Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Pagi setelah perangkap Cakung, dua pejabat izin proyek mendadak sakit.
Yang satu membatalkan rapat koordinasi dengan Tan Group karena "tekanan darah naik". Yang satu lagi mengirim surat cuti tiga hari setelah namanya muncul dalam berkas kecil yang Sean kirim ke Amy tengah malam. Tidak ada pengumuman resmi. Tidak ada penangkapan. Namun di dunia proyek bernilai triliunan, dua kursi kosong bisa membuat satu mesin besar tersendat.
Mei Li membaca laporan itu di ruang kerja Menteng Regency.
"Terlalu cepat," katanya.
Amy mengangkat mata dari laptop. "Sean memang cepat."
"Bukan Sean."
Bella yang berdiri di dekat pintu langsung paham. "Ada tangan lain?"
Mei Li menggeser layar. Di sana ada catatan panggilan yang baru masuk dari salah satu sekretariat KADIN daerah. Bukan ke Koh Group. Bukan ke pengadilan. Melainkan ke kantor yang berhubungan dengan program transparansi proyek publik.
Nama Arka tidak muncul.
Justru karena tidak muncul, jejaknya terasa lebih jelas.
"Dua pejabat ini tidak takut pada bukti finansial kecil," kata Mei Li. "Mereka takut pada siapa yang tahu bukti itu."
Amy membuka file baru. "Pak Arka?"
Mei Li tidak menjawab.
Ia menatap rumah sebelah melalui kaca ruang kerja. Tirai ruang kerja Arka tertutup, tetapi mobil dinas KADIN sudah tidak ada di garasi.
***
Di kantor KADIN, Arka duduk dalam rapat yang tidak tercatat di jadwal publik.
Di hadapannya, dua orang dari asosiasi konstruksi dan seorang pejabat senior duduk dengan wajah yang dibuat setenang mungkin. Di atas meja, Arka tidak meletakkan dokumen besar. Hanya satu map tipis.
Semakin tipis map itu, semakin gelisah orang-orang di hadapannya.
"Saya tidak sedang menuduh," kata Arka.
Pejabat senior itu tersenyum kaku. "Tentu, Pak Arka. Kami mengerti."
"Saya hanya mengingatkan bahwa proyek kawasan utara sedang dalam sorotan. KADIN mendukung investasi sehat, bukan permainan izin yang membuat pelaku usaha kecil menjadi korban."
Salah satu pria asosiasi konstruksi mengusap telapak tangan ke celana. "Ada informasi tertentu yang perlu kami ketahui?"
Arka membuka map. Di halaman pertama, ada nama koperasi kredit yang terhubung dengan pembayaran Baron. Di halaman kedua, ada daftar rapat tertutup dengan staf keuangan Kevin. Tidak ada kata kriminal. Tidak ada tanda seru. Hanya fakta yang cukup untuk membuat orang yang terlibat membayangkan surat pemeriksaan.
"Saya yakin Bapak-bapak lebih tahu daripada saya," kata Arka.
Ruangan itu sunyi.
Tidak ada ancaman eksplisit. Arka tidak perlu mengucapkannya. Nama Pradipta, KADIN, dan jaringan TNI keluarganya membuat setiap jeda terdengar seperti pintu yang bisa tertutup selamanya.
"Kami akan meninjau ulang seluruh rekomendasi teknis," kata pejabat senior akhirnya.
"Hari ini."
"Hari ini," ulang pria itu.
Arka menutup map. "Terima kasih."
Saat rapat selesai, Dimas yang menunggu di luar langsung mendekat dengan dua gelas kopi.
"Mas, ekspresi mereka seperti habis lihat malaikat pencabut nyawa."
"Jangan berlebihan."
"Aku nggak berlebihan. Satu orang sampai lupa ambil tas."
Arka menerima kopi. "Pastikan tidak ada yang menghubungkan ini ke Mei Li."
Dimas berhenti menggoda.
"Mas, kamu bantu dia diam-diam lagi?"
"Aku membantu membersihkan proyek kotor."
"Iya, dan proyek kotornya kebetulan mengarah ke orang yang mengganggu dia."
Arka tidak menjawab.
Dimas menghela napas. "Kamu tahu dia mungkin marah kalau merasa kamu ikut campur?"
"Aku tidak menyentuh perangnya. Aku hanya menutup pintu yang bisa mencederai orang kecil."
"Kalimat bagus. Masih tetap bantu dia."
Arka menatap kopi di tangannya. "Kalau dia tidak butuh, dia tidak perlu tahu."
Dimas menatap sepupunya lama, lalu tersenyum lebih lembut. "Mas, masalahmu bukan dia tidak butuh. Masalahmu, kamu ingin ada bahkan saat dia tidak meminta."
Arka diam.
Dan diam itu jawaban yang terlalu jelas.
***
Menjelang sore, Kevin Tan datang ke kantor proyek utara dengan wajah seperti orang yang tidak tidur.
Staf keuangan berdiri di depan mejanya, gemetar. "Dua izin tambahan ditunda, Pak. Bank juga meminta dokumen asal dana untuk pembayaran konsultan keamanan."
"Konsultan keamanan?" Kevin membentak. "Itu bukan konsultan keamanan. Itu cuma pembayaran vendor."
"Mereka meminta klarifikasi karena rekeningnya terhubung dengan kasus Cakung."
Kevin menendang kursi.
Telepon dari Tan Bao Shan masuk, tetapi ia tidak mengangkat. Telepon dari Rachel masuk, ia juga tidak mengangkat. Untuk pertama kalinya, Kevin merasa semua jalan yang ia pakai semalam berubah menjadi lorong yang kembali ke dirinya sendiri.
Layar ponselnya menyala.
Pesan dari nomor Mei Li.
Aku bilang, giliran jalur uangmu.
Di bawahnya, ada satu lampiran: bagan transaksi yang berakhir di namanya.
Kevin merasa tenggorokannya kering.
***
Di Menteng Regency, Amy menerima notifikasi dari tiga bank dan dua asosiasi bisnis.
"Nona, backend Kevin runtuh lebih cepat dari prediksi. Dua pejabat mundur dari proses, bank meminta klarifikasi, dan asosiasi konstruksi membekukan rekomendasi."
"Siapa yang menghubungi asosiasi?"
Amy berhenti sebentar. "Bukan kita."
Bella menatap rumah sebelah.
Mei Li juga menatap ke arah yang sama.
Di meja, rangkaian melati putih dari Arka masih segar sebagian, meski beberapa kelopaknya mulai jatuh.
Mei Li mengambil satu kelopak dan memutarnya di ujung jari.
"Dia tidak bilang apa-apa," kata Amy.
"Memang itu gayanya."
"Anda marah?"
Mei Li menatap kelopak putih itu, lalu jendela rumah sebelah yang mulai menyala.
"Aku belum memutuskan."
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak menghapus nomor Arka dari layar panggilan terakhir.