NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Sistem yang Terbangun

“Kamu berani?”

Pertanyaan Dokter Fajar tidak keras, tapi di tengah IGD yang kacau, kalimat itu seperti pisau yang diletakkan tepat di depan dada Ardi.

Ardi melihat brankar kecil itu didorong melewati pintu otomatis. Anak perempuan di atasnya tampak terlalu kecil untuk semua kabel, selang oksigen, dan monitor yang menempel di tubuhnya. Bibirnya kebiruan. Kulitnya pucat seperti kertas basah.

Di samping brankar, pria besar berwajah keras nyaris kehilangan bentuknya sebagai orang berkuasa. Jasnya mahal, jam tangannya bisa membeli satu motor baru, tapi kedua matanya merah.

“Livi, Nak, tahan sebentar,” katanya serak. “Papa di sini.”

Hartono Harahap.

Nama itu cukup membuat beberapa perawat menahan napas. Pemilik tambang di Kalimantan, kebun sawit, jaringan logistik, dan koneksi yang bisa membuat direktur rumah sakit mengangkat telepon tengah malam. Namun malam itu, semua kekayaan itu tidak bisa memaksa jantung anaknya berdetak lebih kuat.

Monitor berbunyi cepat.

Beep. Beep. Beep.

Ardi menatap garis EKG yang naik turun tak stabil. “Usia?”

“Sepuluh tahun,” jawab perawat.

“Riwayat?”

“Kelainan jantung bawaan. Sudah beberapa kali operasi korektif. Kondisi memburuk mendadak. Rujukan terakhir menyebut gagal jantung terminal.”

Dokter Fajar menyerahkan tablet berisi hasil pemeriksaan. “Donor sudah tersedia. Tapi jendela waktu organ tinggal sedikit. Masalahnya...”

Ardi membaca cepat.

Transplantasi jantung paralel kiri.

Bukan transplantasi biasa. Pada kasus Livi, jantung lama tidak bisa langsung dilepas begitu saja karena struktur pembuluh dan riwayat operasi sebelumnya terlalu rumit. Jantung donor harus dipasang paralel untuk mengambil alih beban sirkulasi, sementara jantung lama tetap dipertahankan sementara. Satu kesalahan kecil pada anastomosis, tekanan paru, atau aliran balik vena, anak itu bisa mati di meja.

Ardi mengangkat mata. “Siapa operatornya?”

Diam.

Diam yang buruk.

Dokter senior jantung dari RS lain sedang dalam perjalanan, tapi butuh paling cepat empat puluh menit. Tim donor sudah memberi batas. Livi tidak punya empat puluh menit.

Hendro melangkah maju, wajahnya tegang tapi mulutnya tetap tajam. “Pak Fajar, jangan bilang Anda mau melibatkan dia.”

“Dia dokter bedah,” kata Fajar.

“Dia tenaga kontrak tanpa SIP aktif.” Hendro menoleh pada Hartono seolah mencari dukungan. “Pak Hartono, saya harus menjelaskan. Kalau orang ini masuk ruang operasi dan terjadi sesuatu, kasusnya bisa jadi masalah hukum besar.”

Hartono menoleh perlahan.

Tatapannya membuat Hendro berhenti bicara setengah detik.

“Yang saya pedulikan cuma satu,” kata Hartono. “Siapa yang bisa menyelamatkan anak saya?”

Hendro tidak punya jawaban.

Fajar punya.

Ia menatap Ardi lagi. “Secara administratif, kamu masuk sebagai asisten di bawah tanggung jawab saya sebagai DPJP. Keputusan final tetap saya tanda tangani. Tapi di dalam, saya butuh tangan dan kepala yang tidak panik.”

Ardi mengerti maksud kalimat itu.

Fajar bukan hanya memberinya kesempatan. Fajar sedang menaruh nama, jabatan, dan masa depannya sendiri di atas meja.

“Pak Fajar,” kata Ardi pelan, “kalau saya masuk, saya tidak bisa hanya berdiri di sudut.”

