NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Diusir dari Bintang Residence

Pintu sedan hitam terbuka sebelum mobil berhenti sempurna.

Damar turun dengan wajah tanpa ekspresi. Tatapannya jatuh pada tangan Reza yang masih mencengkeram pergelangan Senja.

"Lepaskan dia."

Reza menoleh. Ia mengenali pemilik Adiwangsa Group dari foto perusahaan, lalu refleks melemahkan genggaman. Namun sebelum Senja benar-benar bebas, suara motor lain meraung dari ujung jalan.

Rayhan berhenti di samping gerbang, melempar helm ke jok, dan langsung mendorong Reza menjauh.

"Dia sudah bilang lepas! Tuli?"

"Ini urusan aku sama Senja. Jangan ikut campur."

"Kalau kamu pegang perempuan paksa, itu jadi urusan siapa pun yang lihat."

Rayhan meninju lebih dulu. Reza membalas, dan dalam hitungan detik keduanya bergumul di tepi jalan. Senja berusaha memisahkan mereka, tetapi Damar menarik lengannya ke belakang.

"Jangan dekat-dekat."

"Mas, suruh mereka berhenti."

Damar tidak menjawab. Ia menatap Rayhan yang melindungi Senja dengan tubuhnya, lalu melihat map berisi Rp 288 juta berserakan di aspal. Potongan kalimat yang didengarnya dari dalam mobil bercampur menjadi satu: akad, suami, pengorbanan.

"Rayhan," katanya dingin.

Keponakannya berhenti hanya karena suara itu. Bibir Reza sudah pecah, sedangkan sudut rahang Rayhan memerah.

"Om, dia maksa Tante Senja."

"Kamu juga tidak punya hak menyentuhnya." Damar melangkah mendekat. "Kalau sekali lagi kamu membuat keributan di depan rumahku, aku sendiri yang akan memastikan kamu tidak bisa naik motor selama setahun."

Rayhan ternganga. "Aku nolong dia."

"Pergi."

Reza buru-buru memungut mapnya. Sebelum pergi, ia masih sempat menatap Senja. "Aku belum menyerah."

"Saya sudah menikah. Jangan datang lagi."

Damar mendengar penegasan itu, tetapi rasa panas di dadanya tidak surut. Senja berjalan ke arahnya, mengira mereka tetap akan berangkat bersama.

"Mas, tadi Reza tiba-tiba datang. Saya sudah menolak."

Damar masuk ke mobil.

"Mas?"

Pintu tertutup. Sedan itu bergerak meninggalkan Senja di depan gerbang.

Rayhan yang belum pergi mengusap bibirnya. "Tante mau aku antar?"

"Enggak usah. Kamu pulang dan obati lukamu."

Senja melihat jam. Pertemuan orang tua Bintang dimulai satu jam lagi. Ia tidak punya waktu mengganti pakaian atau memikirkan kenapa Damar pergi tanpa dirinya. Dengan tangan masih gemetar, ia memesan mobil melalui aplikasi.

Perjalanan ke sekolah terjebak macet. Pesan yang ia kirim kepada Damar hanya bertanda terkirim, tidak dibaca.

`Mas, pertemuannya jam sepuluh. Tolong langsung ke sekolah.`

Senja tiba dua belas menit terlambat. Aula sudah kosong. Kursi-kursi tersusun rapi, sisa gelas air mineral berada di meja belakang. Seorang petugas mengatakan pertemuan selesai lebih cepat karena semua pembahasan sudah dibagikan melalui surel.

"Wali kelas Bintang masih ada?"

"Baru saja masuk rapat guru, Bu. Mungkin dua jam lagi."

Senja memilih menunggu. Ia duduk di bangku koridor, membaca lembar pengumuman berkali-kali tanpa menyerap isinya. Di dinding tergantung karya anak-anak bertema keluarga. Gambar Bintang menunjukkan tiga orang berpegangan tangan di bawah matahari besar.

Di bawahnya tertulis dengan huruf belum rapi: `Papa, Mama, Bintang.`

Dua jam kemudian wali kelas keluar. Ia menjelaskan perkembangan Bintang dengan ramah, tetapi ada satu kalimat yang membuat Senja semakin bersalah.

"Secara akademik dia cepat menangkap. Yang masih perlu dibantu itu keberanian bergaul dan mengatur emosi saat takut ditinggalkan," jelas wali kelas sambil membuka catatan. "Beberapa minggu terakhir dia lebih banyak bercerita tentang Mama. Itu kemajuan besar. Dulu kalau ditanya keluarga, dia hanya menggambar Papa."

