Chen Khu adalah anak ke dua dari tiga bersaudara, hidup bahagia di sebuah desa terpencil dikaki gunung Wutan. Keluarga Chen merupakan keluarga petani yang terkenal ramah bagi penduduk desa. Chen Khu bocah berusia 7 tahun, yang suka membantu. Meskipun usianya terbilang masih muda, tetapi dia cukup ringan tangan untuk membantu sesamanya. Dia bercita-cita, suatu saat jika sudah besar nanti, dia ingin menjadi seorang tabib agar bisa membantu orang - orang miskin yang sakit. Akan tetapi semua tidak berjalan seperti apa yang diimpikannya, sampai suatu malam ketikan sekelompok pendekar aliran hitam datang menghancurkan desanya. kedua suadarax dibunuh dengan kejam, ayahnya di tangkap untul di jadikan budak, sedangkan ibunya tewas ketika berusaha menyelamatkan dia dan adiknya. Satu hal yang tetap ada dalam pikirannya yaitu, tato KALAJENGKING MERAH yang ada di lengan pendekar yang membunuh ibu dan saudaranya. Dengan berlinang air mata dan sekuat tenaga dia berlari kedalam hutan gunung Wutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khalid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24. Kota Tainan
Malam itu, para pengawal membuat perapian dan duduk mengelilinginya sambil menikmati makan malam.. Chen Khu yang ikut bersama rombongan mereka sangat kagum dengan keakraban mereka yang hampir seperti saudara.
"Mungkin mereka satu sekte, atau satu peguruan " gumamnya dalam hati sambil tersenyum melihat mereka sambil bercanda..
"Inilah kami.. kami memang hanya sekumpulan pengawal,tapi kami sudah menganggap rekan kami adalah saudara kami, karena biar bagaimanapun juga keselamatan kami tergantung dari kekompakan kami... " tiba - tiba Wang Chou berbicara sambil duduk disamping Chen Khu dan menawarkan sebotol arak.
Chen Khu menerima botol tersebut, tapi karena asing dengan bau minuman yang ada dalam botol tersebut, dia tidak langsung meminumnya.
"Maaf senior.. ini minuman apa..? aku cukup asinh dengan setajam ini " Chen Khu sangat penasaran, sebab dia menyaksikan Wang Chou bersama pengawal lainnya sangat menikmati minuman tersebut.
"Hahahaha.. minuman ini adalah arak, aku perhatikan usiamu sekitar 20 tahun, jadi kupikir kamu akan menyukainya " jawab Wang Chou sambil tertawa karena baru pertama kali mendapati seseorang yang belum mengenal arak.
"Usiaku baru 17 tahun lebih senior, dan ini pertama kalinya aku mencium bau minuman seperti ini".
Memang.. Chen Khu Sejak kecil belum pernah mengenal yang namanya arak.. sebab ayahnya juga tidak pernah mengenalkannya.. sejak kecil, ayahnya hanya mengajarinya berburu, memancing dan bertani, lagi pula ayahnya juga tidak pernah minum arak.
"Kamu sudah cukup dewasa rupanya, aku rasa tidak ada salahnya kamu mencobanya " ucap Wang Chou.
Chen Khu kemudian coba untuk meminumnya, tiba - tiba matanya terasa panas sampai ke telinganya, dadanya terasa sesak, seketika itu juga dia memuntahkannya..
"Wwaaaiiiih....!!! Racun jenis apa ini..?? kenapa orang - orang meminum racun seperti ini " gerutu Chen Khu sambil tidak henti - hentinya membuang ludah..
Wang Chou dan rekan - rekannya yang menyaksikan tidak dapat menahan tawa.. mereka merasa lucu melihat ekspresi Chen Khu yang baru pertama kali meminum arak.
"Hahaha.. cobalah sekali lagi, minumlah perlahan - lahan.. jangan seperti orang yang minum air putih. Arak bisa membant untuk menghangatkan badanmu" ujar Wang Chou yang diikuti gelak tawa rekan - rekannya.
Chen khu Kemudian kembali menenggak arak tersebut perlahan - lahan..sedikit demi sedikit dia mulai merasakan nikmatnya.
"hmmm.. pantas saja kalian sangat menyukainya, ternyata minuman ini sangat nikmat, tapi kalau benar cara meminumnya " ujar Chen Khu sambil tersenyum simpul, yang disambut tawa oleh para pengawal.