“Saya tahu.”

“Kalau ada langkah yang harus diambil cepat, saya akan ambil.”

“Saya tahu.”

Hendro tertawa pendek, kering. “Luar biasa. Kita akan menyerahkan anak seorang konglomerat pada mantan napi dan berharap keajaiban.”

Ardi menoleh.

Tidak ada ledakan di wajahnya. Tidak ada teriakan. Hanya dingin yang pelan-pelan turun di matanya.

“Dokter Hendro,” katanya, “kalau Anda punya operator yang lebih siap, panggil sekarang.”

Hendro membuka mulut.

Tidak ada nama yang keluar.

“Kalau tidak,” lanjut Ardi, “tolong jangan berdiri di depan pintu.”

Untuk pertama kalinya sejak Ardi kembali ke Soetomo, Hendro benar-benar kehilangan satu detik untuk menjawab.

Dokter Fajar memotong sebelum situasi pecah. “Ruang operasi. Sekarang.”

Brankar Livi meluncur ke koridor. Hartono hendak ikut, tapi perawat menahannya di garis steril.

“Pak Hartono, mohon tunggu di luar.”

Pria itu memandang Livi, lalu memandang Ardi. Di matanya ada sesuatu yang tidak pantas dimiliki orang sebesar dia: permohonan telanjang.

“Dokter,” katanya, suara pecah, “dia satu-satunya anak saya.”

Ardi tidak menjanjikan hal yang tidak bisa ia kendalikan.

Ia hanya mengangguk. “Saya akan melakukan semua yang bisa dilakukan seorang dokter.”

Pintu ruang operasi tertutup.

Dunia berubah menjadi putih, dingin, dan tajam.

Lampu operasi menyala. Bau povidone iodine dan udara steril menusuk hidung. Tim bergerak cepat: anestesi, perfusionist, perawat instrumen, scrub nurse. Setiap orang tahu kasus ini berada di luar zona nyaman mereka.

Ardi berdiri di wastafel scrub. Air mengalir di lengannya. Ia menggosok tangan sampai kulit terasa panas.

Di balik kaca kecil, ia melihat Hendro masih berdiri di luar, bicara dengan beberapa staf. Tidak sulit menebak isinya. Kalau operasi gagal, Hendro akan menjadi orang pertama yang berkata sudah memperingatkan semua orang.

Ardi menarik napas.

Foto Gatra dan Sari sudah ia titipkan di loker kecil bersama ponsel. Untuk pertama kalinya malam itu, dadanya terasa kosong tanpa kertas lecek itu.

Ayah akan pulang, Nak.

Tapi sebelum itu, ada anak lain yang harus pulang ke ayahnya.

Operasi dimulai.

Sayatan awal dilakukan di bawah komando Fajar. Ardi berdiri sebagai asisten, tapi matanya membaca lapangan operasi lebih cepat daripada tangannya bergerak. Jaringan parut lama. Adhesi di sekitar perikardium. Pembuluh yang tidak berada di posisi yang seharusnya. Setiap lapisan seperti jebakan yang menunggu pisau salah arah.

“Tekanan turun,” kata anestesi.

“Berapa?”

“Sistolik enam puluh delapan. Saturasi turun.”

Fajar mengencangkan rahang. “Cepat. Kita masuk bypass.”

Tim bergerak. Mesin jantung paru mulai disiapkan. Darah mengalir melalui selang bening. Suara mesin berpadu dengan bunyi monitor, seperti napas buatan bagi ruangan itu.

Ardi membantu membuka area pembuluh utama.

Tangannya masih stabil.

Namun stabil saja tidak cukup.

Ketika jantung donor masuk ke lapangan, semua orang di ruangan itu menahan napas. Organ kecil itu merah gelap, dingin, rapuh, tapi di dalamnya ada kesempatan hidup untuk Livi.

Fajar mulai melakukan langkah pemasangan awal. Ia dokter senior yang baik. Gerakannya bersih. Tapi pada saat mencapai bagian anastomosis paling sulit, ujung needle holder-nya berhenti sepersekian detik.

