Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YOVANA
Hujan turun deras sejak sore, seolah langit ikut menangisi kepergian Yovana.
Suara gemericik air hujan yang menghantam atap seng terdengar samar-samar, bersaing dengan isak tangis pelan dari dalam rumah. Warga sudah pulang satu per satu setelah membantu membereskan rumah untuk persiapan pemakaman besok pagi. Kini, hanya ada Bunda. Sendirian. Di tengah keheningan yang lebih bising daripada keramaian mana pun.
Bunda duduk di lantai ruang depan, bersandar pada tiang kayu. Matanya bengkak dan merah. Tubuhnya terasa hampa, seolah jiwanya ikut terkubur bersama Yovana beberapa jam lalu.
Di pangkuannya, tergenggam erat amplop putih itu.
Amplop yang ditemukan polisi di kamar Yovana. Amplop yang diserahkan petugas dengan wajah iba sambil berkata, "Ibu harus membacanya, Bu. Ini mungkin jawaban atas semua pertanyaan Ibu."
Tangan Bunda gemetar hebat saat merobek bagian atas amplop. Kertas di dalamnya sedikit kusut, ada noda air mata yang mengering di sudutnya—bekas air mata Yovana.
Bunda menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang rasanya sudah habis terkuras. Ia membuka kertas itu. Tulisan tangan Yovana terlihat miring dan buram di beberapa bagian, tanda bahwa gadis itu menulis sambil menahan amarah dan rasa sakit yang tak tertahankan.
Bunda,
Maafkan Yovana. Maafkan Yovana karena memilih jalan pintas ini. Yovana tahu ini egois. Yovana tahu ini akan membuat Bunda hancur berkeping-keping. Tapi Yovana sudah tidak kuat lagi, Bun. Tubuh Yovana mungkin masih di sini, tapi jiwa Yovana sudah mati bertahun-tahun lalu.
Bunda pasti bertanya-tanya, kenapa? Kenapa Yovana selalu menjauh saat disentuh? Kenapa Yovana membenci pria? Kenapa Yovana tidak pernah mau cerita tentang masa kecil kita bersama Zain?
Jawabannya ada di masa lalu, Bun. Di masa lalu yang Bunda kira bahagia, tapi sebenarnya adalah neraka bagi Yovana kecil.
Ingat saat Ayah kandung Yovana pergi? Saat Yovana baru berumur empat tahun? Beliau menikah lagi di perantauan dan memutuskan untuk memutus kontak. Yovana tidak marah pada Ayah. Yovana bahkan hampir lupa wajahnya. Bagi Yovana, Ayah hanyalah foto lama di album.
Tapi Zain... Zain berbeda.
Zain datang ke hidup kita saat Yovana masih duduk di bangku kelas 2 SD. Awalnya, dia tampak seperti penyelamat. Dia baik. Dia membelikan Yovana boneka. Dia menggendong Yovana. Bunda senang karena akhirnya ada sosok laki-laki yang bisa menggantikan posisi Ayah. Bunda berpikir, keluarga kita utuh kembali.
Selama tiga tahun, Zain bermain peran dengan sempurna. Dia adalah ayah tiri yang sabar, suami yang perhatian. Bunda lengah. Bunda percaya.
Tapi semuanya berubah saat Yovana duduk di kelas 5 SD.
Itu dimulai dengan alasan sepele. Zain masuk ke kamar Yovana dengan alasan membantu mengambil buku yang terselip di rak tinggi. Tapi tangannya tidak mengambil buku. Tangannya menyentuh tempat yang tidak seharusnya. Mulutnya membisikkan kata-kata kotor yang membuat Yovana kecil membeku ketakutan.
Yovana takut, Bun. Yovana menangis malam itu. Tapi saat Yovana mencoba bercerita pada Bunda, Zain ada di samping Bunda. Dia tersenyum manis, lalu memegang pundak Yovana keras-keras sambil berkata, "Yovana bermimpi buruk lagi, ya? Anak ini suka berkhayal karena kurang perhatian ayahnya."
Bunda percaya pada Zain. Karena Zain adalah suami Bunda. Karena Zain adalah ayah tiri yang "baik" selama tiga tahun terakhir.
Sejak hari itu, Zain menjadikan ketakutan Yovana sebagai senjata. Setiap kali Yovana menolak sentuhannya, Zain mengancam. "Kalau kamu cerita sama Ibumu, Ibu akan sedih sekali. Ibu akan menyalahkan dirinya sendiri karena sudah membawaku ke rumah ini. Kamu mau jadi anak durhaka yang menghancurkan kebahagiaan Ibumu?"
Kalimat itu mengunci mulut Yovana selama bertahun-tahun. Dari kelas 5 SD, hingga SMP, hingga sekarang. Yovana rela menanggung rasa jijik, rasa sakit, dan rasa kotor itu sendirian. Demi Bunda. Demi senyum Bunda yang mulai muncul lagi setelah ditinggal Ayah.
