah!? Aku nggak butuh Senjata Vassal buat ngalahin kau, bangsat!" balasnya ketus.

Keheningan sesaat tercipta.

Lalu...

Bandit itu tertawa lebih keras. "Hahaha! Dengar itu!"

Ia memegangi perutnya. "Pangeran gagal mau ngalahin aku!"

Senyumnya perlahan menghilang. "Tapi aku udah mulai bosan."

Dalam sekejap, tubuhnya melesat maju.

Luc langsung bersiap.

Namun bandit itu tiba-tiba berputar.

Brak!

Tendangan keras menghantam perut Luc.

"Ughhh!"

Tubuh Luc terpental jauh ke belakang. Ia terlempar beberapa meter sebelum refleks menancapkan pedangnya ke tanah.

Srettt!

Pedang itu menggores tanah, meninggalkan jejak panjang sebelum akhirnya menghentikan tubuhnya.

Luc terbatuk keras.

"Ukh...!"

Perutnya terasa seperti dipukul palu. Hingga membuat napasnya menjadi kacau.

Bandit bertombak itu memandangnya dengan santai. Seolah pertarungan ini hanyalah permainan kecil.

Luc menggenggam gagang pedangnya lebih erat. "Sial..."

Ia tahu kalau perbedaan kemampuan mereka terlalu jauh. Bandit ini bukan monster. Pria itu adalah petarung sungguhan yang telah terbiasa membunuh manusia.

Luc mengangkat kepalanya. Tak jauh dari sana, Lea sedang berusaha menahan beberapa bandit lain dengan hujan panahnya.

Setiap tembakan gadis elf itu sangat presisi. Namun jumlah lawan terlalu banyak.

Kalau begini terus... kami akan kalah...

Luc memejamkan matanya perlahan.

Bandit bertombak itu menyeringai. "Oh? Kamu mau nyerah?"

Luc tidak menjawab. Ia hanya mengatur napasnya. Kemudian mulai melafalkan sesuatu.

"Lima cahaya yang menuntun malam..."

Senyum bandit itu langsung memudar. "Hah?"

Luc tetap melanjutkan.

"Jadilah pilar harapan di tengah kegelapan."

Bandit itu melesat maju. Tombaknya menusuk lurus ke arah dada Luc.

Clang!

Luc menahannya dengan susah payah.

"Acrux..."

Clang!

"Mimosa..."

Tusukan berikutnya membuat kedua kaki Luc bergeser di atas tanah.

"Gacrux..."

Bandit itu mulai panik. "Hei! Berhenti ngoceh!"

"Delta Crucis..."

Clang!

Darah tipis mengalir dari pipi Luc akibat ujung tombak yang nyaris mengenainya.

Namun bibirnya tidak berhenti bergerak.

"Zeta Crucis..."

Bandit itu mengayunkan tombaknya semakin ganas. "Tutup mulutmu!"

Luc membuka matanya.

Meski napasnya terengah dan tubuhnya dipenuhi luka ringan, sorot matanya tetap teguh.

"Bersatulah menjadi salib suci yang menerangi akhir malam!"

Bandit itu menyerang dengan seluruh kekuatannya. "Diam!"

Luc mengangkat pedangnya.

"Five Sacred Stars—Crux!"

Sesaat setelah nama bintang kelima dipanggil, dunia di sekitar mereka berubah. Angin berhenti berembus. Suara jeritan dari desa seolah menjauh. Langit sore yang semula berwarna jingga berubah menjadi gelap dan sunyi.

Semua orang mendongak.

Satu titik cahaya muncul di langit. Kemudian titik kedua hingga titik kelima.

Lima bintang Crux bersinar terang dengan aura yang berbeda-beda. Mereka mengelilingi Luc seperti penjaga suci sebelum perlahan tersinkronisasi.

Simbol Crux muncul di langit. Cahaya putih keemasan turun menyelimuti seluruh area. Dalam sekejap, wilayah di sekitar desa berubah menjadi domain suci.

Bandit-bandit yang berada di dalamnya langsung mengernyit. Tubuh mereka terasa lebih berat. Gerakan mereka melambat. Insting bertarung mereka terganggu seolah ada tekanan tak terlihat yang menahan setiap niat jahat mereka.

Sebaliknya, Lea merasakan kehangatan mengalir ke seluruh tubuhnya. Napasnya kembali stabil. Otot-ototnya terasa lebih ringan. Bahkan pikirannya menjadi jauh lebih jernih.

Luc membuka matanya perlahan. Lima bintang Crux bersinar di belakangnya, lalu ia mengangkat pedangnya sambil menatap lurus ke arah bandit bertombak itu.

"Selama cahaya ini masih bersinar..." ucap Luc dengan suara tenang namun penuh keyakinan, "kegelapan tidak akan pernah menang."

Bandit bertombak itu menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai, senyum meremehkan di wajahnya benar-benar menghilang.

Karena instingnya berkata... Bocah yang tadi dipermainkan itu... Bukan lagi mangsa yang bisa diinjak sesuka hati.

1
Blueria
1 Vote untuk karyamu thor👍
Blueria
Ohhhh... gitu, terjawab sudah
Blueria
Konstelasinya manggil Ash Anda—... Apakah Ash atau Lucien punya indentitas tersembunyi ya
Blueria
Pakai bahasa formal—kayak sebelum-sebelumnya aja puh, nggak enak bacanya😁 Hanya saran🙏
Katsumi: Buat ngobrol ama bangsawan atau orang tua nanti pling pake bahasa formal. Selain itu pake informal, karena pengen kubuat santai
total 1 replies
Blueria
Recommended, alurnya mengalir dan percakapannya enak dibaca. Adapun yang paling membuatku ingin terus lanjut baca ialah konsep konstelasinya...
Blueria
Dari nama Ophiuchus di sinopsis, keinget Return The Disaster Class Hero. Lupa nama mc-nya karena udah lama gak baca manhwanya.
Deutsch
keren lanjut
Mr. Wilhelm
Sang Sepuh is Back! /Determined/
Katsumi: mana ada🗿
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!