NovelToon NovelToon
Fotografer Plus Plus 2

Fotografer Plus Plus 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:21.6k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.

Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 - Bukan Klien

Detak jantung Adnan berpacu begitu kencang hingga rasanya bisa terdengar sampai ke luar pintu. Napasnya tertahan di kerongkongan, matanya terpaku pada gagang pintu yang diam saja namun terasa seperti mengancam nyawanya. Sherly yang sedetik sebelumnya masih tersenyum manis dan menggoda, kini mengerutkan dahi bingung melihat reaksi ketakutan yang tiba-tiba melanda pemuda di hadapannya.

Belum sempat wanita itu bertanya apa yang terjadi, suara ketukan keras dan berirama terdengar di pintu kayu itu.

Tok... tok... tok...

"Apakah ada di dalam?" Suara berat Bastian terdengar samar dari balik pintu, namun cukup jelas untuk membuat darah Adnan seolah membeku. "Kami tahu dia bersembunyi di sekitar sini. Cek kamar nomor 307."

Tanpa berpikir dua kali, refleks bertahan hidup Adnan mengambil alih. Tangan kanannya langsung terulur dan menutup mulut Sherly rapat-rapat sebelum wanita itu sempat mengeluarkan suara terkejut. Tubuh Sherly tersentak kaget, matanya membelalak lebar, namun saat ia menatap mata Adnan yang penuh isyarat mencekam, seluruh tubuhnya seketika menegang dan patuh. Ia tidak bergerak sedikit pun.

Adnan mendekatkan bibirnya tepat di telinga Sherly, berbisik dengan napas yang masih memburu, suaranya nyaris tak terdengar. "Jangan bersuara sedikit pun. Kalau anda berteriak, kita berdua mati. Mengerti?"

Sherly mengangguk pelan, pelupuk matanya masih melebar namun kini terpancar ketakutan yang tulus, bukan lagi gairah. Ia merasakan detak jantung Adnan yang berdegup kencang di balik telapak tangannya, dan keseriusan di mata pemuda itu membuatnya sadar bahwa ini bukan lagi sekadar permainan.

Di luar pintu, suara langkah kaki mondar-mandir terdengar. Suara Gladys menyusul, dingin dan penuh ancaman. "Periksa setiap sudut. Dia tidak mungkin hilang begitu saja. Kamera itu harus kembali ke tangan kami."

Hening sejenak. Detik-detik itu terasa berlangsung selamanya. Adnan menahan napas, memeluk erat kamera tua di sebelah kirinya, sementara tangan kanannya tetap membekap mulut Sherly. Wanita itu duduk diam di sampingnya, tubuhnya yang telanjang merinding bukan karena dingin, melainkan karena suasana mencekam yang tiba-tiba menyelimuti ruangan itu.

Lalu perlahan, suara langkah kaki itu menjauh. Berikutnya terdengar bunyi pintu kamar sebelah yang didobrak. Mereka pergi.

Adnan baru melepaskan napas panjang yang terasa membakar paru-parunya. Ia menurunkan tangannya perlahan dari mulut Sherly, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang, mata terpejam sejenak berusaha menenangkan diri.

"Maaf..." bisiknya lemah. "Saya benar-benar tidak bermaksud menakut-nakuti Anda."

Sherly menarik selimut dan memeluknya ke dada, menutupi tubuhnya yang telanjang. Namun tatapannya tidak lagi bingung atau marah. Ia justru menatap Adnan lekat-lekat, seolah baru pertama kali benar-benar melihat sosok pemuda itu. Matanya menyapu wajah Adnan yang pucat, berlepotan keringat, namun tetap tegar berdiri di hadapan bahaya.

"Mereka... mereka mengejarmu?" tanyanya pelan, suaranya bergetar namun tidak lagi penuh keraguan.

Adnan mengangguk perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap wanita itu lurus-lurus. "Nona Sherly, saya minta maaf sudah masuk tanpa izin. Dan saya harus jujur... saya bukan klien Anda. Saya sama sekali tidak tahu Anda ada di sini. Saya hanya... butuh tempat bersembunyi."

Ia berhenti sejenak, menunggu reaksi Sherly, mungkin kemarahan, mungkin ketakutan, mungkin pengusiran. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Sudut bibir Sherly perlahan terangkat, membentuk senyum tipis yang lembut namun terlihat tulus. Ia mendekatkan wajahnya, menatap mata Adnan lekat-lekat hingga jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter.

"Aku tahu," ucapnya pelan.

Adnan tertegun. "Apa?"

"Sejak tadi aku sudah merasa ada yang berbeda," bisik Sherly sambil tersenyum semakin lebar, tangannya terulur lembut menyentuh pipi Adnan. "Kau tidak memiliki tatapan kotor seperti mereka. Matamu jernih... penuh ketakutan, tapi jujur. Dan sekarang..." Ia menatapnya dengan pandangan yang berbinar kagum. "...melihat betapa beraninya kau melindungiku, meski nyawamu sendiri juga terancam... aku malah semakin terpesona padamu, Adnan."

Nama itu disebutnya begitu lembut, seolah ia sudah lama mengetahuinya.

"Tapi saya..."

