NovelToon NovelToon
Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Healing / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24

Teman, Bukan Pacar

Gerakan itu kecil sekali.

Kalau bukan karena semua orang di ruangan sedang menahan napas, mungkin tidak ada yang melihatnya.

Namun Sekar melihat.

Rio juga melihat.

Ardian tentu paling merasakannya.

Ujung jari kaki kirinya bergerak sedikit, lalu kembali diam di bawah selimut tipis. Bukan keajaiban besar. Bukan adegan seseorang tiba-tiba berdiri. Hanya gerakan kecil, sangat kecil, tetapi cukup untuk membuat mata Rio menyala seperti dokter yang baru menemukan pintu di tembok.

"Jangan dipaksa," kata Rio cepat. "Jangan coba ulang sekarang. Sekali saja cukup. Aku butuh catatan lengkap, pemindaian lanjutan, dan kamu harus istirahat."

Sekar mengangguk berkali-kali. "Saya catat. Tidak dipaksa. Tidak diulang. Istirahat."

Ardian menatapnya. "Kamu yang lebih gugup."

"Karena pasiennya suka menyembunyikan informasi tiga kilometer."

Rio menunjuk Sekar. "Aku setuju."

Ardian memalingkan wajah.

Setelah Rio keluar untuk mengurus laporan medis, ruang VIP menjadi lebih sunyi. Darren masih belum boleh masuk karena proses "pemulihan martabat dan kebersihan", jadi hanya ada Sekar dan Ardian.

Sekar duduk di kursi samping ranjang. Lampu rumah sakit lembut, tetapi membuat wajah Ardian terlihat lebih pucat.

"Pak Tan," katanya pelan, "tadi kamu bilang orang yang tepat juga bisa menjadi obat."

Jari Ardian di atas selimut bergerak sedikit.

"Aku bilang begitu?"

"Pak Tan tidak setua itu sampai lupa lima belas menit lalu."

Ia diam.

Sekar menatap ujung sepatu sendiri. "Saya tidak tahu saya bisa jadi obat atau tidak. Saya bukan dokter. Saya juga sering membuat masalah."

"Sering."

"Terima kasih atas konfirmasi yang tidak diperlukan."

Ardian hampir tersenyum, tetapi menahannya.

Sekar menarik napas. "Tapi saya tahu satu hal. Kita bukan cuma majikan dan pengasuh."

Ardian menoleh.

Kalimat itu membuat dadanya berhenti setengah detik.

Sekar menatapnya sungguh-sungguh. "Kita juga teman."

Detik berikutnya, sesuatu di wajah Ardian membeku.

Teman.

Kata itu jatuh seperti stempel dingin.

Sekar tidak menyadarinya. Ia masih bicara dengan tulus, matanya hangat.

"Teman itu tidak akan meninggalkan saat tahu rahasia buruk. Teman juga tidak akan diam kalau temannya sakit. Jadi Pak Tan jangan merasa semua harus ditanggung sendiri."

Ardian menatapnya lama. "Teman."

"Iya."

"Kamu punya banyak teman?"

"Tidak terlalu banyak. Tapi saya menjaga yang ada."

"Kamu pernah pacaran dengan teman?"

Sekar berkedip, lalu tertawa kecil. "Tidak. Saya tidak pacaran dengan teman. Nanti kalau putus, teman juga hilang. Rugi dua kali."

Ruang VIP menjadi sangat hening.

Di wajah Ardian, semua cahaya kecil yang baru muncul seolah ditutup pintu besi.

Sekar akhirnya sadar ada yang salah. "Pak Tan?"

Ardian menekan tombol kursi roda yang diparkir di samping ranjang. "Aku mau keluar."

"Sekarang?"

"Sekarang."

"Rio bilang istirahat."

"Aku butuh udara."

Ia pindah ke kursi roda dengan bantuan minimal, gerakannya terlatih tetapi kaku. Sekar baru berdiri hendak membantu lebih dekat ketika kursi roda elektrik itu sudah bergerak menuju pintu.

"Pak Tan, pelan!"

Kursi roda melaju keluar dari kamar VIP lebih cepat dari biasanya, tidak sampai berbahaya, tetapi cukup membuat perawat di koridor menoleh.

Sekar berdiri di ambang pintu, bingung.

Rio muncul dari ujung lorong membawa map. "Kenapa dia kabur?"

Sekar menjawab jujur, "Saya bilang kami teman."

Rio berhenti.

"Lalu?"

"Saya bilang tidak pacaran dengan teman."

Rio menatapnya seperti dokter yang menemukan penyakit baru tetapi tidak tahu harus memberi obat apa.

"Mbak Sekar," katanya akhirnya, "kadang kamu lebih berbahaya daripada petasan Darren."

Keesokan paginya, Kevin datang ke RS Samudera dengan dua polisi.

Tidak langsung masuk seperti penjahat sinetron. Ia datang dengan laporan resmi tentang kerusakan properti, kekacauan acara pertunangan, dan dugaan tindakan sengaja dari pihak Tan. Wajahnya masih tampak lelah. Jasnya tentu sudah diganti, tetapi Sekar merasa hidungnya masih mengingat malam sebelumnya.

Bripka Wahyu, polisi yang memimpin, bersikap sopan. "Kami hanya perlu meminta keterangan. Tidak ada penahanan. Semua pihak bisa menjelaskan."

