Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 034
"Nanti" ternyata tidak datang malam itu.
Santan keburu mendidih. Nenek Sari memanggil Ayu sampai tiga kali, lalu menyodorkan sendok kayu ke tangannya seolah percakapan yang hampir terjadi di depan ruang belajar bisa ditunda seperti api kompor.
Raka pun tidak memaksa.
Ia membantu Datuk Harun menurunkan karung beras dari belakang rumah, mencuci tangan di keran halaman, lalu makan malam dengan sikap tenang yang terlalu rapi. Ia menjawab pertanyaan Nenek, memuji gulai nangka, bahkan sempat membetulkan posisi kursi Datuk yang miring.
Hanya saja, setiap kali mata Ayu tidak sengaja menyentuh wajahnya, Raka menunduk lebih cepat.
Malam turun pelan di Nagari Sungai Tanang. Dari kamar, Ayu masih mendengar suara jangkrik, dengus Raja di teras, dan sesekali suara keyboard dari ruang belajar. Raka bekerja. Atau pura-pura bekerja.
Ayu duduk di tepi tempat tidur sambil menatap layar ponsel yang gelap.
Pesan dari Fajar sudah tidak ada lagi setelah sore tadi. Tidak ada basa-basi tambahan, tidak ada ajakan ulang, tidak ada kalimat yang bisa disalahpahami. Fajar mundur dengan cara yang sopan.
Justru karena itu, dada Ayu terasa lebih sempit.
Masalahnya bukan Fajar lagi.
Masalahnya ada pada satu kata yang tertinggal di antara dirinya dan Raka.
Nanti.
Keesokan paginya, restoran mulai sibuk sejak ayam jantan belum berhenti berkokok. Ada pesanan nasi kotak untuk rapat wali nagari, jadi Ayu mengikat rambutnya tinggi-tinggi dan masuk dapur lebih awal. Uap rendang muda mengepul, suara pisau bertemu talenan beradu cepat, sementara Nenek Sari di sudut sibuk memeriksa daftar belanja.
"Ayu, nanti siang Fajar mungkin mampir sebentar," kata Nenek seolah menyebut tukang galon.
Pisau di tangan Ayu berhenti sepersekian detik.
"Untuk apa lagi, Nek?"
"Katanya ada satu kuitansi yang tertinggal kemarin. Sekalian dia mau ambil contoh kotak yang salah ukuran itu. Daripada numpuk di sini."
Ayu menarik napas perlahan. "Nek."
Nenek Sari menatapnya. Mata tua itu tajam, tetapi tidak marah. "Apa?"
"Kalau Fajar datang, urusannya bisnis saja."
"Memangnya Nenek bilang urusan lain?"
Ayu menekan bibirnya. "Nenek tahu maksud Ayu."
Nenek Sari mengaduk gulai di panci besar. Untuk beberapa detik, hanya suara minyak panas yang terdengar.
"Nenek ini sudah tua, tapi belum rabun hati," katanya akhirnya. "Nenek juga lihat kamu kemarin bicara apa sama dia. Tapi orang tua kadang perlu waktu untuk melepaskan bayangan sendiri."
Kalimat itu membuat bahu Ayu turun sedikit.
"Ayu bukan tidak menghargai Nenek."
"Nenek tahu." Nenek mengambil sendok bersih, mencicipi kuah, lalu menambahkan garam. "Tapi kamu juga harus tahu, kalau kamu sudah punya arah, jangan biarkan orang lain menebak-nebak terlalu lama."
Panas dari kompor menjilat wajah Ayu. Ia tidak menjawab.
Karena yang dimaksud Nenek bukan hanya Fajar.
Menjelang siang, Raka keluar dari ruang belajar dengan kemeja lengan pendek warna biru muda. Rambutnya masih agak berantakan, kacamata bertengger di hidung, dan di tangannya ada tumpukan kertas latihan CPNS yang diberi stabilo warna-warni.
"Aku ke teras depan sebentar," katanya pada Ayu yang sedang menutup kotak nasi.
"Mau belajar di luar?"
"Kepala agak penuh. Cari angin."
Ayu ingin berkata, kita juga perlu bicara. Tapi di dapur ada dua pegawai membantu membungkus lauk, Nenek berdiri tidak jauh dari pintu, dan telepon restoran terus berdering.
Jadi Ayu hanya mengangguk. "Jangan lupa makan siang."
Raka tersenyum tipis. "Kalau kamu yang ingatkan, aku pasti makan."
Kalimat sederhana itu membuat salah satu pegawai menahan senyum. Ayu pura-pura sibuk melipat kertas pembungkus, padahal telinganya panas.
Raka berjalan ke halaman depan.
Tidak sampai lima menit kemudian, suara motor berhenti di depan pagar.
