Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Panggilan Tengah Malam
Josh tidur lebih awal malam itu, tubuhnya lelah luar biasa setelah hari yang penuh kepanikan di sekolah. Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya yang gelap, mencoba menenangkan pikiran yang masih dipenuhi bayangan lampu aula berkedip liar dan wajah-wajah panik teman sekelasnya. Percakapannya dengan Veron tadi sore masih terngiang di kepalanya pertanyaan soal apakah kekuatan mereka sengaja dipancing keluar oleh seseorang, dan siapa yang punya kepentingan untuk melakukan itu.
Ia tidak ingat kapan tepatnya matanya akhirnya terpejam. Yang ia ingat berikutnya adalah dinginnya angin malam yang menerpa wajahnya, dan tekstur kasar aspal di bawah kakinya yang telanjang. Josh membuka mata perlahan, mendapati dirinya berdiri di trotoar sepi, jauh dari kehangatan kamarnya. Jantungnya berdegup kencang saat ia menyadari di mana ia berada jalan setapak yang mengarah langsung ke gudang tua di belakang sekolah, tempat yang seharusnya sudah tidak pernah ia datangi lagi sejak malam puncak tiga bulan lalu.
"Apa..."
bisiknya pada diri sendiri, menatap sekeliling dengan panik. Ia mengenakan piyama tidurnya, kaki telanjang tanpa alas, dan tidak ada satu pun ingatan tentang bagaimana ia bisa sampai di sana. Jam di pergelangan tangannya yang entah kenapa masih terpasang meski ia yakin sudah melepasnya sebelum tidur menunjukkan pukul 02.02 dini hari. Angka itu membuat seluruh tubuhnya membeku sejenak. Sebelum ia sempat memutuskan langkah selanjutnya, sesuatu bergerak di ujung penglihatannya sekelebat bayangan kecil, jauh lebih Kecil dari sosok orang dewasa, berlari cepat menuju pintu gudang yang sedikit terbuka, seolah sengaja menunggu untuk dilihat.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun hidup dengan bayangan itu selalu menghindar dari pandangannya, Josh tidak lari. Ia mengejarnya.
...****************...
Kakinya yang telanjang menapak tanah dingin dan kerikil tajam tanpa ia hiraukan, napasnya terengah-engah saat ia berlari menembus kegelapan menuju gudang tua yang pintunya kini terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Sesampainya di ambang pintu, ia berhenti sejenak, dadanya naik turun, menatap ke dalam ruangan gelap yang dulu jadi saksi bisu malam paling menakutkan dalam hidupnya.
"Halo?"
panggilnya pelan, suaranya bergetar meski ia berusaha terdengar berani.
"Aku tahu kamu di sana."
Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang menyusup lewat celah dinding kayu yang lapuk, dan derit pelan lantai tua di bawah kakinya. Josh melangkah masuk perlahan, matanya perlahan menyesuaikan diri dengan kegelapan. Ruangan itu tampak sama seperti terakhir kali ia lihat meja eksperimen tua di tengah ruangan, debu tebal yang menyelimuti setiap sudut, dan keheningan yang terasa begitu berat, seolah dinding-dinding itu sendiri menyimpan ingatan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Di sudut paling gelap ruangan, ia melihatnya lagi sosok kecil itu, berdiri diam, wajahnya tidak jelas terlihat dalam kegelapan, hanya siluet kecil yang seolah menatap balik ke arahnya.
"Aku nggak akan nyakitin kamu,"
kata Josh pelan, melangkah lebih dekat dengan hati-hati.
"Aku cuma... aku cuma pengen tahu, kamu siapa. Kenapa kamu selalu ada."
Sosok itu tidak bergerak, tidak menjawab, hanya terus menatapnya dalam diam yang terasa begitu berat, begitu penuh dengan sesuatu yang tidak bisa Josh pahami ketakutan, atau mungkin kerinduan, atau mungkin keduanya sekaligus. Josh mengulurkan tangannya perlahan, jantungnya berdegup kencang. Ia bisa merasakan hawa dingin yang aneh menguar dari sosok kecil itu, bukan dingin yang menakutkan, melainkan dingin yang familiar seperti udara malam yang sering menyusup lewat celah jendela kamarnya sejak ia masih kecil, yang selalu ia anggap biasa saja sampai sekarang.
Namun tepat sebelum jarinya sempat menyentuh apa pun, suara langkah kaki tergesa terdengar dari luar gudang, disusul teriakan panik yang sangat familiar.
"JOSH?! JOSH, LO DI MANA?!" Suara ibunya. Sosok kecil itu langsung luruh ke dalam bayangan, menghilang seketika seperti asap yang tertiup angin, meninggalkan Josh sendirian di tengah ruangan gelap yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.
