Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita kedua!
Aroma parfum vanila yang manis dan familier langsung menyerbu indra penciuman Arsen begitu sepasang lengan ramping melingkar mulus di perutnya.
Pelukan itu erat, hangat, dan penuh dengan kerinduan yang mendalam. Dari balik punggungnya, ia bisa merasakan kehangatan tubuh seorang wanita yang menyandarkan pipinya dengan manja di sana.
"Aku senang kamu di sini sama aku," bisik perempuan itu, dipenuhi kelegaan yang luar biasa setelah seharian memendam sepi di dalam unit apartemen yang megah namun sunyi ini.
Arsen menarik napas panjang, membiarkan dadanya naik turun dengan berat.
Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas jemari wanita itu, mengusapnya perlahan untuk memberikan ketenangan yang semu.
Seperti kemarin, Arsen kembali memilih untuk berbohong pada Rindu.
Malam ini dia kembali memilih untuk menginap di apartemen mewah berlantai dua puluh, menghabiskan malamnya di dalam pelukan istri keduanya.
Wanita yang dinikahinya secara rahasia, yang keberadaannya tersimpan rapat seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
"Kamu kelihatan lelah sekali, Mas," ucap wanita di belakangnya lagi, kini sambil melonggarkan pelukannya dan bergeser untuk menatap wajah Arsen dari samping.
Arsen membalikkan tubuhnya, lalu memberikan sebuah senyuman tipis di bibirnya. Ia menatap wajah cantik istri keduanya itu, mencoba menutupi kegelisahan yang sempat melintas di benaknya.
"Hanya sedikit lelah karena jalanan macet tadi," Kata Arsen.
"Tapi begitu sampai di sini dan melihat kamu, rasa lelahnya langsung hilang."
Perempuan itu tersenyum manis, rona merah samar muncul di pipinya. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Arsen, mendengarkan detak jantung pria itu yang berirama konstan. Arsen memeluknya erat, menatap keluar jendela kaca besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta di bawah sana.
Di dalam ruangan yang hangat dan wangi ini, Arsen merasa memiliki dunia yang berbeda.
"Coba aja kalau kita bisa seperti ini setiap hari," kata perempuan itu. Suaranya terdengar bagai bisikan lirih yang sarat akan angan-angan, mengambang di antara keheningan kamar apartemen yang remang.
Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Arsen, menyembunyikan wajahnya lebih dalam pada dada bidang pria itu.
Ada nada kepasrahan yang getir dalam kalimatnya, sebuah keinginan sederhana yang ia tahu betul sangat sulit untuk diwujudkan dalam realitas mereka saat ini.
Bagi perempuan itu, waktu yang mereka habiskan bersama selalu terasa seperti detik-detik yang dipinjam secara paksa dari kehidupan orang lain.
Arsen tertegun sejenak mendengarnya. Jemarinya yang semula bergerak lambat mengusap rambut panjang wanita itu mendadak terhenti.
"Aku juga maunya begitu," sahut Arsen akhirnya, suaranya agak serak. Ia memberikan sebuah kecupan lembut di puncak kepala istri keduanya itu, mencoba menyalurkan ketenangan.
"Tapi aku tahu itu egois, kan, Mas? Aku tahu kamu nggak bisa selamanya di sini. Besok pagi, kamu harus pulang, kembali jadi sosok yang berbeda di tempat yang berbeda."
"Sudah, jangan dipikirkan lagi malam ini," bisik Arsen lembut, mencoba mengalihkan arah pembicaraan yang mulai terasa menyesakkan.
Ia menangkup kedua pipi wanita itu dengan telapak tangannya, menghapus setitik air mata yang mulai keras kepala merembes di sudut matanya.
"Malam ini aku di sini, seutuhnya untuk kamu. Kita nikmati saja waktu yang ada sekarang."
Perempuan itu mengangguk pelan, meski senyuman yang terukir di bibirnya tampak samar dan dipaksakan. Ia kembali menyandarkan kepalanya di dada Arsen, mendengarkan detak jantung pria itu yang terasa begitu nyata.
"Iya mas." Angguk perempuan itu pelan.
Dua kata yang terucap dari bibirnya terdengar begitu pasrah, mengalir bersama embusan napas yang sarat akan penerimaan.
Ia tidak ingin merusak suasana malam ini dengan tuntutan yang egois atau tangisan yang justru akan membuat Arsen merasa tidak nyaman.
Di dalam posisinya sebagai yang kedua, ia sadar betul bahwa senyuman adalah satu-satunya mata uang yang bisa ia gunakan untuk menahan Arsen sedikit lebih lama di sisinya.
Ia memejamkan mata, meresapi kehangatan telapak tangan Arsen yang masih setia menangkup kedua pipinya. Sentuhan itu begitu lembut, seolah-olah Arsen sedang memegang sesuatu yang sangat rapuh dan berharga.
Perempuan itu meletakkan tangannya di atas tangan Arsen, menggenggamnya erat, mencoba menyalurkan seluruh rasa cinta yang ia miliki, cinta yang besar, namun harus tumbuh subur di dalam ruang gelap yang tersembunyi dari dunia luar.
Arsen menatap lekat-lekat wajah di hadapannya. Ada kelegaan yang samar di matanya saat melihat wanita itu memilih untuk mengalah pada keadaan.
Arsen menarik tubuh ramping itu kembali ke dalam pelukannya, mendekapnya erat seolah ingin mengusir segala keraguan dan rasa bersalah yang sempat merayap di antara mereka.
Di balik punggung wanita itu, jemari Arsen bergerak mengusap lembut, menciptakan ritme menenangkan yang perlahan-lahan menghalau ketegangan.
Ruangan itu kembali diselimuti oleh keheningan yang intim. Hanya terdengar suara pendingin ruangan yang berdesing halus, bersahut-sahutan dengan detak jarum jam dinding yang terus bergerak maju tanpa ampun.
Setiap detik yang berlalu terasa begitu berharga, sekaligus menjadi pengingat yang kejam bahwa waktu mereka malam ini sangatlah terbatas.
Sebelum fajar menyingsing dan menyinari sudut-sudut kota, Arsen harus sudah merapikan pakaiannya, menghapus segala jejak wewangian di tubuhnya, dan kembali menjadi pria lain bagi wanita lain di rumah yang berbeda.
Perempuan itu menyandarkan telinganya tepat di atas dada bidang Arsen. Di sana, ia bisa mendengar detak jantung Arsen yang berdegup dengan. Baginya, suara detak jantung itu adalah melodi paling menenangkan sekaligus paling menyakitkan, sebuah bukti nyata bahwa pria yang sangat ia cintai ini ada di sini, memeluknya, namun tidak akan pernah bisa ia miliki sepenuhnya.
Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Arsen yang maskulin, mencoba merekam wewangian itu kuat-kuat di dalam ingatannya agar bisa menjadi penawar rindu saat hari-hari sepi kembali datang menyergapnya besok.
Jauh di dalam lubuk hatinya, ia kerap bertanya-tanya sampai kapan hubungan rahasia ini akan bertahan.
Berapa banyak lagi kebohongan yang harus Arsen susun untuk Rindu, dan berapa lama lagi ia harus menyembunyikan statusnya dari dunia luar?
Namun, setiap kali pertanyaan-pertanyaan itu muncul ke permukaan, ia selalu buru-buru menepisnya.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