Ayu tahu suara itu bahkan sebelum Luna menggonggong. Ia mendongak dari meja stainless, melihat melalui jendela dapur. Fajar turun dari motor dengan map cokelat di tangan, mengenakan kemeja rapi dan celana bahan. Ia tersenyum kepada Raja dari jarak aman, lalu membuka gerbang kecil.
Di saat yang sama, Raka berdiri dari kursi teras.
Dari dapur, Ayu melihat dua laki-laki itu saling berhadapan di bawah cahaya siang yang terang.
Tidak ada suara keras. Tidak ada tatapan kasar. Justru karena semuanya terlalu sopan, udara terasa makin tipis.
"Mas Raka," sapa Fajar lebih dulu.
"Fajar." Raka mengangguk. "Mau bertemu Ayu?"
Nada suaranya datar. Sopan. Tapi tangan yang memegang kertas latihan bergerak sedikit lebih kaku.
"Sebentar saja. Ada kuitansi yang tertinggal." Fajar mengangkat map cokelat. "Saya juga mau ambil sample kotak yang salah ukuran."
"Oh."
Satu kata itu jatuh begitu ringan, tetapi tidak ramah.
Ayu meletakkan sendok. Nenek Sari menoleh padanya, lalu pada jendela. Alis Nenek terangkat.
"Pergi sana," bisik Nenek.
"Ayu lagi bungkus pesanan."
"Pesanan bisa Nenek lihat. Yang di halaman itu tidak bisa kamu biarkan jadi masakan gosong."
Ayu hampir tersedak napas sendiri. "Nek."
"Sudah. Cepat."
Di halaman, Fajar belum masuk ke teras. Ia berdiri dekat pohon jambu, seolah sengaja memberi jarak dari rumah.
"Saya dengar Mas Raka sedang persiapan CPNS," kata Fajar.
"Iya."
"Berat ya?"
"Lumayan."
"Kalau berhasil, berarti Mas Raka akan menetap di sini?"
Pertanyaan itu membuat Raka diam sebentar.
Ayu berhenti di balik pintu samping sebelum sempat melangkah keluar. Ia tidak berniat menguping, tetapi kalimat Fajar menahan kakinya.
"Kalau Allah kasih jalan," jawab Raka pelan.
Fajar tersenyum tipis. "Kalau jalan itu karena Ayu?"
Raka mengangkat wajah.
Untuk pertama kalinya, sopan santun di antara mereka retak sedikit. Bukan menjadi kasar, hanya menjadi jujur.
"Apa maksudmu?"
"Maksud saya sederhana." Fajar menurunkan map cokelat ke sisi tubuh. "Saya sudah bicara dengan Ayu kemarin. Saya paham posisi saya. Saya tidak akan ganggu."
Raka tidak langsung menjawab.
Angin bergerak melewati halaman. Daun jambu berdesir. Raja yang semula waspada akhirnya duduk, tetapi matanya tetap mengamati Fajar.
"Kalau begitu, terima kasih," kata Raka.
Fajar tertawa pelan, tanpa suara mengejek. "Mas Raka tidak perlu berterima kasih seperti saya menyerahkan barang."
Raka menatapnya lebih tajam.
"Ayu bukan barang," lanjut Fajar. "Justru itu saya mundur. Karena dia sudah memilih arah, walaupun belum menyebut nama."
Dada Ayu berdebar keras.
Raka memalingkan wajah sebentar ke arah halaman samping. Tulang rahangnya mengeras. "Itu urusan Ayu."
"Betul. Tapi diamnya Mas juga jadi urusan Ayu."
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Ayu melihat kertas latihan di tangan Raka tertekuk di ujungnya. Raka tidak marah dengan cara meledak. Ia hanya menjadi sangat diam, dan justru diam itulah yang membuat Ayu ingin segera maju.
"Kamu datang untuk mengambil kuitansi atau menasihati saya?" tanya Raka.
Fajar menarik napas. "Dua-duanya, mungkin."
"Saya tidak meminta nasihat."
"Saya tahu." Fajar menatapnya lurus. "Tapi saya pernah berada di posisi orang yang menunggu pintu dibuka. Tidak enak, Mas. Kalau pintu itu memang bukan untuk saya, saya mundur. Tapi kalau pintu itu untuk Mas, jangan berdiri terlalu jauh sampai orang di dalam rumah ikut lelah menunggu."
Raka tidak menjawab.
Di dalam dada Ayu, sesuatu seperti tersentuh lalu bergetar.
Fajar bukan sedang menantang. Ia justru sedang melakukan hal yang lebih sulit: melepaskan dengan kepala tegak, tanpa membuat Ayu merasa bersalah.
Namun bagi Raka, kalimat itu tetap terdengar seperti dorongan tepat di luka yang selama ini ia tutupi.
