Perasaan yang benci lama-lama terluluhkan oleh seorang siswa yang super duper nakal yaitu Gita. Namun ia menemukan sikap dan sifat yang berbeda dari Gita yang membuat seorang guru sangat menyukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Martha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Bertindak
jam sudah menunjukkan pukul 23.00, seperti yang sudah di janjikan antara pak Yuda dan pak Guno mereka mencari anak-anak mereka. Namun mereka tetap saja tidak menemukan mereka, ibu Gito menelfon rekan-rekan di sekolah dan teman-teman Gito tetapi tidak satupun mereka tahu. Hal itu membuat ibu Gito menjadi panik.
"pa, kita ngga bisa tinggal diam papa telfon polisi pa'' ujar ibunya Gito.
"ma, ini belum 24 jam kehilangan Gito. Apa mungkin mereka masih nongkrong?" tanya ayah Gito yang juga panik.
"ya udah pak, nanti biar Gisel aja yang cari ke cafe siapa tau ada mereka" ujar Gisel
"jangan nak, perempuan tidak baik jalan malam-malam, biar papa aja ya yang cari. kamu nemanin mama aja di rumah" ujar ayah Gito lalu menyuruh supirnya untuk menyiapkan mobil.
.
"mama ikut aja ya pa, mama mau cari juga" ujar ibu Gito yang sudah menangis sejadi-jadinya
"jangan ma, biar papa aja. mama di rumah aja kondisi mama ngga mendukung kalau keluar jam segini" pinta ayah Gito.
pak Guno pun langsung menghubungi pak Yuda. Saat ini pak Yuda sudah di luar mencari Gita, ia takut Gita kenapa-kenapa karena ia tahu jika Gita takut gelap. Pak Yuda juga bingung harus mencarinya dimana karena Gita tidak pernah mengenalkan sahabatnya kepada orang tuanya. Pak Yuda merasa bersalah karena sifatnya yang cuek terhadap anaknya. Seharusnya ia memberikan perhatian yang lebih kepada Gita.
"maafin papa nak" tangis pak Yuda
"tetapi ada kemungkinan besar kalau saat ini Gita bersama Gito, apa lagi hubungan mereka sangat dekat saat ini"
"Tuhan, lindungi Putri hamba dimana pun dan kapanpun" benak pak Yuda.
Setelah 3 jam lamanya mereka mencari tetapi tidak ada tanda-tanda sama sekali,
"bagaimana pak Guno? apa ada tanda-tanda mereka?" tanya pak Yuda
"belum ada pak, sekarang saya ingin menuju sekolah pak. Siapa tau ada tanda-tandanya" ujar pak Guno
"baik pak, saya segera menyusul" ujar pak Yuda
Tentu saja saat mereka datang ke sekolah gerbang sekolah masih terkunci, dan tidak ada yang menunggu. dari kejauhan pak Seno melihat motor Gito yang di parkir sekolah.
"tuan, itu sepertinya motor mas Gito?" ujar pak Seno
"iya itu motor Gito"
"sepertinya mereka ada di dalam" ujar pak Guno. Pak Guno dan pak Yuda langsung memanjat gerbang sekolah, dan di ikuti bodyguard pak Yuda dan supir.
Sejahat-jahatnya ayah, ia akan mengorbankan apapun demi anaknya. Begitulah yang di lakukan pak Guno dan pak Yuda. Mereka berteriak dan kembali mencoba menelfon no Gito. karena Gita memang pada hari itu tidak membawa handphone ke sekolah jadi susah untuk di hubungi.
Pak Yuda melihat dari luar ruang guru ternyata handphone Gito bergetar dan menyala.
"wah pak, itu sepertinya handphone Gito. lihat ada yang menyala dari ruang guru"
Mereka pun berpencar mencari mereka, Gito yang terbangun dengan suara yang memanggil mereka akhirnya Gito berteriak minta tolong dan menggedor-gedor pintu.
"pak, sepertinya ada suara dari arah belakang sana" ujar pak Seno
mereka pun berlari ke arah Gudang olahraga,
"tolong siapapun di sana, tolong... tolong" teriak Gito dan Gito
"mas Gito" teriak pak Seno
"iya, tolongin kita" jawab Gito Gita yang bahagia. Karena pintunya sudah di gembok dari luar jadi mau tidak mau mereka membuka dengan pak.
