NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Pertolongan untuk lauren

Sosok itu akhirnya muncul dari balik rak, seorang pria paruh baya berseragam biru gelap, name tag kecil tersemat di dada kirinya bertuliskan bagian kebersihan gedung. Matanya membelalak kaget begitu melihat Lauren terjepit di antara reruntuhan rak besi dan kotak-kotak arsip yang berserakan.

"Astaga, Nona! Anda tidak apa-apa?" Ia bergegas mendekat, berlutut di samping Lauren, menilai situasi dengan cepat.

"Kakiku terjepit," rintih Lauren, menahan air mata yang sudah menggenang sejak tadi. "Tolong, aku tidak bisa mengangkat raknya sendirian."

"Tahan sebentar, saya angkat," kata pria itu, segera memposisikan diri, kedua tangannya mencengkeram sisi rak besi yang menindih kaki Lauren. "Satu, dua, tiga."

Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat sisi rak itu beberapa senti, cukup untuk memberi ruang bagi Lauren menarik kakinya keluar dari jepitan. Lauren meringis keras saat menggeser kakinya, rasa sakit menjalar tajam begitu akhirnya bebas, tapi setidaknya ia sudah tidak lagi terjepit.

Pria itu segera melepas raknya kembali ke lantai dengan gerakan hati-hati, lalu berlutut kembali di samping Lauren, wajahnya masih dipenuhi kekhawatiran. "Bisa gerakkan kakinya? Sakit di bagian mana?"

"Pergelangan kaki," jawab Lauren, mencoba menggerakkannya sedikit, tapi rasa sakit langsung membuatnya menahan napas. "Sakit sekali kalau digerakkan."

"Jangan dipaksa dulu," kata pria itu cepat, mengeluarkan radio komunikasi kecil dari saku seragamnya. "Saya panggil tim keamanan dan medis gedung sekarang."

Ia menekan tombol radio itu, melaporkan situasi dengan singkat dan jelas, suara statis menjawab dari seberang sebelum akhirnya memastikan bantuan akan segera datang.

"Terima kasih," kata Lauren, suaranya masih bergetar, campuran antara syok dan lega. "Kalau Anda tidak lewat sini, aku tidak tahu harus bagaimana."

"Untung saya sedang keliling memeriksa lampu yang rusak di lorong ini," jawab pria itu, tersenyum kecil, mencoba menenangkan Lauren. "Nama saya Frank, saya bagian pemeliharaan gedung. Anda dari divisi mana, Nona?"

"Lauren. Administrasi, lantai dua puluh dua," jawabnya, masih menahan sakit di kakinya yang mulai membengkak.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki tergesa terdengar dari arah lift, disusul dua orang berseragam keamanan gedung dan seorang petugas medis membawa kotak pertolongan pertama. Mereka bergerak cepat, memeriksa kondisi kaki Lauren, memastikan tidak ada patah tulang sebelum akhirnya memutuskan membawanya ke gedung di lantai dasar untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Kami akan bawa Anda naik pakai kursi roda dulu," kata salah satu petugas keamanan, sudah menyiapkan kursi roda kecil yang mereka bawa. "Biar kakinya tidak menahan beban."

Lauren mengangguk lemah, ia memegang ponselnya kuat, dan membiarkan mereka membantunya berpindah dari lantai ke kursi roda, rasa sakit masih berdenyut di pergelangan kakinya setiap kali sedikit tersentuh. Frank ikut membantu mendorong beberapa reruntuhan kotak arsip ke pinggir, memastikan jalan cukup lapang untuk kursi roda itu melintas.

"Terima kasih banyak, Pak Frank," kata Lauren sekali lagi sebelum mereka membawanya menuju lift.

"Sama-sama, Nona. Cepat sembuh," jawab Frank, melambaikan tangan singkat sebelum kembali fokus mengurus reruntuhan rak yang masih berserakan di ruang arsip itu.

Di dalam lift menuju lantai dasar, Lauren menyandarkan kepalanya ke dinding lift, menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri dari kejadian yang begitu tiba-tiba tadi. Salah satu petugas keamanan yang mendorong kursi rodanya sempat berbisik pada rekannya, cukup pelan tapi masih terdengar oleh Lauren.

"Kita harus laporkan ini ke atas. Karyawan cedera di area gedung itu prosedur wajib."

Lauren menegang mendengar itu, jantungnya berdegup kencang membayangkan laporan itu akan sampai ke meja siapa nantinya, dan bagaimana reaksi orang itu begitu mendengar kabar bahwa dirinya terluka sendirian di ruang bawah tanah yang sepi.