"Saya tinggal di rumah ini sebagai tamu," kata Raka akhirnya. Suaranya rendah. "Saya harus tahu batas."
"Batas itu penting," balas Fajar. "Tapi perasaan juga perlu diberi bentuk. Kalau tidak, orang luar akan terus dikira punya kesempatan."
Ayu tidak sanggup berdiri di balik pintu lagi.
Ia melangkah keluar.
Sandalnya menyentuh lantai semen, cukup keras untuk membuat kedua laki-laki itu menoleh bersamaan.
"Fajar," panggil Ayu.
Fajar langsung menundukkan kepala sedikit. "Ayu. Maaf, saya baru mau masuk."
"Tidak apa-apa." Ayu berjalan mendekat, tetapi tidak berdiri di tengah mereka. Ia berhenti di samping Raka, cukup dekat hingga ujung lengan mereka hampir bersentuhan. "Kuitansinya bisa kasih ke aku."
Fajar melihat posisi itu.
Raka juga pasti merasakannya, karena napasnya tertahan sebentar.
Fajar menyerahkan map cokelat. "Ini. Saya sekalian ambil kotak yang kemarin."
"Ada di gudang samping. Nanti aku minta Uda Rizal keluarkan."
"Saya bisa ambil sendiri."
"Tidak usah. Kamu tamu."
Nada Ayu lembut, tetapi batasnya jelas.
Fajar mengangguk pelan. "Baik."
Untuk beberapa detik, mereka bertiga berdiri dalam diam. Di dapur, suara Nenek memanggil pegawai terdengar samar. Pesanan nasi kotak tetap berjalan. Dunia tidak berhenti hanya karena tiga hati sedang menata ulang tempat masing-masing.
Ayu membuka map, memastikan kuitansi ada di dalamnya, lalu menutupnya lagi. "Terima kasih sudah bantu urusan supplier."
"Sama-sama." Fajar tersenyum. Kali ini senyumnya lebih ringan. "Kalau soal bisnis, saya tetap bisa bantu. Kalau soal yang lain, saya sudah paham."
Raka menunduk sedikit. "Saya juga paham."
Fajar menatapnya. "Semoga benar."
Ayu menoleh pada Raka. Ada sesuatu di mata Raka yang belum pernah ia lihat sejelas itu. Cemburu, iya. Takut, juga iya. Tapi di bawah semuanya, ada tekad yang mulai mencari jalan keluar.
Fajar mundur selangkah. "Saya ambil kotak dulu, ya."
Ayu hendak memanggil pegawai, tetapi Raka tiba-tiba berkata, "Biar saya antar."
Fajar berhenti.
Ayu juga menoleh.
Raka merapikan kertas latihan yang tertekuk di tangannya, lalu meletakkannya di kursi teras. "Gudang samping agak berantakan. Saya tahu letaknya."
Nada suaranya masih tenang, tetapi kali ini tidak dingin. Lebih seperti orang yang akhirnya memilih untuk berdiri di tempatnya sendiri.
Fajar mengangguk. "Baik, Mas."
Keduanya berjalan ke arah gudang samping. Ayu mengikuti beberapa langkah di belakang, tidak terlalu dekat, tidak pula menjauh.
Di depan pintu gudang, Raka berhenti. Ia menoleh pada Fajar.
"Terima kasih karena tidak membuat Ayu tidak nyaman," katanya.
Fajar mengangkat bahu kecil. "Saya memang suka dia, Mas. Tapi saya tidak mau jadi orang yang membuat dia menyesal sudah baik pada saya."
Raka diam.
Ayu meremas ujung map cokelat di tangannya.
Fajar mengambil tumpukan kotak sample setelah Raka menunjukkannya. Ketika ia melewati Ayu, ia berhenti sejenak.
"Ayu," katanya pelan, "kamu sudah jelas. Tinggal kalian berdua yang berani."
Panas naik ke wajah Ayu.
Fajar tidak menunggu jawaban. Ia membawa kotak-kotak itu ke motornya, mengikatnya dengan tali, lalu pamit pada Nenek Sari dari halaman. Nenek membalas dengan suara ramah, tetapi kali ini tidak menahan dia lebih lama.
Motor Fajar menjauh, meninggalkan debu tipis di jalan depan rumah.
Ayu dan Raka masih berdiri di dekat gudang samping.
Tidak ada lagi Fajar.
Tidak ada lagi kuitansi.
Tidak ada alasan yang bisa dipakai untuk menunda.
Raka memandang jalan yang sudah kosong, lalu perlahan menoleh kepada Ayu. "Tadi malam aku bilang nanti."
Ayu menahan napas.
"Sekarang," lanjut Raka, suaranya rendah tetapi jelas, "kalau kamu masih mau dengar, aku mau bicara."