Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Bukan Klien
Detak jantung Adnan berpacu begitu kencang hingga rasanya bisa terdengar sampai ke luar pintu. Napasnya tertahan di kerongkongan, matanya terpaku pada gagang pintu yang diam saja namun terasa seperti mengancam nyawanya. Sherly yang sedetik sebelumnya masih tersenyum manis dan menggoda, kini mengerutkan dahi bingung melihat reaksi ketakutan yang tiba-tiba melanda pemuda di hadapannya.
Belum sempat wanita itu bertanya apa yang terjadi, suara ketukan keras dan berirama terdengar di pintu kayu itu.
Tok... tok... tok...
"Apakah ada di dalam?" Suara berat Bastian terdengar samar dari balik pintu, namun cukup jelas untuk membuat darah Adnan seolah membeku. "Kami tahu dia bersembunyi di sekitar sini. Cek kamar nomor 307."
Tanpa berpikir dua kali, refleks bertahan hidup Adnan mengambil alih. Tangan kanannya langsung terulur dan menutup mulut Sherly rapat-rapat sebelum wanita itu sempat mengeluarkan suara terkejut. Tubuh Sherly tersentak kaget, matanya membelalak lebar, namun saat ia menatap mata Adnan yang penuh isyarat mencekam, seluruh tubuhnya seketika menegang dan patuh. Ia tidak bergerak sedikit pun.
Adnan mendekatkan bibirnya tepat di telinga Sherly, berbisik dengan napas yang masih memburu, suaranya nyaris tak terdengar. "Jangan bersuara sedikit pun. Kalau anda berteriak, kita berdua mati. Mengerti?"
Sherly mengangguk pelan, pelupuk matanya masih melebar namun kini terpancar ketakutan yang tulus, bukan lagi gairah. Ia merasakan detak jantung Adnan yang berdegup kencang di balik telapak tangannya, dan keseriusan di mata pemuda itu membuatnya sadar bahwa ini bukan lagi sekadar permainan.
Di luar pintu, suara langkah kaki mondar-mandir terdengar. Suara Gladys menyusul, dingin dan penuh ancaman. "Periksa setiap sudut. Dia tidak mungkin hilang begitu saja. Kamera itu harus kembali ke tangan kami."
Hening sejenak. Detik-detik itu terasa berlangsung selamanya. Adnan menahan napas, memeluk erat kamera tua di sebelah kirinya, sementara tangan kanannya tetap membekap mulut Sherly. Wanita itu duduk diam di sampingnya, tubuhnya yang telanjang merinding bukan karena dingin, melainkan karena suasana mencekam yang tiba-tiba menyelimuti ruangan itu.
Lalu perlahan, suara langkah kaki itu menjauh. Berikutnya terdengar bunyi pintu kamar sebelah yang didobrak. Mereka pergi.
Adnan baru melepaskan napas panjang yang terasa membakar paru-parunya. Ia menurunkan tangannya perlahan dari mulut Sherly, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang, mata terpejam sejenak berusaha menenangkan diri.
"Maaf..." bisiknya lemah. "Saya benar-benar tidak bermaksud menakut-nakuti Anda."
Sherly menarik selimut dan memeluknya ke dada, menutupi tubuhnya yang telanjang. Namun tatapannya tidak lagi bingung atau marah. Ia justru menatap Adnan lekat-lekat, seolah baru pertama kali benar-benar melihat sosok pemuda itu. Matanya menyapu wajah Adnan yang pucat, berlepotan keringat, namun tetap tegar berdiri di hadapan bahaya.
"Mereka... mereka mengejarmu?" tanyanya pelan, suaranya bergetar namun tidak lagi penuh keraguan.
Adnan mengangguk perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap wanita itu lurus-lurus. "Nona Sherly, saya minta maaf sudah masuk tanpa izin. Dan saya harus jujur... saya bukan klien Anda. Saya sama sekali tidak tahu Anda ada di sini. Saya hanya... butuh tempat bersembunyi."
Ia berhenti sejenak, menunggu reaksi Sherly, mungkin kemarahan, mungkin ketakutan, mungkin pengusiran. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Sudut bibir Sherly perlahan terangkat, membentuk senyum tipis yang lembut namun terlihat tulus. Ia mendekatkan wajahnya, menatap mata Adnan lekat-lekat hingga jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter.
"Aku tahu," ucapnya pelan.
Adnan tertegun. "Apa?"
"Sejak tadi aku sudah merasa ada yang berbeda," bisik Sherly sambil tersenyum semakin lebar, tangannya terulur lembut menyentuh pipi Adnan. "Kau tidak memiliki tatapan kotor seperti mereka. Matamu jernih... penuh ketakutan, tapi jujur. Dan sekarang..." Ia menatapnya dengan pandangan yang berbinar kagum. "...melihat betapa beraninya kau melindungiku, meski nyawamu sendiri juga terancam... aku malah semakin terpesona padamu, Adnan."
Nama itu disebutnya begitu lembut, seolah ia sudah lama mengetahuinya.
"Tapi saya..."
"Dengar aku," potong Sherly lembut namun tegas. "Aku bertahun-tahun melayani orang-orang yang hanya melihat tubuhku. Tidak ada satu pun yang pernah berani melindungiku, apalagi dengan nyawa sendiri seperti yang kau lakukan tadi." Ia menggenggam tangan Adnan, menempelkannya ke pipinya yang halus. "Jadi... biarpun kau bukan klienku, biarpun kau tidak punya uang... aku rela. Aku bersedia menemani malam ini. Tanpa bayaran apa pun. Anggap saja hadiah untuk pahlawan yang berani melindungiku."
Adnan terbelalak, tak mampu berkata-kata. Di tengah situasi yang mengancam nyawa, di saat ia sendiri sedang lari dari neraka, ia justru mendapatkan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Tatapan Sherly begitu tulus, begitu memikat, seolah dunia di luar pintu itu tidak ada artinya selama mereka berdua ada di dalam sini.
Namun ketenangan itu hanya berlangsung sesaat.
Belum sempat Adnan merespons kata-kata Sherly, suara ketukan pintu terdengar lagi. Kali ini bunyinya berbeda, pelan, teratur, dan tidak terasa mengancam, justru terdengar merengek.
"Sayang... aku sudah sampai. Buka pintunya ya?"
Suara itu berat, parau, dan terdengar sudah setengah mabuk. Wajah Sherly seketika berubah pucat. Ia menatap Adnan dengan mata yang membelalak ketakutan. Itu adalah kliennya yang sebenarnya.