Sebuah lagu lama yang dinyanyikannya dapat membuat orang-orang di masa lalunya mengenalinya, yang selama ini mereka mencari keberadaannya. Ellena gadis yang hidup sebatang kara, yang menjadi penyanyi dari cafe ke cafe untuk menyambung hidupnya ketika usianya masih sangat muda. Berjuang mengarungi hidup yang keras di kota Bandung, penuh suka dan duka. Dan ketika takdir mempertemukannya dengan orang di masa lalunya, ia bisa hidup bahagia dengan perlindungan dan kasih sayang yang tercurah padanya. Juga dengan lagu itu ia jadi tahu siapa ayahnya. Akankah Ellena menerima kehadiran Ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L. ROSA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. WILL YOU MARRY ME?
Baru juga selesai persidangan kasus Martin, kini Ellena harus bolak balik lagi ke kantor polisi, juga Pengadilan untuk jadi saksi kasus pembunuhan Via. Lumayan menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Untungnya ada Devta dan sahabat-sahabat Ellena yaitu Doris dan Hana, yang menemani Ellena ke Pengadilan. Support dari mereka membuat Ellena serasa punya energi baru. Tanpa mereka entah apa yang akan terjadi.
Martin diputuskan oleh Pengadilan untuk dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa dengan penjagaan ketat, setelah sebelumnya dilakukan serangkaian tes kejiwaan. Sedangkan Erick, pacar Via, di vonis hukuman penjara 5 tahun, dari berdasarkan bukti-bukti dan saksi. Ibu Via histeris tidak terima dengan putusan pengadilan. Jaksa pembela Erick dapat meyakinkan Hakim bahwa pembunuhan itu terjadi secara tidak disengaja. Ellena hanya bisa menghela nafas mendengar putusan yang rasanya tidak adil.
Marcelpun menagih janji jawaban dari Ellena. Marcel juga minta penjelasan Ellena tentang Devta yang mengatakan sebagai calon suami Ellena di depan orang-orang waktu di SPBU. Sebenarnya Marcel datang ketika di chat Hana. Cuma karena melihat ada ribut-ribut dan ada seorang laki-laki yang datang yang menyebut dirinya sebagai calon suami Ellena, membuat Marcel mengurungkan niatnya untuk menghampiri Ellena. Marcel hanya melihat semua kejadian dari jauh.
"Siapa laki-laki itu? Apa benar dia calon suamimu?" tanya Marcel.
"Dia Kak Dev. Laki-laki dari masa kecilku. Dia juga dosenku. Waktu dia mengatakan itu, dia hanya untuk menyelamatkan aku dari istri Om Risman. Tapi sekarang dia memang calon suamiku," jawab Ellena tegas.
"Kenapa Ellen, kenapa kamu memberi harapan, yang akhirnya kau hempaskan?" tanya Marcel.
"Aku cuma lelah menghadapi semuanya sendiri. Aku ingin punya keluarga yang mencintai dan menyayangiku. Aku butuh pelindung," jawab Ellena lirih.
"Baik, ayo ikut aku!" kata Marcel sambil menarik tangan Ellena. Ellena kaget tangannya ditarik Marcel. Lalu Marcel menyuruhnya masuk ke mobilnya. Setelah itu mobilpun melaju.ke arah Lembang.
"Ini kemana Marcel? Aku masih trauma kalau ke Lembang," kata Ellena.
"Tenang aja. Kamu akan ku perkenalkan pada Mama dan Papaku," kata Marcel.
"Apa?!" Ellena terkejut bukan main.
"Marcel, apa kamu sudah gila?! Aku sudah ...," belum Ellena menyelesaikan perkataannya, mereka sudah sampai ke rumah Marcel. Marcel membukakan pintu, Ellena pun keluar dari mobil.
Marcel mengajak Ellena masuk ke rumahnya. Rumahnya cukup besar dan asri. Rumah bergaya klasik itu itu mengingatkan Ellena.pada film-film Barat. Marcel mempersilahkan Ellena duduk di ruang tamu. Marcel masuk ke dalam. Entah apa yang sedang dilakukannya. Tapi tak lama muncullah Marcel dan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Pakaiannya juga modis. Tapi sayang wajahnya tidak terlihat bersahabat.
"Ma, ini Ellen, yang Marcel ceritakan waktu itu," kata Marcel.
Ellena menganggukan kepalanya sopan. Ketika sudah mendekat, Ellena menyodorkan tangan dan kepalanya untuk memcium tangan Mama Marcel. Tapi sayang, Mama Marcel hanya memberikan tangannya sedikit. Wanita itu cepat menariknya kembali sebelum Ellena sempat mencium tangannya. Ellena merasa tidak enak hati. Buru-buru Marcel menyuruh Ellena duduk kembali.
Mama Marcelpun duduk. Dengan pandangan menyelidik wanita itu memberi Ellena pertanyaan.
"Kamu dari Sumedang. Kalau boleh tahu, siapa nama Ibumu? Barangkali saya kenal," kata Mama Marcel.
"Lely Sagita," jawab Ellen.
"Oh, Lely Sagita, sang penyanyi panggilan itu?" tanya Mama Marcel dengan perkataan yang kurang enak didengar.