# Wanita Simpanan Sang Mafia

## Bab 30: Pertolongan

Sosok itu akhirnya muncul dari balik rak, seorang pria paruh baya berseragam biru gelap, name tag kecil tersemat di dada kirinya bertuliskan bagian kebersihan gedung. Matanya membelalak kaget begitu melihat Lauren terjepit di antara reruntuhan rak besi dan kotak-kotak arsip yang berserakan.

"Astaga, Nona! Anda tidak apa-apa?" Ia bergegas mendekat, berlutut di samping Lauren, menilai situasi dengan cepat.

"Kakiku terjepit," rintih Lauren, menahan air mata yang sudah menggenang sejak tadi. "Tolong, aku tidak bisa mengangkat raknya sendirian."

"Tahan sebentar, saya angkat," kata pria itu, segera memposisikan diri, kedua tangannya mencengkeram sisi rak besi yang menindih kaki Lauren. "Satu, dua, tiga."

Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat sisi rak itu beberapa senti, cukup untuk memberi ruang bagi Lauren menarik kakinya keluar dari jepitan. Lauren meringis keras saat menggeser kakinya, rasa sakit menjalar tajam begitu akhirnya bebas, tapi setidaknya ia sudah tidak lagi terjepit.

Pria itu segera melepas raknya kembali ke lantai dengan gerakan hati-hati, lalu berlutut kembali di samping Lauren, wajahnya masih dipenuhi kekhawatiran. "Bisa gerakkan kakinya? Sakit di bagian mana?"

"Pergelangan kaki," jawab Lauren, mencoba menggerakkannya sedikit, tapi rasa sakit langsung membuatnya menahan napas. "Sakit sekali kalau digerakkan."

"Jangan dipaksa dulu," kata pria itu cepat, mengeluarkan radio komunikasi kecil dari saku seragamnya. "Saya panggil tim keamanan dan medis gedung sekarang."

Ia menekan tombol radio itu, melaporkan situasi dengan singkat dan jelas, suara statis menjawab dari seberang sebelum akhirnya memastikan bantuan akan segera datang.

"Terima kasih," kata Lauren, suaranya masih bergetar, campuran antara syok dan lega. "Kalau Anda tidak lewat sini, aku tidak tahu harus bagaimana."

"Untung saya sedang keliling memeriksa lampu yang rusak di lorong ini," jawab pria itu, tersenyum kecil, mencoba menenangkan Lauren. "Nama saya Frank, saya bagian pemeliharaan gedung. Anda dari divisi mana, Nona?"

"Lauren. Administrasi, lantai dua puluh dua," jawabnya, masih menahan sakit di kakinya yang mulai membengkak.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki tergesa terdengar dari arah lift, disusul dua orang berseragam keamanan gedung dan seorang petugas medis membawa kotak pertolongan pertama. Mereka bergerak cepat, memeriksa kondisi kaki Lauren, memastikan tidak ada patah tulang sebelum akhirnya bersiap membawanya ke klinik gedung di lantai dasar untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Kami akan bawa Anda naik pakai kursi roda dulu," kata salah satu petugas keamanan, sudah menyiapkan kursi roda kecil yang mereka bawa. "Biar kakinya tidak menahan beban."

Baru saja mereka mendudukkan Lauren di kursi roda itu, radio komunikasi salah satu petugas keamanan berbunyi, suara tegas Damian terdengar dari seberang. "Bawa dia langsung ke lantai tiga puluh delapan, ruang kerja Pak Alex. Jangan ke klinik dulu. Dokter perusahaan sudah dalam perjalanan ke sana."

Petugas keamanan itu saling pandang sejenak, sedikit heran dengan instruksi yang tidak biasa itu, tapi tidak ada satu pun yang berani membantah perintah langsung dari kepala keamanan. "Baik, Pak," jawabnya lewat radio, lalu mengangguk kepada rekannya untuk mulai mendorong kursi roda Lauren menuju lift.

Lauren menegang mendengar instruksi itu, jantungnya berdegup kencang, tidak yakin harus merasa lega karena akan segera ditangani, atau justru semakin cemas membayangkan harus menghadapi Alex dalam kondisi seperti ini.

"Terima kasih banyak, Pak Frank," kata Lauren sekali lagi sebelum mereka membawanya menuju lift.

"Sama-sama, Nona. Cepat sembuh," jawab Frank, melambaikan tangan singkat sebelum kembali fokus mengurus reruntuhan rak yang masih berserakan di ruang arsip itu.

"Ruang P3K ada di lantai dasar, kan?" tanya petugas medis yang berjalan di samping mereka.