Senja memandang gambar di dinding lagi. "Apa dia pernah cerita sesuatu yang membuat Ibu khawatir?"

"Dia sempat bilang Mama pernah sakit dan mungkin pergi kalau sudah sembuh. Saya tidak tahu konteksnya, jadi saya ingin meminta kedua orang tua memberi kepastian yang sama. Anak seusianya mudah mengira pertengkaran kecil sebagai tanda akan ditinggalkan."

Senja menelan rasa pahit. Ia dan Damar terlalu sibuk mempertahankan batas masing-masing sampai lupa bahwa Bintang mendengar setiap kata tentang pergi, cerai, dan pembayaran.

"Kami akan lebih hati-hati," katanya. "Kalau ada perubahan, tolong hubungi saya langsung."

Wali kelas menyerahkan salinan agenda semester dan formulir kegiatan keluarga. Senja membacanya satu per satu, lalu meminta alamat surel agar tidak ada informasi yang kembali terlewat.

"Bintang menunggu hari ini sekali, Bu. Katanya Papa dan Mama akan duduk bersama seperti orang tua teman-temannya."

"Papanya ada urusan mendadak," jawab Senja, menutupi kegagalan mereka. "Saya juga terlambat karena ada masalah di jalan."

"Tidak apa-apa. Tolong sampaikan pada Bintang bahwa kami tetap senang melihat keluarganya terlibat."

Saat Senja keluar dari sekolah, ponselnya berdering. Bik Inah menelepon dengan suara panik.

"Bu, Bintang pulang dan langsung menangis. Katanya Papa sama Mama bohong. Dia mengunci diri di kamar."

"Pak Damar sudah pulang?"

"Belum."

"Saya segera pulang. Jangan paksa buka pintunya. Temani dari luar saja."

Senja kembali memesan mobil. Hatinya lebih berat daripada saat berangkat. Damar akhirnya membaca pesannya, tetapi tidak membalas.

Di rumah, Bintang duduk di bawah meja belajar sambil memeluk lutut. Senja merangkak masuk dan membiarkan anak itu menangis di dadanya.

"Mama datang terlambat," katanya jujur. "Mama salah."

"Papa juga bohong."

"Papa mungkin ada urusan penting."

"Bintang nggak penting?"

Pertanyaan sederhana itu memotong semua alasan orang dewasa. Senja mengusap rambutnya. "Bintang penting. Besok Mama minta Bu Guru kirim semua catatan, terus kita baca sama-sama."

Bintang tidak menjawab, tetapi pelukannya mengendur sedikit.

Damar pulang menjelang malam. Ia masuk ke ruang keluarga dan menemukan Senja masih duduk di karpet bersama Bintang. Mata anaknya bengkak. Di meja ada surat pertemuan orang tua yang sudah kusut.

"Kenapa tidak datang?" tanya Senja setelah Bintang dibawa Bik Inah mandi.

"Aku tidak pernah sampai kantor."

"Itu bukan jawaban. Bintang menunggu kita."

"Kamu juga tidak ada di sana."

"Saya terlambat karena Mas meninggalkan saya. Saya tetap datang, menunggu guru dua jam, dan meminta maaf."

Damar melepaskan jam tangan. "Kamu sibuk dengan dua lelaki di depan rumah."

"Saya tidak mengundang mereka. Reza memaksa, Rayhan datang kebetulan."

"Kebetulan selalu memihakmu."

Senja berdiri. "Kalau Mas marah pada saya, jangan hukum Bintang."

Kalimat itu membuat rahang Damar mengeras. Ia tahu dirinya salah melewatkan pertemuan, tetapi bayangan Rayhan memukul Reza demi Senja terus membakar pikirannya.

"Kamu ingin bebas berhubungan dengan siapa pun, tetapi tetap tinggal di rumahku, memakai namaku, dan menerima gaji dariku."

"Saya tidak pernah meminta kebebasan seperti itu."

"Kalau begitu kemasi barangmu."

Senja menatapnya, tidak yakin mendengar dengan benar.

Udara ruang keluarga mendadak terasa terlalu dingin. Dari lantai atas terdengar tawa kecil Bintang yang sama sekali tidak tahu rumahnya sedang retak.

Damar menunjuk ke arah tangga, suaranya rendah dan kejam.

"Pergi dari Bintang Residence."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!