"Dengar aku," potong Sherly lembut namun tegas. "Aku bertahun-tahun melayani orang-orang yang hanya melihat tubuhku. Tidak ada satu pun yang pernah berani melindungiku, apalagi dengan nyawa sendiri seperti yang kau lakukan tadi." Ia menggenggam tangan Adnan, menempelkannya ke pipinya yang halus. "Jadi... biarpun kau bukan klienku, biarpun kau tidak punya uang... aku rela. Aku bersedia menemani malam ini. Tanpa bayaran apa pun. Anggap saja hadiah untuk pahlawan yang berani melindungiku."

Adnan terbelalak, tak mampu berkata-kata. Di tengah situasi yang mengancam nyawa, di saat ia sendiri sedang lari dari neraka, ia justru mendapatkan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Tatapan Sherly begitu tulus, begitu memikat, seolah dunia di luar pintu itu tidak ada artinya selama mereka berdua ada di dalam sini.

Namun ketenangan itu hanya berlangsung sesaat.

Belum sempat Adnan merespons kata-kata Sherly, suara ketukan pintu terdengar lagi. Kali ini bunyinya berbeda, pelan, teratur, dan tidak terasa mengancam, justru terdengar merengek.

"Sayang... aku sudah sampai. Buka pintunya ya?"

Suara itu berat, parau, dan terdengar sudah setengah mabuk. Wajah Sherly seketika berubah pucat. Ia menatap Adnan dengan mata yang membelalak ketakutan. Itu adalah kliennya yang sebenarnya.

 

1
Mita Paramita
sebagai pembaca sih maunya lanjut soalnya masih belum clear tentang asal usul tuh kamera ajaib dan Adnan sebetulnya ada perasaan sama Liza atau Gladys???🤨🤨🤨
Mita Paramita
fighting Adnan jangan negatif thinking kalo ada klien baru 🫣 setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan bala bantuan 🤣🤣🤣
Mita Paramita
Liza khawatir sama Adnan wajar sih tinggal serumah sama cewek asing tapi positif thinking aja Liza kan mereka cuma temen 🤣🤣🤣 malah
Mita Paramita
Adnan hati hati jangan sampe diburu lagi sama pengikut sekte teman" Gladys 🤨 semoga next dapet job yang gampang 🤣🤣🤣 gak ada drama kejar kejaran
Mita Paramita
kerjaan lancar nih Adnan tinggal laporan sama Fira 🤣🤣🤣 Gladys debut jadi asisten 😝 paket lengkap nih buat adnan ngembangin usaha nya biar lebih banyak klien. Thor kasih tau donk latarbelakang keluarga Adnan, kenapa ayah nya bisa punya kamera ajaib 🤨
Mita Paramita
sabar Adnan diomel klien 🤣🤣🤣 kebanyakan masalah sih makanya lupa punya kewajiban lain😝 auto mesti cari asisten nih 🫣
Rommy Wasini Khumaidi
ohalah,ternyata mimpi
Mita Paramita
Adnan mending jujur aja nih ke Liza kalo sekarang lagi nolongin Gladys yang nyamar jadi sepupu cowok 🤣🤣🤣 siapa tau Liza punya solusi masalah ini 🤨 nyimpen kebohongan ga baik kelamaan 🤣🤣🤣
Mita Paramita
Adnan jadi salting 🤣🤣🤣 inget mimpi basah semalam untung cuma mimpi kalo jadi kenyataan bisa jadi rumit nih kedepannya 🤣🤣🤣
udah baca Thor novel terbarunya 🔥🔥🔥🔥seru
Desau: makasih selalu mampir kak🤭😍
total 1 replies
Mita Paramita
awwh Gladys jadi nakal gini🫣 namanya cowok normal pasti Adnan terbuai rayuan Gladys 🤣🤣🤣 jadi teman tapi mesra nih ujungnya 😝😝😝
MRYSS
tthor cerita si Angga kpn lanjut season dua nya udh hampir 2 tahun lebih gua nunggu
Desau: nanti ya kak, kebetulan aku belum dpt inspirasi terkait ceritanya 🤭
total 1 replies
Rommy Wasini Khumaidi
apakah itunya Adnan bisa berdiri?katanya Adnan diabetes thor?makanya novel yang sebelumnya direvisi karena Adnan anu² sama Liza
Desau: yg ini sdh kurevisi kak. di versi ini kubikin gk diabetes 😅
total 1 replies
TriAileen
samaaa dg diri ku. kl dg yg nama nya kecoa. mpe nangis2 dah q
A Sukanda
lanjutkan asiik ceritanya
A Sukanda
bagus
Mita Paramita
Adnan paket lengkap jadi cowok idaman Udah baik, penolong dan pantang nyerah dan ga takut kecoa 🤣🤣🤣 lanjut ceritain masalalu Gladys mungkin masih ada hubungan nya sama kamera ajaib
A Sukanda: keunapa ubah tamat nanggung bacanya nih
total 2 replies
Mita Paramita
Gladys jadi naksir gini sama Adnan 🤣🤣🤣 pesona goodboy Adnan gampang narik perhatian cewek disekelilingnya 😝
Mita Paramita
sandiwara genta sukses banget nih mba tari percaya 🤣🤣🤣 mungkin aja kedepannya Adnan dan genta bisa memecahkan misteri asal usul Kamera ajaib 😉
Mita Paramita
kasian ya Gladys kirain dia berniat jahat ternyata korban 🫣 Adnan selalu aja baik menolong siapa aja minta bantuan. Go Adnan 🔥🔥🔥
Mita Paramita
mungkin Gladys kena kutukan dari ritual itu makanya dia takut rekaman camera Adnan tersebar 🤨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!