"Ibu saya memang penyanyi. Bintang di setiap acara menyanyi. Tapi mohon maaf jangan menyebutnya penyanyi panggilan. Kesannya jadi tidak enak didengar,"
"Ha ha ha...! Sama saja kan? Wanita panggilan, wanita malam, memang itu kan yang dia lakukan? Menyanyi itu hanya untuk membius laki-laki supaya mabuk kepayang," kata Mama Marcel sinis.
"Ma!" Marcel berteriak. Ellena tenggorokannya tercekat tak dapat berkata-kata pada orang yang lebih tua dihadapannya. Hatinya sangat sakit. Matanya berkaca-kaca.
"Kami ini keluarga terhormat. Saya tahu Lely Sagita itu seperti apa. Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya. Anaknya pun akan menjerat laki-laki terhormat untuk menaikkan status sosialnya yang rendah!"
"Mama, cukup!" Marcel membentak Mamanya. Mamanya malah makin berapi-api.
"Ibumu itu teman sekolah saya. Dari sejak sekolah, dia itu wanita penggoda. Dia merebut pacar saya dulu. Apalagi setelah dia jadi penyanyi, dia menggoda laki-laki kaya untuk dijeratnya. Persis dengan yang dilakukan anaknya sekarang. Dasar wanita rendah!"
"Mama! Tarik kembali ucapan Mama!" teriak Marcel.
Ellena berdiri. Mama Marcel membuang muka, acuh.
"Maaf Nyonya! Ibu saya tidak seperti yang anda katakan! Saya juga tidak ingin menjerat siapa-siapa. Apalagi putra anda yang terhormat ini. Saya dibawa kesinipun karena dia yang membawa saya kesini. Bukan kemauan saya." Ellena beranjak pergi dengan berlinang air mata.
"Oh , ada satu lagi. Orang kaya itu bisanya cuma mencerca, tanpa tahu sesungguhnya kerasnya perjuangan hidup orang lain. Katakan juga pada putra anda, agar jangan datang ataupun menghubungi saya lagi," kata Ellena lagi.
Mama Marcel hanya tersenyum sinis. Sedangkan Marcel sudah geram dengan sikap dan perkataan Mamanya. Marcel mengejar Ellena.
"Pura-pura lugu! Kamu jangan mudah dibodohi wanita ular seperti dia, Marcel!" teriak Mama Marcel. Marcel tidak memperdulikan ucapan Mamanya.
"Ellen! Maafkan Mamaku! Kamu dibawa ke sini bukan untuk seperti ini. Mamaku tidak berkata apa-apa padaku sebelumnya!" kata Marcel berusaha meraih Ellena.
"Sudah jelas kan? Beliau tidak menyukai ibuku dan juga aku. Kita itu dari kalangan yang berbeda. Jadi untuk apa kamu ngotot kita untuk bersama?" kata Ellena.
"Ellen, beri aku kesempatan untuk meyakinkan orangtuaku," pinta Marcel.
"Cukup, Marcel. Kamu tidak perlu bersusah payah. Aku tidak mau," jawab Ellena sambil memberhentikan Taxi yang lewat. Untung ada Taxi yang telah mengantarkan penumpang lewat ke daerah itu.
Setelah masuk, Ellena menyuruh supir Taxi untuk melajukan kendaraannya. Marcel berlari mengejar, tapi akhirnya berhenti karena tidak mungkin terkejar.
Marcel menelepon Ellena. Ponsel dimatikan oleh Ellena. Ellena terisak di dalam Taxi. Supir Taxi melihatnya dari spion. Ellena cepat-cepat mengusap air matanya. Sebisa mungkin Ellena menahan tangisnya.
Taxipun sampai di rumah Hana. Ketika Hana membukakan pintu, Ellena langsung masuk ke kamar. Hana heran. Diketuk-ketuknya pintu kamar. Tidak ada jawaban, tidak ada reaksi.
"Ellen kamu kenapa?" tanya Hana.
Di luar terdengar suara motor datang. Ternyata Doris. Doris datang sambil menjinjing tas besar berisi pakaian Ellena.
"Assalamualaikum! Hhh ...., kurang baik apa coba. Pakaian Ellen kubawain ke sini biar bisa gonta ganti pakaian. Nanti supaya tinggal barang-barang yang lain yang diangkut mobil," kata Doris sambil meletakkan dua buah tas besar.
"Waalaikum salam! Yang ini datang-datang nyerocos," jawab Hana.
Ellena memang akan keluar dari kosan itu. Semua penghuni kosan itu pindah gara-gara peristiwa pembunuhan Via. Semua penghuni kos tidak cukup nyali untuk bertahan di sana. Kosan itupun ditutup sementara. Entah sampai kapan. Dan apakah penghuni baru akan mau mendiami kosan itu.? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
"Ellen! Ada Doris nih bawa pakaian - pakaian kamu!" pancing Hana agar Ellena keluar. Tapi Ellena tidak juga keluar.
"Kenapa sih tuh anak? Datang - datang langsung masuk kamar aja. Dipanggil gak keluar-keluar," gumam Hana.