...****************...
"Josh! Ya Tuhan, kamu ngapain di sini tengah malam begini?!"
Ibunya berlari masuk ke dalam gudang, wajahnya pucat pasi, langsung memeluk Josh erat-erat begitu menemukannya.
"Ibu bangun, kamar kamu kosong, Ibu panik nyariin kamu kemana-mana!"
"Aku... aku nggak tahu, Bu," jawab Josh jujur, suaranya masih gemetar.
"Aku tiba-tiba udah ada di sini aja."
Ibunya menatapnya lama, matanya berkaca-kaca, sebelum akhirnya menuntunnya keluar dari gudang tua itu, memapahnya pulang ke rumah dalam diam yang berat. Sepanjang jalan, Josh bisa merasakan tangan ibunya gemetar menggenggam tangannya erat-erat, seolah takut kehilangannya lagi seperti yang pernah terjadi bertahun-tahun lalu ketika ia masih balita. Sesampainya di rumah, ibunya duduk di tepi ranjang Josh, menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan campuran antara lega, takut, dan sesuatu yang lebih dalam yang tidak pernah benar-benar ia utarakan.
"Ibu cerita ini ke kamu waktu kamu kecil dulu, inget nggak?" tanya ibunya pelan.
"Tentang kamu yang pernah ilang semaleman terus ditemuin di dapur, katanya lagi nungguin 'temen'?" Josh mengangguk pelan.
"Inget, Bu. Tapi aku nggak pernah beneran inget kejadiannya."
Ibunya menghela napas panjang, menggenggam tangan Josh lebih erat.
"Ibu kira semua itu udah selesai, Josh. Ibu kira setelah kejadian tiga bulan lalu, semuanya bener-bener udah berakhir."
"Aku juga kira gitu, Bu," bisik Josh, menatap ke arah jendela kamarnya yang gelap.
"Kalau ada apa-apa lagi," lanjut ibunya pelan, menggenggam tangan Josh sekali lagi sebelum berdiri,
"kamu janji bakal cerita ke Ibu, ya? Jangan dipendam sendiri kayak dulu."
"Aku janji, Bu," jawab Josh, meski di dalam hatinya ia tahu ada beberapa hal seperti pesan misterius semalam, seperti panggilan aneh pukul 02.02 yang belum sepenuhnya siap ia ceritakan, bahkan pada ibunya sendiri.
Ibunya tidak mengatakan apa-apa lagi malam itu, hanya menemaninya sampai ia benar-benar tertidur, seperti yang ia lakukan bertahun-tahun lalu ketika Josh masih kecil dan takut pada kegelapan. Malam itu, tidur Josh dipenuhi mimpi-mimpi yang tidak jelas lorong gelap, suara langkah kaki kecil, dan wajah yang selalu berubah setiap kali ia mencoba melihatnya dengan jelas. Namun jauh sebelum matanya benar-benar terpejam, Josh sempat memeriksa riwayat panggilan di ponselnya yang tergeletak di meja entah kenapa terdorong oleh insting yang tidak bisa ia jelaskan.
Ada satu panggilan keluar, tercatat pukul 02.02 dini hari, ditujukan pada nomor Gibran. Durasi panggilan: nol detik. Tidak pernah tersambung. Josh menatap catatan itu lama sekali, mencoba mengingat kapan ia melakukannya, dan sama sekali tidak menemukan jawaban apa pun dalam benaknya. Keesokan paginya, saat ia bertanya pada Gibran soal panggilan itu, sahabatnya hanya mengangkat bahu santai.
"Lo nggak nelepon gue kok. Hp gue nggak ada notifikasi apa-apa semalem." Josh mengangguk, mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin itu hanya gangguan sistem biasa. Tapi jauh di lubuk hatinya, sesuatu terus berbisik bahwa penjelasan itu terlalu mudah untuk dipercaya begitu saja. Ia menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas, memutuskan untuk sementara waktu menyimpan kecurigaan itu untuk dirinya sendiri, sampai ia menemukan bukti yang lebih kuat sebelum berani mengatakannya pada siapa pun bahkan pada Veron dan Brandon yang paling ia percaya.
Sepanjang hari itu, Josh mendapati dirinya diam-diam memperhatikan Gibran lebih sering dari biasanya, mencoba mencari Tanda-tanda yang mungkin bisa menjelaskan keanehan yang ia rasakan namun setiap kali ia melihat, yang ia temukan hanyalah sahabat lamanya yang sama seperti biasa, tertawa lepas, penuh candaan, tidak menunjukkan tanda-tanda kejanggalan sedikit pun.
...****************...