Ia juga menegaskan bahwa laporan kerusakan properti harus disertai rekaman CCTV, daftar kerugian, dan keterangan staf villa. "Kalau ada unsur kelalaian dari pihak acara, itu juga harus dicatat," katanya. Kalimat itu membuat senyum Kevin sedikit menegang, sebab ramp yang tidak disiapkan bisa ikut masuk catatan resmi polisi.

Kevin menunjuk Sekar begitu melihatnya di ruang tunggu VIP. "Dia. Dia yang mengatur semuanya."

Sekar sudah siap.

Rio juga sudah siap.

Sebelum Kevin masuk, Rio menyerahkan satu botol kecil tetes mata steril pada Sekar. "Untuk mata kering," katanya datar.

"Dok, mata saya tidak kering."

"Sebentar lagi mungkin."

Sekar sekarang mengerti.

Ia meneteskan obat itu, berkedip dua kali, dan air mata langsung menggenang. Lalu ia menunduk, memegang tisu, dan berdiri di hadapan Bripka Wahyu dengan wajah perempuan muda yang baru saja melewati trauma pesta orang kaya.

"Pak," katanya lirih, "saya hanya pengasuh. Semalam saya diminta masuk ke ruang rias, lalu mendengar suara ledakan. Saya takut sekali."

Kevin membelalak. "Takut? Kamu mengikat tali sepatuku!"

Sekar menatapnya dengan mata basah. "Saya takut Pak Kevin jatuh karena tali sepatu lepas. Saya membantu."

"Membantu? Itu simpul mati!"

Rio langsung menyela dengan suara profesional. "Pak Bripka, pasien kami baru menunjukkan respons saraf awal. Tekanan emosional bisa memengaruhi pemulihan. Mohon pertanyaan tidak dilakukan dengan nada intimidatif."

Bripka Wahyu menatap Kevin. "Pak Kevin, pelan-pelan."

Kevin hampir meledak. "Saya yang menjadi korban! Pesta saya hancur, toilet saya meledak, saya dipeluk orang bau, lalu tali sepatu saya diikat!"

Darren yang akhirnya bersih dan duduk di pojok mengangkat tangan kecil. "Saya juga korban toilet."

"Diam!" Kevin menunjuknya.

Sekar langsung mundur setengah langkah, air mata menetes sempurna.

Rio menatap Kevin seolah ia baru saja membuktikan semua tuduhan tentang intimidasi.

Bripka Wahyu menulis sesuatu di buku catatan.

Kevin melihat itu dan wajahnya berubah putus asa. "Pak Polisi, saya satu-satunya korban di sini!"

Darren berbisik, "Toiletnya juga korban."

Ardian yang sejak tadi diam di kursi roda dekat jendela menutup mulut dengan punggung tangan.

Sekar tidak tahu apakah ia batuk atau tertawa.

Tetapi ketika polisi akhirnya memutuskan semua pihak hanya akan dimintai keterangan lanjutan secara terpisah dan tidak ada tindakan mendesak hari itu, Kevin keluar dari RS Samudera dengan wajah hampir sama hancurnya seperti toiletnya semalam.

Sekar menghapus tetes mata dari pipinya.

Ardian menatapnya dari jauh.

"Kamu sangat pandai menangis."

"Terima kasih. Ini demi teman."

Kata itu membuat wajah Ardian kembali dingin sedikit.

Teman.

Sekar tidak pacaran dengan teman.

Ardian memutar kursi rodanya ke arah jendela, sementara di belakangnya Rio menahan tawa sampai bahunya bergetar.

1
sunaryati jarum
Beruntungnya kamu Sekar dicintai Tan Ardian dengan ugal-ugalan
sunaryati jarum
Itu juga emak nanti, Tante Nana yang ikut bulan madu sudah ada isi orok rahimnya
sunaryati jarum
Akhirnya kembali
sunaryati jarum
Tiga puluh negara berapa bulan tuh
sunaryati jarum
Itu aturan kamu lho mengganti kata maai😃😃
sunaryati jarum
Bulan madunya keliling dunia
sunaryati jarum
Sepertinya mau berbaikan dan balikan
sunaryati jarum
Semoga mereka . balikin lagi jadi suami istri dan kepulangan dari bulan madu ada kabar gembira dari Budiman Sekar, kecebong Tan Ardian ada yang tumbuh di rahim Sekar
sunaryati jarum
Perjuangan keluarga untuk mendapatkan pendengaran Ibu Melina berhasil
sunaryati jarum
Selamat akhirnya menikah cepat
sunaryati jarum
Nah gitu ,jika sudah menikah dimana pun tinggal bisa tidur bersama
sunaryati jarum
Maka segera nikahin Sekar, Setelah semua urusan hukum Kevin, Yenni,dan Felicia selesai
sunaryati jarum
Ternyata kau mempelajari bahasa dengan sungguh sungguh
sunaryati jarum
Bravo Ardian ,calon menantu idaman
sunaryati jarum
Dalam tidur saja kalau sudah bucin , yang teringat hanya Ardian
sunaryati jarum
Tan Hendrawan hanya bisa menyesal dan meratapi kebodohannya
sunaryati jarum
Nah Kevin dan Violeta yang merasa aman,akan diminta pertanggungjawabannya
sunaryati jarum
Ardian sudah mengumumkan pacarnya siapa
sunaryati jarum
Ingin merebut milik Tan Ardian,Kevin.Yang ada kehancuran kamu
sunaryati jarum
Dengan cinta semangat bangkit kembali ,Tan Ardian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!