" Oh iya senior Wang.. aku ingin kalian membagi uang ini untuk kalian semua" ucap Chen Khu sambil mengeluarkan kantong uang yang diberikan oleh Yin San.."
Semua orang terkejut, tidak terkacuali Wang Chou, karena menurut perkiraannya dalam kantong uang tersebut paling tidak ada 100 keping koin perak dan Chen Khu memberikannya seperti tanpa beban sedikitpun.
" Jangan Chen Khu.. itu adalah bagianmu, kami sudah mendapatkan bayaran kami masing - masing " jawab Wang Chou menolak pemberian Chen Khu.
"Aku masih memiliki lebih dari cukup untuk persediaan, dan aku mohon kalian jangan menolaknya.. anggap saja ini bagian dari perkenalan kita " ucap Chen Khu berusaha menghindari perdebatan.
"Chen Khu... memang gaji kami dalam sekali mengawal seperti ini tidak sebanyak itu, tapi kami berat hati untuk menerimanya, apalagi kamu sudah menyelamatkan nyawa kami " jawab Wang Chou.
"Kalau begitu ambillah ini sebagai bonus kalian" ujar Chen Khu sambil menambahkan 100 keping koin emas dari dalam jubahnya..
Semua mata terbelalak.. mereka tidak percaya kalau pemuda seusia Chen Khu dengan penampilan yang amat sederhana bahkan pakainnya pun sangat lusuh memiliki uang sebanyak ini,bahkan beberapa pedagang yang mereka kawal belum tentu mempunyai uang sebanyak ini, yang mana 1 keping koin emas setara dengan 100 keping koin perak.
"Aku ingin kalian menerimanya, dan aku tidak ingin ada penolakan " Chen Khu menambahkan.
Wang Chou akhirnya menerima Pemberian Chen Khu meskipun dengan berat hati, dia lalu membagi secara merata pada seluruh rekannya..
"Sisanya kusimpan, dan akan kuberikan pada keluarga saudara kita yang terbunuh tadi " ujarnya.
"Senior Wang.. berapa lama lagi perjalanan kita untuk sampai dikota Tainan..??" Chen Khu bertanya pada Wang Chou yang sudah kembali duduk disampingnya.
"Kalau tidak ada halangan yang berarti, mungkin besok siang kita sudah akan sampai di kota. setelah desa ini, kita hanya akan melewati satu desa lagi.. jadi kemungkinan kita akan sampai di sana sebelum matahari persisi diatas kepala " jawab Wang Chou sambil menghabiskan minumannya.
"Sebaiknya kamu istirahatlah.. besok pagi - pagi sekali kita sudah akan berangkat " sambung Wang Chou mengingatkan Chen Khu.
Chen Khu kemudian menghabiskan minumannya lalu merebahkan badannya, dia melihat raut kebahagiaan dari wajah para pengawal itu.
Pagi itu, setelah persiapan selesai, rombongan tersebut melanjutkan perjalanan, dan tanpa ada halangan sama sekali.
Akhirnya sampailah mereka di gerbang Kota Tainan seperti apa yang dikatakan oleh Wang Chou. setelah melewati pemeriksaan mereka pun diijinkan masuk.. Chen Khu memutuskan untuk meninggalkan rombongan tersebut. Chen Khu yang baru pertama kali melihat kota tampak terkagum - kagum.. bangunan - bangun mewah, orang - orang dengan pakaian yang terlihat mewah semuanya baru dilihatnya.
" Senior Wang.. tugasku sudah selesai di sini " ujarnya, lalu memberi hormat pada seluruh rombongan yang dibalas oleh seluruh pengawal.
"Terima Kasih Chen Khu.. Semoga kita akan bertemu lagi " jawab Wanh Chou yang diamini oleh seluruh rekan - rekannya.
"Aku harus mengganti penampilanku, sebab penampilan seperti ini akan sangat mencolok " ucapnya dalam hati sambil memperhatikan pakaiannya yang amat lusuh.
Chen Khu kemudian mencari toko yang menjual pakaian lalu membeli beberapa setel. Lalu setelah berganti pakaian diapun mencari penginapan untuk beristirahat.
harta rampasan perang dibahas tiap kali mwnang, mosok gak pwenah ambil harta rampasan tapi reeus menwrus keluarkan koin dlm jml besar buat ganti rugi... padahal murid sekte kere...