Aku Dany Susilo... aku adalah personil dari band Punk yang mendadak bisa berinteraksi dengan mahluk tak kasat mata, bersama sahabatku, aku berusaha memecahkan misteri tentang matinya teman-temanku di vila nggateli ini.
Di cerita ini kalian akan menemukan berbagai trik dan intrik yang tidak akan kalian temukan di Novel horor atau misteri lain.
Banyak hal yang tidak bisa diprediksi sebelumnya, sehingga menimbulkan teka teki yang aduhay.
Cerita ini bukan horor atau misteri yang biasanya menampilkan pocong, atau kunti, atau gendruo dan sebangsanya.
Mahluk ghaib yang ada paling juga hantu teman kami yang sudah mati.
Cerita ini membawa pembaca untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh obyek yang yang ada disini, sehingga pembaca dapat merasakan kengerian tanpa harus menampilkan sosok pocong, kunti dan sejenisnya.
Saya disini dibantu oleh lima teman yang masih hidup, dan arwah teman baik kami yang telah mati sebelumnya yaitu, Wildan, Gilank, dan Ibor. Mereka membantu kami dalam memecahkan masalah yang menimpa kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Bashi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 ( PERJALANAN KE DASAR JURANG )
“Kalian makanlah dulu, dimeja itu sudah saya sediakan makanan seadanya untuk daya tahan tubuh kalian” kata pak Tembol sembari menunjuk singkong rebus dan ubi rebus yang telihat masih hangat di meja rumahnya.
“Nanti setelah kalian sarapan, kalian akan saya ajak berkeliling hutan dan jurang samber nyowo di bawah vila itu.
“Apakah portal kami sudah terbuka pak? Kok bapak mengajak kami ke arah jurang angker itu” tanya Ukik
“Sudah jangan banyak tanya, nanti kalian akan tahu sendiri!” sergah pak Tembol
“Di dasar jurang itu indah sekali, kalian akan takjub melihat keindahan dasar jurang itu” jelas pak Tembol “ayo cepat selesaikan sarapan kalian, kita akan seharian disana!”
Aku merasa aneh karena teman-temanku sampai detik ini masih belum dibukakan mata batinya sehingga sampai detik ini mereka belum bisa melihat atau berinteraksi dengan mahluk ghaib, dan apakah maksud pak Tembol mengajak kami ke jurang itu untuk mengetes keberanian kami atau apa?
Dimana Wildan? Sedari kemarin malam dia tidak nampak di manapun, kadang masih ada peasaan takut apabila bertemu dengan Wildan, tetapi kalau dia tidak ada disini rasanya juga aneh. Sedikit banyak dia membantu kami memberikan informasi apapun yang kami tidak bisa melihatnya.
“Ayo kita berangkat anak anak” kata pak Tembol sembari melangkah keluar rumah
Aku dan teman-teman yang belum selesai makan pun kebingungan dengan sikap tiba-tiba pak Tembol yang sudah berjalan keluar rumah.
Kami berjalan beriringan di jalan yang menuju ke arah vila putih, tetapi kami hanya melewati vila itu saja, karena tujuan kami adalah ke dasar jurang samber nyowo. Setelah kami melewati vila putih kemudian pejalanan kami membelok kearah hutan di sebelah kiri jalan.
Hutan ini sama dengan hutan yang ada di belakang rumah pak Tembol, hutan yang gelap dan rimbun, hanya saja jalan disini cenderung menurun. Melalui celah dedaunan aku bisa melihat saat ini sudah tengah hari, matahari sudah ada di atas kepalaku, dan perjalanan kelihatanya masih panjang.
“Apakah ini masih jauh pak” tanya Gilank
“Masih! Ini masih setengah perjalanan” jawab pak Tembol tampa menoleh kepada kami
“Jalanya ini turun terus ya pak?” tanya Tifano
“Ya , sampai dasar jurang, sudah jangan banyak bicara! Simpan tenaga kalian untuk kembali nanti” kata pak Tembol
Aku yang sedari tadi merasakan banyak sesuatu yang melihat ke arah kami berjalan menuju dasar jurang, bahkan ada beberapa sesuatu yang menepuk atau mencolek atau memegang anggota badanku, tapi tak kuhiraukan gangguan-gangguan itu. Semakin kita turun, semakin aku bisa merasakan banyak sekali kehidupan yang tak normal di sini, kehidupan yang bukan berasal dari mahluk hidup bernyawa. Tetapi kehidupan dari yang mati!
Beberapa kali aku melirik teman- teman, mereka kadang menoleh secara tiba tiba ke beberapa arah, dan kadang mereka melihat ke arah tanah dan lainya. Ya... temanku pun merasakan apa yang kurasakan disini, mereka juga merasa ada sesuatu yang selalu memperhatikan mereka.
Kelihatanya tujuan pak Tembol mengajak kami kesini untuk menguji kami sebelum dibuka portal kami.
Matahari sudah condong ke arah barat, suasana makin gelap karena matahari sudah semakin sulit menembus rindangnya pohon disini, pada akhirnya perjalanan kami terhadang oleh rimbunan tanaman semak belukar yang menutupi jalan menuju ke dasar jurang.
“ini adalah gerbang menuju ke dasar jurang, kalian harus bersiap untuk menghadapi apapun yang terlihat seperti nyata, apakah kalian siap?” Tanya pak Tembol“ sebelum saya membuka gerbang itu dan kita akan berada di alam yang asing bagi kalian”
“Saya siap pak” sahut Ali dan Tifano
“Siap pak” sahutku dan Broni
“Kalau saya sih siap pak, paling juga yang telihat kayak mahluk yang pada makan mayat teman kita itu, kan aku udah pernah liat pak ” kata Ukik sombong
“Kamu gimana ndrong?” tanya broni kepada Gilank
“Berangkat tok wes!” jawab Gilank
“Saya anggap kalian semua siap ya, kalau begitu akan saya buka pintu gerbang ini” kata pak Tembol
“Oh iya, harap kalian ingat dalam otak kalian, apa yang nanti kalian lihat itu hanya tipuan saja, itu bukan sebenarnya, kalian jangan sampai terlena ya!”
Aku tau taman teman ku semua belum ada yang siap, tetapi mau bagaimana lagi, kami sudah berada di depan pintu gerbang yang harus ditempuh hampir delapan jam perjalanan menurun,apakah kami harus tidak siap? Hahahha ya terpaksa harus siap lah.
Kulihat pak Tembol merapalkan sesuatu dan kemudian dia menyentuh ke arah rerimbunan tenaman menjalar yang menghadang kami, seketika tanaman itu bersinar dan perlahan lahan tanaman itu menghilang dari hadapan kami.
“MASYAALLAH.....apa bener ini dasar jurang itu pak” tanya Ali
“I..ini b..bener ta apa yang kulihat? Kata Tifano
“Kita ada di mana ini pak” tanya Broni
Sementara Ukik, Gilang hanya bisa melongo sambil meneteskan air liurnya, akupun tidak bisa memalingkan pandanganku dari arah di depanku .