Lalu, bulan lalu, Zain menghubungi Yovana lagi. Lewat pesan. Dia bilang dia rindu. Dia bilang dia ingin bertemu. Yovana bodoh, Bun. Yovana berharap trauma itu sudah sembuh. Tapi ternyata, dia hanya butuh uang. Dan lebih parah lagi... dia mengirim foto-foto lama. Foto-foto saat Yovana masih kecil, saat dia... saat dia melakukan hal-hal itu pada Yovana.
Dia mengancam akan menyebarkan foto-foto itu jika Yovana tidak memberinya uang. Dia bilang, "Jangan bilang ibumu, atau aku akan pastikan semua orang tahu kalau kamu anak perempuan yang 'murah'."
Yovana takut, Bun. Bukan takut pada Zain. Tapi takut melihat Bunda hancur sekali lagi. Takut melihat Bunda menyadari bahwa selama bertahun-tahun, dia tidur di samping monster. Takut Bunda menyalahkan dirinya sendiri karena telah menikahi pria seperti Zain.
Maka dari itu, Yovana memilih diam. Yovana bekerja keras. Yovana berusaha melupakan tubuhnya sendiri. Tapi setiap kali ada pria yang mendekat, Yovana merasa mual. Setiap kali ada yang menyentuh bahu Yovana, Yovana ingat tangan Zain.
Yovana lelah berlari dari bayang-bayang itu. Yovana lelah merasa kotor.
Bunda, tolong jangan salahkan diri sendiri. Ini bukan kesalahan Bunda. Bunda adalah korban juga. Bunda ditipu oleh pria yang berpura-pura menjadi malaikat selama tiga tahun pertama pernikahan kalian.
Jika Yovana bisa memilih ulang, Yovana tetap akan memilih Bunda sebagai ibu. Hanya saja, Yovana berharap Zain tidak pernah ada di dunia ini.
Selamat tinggal, Bunda. Jangan lupa makan. Jangan lupa istirahat. Dan tolong... bahagia lah. Temukan kedamaian yang tidak pernah Yovana miliki.
Anakmu yang mencintaimu sampai detik terakhir,
Yovana
Kertas itu jatuh dari genggaman Bunda.
Hening.
Sangat hening.
Hanya suara hujan yang terus mengetuk-ngetuk atap, seolah mengejek kesunyian di dalam hati Bunda.
Perlahan, ekspresi sedih di wajah Bunda berubah menjadi horor murni. Wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar hebat. Napasnya tercekat, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencekik lehernya.
Zain.
Mantan suaminya. Pria yang ia nikahi saat Yovana masih kecil. Pria yang ia kira telah memberikan keutuhan kembali pada keluarganya yang retak.
Ternyata...
Ternyata Zain bukan sekadar pergi karena bosan.
Zain adalah predator.
Zain telah merusak anak gadisnya. Anak yang Bunda lahirkan dengan susah payah. Anak yang Bunda besarkan dengan cinta sepenuh hati.
Dan Yovana... anak manisnya, anak penurutnya... Yovana melindungi Bunda dari kebenaran itu. Yovana menanggung pelecehan, ancaman, dan pemerasan itu sendirian demi menjaga perasaan Bunda agar tidak hancur mengetahui siapa suami yang ia pilih.
"Bodoh..." bisik Bunda, suaranya parau dan bergetar, matanya melotot kosong. "Kamu bodoh sekali, Yov... Kenapa kamu tidak bilang? Kenapa kamu simpan sendiri? Kenapa kamu biarkan dia... kenapa kamu biarkan dia..."
Air mata Bunda keluar lagi, tapi kali ini berbeda. Ini bukan air mata kesedihan yang pasrah. Ini air mata kemarahan yang membakar. Kemarahan pada Zain. Kemarahan pada diri sendiri yang begitu buta. Dan rasa sakit yang tak terhingga karena menyadari bahwa putrinya meninggal dalam keadaan merasa "kotor" dan sendirian.
Bunda memungut kembali surat itu. Ia melipatnya dengan hati-hati, lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop. Kali ini, gerakannya tidak lagi gemetar karena sedih, tapi gemetar karena adrenalin kebencian yang murni.
Ia bangkit berdiri. Kakinya masih lemas, tapi ada kekuatan baru yang mengalir di urat nadinya. Kekuatan seorang ibu yang baru saja sadar bahwa ia telah memelihara ular di kamarnya sendiri.
Bunda berjalan ke kamar Yovana. Kamar itu masih berantakan, sisa-sisa kehidupan gadis remaja yang terhenti secara tiba-tiba. Bunda mengambil foto bingkai di meja rias—foto Yovana saat wisuda SD, tersenyum lebar. Senyum yang ternyata palsu. Senyum yang menutupi jeritan hati.
Bunda menatap foto itu lama-lama.
"Tenanglah, Nak," ucap Bunda pelan, suaranya dingin dan tajam seperti pisau bedah. "Bunda janji. Bunda tidak akan membiarkan dia lolos. Bunda akan pastikan dia merasakan separuh dari apa yang dia lakukan pada kamu. Bunda akan hancurkan hidupnya, sebagaimana dia menghancurkan hidupmu."