Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Masih Terjebak
Setelah memutuskan untuk menunda eksplorasi dungeon, Luc dan Lea akhirnya memilih jalur tangga yang mengarah ke atas.
Awalnya, Luc mengira mereka akan menemukan lorong lain atau setidaknya beberapa ruangan tambahan di sepanjang perjalanan. Namun kenyataannya jauh lebih membosankan. Sejak meninggalkan lubang besar tempat mereka menemukan dungeon, yang mereka lihat hanyalah tangga batu yang terus menanjak tanpa henti.
Mula-mula tangga itu lurus seperti lorong biasa. Namun semakin tinggi mereka berjalan, jalurnya mulai berputar mengelilingi dinding batu seperti spiral raksasa yang seolah tak memiliki ujung.
"Aku mulai curiga orang yang bikin tempat ini dibayar berdasarkan jumlah anak tangga," keluh Luc sambil memaksakan diri menaiki satu anak tangga lagi.
Lea, yang berjalan di belakangnya, mengembuskan napas panjang.
"Kamu udah ngomong itu tiga kali," tegurnya sambil menggeleng pelan.
"Karena tangga ini kayak nggak ada habisnya," protes Luc tanpa menoleh.
"Kita baru jalan satu jam," timpal Lea datar.
"Satu jam menanjak naik bukan waktu yang bentar!" seru Luc frustrasi.
Lea hanya memijat pelipis. Biasanya ia menganggap keluhan Luc sebagai kebiasaan yang tak perlu ditanggapi serius. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Langkah Luc tampak semakin berat. Napasnya mulai tak teratur. Bahkan beberapa kali tubuhnya terlihat oleng saat menaiki tangga.
"Luc," panggil Lea sembari mempercepat langkah hingga sejajar dengannya.
"Hm?" gumam Luc pelan.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya, menatap wajah Luc dengan cemas.
"Aman kok," jawab Luc singkat.
Lea membalasnya dengan tatapan datar. "Kamu kelihatan kayak orang yang sebentar lagi tumbang."
"Aku cuma capek," kilah Luc.
"Kalau udah ga kuat kita istirahat dulu," balas Lea.
Luc hanya terkekeh pelan, meski tawanya terdengar lemah.
Mereka kembali berjalan beberapa menit tanpa banyak bicara. Namun kondisi Luc semakin sulit diabaikan. Wajahnya mulai pucat, langkahnya tak lagi setegap sebelumnya, dan beberapa kali ia harus menyentuh dinding batu demi menjaga keseimbangan.
Pada akhirnya, Lea tak bisa lagi berpura-pura tidak melihatnya. "Luc, kita istirahat dulu," putusnya tegas sambil menghentikan langkah.
"Nggak usah," tolak Luc cepat.
Lea langsung mengernyit. "Kamu serius?"
"Iya."
"Kamu hampir jatuh tiga kali."
"Itu cuma hampir," bantah Luc.
Lea menunjuk wajahnya dengan kesal. "Dasar keras kepala! Apa kamu mau pingsan di jalan?!" bentaknya hingga suaranya bergema di sepanjang tangga.
Luc meringis sambil mengusap telinganya. "Jangan berteriak tiba-tiba!" protesnya.
"Aku serius!" balas Lea.
"Aku juga serius," ujar Luc tak kalah keras. Ia terdiam sejenak sebelum mendongak ke arah puncak tangga. "Sebentar lagi harusnya kita sampai di pintu keluar," lanjutnya.
Lea memandangnya tak percaya. "Kenapa kau seyakin itu?" tanyanya sambil melipat kedua tangan di dada.
Luc terdiam cukup lama. Sebenarnya, ia sendiri tak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya.
Sejak tadi ada firasat aneh yang terus mengusik benaknya. Seolah ada sesuatu yang memanggil dan menariknya untuk terus naik. Perasaan itu tak bisa dijelaskan dengan logika, tetapi terasa begitu nyata.
"Firasat," jawab Luc akhirnya sambil mengangkat bahu.
Lea langsung memegangi dahinya. "Itu alasan paling nggak meyakinkan yang pernah kudengar."
"Mungkin," gumam Luc.
"Mungkin katamu...?" ulang Lea tak habis pikir.
Luc hanya tersenyum tipis sebelum kembali melanjutkan langkah. Anehnya, semakin tinggi mereka mendaki, firasat itu justru semakin kuat. Sampai akhirnya sebuah cahaya muncul di kejauhan.
Luc menyipitkan mata. "Itu dia," gumamnya sembari mempercepat langkah.
Lea yang menyadari keberadaan cahaya itu membelalakkan mata. "Kamu bener..." bisiknya pelan.
Mereka berdua mempercepat langkah menuju sumber cahaya tersebut. Bahkan Luc yang sebelumnya hampir tumbang tampak memperoleh semangat baru.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya melewati anak tangga terakhir.
Angin segar langsung menerpa wajah mereka.
Luc memejamkan mata sesaat dan menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia kembali merasakan udara luar. Namun rasa lega itu tak bertahan lama. Begitu membuka mata, ekspresinya langsung membeku.
Lea yang berdiri di sampingnya pun ikut terdiam.
Mereka ternyata tidak keluar di permukaan. Pintu keluar itu berada di sebuah ceruk batu yang menjorok dari dinding jurang.
Di atas mereka memang terbentang langit biru yang luas. Tepian jurang juga terlihat jelas. Masalahnya, jaraknya masih cukup jauh, kurang lebih mungkin sekitar sepuluh meter. Terlalu tinggi untuk dijangkau dengan lompatan biasa. Yang lebih buruk lagi, tak ada jalan untuk naik.
Lea menatap ke atas cukup lama sebelum akhirnya menoleh kepada Luc.
"Luc," panggilnya pelan.
"Hm?" sahut Luc tanpa mengalihkan pandangan dari tebing.
"Kurasa firasatmu cuma setengah benar."
Luc mengembuskan napas panjang. "Iya."
Lea kembali mendongak ke arah tepian jurang yang masih jauh di atas mereka.
"Terus sekarang gimana?" tanyanya sambil menggaruk pipi.
Luc berpikir beberapa saat. Ia membuka mulut seolah hendak menjawab, lalu menutupnya kembali karena tak menemukan solusi yang masuk akal.
Pada akhirnya, ia hanya mengangkat kedua tangan. "Aku nggak tahu," akunya pasrah.
Lea langsung memijat pelipis.
Sementara itu, Chiron yang sejak tadi memperhatikan keadaan mereka akhirnya menghela napas pelan.
"Selamat, Tuan," ucapnya dengan nada formal seperti biasa.
Luc segera menoleh. "Apanya yang selamat?" tanyanya curiga.
"Anda berhasil menemukan jalan keluar dari dungeon," jelas Chiron.
Luc menunggu beberapa detik. "Dan?" desaknya.
"Anda masih terjebak di jurang," lanjut Chiron tenang.
Luc menatapnya datar. "Terima kasih. Informasi itu sangat membantu," sindirnya.
"Sama-sama, Tuan," balas Chiron tanpa sedikit pun perubahan nada.
Entah kenapa, jawaban itu justru membuat Luc semakin ingin melempar sesuatu ke arah mentornya.
Sementara itu, di atas mereka, langit biru yang selama ini terasa begitu jauh kini tampak begitu dekat... dan pada saat yang sama terasa mustahil untuk dijangkau.