Sepersekian detik yang bisa dirasakan semua orang.

“Jaringan terlalu rapuh,” bisik Fajar.

Ardi melihat sudutnya.

Terlalu sempit. Jika jarum masuk terlalu dalam, pembuluh robek. Jika terlalu dangkal, kebocoran akan terjadi saat tekanan dinaikkan. Teknik standar tidak akan cukup.

“Pak Fajar,” kata Ardi.

Fajar tidak menoleh. “Ya?”

“Izinkan saya pegang.”

Ruangan itu langsung lebih sunyi.

Seorang perawat menatap Ardi seolah ia baru saja menginjak garis terlarang.

Fajar menahan napas. “Ardi...”

“Kalau diteruskan dengan sudut itu, dinding posterior bisa sobek. Kita harus masuk dari arah bawah, putar jarum setengah lingkaran, lalu kunci tepi vena sebelum tekanan dinaikkan.”

Fajar memandang lapangan operasi.

Ia tahu Ardi benar.

Dari luar kaca, Hendro seperti menyadari perubahan itu. Ia mendekat, wajahnya menegang.

Fajar menyerahkan needle holder.

“Saya sebagai DPJP mengizinkan,” katanya jelas, cukup keras untuk didengar tim. “Lanjut.”

Begitu logam dingin itu menyentuh sarung tangan Ardi, dunia di depan matanya tiba-tiba bergetar.

Bukan pusing.

Bukan lelah.

Cahaya biru tipis muncul di udara, tepat di atas dada terbuka Livi. Garis-garisnya membentuk panel transparan yang mustahil ada di ruang operasi.

Ardi membeku.

Tidak ada satu pun orang lain yang bereaksi.

Perawat tetap memegang suction. Fajar tetap menatap lapangan operasi. Monitor tetap berbunyi. Hanya Ardi yang melihat panel itu.

Jantungnya menghantam tulang rusuk.

Di panel biru itu, huruf-huruf muncul satu per satu.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【SISTEM MODIFIER AKTIF】 ║

║ ║

║ Skill baru terdeteksi! ║

║ ▸ Transplantasi Jantung Paralel ║

║ Kiri - Level: Pemula ║

║ ║

║ Poin Modifikasi tersedia: 10 PM ║

║ Upgrade ke Lanjutan? (Biaya: 10 PM)║

║ ║

║ [YA] [TIDAK] ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

Sistem?

Modifier?

Poin Modifikasi?

Selama satu detik, pikiran Ardi kosong. Dua tahun di penjara tidak pernah membuatnya berhalusinasi. Kurang tidur pun tidak pernah membuat teks mengambang di udara.

“Ardi?” suara Fajar menekan. “Ada apa?”

Monitor berbunyi lebih cepat.

Beep. Beep. Beep.

“Tekanan makin turun,” kata anestesi. “Kita tidak punya waktu.”

Ardi menatap pilihan di panel.

10 PM.

Ia tidak tahu apa itu. Ia tidak tahu dari mana datangnya. Ia tidak tahu apakah menekan pilihan itu berarti gila, putus asa, atau justru satu-satunya jalan.

Tapi ia tahu satu hal.

Dengan kemampuan yang ia miliki sekarang, peluang Livi terlalu tipis.

Di luar sana ada seorang ayah yang sedang menunggu satu-satunya anaknya. Di dalam loker, ada foto dua anak yang masih menunggu ayah mereka kembali kuat.

Kalau ini jebakan, ia sudah tidak punya apa pun untuk dipertaruhkan selain hidup seorang pasien.

Dan kalau ini benar...

Ardi menggerakkan ibu jarinya sedikit, seolah menyentuh udara.

Pilihannya menyala.

[YA]

Panel itu pecah menjadi ribuan titik biru.