Betapa bahagianya mereka akhirnya mereka bertemu dan saling berpelukan. Mereka pun duduk di koridor sekolah, sampai sekolah buka dan menyuruh Gito dan Gita memakan apa adanya dan minum.
ibunya Gito pun langsung video call dengan Gito sambil menangis sejadi-jadinya. dan Gita hanya melihat betapa bahagianya Gito yang masih memiliki ibu. Pak Yuda tau jika saat ini Gita memerlukan perhatian seorang ibu. Karena selama ini ibu tiri tidak pernah memberi perhatian kepada Gita. ibu tirinya hanya memperlakukan Gita dengan baik ketika dirinya ada di rumah saja.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 06.00 betapa kagetnya satpam sekolah melihat beberapa orang sudah ada di dalam sekolah.
Tentu saja dalam hal ini ayah Gita tidak akan tinggal diam, ia ingin mencari siapa yang mengunci mereka di dalam gudang.
"nak, kita pulang dulu ya. nanti papa aja yang ke sekolah bertemu dengan wali kelas" Gita pun hanya mengikuti perkataan ayahnya.
Sebelum pulang Gita berpamitan dengan pak Guno dan Gito. Pak Guno pun segerpopa membawa Gito pulang, selama di perjalanan ayah Gito seperti biasa menggoda anaknya.
"semalam ngapain aja Gito" tanya ayahnya, sambil senyum.
ia tahu jika ayahnya menggodanya,
"ah biasa aja pa, ya sewajarnya sepasang kekasih" jawab Gito
"kalau papa jadi kamu. papa ngga akan sia-sia kan" ujar ayah Gito yang kembali menggoda Gito.
"iiiii papa ni. ngga boleh gitu dong pa, dia itu masih gadis polos yang Gito jaga pa. Gito ngga mau dia hancur sebelum waktunya. Oh ya pa, Gito rencananya mau ngelamar Gita setelah Gita lulus SMA" ujar Gito yang membuat ayah tersedak saat minum, ayahnya menjadi bingung apa yang sedang di pikiran anaknya. Ayahnya juga tidak menjawab apapun.
Sesampainya di rumah mereka di sambut ibu dan kakaknya.
"aduh nak, kamu ngga kenapa-kenapa kan nak?" tanya ibunya
"dia ngga kenapa-kenapa ma, tapi otaknya yang harus di periksa". ujar ayahnya karena tidak percaya dengan perkataan anaknya tentang menikah.
"iiiih papa ni" jawab istrinya yang kesal
"ma, Gito capek. Gito mau istirahat dulu ya ma" pinta Gito lalu ke kamar dan membersihkan diri. Gito pun langsung meminta izin bahwa dirinya tidak masuk sekolah.
Gito pun langsung menghubungi pacarnya karena ia takut terjadi apa-apa dengan Gita.
"iya mas" jawab Gita yang masih berbaring di kasurnya
"mau tidur kah?" tanya Gito yang melihat wajar Gita sangat lesu
"iya mas, nanti papa yang mau ke sekolah'' ujar Gita sambil memejamkan matanya
"iya. ya udah kalau gitu kamu istirahat gih, mas juga mau tidur. love you sayang" ujar Gito sambil mencium mencium handphone
"hehehehe mulutnya itu mas, iya sayang love you to" jawab Gita sambil mencium handphonenya
Gito pun teringat kejadian semalam, ia hampir saja kehilangan kesadaran karena Gita. ia tidak sabar menunggu kelulusan Gita. Ia ingin segera memiliki Gita sepenuhnya.
"sabar Gito, tiga Minggu lagi Gita ujian. Dan setelah pengumuman hasil kelulusan baru lho bisa miliki dia sepenuhnya" benak Gito.
"ahhh Gita gue ngga bisa tanpa Lo" ucap Gito yang masih terbayang wajah Gita
Pak Yuda bersiap-siap pergi ke sekolah ingin memberi perhitungan kepada siapapun yang mengunci anaknya di gudang sekolah.
Sesampainya di sekolah para guru sangat kaget kaget mendengar penjelasan dari pak Yuda. Dan ia akan menuntut sekolah jika tidak menemukan siapa pelakunya,
"Pak, saya tunggu seminggu jika kalian tidak bisa menemukan siapa pelakunya makanya jangan marah jika saya bertindak" ujar pak Yuda.
Disini yang menjadi bingung adalah pak Burhan, karena waktu itu yang datang menghadap pak Burhan bukan orang yang sama. Akhirnya ia mengecek data Gita dan ternyata benar saja kalau ayahnya Gita adalah salah satu pengusaha terbesar di Pontianak.