"Benar. Kita langsung ke sana," jawab petugas keamanan. "Untung masih ada petugas medis yang berjaga."

"Kalau sudah sampai, saya periksa dulu kondisinya. Sepertinya tidak terlalu parah, tapi lebih baik dipastikan."

"Baik."

Kursi roda itu didorong keluar dari lift, melintasi lobi utama gedung yang mulai sepi karena jam kerja hampir usai. Lauren duduk kaku di kursi itu, wajahnya memanas menahan malu, menyadari beberapa karyawan yang masih berada di lobi menoleh ke arahnya dengan tatapan penasaran, sebagian berbisik pelan satu sama lain begitu melihat kondisinya.

"Kenapa harus terjadi sekarang, di depan orang banyak begini," batin Lauren, menundukkan kepalanya sedikit, berusaha menghindari tatapan-tatapan itu meski tahu percuma menyembunyikan diri di kursi roda yang begitu mencolok.

Petugas keamanan yang mendorong kursinya melangkah cepat namun hati-hati, menghindari benturan dengan orang-orang yang berlalu lalang, sementara petugas medis yang tadi menemani di ruang arsip berjalan di sisi lain, sesekali memeriksa kondisi Lauren dengan pertanyaan singkat.

"Masih terasa sakit, Nona?" tanya petugas medis itu.

"Sedikit," jawab Lauren, mencoba tersenyum kecil meski rasa sakit di pergelangan kakinya masih berdenyut setiap kali kursi roda itu melewati sedikit ketidakrataan di lantai marmer.

Mereka berbelok menuju sayap timur gedung, area yang belum pernah Lauren kunjungi sebelumnya selama bekerja di sini, sebuah ruangan kecil bertuliskan Ruang P3K di atas pintunya. Di dalam, ruangan itu sederhana tapi rapi, sebuah tempat tidur periksa kecil, lemari kotak obat, dan dua kursi tunggu di sudut.

Sepanjang perjalanan tadi, pikiran Lauren terus berputar, mengingat kembali bisikan petugas keamanan soal laporan wajib yang harus dibuat. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, mengulang-ulang alasan yang terdengar masuk akal di kepalanya.

Petugas medis itu membantu Lauren berpindah dari kursi roda ke tempat tidur periksa, lalu memeriksa pergelangan kakinya yang sudah membengkak dan berubah warna kebiruan, menekan beberapa bagian dengan hati-hati sambil menanyakan skala rasa sakit yang Lauren rasakan.

"Sepertinya kaki anda terkilir, nona" kata petugas medis itu setelah selesai memeriksa. "Tapi lebih baik dikompres es dulu dan dibalut, biar bengkaknya tidak makin parah. Kalau besok masih sangat sakit, sebaiknya periksa lebih lanjut ke rumah sakit."

"Baik, terima kasih," jawab Lauren, mengangguk lega meski kakinya masih berdenyut.

Petugas itu mengambil kotak es dari lemari kecil di sudut ruangan, membungkusnya dengan kain tipis sebelum menempelkannya perlahan ke pergelangan kaki Lauren, lalu mulai membalutnya dengan perban elastis, gerakannya cekatan dan terlatih.

"Nona, sebelum saya selesai, saya perlu isi data laporan insidennya dulu. Hanya beberapa pertanyaan singkat," kata petugas itu sambil bekerja.

"Baik," jawab Lauren, mencoba duduk lebih tegak meski kakinya masih ditopang di atas bantalan.

"Kejadiannya di ruang arsip lantai bawah tanah, benar?" tanya petugas itu, mencatat di formulir kecil yang disematkan di papan jalan.

"Benar," jawab Lauren pelan.

"Laporan ini nanti akan diteruskan ke bagian keselamatan kerja dan HRD, sebagai bagian dari prosedur standar," jelas petugas itu, tetap fokus pada catatannya. "Biasa saja, Nona, tidak perlu khawatir. Setiap insiden kecil di area gedung memang wajib dicatat."

Kata-kata itu sedikit meredakan kegelisahan Lauren, meski tidak sepenuhnya menghilangkan rasa was-was yang masih mengganjal di dadanya. Ia mengangguk, menjawab beberapa pertanyaan lain seputar kronologi kejadian, mencoba menjelaskannya seringkas mungkin tanpa menambah drama yang tidak perlu.

Setelah selesai membalut dan mencatat laporan, petugas itu membantu Lauren duduk kembali ke kursi roda, menyerahkan sepasang kruk kecil untuk membantunya berjalan sementara waktu.

"Ada yang bisa menjemput Anda pulang, Nona?" tanya petugas itu.

Lauren terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang paling aman untuk situasi ini.

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!