"Emang dari mana dia?" tanya Doris.
"Tau!" jawab Hana.
Tak lama seperti ada suara mobil yang berhenti didepan rumah Hana. Hana dan Doris mengintip dari kaca jendela. Ternyata Devta. Ia datang sambil membawa beberapa paper bag.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikum salam," jawab Doris dan Hana.
"Wah Pak, bawa apa itu Pak?! Kebetulan perut saya sudah lapar," kata Doris. Hana menyikut Doris sambil mendelik.
"Ini, Pisang molen dan Bolen Bandung. Nih silahkan di makan. Bapak sengaja bawa untuk kalian," kata Devta.
"Asyiiik .....! Terimakasih, Pak!" Doris menerima paper bag dari Devta.
"Ellen, mana ya? Ini untuk Ellen," kata Devta sambil menunjukkan paper bag.
"Itu spesial ya, Pak?" tanya Hana cengengesan.
Orang yang dibicarakan keluar dari kamar. Suara Devta menarik perhatiannya.
"Hmmm ..... ada ayang mbebnya baru deh keluar," ledek Doris.
Ellen tidak memjawab. Mata Ellena sembab. Ellena duduk di sofa. Devtapun duduk di sofa. Sementara Doris dan Hana menyingkir ke ruang tengah, berdiri dekat pintu antara ruang tamu dan ruang tengah sambil menikmati Molen Bandung. Tentu saja untuk memberi kesempatan Devta dan Ellena untuk bicara.
"Ada masalah?" tanya Devta.
"Mamanya Marcel menghinaku dan ibuku habis-habisan," Ellena tidak kuasa untuk menangis lagi teringat perkataan Mama Marcel.
"Kok ada Mama Marcel?" Devta tidak mengerti.
"Marcel memaksa aku bertemu Mamanya, Dia .....," Ellena tidak dapat meneruskan ceritanya. Terlalu sakit untuk di ceritakan. Tenggorokannya tercekat.
"Ya sudah. Tidak sepantasnya Mama Marcel menghinamu," kata Devta sambil mendekat dan menyentuh tangan Ellena.
"Dia bilang aku dan Ibuku wanita penggoda. Wanita penjerat laki-laki kaya. Wanita malam, wanita panggilan. Aku tidak terima," Ellena menangis lagi.
Devta merengkuh tubuh Ellen. Ellen menangis di dada Devta. Devta menenangkan Ellena. Sementara itu kepala Hana dijepit sebelah tangan Doris hingga Kepala Hana berada di ketiak Doris. Mata Hana ditutup telapak tangan Doris.
"Adegan untuk 17 tahun ke atas. Kamu kan pendek. Masih kecil. Gak boleh lihat," kata Doris sambil menutup mata Hana.
"Lepaskan, bre****k! Ketiakmu bau asem!" Hana memberontak. Tapi jepitan lengan Doris sangat kuat. Hana sudah megap-megap tidak tahan dengan aroma ketiak Doris. Hanapun cari akal. Digelitiknya tubuh tambun Doris. Doris tidak tahan. Dilepaskannya Hana. Hana tersenyum mengejek bisa lepas dari lengan Doris. Tapi kelakuan Doris dan Hana yang seperti Tom & Jerry terhenti ketika di ruang tamu terdengar suara Devta.
"Tadinya aku ingin mengatakannya nanti malam di kencan kita yang romantis. Tapi supaya kamu senang dan terhibur. Aku mau mengatakannya sekarang saja," Devta berhenti sejenak, kemudian lanjutnya, "Lena, Will you marry me?" Devta berlutut dihadapan Ellena sambil memperlihatkan sebuah cincin berlian yang tampak berkilauan terkena cahaya matahari sore dari celah jendela. Ellena tertegun.
"Pakailah baju ini nanti malam. Mamaku ingin bertemu calon menantunya," ucap Devta.
"Ma - ma-mu?" Ellena terbata.
"Jangan Khawatir. Mamaku orangnya baik. Dia baru datang tadi siang. Dia bilang, dia ingin mengucapkan terimakasih kepadamu atas pertolongan Kakek dan Nenekmu waktu dahulu yang telah merawatku sampai sembuh," ucap Devta seakan mengerti yang dikhawatirkan Ellena.
"So, Will you marry me?" Devta mengulangi pertanyaannya. Ellena mengangguk malu-malu. Devta tersenyum bahagia. Disematkannya cicin itu pada jari manis Ellena. Setelah itu dikecupnya kening Ellena.
Doris dan Hana yang tadinya sibuk saling serang, yang satu dengan jurus menjepit lawan dengan pangkal lengan alis ketiak, yang satunya lagi jurus menggelitik, langsung terdiam menyaksikan momen romantis itu.
"So sweet ......!" ucap Doris dan Hana serempak. Doris sambil menggigit Bolen Bandung yang tersisa. Hana merebut sisa Bolen Bandung yang masih ada ditangan Doris. Matanya masih melihat Devta dan Ellena. Terkesima dengan lamaran Devta pada Ellena.
*
*
*
*
*
Selamat bermalam minggu. Berikan Vote, like dan komen mu ya!