"lho, bukannya itu pak Yuda. dia kan salah satu pengusaha terkenal. kok dia ada di sini sih?" tanya Stefani temannya Niken.
Niken yang melihat hal ini menjadi panik, karena ia mengunci Gita di gudang olahraga. Ia mengira bahwa ayah Gita datang karena hal tersebut.
"mohon perhatian kepada seluruh siswa supaya dapat berkumpul di aula sekarang" mereka pun bingung kenapa mereka tiba-tiba harus berkumpul di Aula sekolah.
Kepala sekolah pun memberi tahukan kepada seluruh siswa bahwa ada kejadian di sekolah yang dapat merusak nama baik sekolah. kepsek pun menjelaskan jika ada salah satu di antara mereka yang mengunci pak Gito dan Gita di gudang sekolah. Betapa terkejutnya geng Niken, karena mereka mengira hanya Gita saja yang berada di ruang tersebut.
"oleh karena itu, siapapun yang mengetahui pelakunya dan mempunyai bukti segera menghubungi para guru dan tentu saja akan mendapatkan hadiah yang pantas" ujar kepsek
Sontak geng Niken menjadi panik, karena konsekuensinya sangat besar. Bisa saja mereka akan di keluarkan dari sekolah. Mereka pun mencoba untuk tenang.
Setelah selesai mereka pun langsung mendiskusikan hal tersebut.
"jadi kita harus tetap tenang, karena tidak ada yang tau. ingat jangan ada yang gegabah" ucap Niken
"tapikan bisa aja ada lihat kita kemarin" ucap Stepani.
"tetapi mereka tidak ada buktinya, jadi kita harus tetap waspada kepada siapapun. Dan kita tidak boleh jauh dari ruang guru" ujar Niken
Semuanya pun menyetujui, dan mereka bersikap sewajarnya. Tetapi tidak dengan Stepani, ia selalu kepikiran.
tokkkkk..... tokkkkk
"Gito, makan dulu yuk" ujar ibunya Gito dari luar
"mmmmm"
"iya ma, sebentar lagi ma" jawab Gito yang masih ngantuk
ibu Gito akhirnya mengambil makanan dan membawa ke kamar Gito. lalu meletakkan di atas meja.
"nak makan dulu gih, kamu dari kemarin belum makan" ujar ibu Gito
Gito pun langsung bangun dan makan. Karena ibunya masih tidak percaya dengan perkataan suaminya jika Gito ingin melamar Gita setelah kelulusan SMA, akhirnya ibunya memberanikan diri bertanya.
"sayang, mama mau tanya dong. Apa benar yang di katakan papa mu kalau setelah kelulusan SMA nanti, kamu ingin melamar Gita? apa kamu udah yakin seratus persen?" tanya ibunya dengan pelan
"iya ma, rencananya seperti itu ma." jawab Gito yang membuat ibu langsung lemah. ia tidak percaya jika putranya ini sudah serius menjalin hubungan dengan anak SMA, ia juga belum siap jika anaknya meninggalkannya.
"kenapa emangnya ma?" tanya Gito yang melihat raut wajah ibunya berbeda
"nak kamu udah yakin banget sama pilihan kamu nak? dia masih kecil lho nak." tanya ibunya
"ma, dari pada Gito dan Gita berbuat dosa gimana?" gurau Gito yang membuat ibunya memukul lengannya.
"kamu ini, jangan aneh-anehlah itu anak orang. Awas ya kalau kamu ngerusakin anak orang sebelum waktunya" ancam ibunya Gito. Gito pun langsung mencium pipi Ibunya.
"mama, Gito itu udah gede Gito udah saatnya cari pendamping. Lagian Gito udah kenal seluk beluknya Gita, iya Gito tau dia masih anak SMA yang masih polos dan umur kita berbeda 8 tahun. Tapi Gito ngerasa selama ini semenjak putus dari Aulia, Gita selalu hadir dalam hidup Gito. Gita yang mampu mengobati rasa sakit itu ma. Tapi asal mama tau Gita juga memerlukan seseorang yang untuk dia bersandar ma, keluarganya jarang memberi perhatian lebih kepadanya, terutama ibu tirinya. Makanya Gito ingin bersama Gita" ujar Gita membuat ibunya menangis, ia terharu dengan pemikiran Gito.
kelanjutan nya..