Rasa dingin menusuk dari ujung jari, naik ke pergelangan, lalu meledak ke seluruh lengan seperti arus listrik yang tidak menyakitkan. Dalam sekejap, gambar, sudut, tekanan jahitan, urutan pembuluh, variasi anatomi, dan puluhan skenario komplikasi membanjiri kepalanya.

Bukan seperti membaca buku.

Seperti ia pernah melakukan operasi ini ratusan kali.

Panel baru muncul sekilas.

```

╔══════════════════════════════════════╗

║ 【Upgrade Berhasil!】 ║

║ Skill Transplantasi Jantung Paralel ║

║ Kiri telah ditingkatkan ke level ║

║ Lanjutan. ║

║ ║

║ Saldo PM: 0 ║

╚══════════════════════════════════════╝

```

Ardi mengangkat needle holder.

Tangannya tidak lagi hanya stabil.

Tangannya tahu.

Jarum pertama masuk dari sudut yang bahkan tidak terpikirkan oleh Fajar. Tidak kasar, tidak ragu. Ia mengambil tepi pembuluh rapuh itu seperti mengangkat sehelai benang basah dari air. Putaran setengah lingkaran. Tarikan ringan. Kunci simpul.

Satu jahitan.

Dua.

Tiga.

Perawat instrumen tanpa sadar menahan napas.

Fajar menatap gerakan Ardi dengan mata yang perlahan melebar.

“Suction,” kata Ardi.

Perawat baru bergerak setelah setengah detik. “Ya, Dok.”

“Benang berikutnya. Lebih halus.”

“Baik.”

Tidak ada lagi yang memanggilnya tenaga kontrak di ruangan itu.

Di luar kaca, Hendro berdiri kaku. Dari posisinya, ia tidak bisa mendengar semua instruksi, tapi ia bisa melihat perubahan ritme tim. Ruang operasi yang tadi hampir panik kini bergerak mengikuti satu pusat.

Ardi.

“Tekanan masih rendah,” kata anestesi, tapi kali ini ada harapan di suaranya. “Namun saturasi mulai naik.”

“Pertahankan,” kata Ardi. “Jangan naikkan tekanan paru dulu. Beri saya dua menit.”

Fajar tidak memotong.

Ia hanya berkata, “Ikuti instruksi Dokter Ardi.”

Kalimat itu jatuh lebih keras daripada tamparan.

Di sisi kaca, wajah Hendro berubah gelap.

Ardi tidak sempat melihatnya. Seluruh dunianya menyempit pada jantung kecil di bawah lampu operasi. Jantung donor mulai terhubung. Aliran pertama masuk perlahan, seperti sungai yang menemukan jalannya setelah bendungan dibuka.

Satu bagian selesai.

Lalu bagian berikutnya.

Keringat dingin merayap di punggung Ardi, tapi pikirannya jernih. Panel biru sudah hilang, namun pengetahuan yang ditinggalkannya masih menyala di ujung jarinya.

Ia bisa melakukannya.

Untuk pertama kalinya sejak keluar dari penjara, kalimat itu bukan hiburan kosong.

Ia benar-benar bisa melakukannya.

“Siap turunkan bypass bertahap,” kata Fajar.

Ardi mengangguk. “Pelan. Jangan paksa.”

Mesin jantung paru mulai dikurangi.

Semua mata tertuju pada monitor.

Detik pertama aman.

Detik kedua, tekanan naik sedikit.

Detik ketiga, EKG tiba-tiba melonjak liar.

Beepbeepbeepbeep.

Anestesi berseru, “Aritmia ventrikel!”

Tubuh kecil Livi tersentak halus di bawah kain steril.

Garis EKG kacau, lalu dalam satu kedipan berubah menjadi hampir datar.

“Jantung berhenti!”

Ruangan meledak dalam kepanikan tertahan.

Ardi menatap jantung Livi yang baru saja mulai memberi harapan, kini diam di bawah cahaya putih.

Needle holder di tangannya masih basah.

Dan di sudut pandangnya, sisa cahaya biru Sistem Modifier berkedip tipis, seperti mata yang baru terbuka sepenuhnya.

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!