Angan Kaina hancur ketika sosok Zidan muncul dan masuk ke kehidupannya. Imajinasi indah yang selama ini ia dambakan, hancur seketika.
Takdir mempermainkan perasaannya dengan kejam. Ia harus hidup dalam pernikahan yang tak diinginkan. Tidur satu ranjang dan berbaring bersama dengan laki-laki asing.
Setelah ia mulai bisa menerima situasinya, sekali lagi—takdir mempermainkannya. Hati nya dipatahkan, rasa percayanya dikhianati oleh orang yang selama ini ia sukai.
Sosok suami yang tak dicintai selalu ada, memberi dukungan, menyalurkan rasa aman dan nyaman. Perlahan Kaina sadar, Zidan adalah takdir dari Tuhan yang seharusnya ia cintai sepenuh hati.
Jalan hidup tak selalu mulus, seringkali lubang yang sangat dalam menyapamu di depan.
Lubang apa yang akan menyapa Kaina di masa depan?
Siapa yang akan bersama Kaina pada akhirnya?
Joshua?
Zidan?
Ataukah Hanif?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Możhe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Mertua
Seperti biasa, Kaina menyelinap ke parkiran dalam ketika keadaan telah sepi sunyi dan semua rekannya telah pulang. Bukan tanpa alasan gadis itu diam-diam pergi ke parkiran dalam tempatnya kerja, Zidan menunggunya di sana.
Laki-laki itu selalu mengajak Kaina untuk pulang bersama, meski saat berangkat keduanya berada di kendaraan yang berbeda.
"Besok-besok lagi nga ada ya acara pulang bareng!"
"Selama kamu masih berangkat dengan taxsi, saya akan tetap menunggu disini saat pulang." jawab Zidan, semakin hari semakin laki-laki itu berani membuat kontra dengan Kaina.
"Kenapa sih? Dulu-dulu juga engga tuh!" protes Kaina.
"Oh, saya tau~ Karena tempo hari saya keluar bersama Joshua? Iya?"
"Bapak jealous?"
Mobil yang tadinya dipacu dengan kecepatan agak tinggi, kini mulai melaju dengan kecepatan rendah.
"Bukan masalah cemburu atau apa, tapi sebagai seorang yang telah bersuami, tidak dibenarkan pergi dengan laki-laki lain.. Pulang larut malam dan tanpa seijin dari suami." Zidan mulai mengoceh. Hal itu otomatis membuat Kaina memutar bola mata jengah mendengar ocehannya.
"Aduh, ini sepertinya saya harus menyadarkan Bapak bahwa pernikahan ini—"
"Saya tahu, pernikahan ini adalah suatu yang dipaksakan bagi kamu. Tapi tidak bagi saya!"
"Ya sabodolah," balas Kaina.
"Kan dari awal Bapak juga tau, kalau saya itu sukanya sama Joshua. Jadi jangan salahkan saya jika kehidupan setelah pernikahan tidak berjalan sesuai harapan dan bayangan Bapak!"
"Jangan marah jika saya pergi dengan Joshua, karena saya menyukainya dan saya tidak akan menyiakan setiap kali kesempatan untuk menciptakan momen bersama dia." jelas Kaina.
Zidan hanya bisa diam, menghela nafas panjang.
Mungkin dia bisa berkata-kata, namun ia khawatir akan menyinggung perasaan Kaina. Membuat gadis itu bersedih dan terluka, yang kemudian dapat berakibat buruk serta merugikan dirinya sendiri.
Sampai di rumah, Zidan langsung memarkirkan mobilnya di garasi dalam bersama dengan mobil Kaina. Oh, tepatnya mobil yang ia belikan untuk Kaina, namun malah dianggurkan oleh gadis itu.
Prang!
"Thief?" teriak Kaina begitu mendengar suara barang pecah yang berasal dari dalam rumah.
Zidan segera turun.
"Kamu jangan keluar dari mobil!" perintah Zidan sebelum berlari masuk ke dalam rumah.
Bukan Kaina namanya jika menurut dengan perintah orang lain.
Tak lama, gadis itu keluar dari mobil untuk menyusul Zidan dan melihat pencuri yang telah berani masuk ke dalam rumahnya—ralat.. rumah Zidan!
"Mama?" pekik Kaina terkejut ketika melihat sosok Anum berdiri di dapur rumah Zidan dan menjadi biang keroknya.
"Mama ngapain disini?" tanya Kaina tanpa basa-basi.
"Mengunjungi menantu dan anak Mama!" jawab Anum.
"Ck." Kaina berdecak.
"Terus barusan Mama pecahin apa?"
"Ada yang luka nga?" tanya Kaina khawatir.
"Tadi Bunda nga sengaja senggol piring." Barito suara lembut yang tak asing di indera pendengaran Kaina mengudara, membuat gadis itu menoleh ke sumbernya.
Bunda Zidan berdiri di ambang pintu yang menghubungkan antara taman belakang dengan dapur.
"Aduh, ribet ini ada dua ibu-ibu." gumam Kaina sembari tepok jidat.
"Bunda kenapa datangnya nga bilang Zidan dulu?" tanya Zidan akhirnya buka mulut.
"Karena nga direncana."
"Mama pulang kan nanti?" tanya Kaina.
Anum menggeleng. "Mama sama Bunda, mau nginep di rumah kalian."
Duar!!
Petaka untuk Kaina.
"Heh?"
"Ihhh~ Mama?!"
Kaina mendekati Anum dan berbisik. "Mama kek nga punya rumah aja deh! Buru pulang! Ntar dicariin Ayah!" kata Kaina dengan suara pelan di dekat telinga Mamanya.
"Mama udah bilang sama Ayah."
"Mama jangan bikin ribet deh." bisik Kaina lagi.
"Ribet kenapa sih? Kan Mama cuma mau nginep aja,"
"Serah Mama deh, serah." kata Kaina merasa bete.
Gadis itu kemudian kembali berdiri di sebelah Zidan, mencolek laki-laki itu dan memberinya kode untuk sedikit merendah karena ia ingin berbicara sesuatu.
Zidan merendah, mendekatkan telinganya ke mulut Kaina dan siap untuk mendengar segara ucapan gadis itu.
"Ini gimana ceritanya? Dua buibu dateng barengan?"
"Saya juga nga tahu. Bunda nga kasih kabar dulu kalau mau ke rumah." jawab Zidan menjelaskan.
Namun lantas itu tidak membuat Kaina percaya begitu saja. Ia sangat yakin bahwa kedatangan dua ibu-ibu itu adalah rencana dan akal-akalan Zidan.
"Bapak urus semuanya! Saya nga mau ribet!!!" ucap Kaina tanpa suara hanya dengan gerakan bibir semata.
mampir juga yuk ke karyaku Human's Adventure & Preman Cantik 🤗
mampir juga yuk di Kisah Cinta Syakila
aku tunggu