Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
Ternyata bukan hanya Georgina saja, karena sesaat setelah kedatangan wanita itu, Ibnu pun muncul di restoran dan ikut bergabung di meja mereka. Kini Leon sadar bahwa semua telah disetting dengan sedemikian rupa oleh Reka. Situasi saat ini seolah mencerminkan suasana double det. Mood Leon berubah seketika, namun ia tetap berusaha mempertahankan raut datar di wajahnya.
Georgina terlihat santai, wanita itu tak menaruh curiga sedikitpun bahwa di acara makan siang bersama mereka kali ini ada hal mengejutkan yang akan didengarkannya, berbeda dengan Ibnu yang sebelumnya telah mengetahui kebenaran tentang hubungan Leon dan Reka yang dahulunya merupakan pasangan suami-istri.
"Sayang....kamu mau pesan apa?." Georgina bertanya pada Leon yang kini duduk bersebelahan dengannya.
"Terserah kamu saja!."
"Baiklah kalau begitu." Georgina lantas menyamakan makanan pesanan Leon dengan makanan yang dipesannya.
Georgina memandang pada Reka yang masih betah menatap buku menu di tangannya.
"Kamu belum membuat pesanan, Reka?."
Reka yang aslinya hanya berpura-pura sibuk menatap buku menu, akhirnya mengangkat pandangannya.
"Saya pesan yang ini dan minumnya yang ini saja, mbak" Reka menunjuk menu yang dimaksud pada pelayan. Setelahnya, ia menatap Ibnu. "Mas Ibnu mau pesan apa?."
"Mas....dia bahkan memanggil pria ini dengan sebutan mas." Batin Leon sambil melirik pada Reka. Ada rasa tak suka dari sorot mata Leon saat mendengar kosa kata 'mas' yang terucap dari mulut Reka untuk Ibnu, dan Reka menyadari hal itu. Namun, wanita itu berpura-pura tidak menyadarinya.
"Samakan saja dengan punya kamu."
"Baik."
Sejak tiba hingga detik ini, Ibnu lebih banyak diam. Hanya sesekali terdengar menjawab apabila ada yang bertanya, setelahnya pria itu akan kembali diam.
Georgina baru mengetahui kabar tentang kedekatan Reka dan Ibnu dari obrolan beberapa pegawai Leon saat ia berkunjung ke perusahaan kemarin.
Di tengah waktu senggang menanti pesanan datang, hanya Georgina yang terdengar aktif bersuara.
"Aku kangen banget sama baby Richard. Eh... kapan-kapan boleh ya kita jalan-jalan bareng baby Richard." Georgina menatap Reka.
"Tentu saja boleh."
"Ingat ya pak Ibnu, kalau menjalin hubungan dengan wanita yang telah memiliki seorang anak, anda tidak boleh hanya menyayangi ibunya saja, tapi harus juga menyayangi anaknya!." Georgina sudah menganggap baby Richard seperti keponakannya sendiri, maka tak heran bila wanita itu berpesan demikian pada Ibnu.
"Anda tidak perlu khawatir Nona Georgina! Jika Tuhan mentakdirkan saya berjodoh dengan Reka, saya pasti akan menyayangi putranya Reka layaknya anak kandung sendiri."
Entah mengapa, kalimat Ibnu itu justru memancing rasa kesal dihati Leon.
"Baby Richard masih memiliki ayah kandung yang pastinya dapat memberikan kasih sayangnya dengan sepenuh hati."
Bukan hanya Georgina yang menoleh, Reka pun langsung menoleh pada Leon saat mendengar pria itu tiba-tiba berkata demikian.
"Memangnya kamu kenal dengan ayah kandungnya baby Richard, sayang?." Georgina menatap Leon. Panggilan sayang hanya berani diucapkan wanita itu bila ada orang lain diantara mereka, karena bila mereka hanya berdua saja, Leon pasti akan menegurnya.
Pertanyaan Georgina berlalu begitu saja dengan kedatangan pelayan yang hendak menyajikan pesanan.
"Selamat menikmati hidangan kami!." Kata pelayan setelah selesai menyajikan hidangan, sebelum sesaat kemudian pamit undur diri untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Waktu istirahat makan siang hampir selesai, sebaiknya kita segera makan!." Reka sengaja berkata demikian karena sudah tak sabar ingin segera menyampaikan sesuatu setelah makan siang selesai nanti.Ya, Reka sengaja menunggu makan siang selesai, karena ia tak ingin sampai menghilangkan selera makan mereka, terkhusus Georgina.
Tiga puluh menit kemudian, mereka pun telah selesai menikmati makan siang masing-masing.
"Sungguh, sejak tadi aku sangat penasaran, Reka. Jangan bilang kamu ingin menyampaikan tentang hari pernikahan kalian." Georgina terkekeh geli, bukan mengolok, tapi lebih pada menggoda teman baiknya itu. Ya, teman baik, Walaupun mereka belum lama saling mengenal, Georgina telah menganggap Reka sebagai teman baiknya.
Tubuh Reka kembali menegang. Kini sudah saatnya ia berterus-terang dihadapan Georgina tentang hubungannya dengan Leon di masa lalu.
"Geo..."seru Reka pelan.
"Iya Reka ku sayang....Ada apa?." Georgina masih membalas dengan nada setengah bercanda.
"Apa kamu masih ingat, aku pernah mengatakan padamu bahwa aku telah berpisah dengan Daddy-nya baby Richard?."
"Tentu saja aku masih ingat, saat itu aku bahkan penasaran dengan sosok pria yang telah melepaskan wanita secantik kamu. Hanya saja nggak berani bertanya, takut kamu tersinggung soalnya, hehehe..." Si polos Georgina masih sempat-sempatnya terkekeh kecil.
"Mas Leon atau lebih tepatnya tuan Leonardo Fernandez, dialah mantan suamiku, Daddy-nya baby Richard."
Deg.
Georgina terpaku mendengarnya, sisa kekehan kecil di bibirnya pun lenyap tak berbekas. Sesaat kemudian, wanita itu pun menoleh pada Leon. Anggukan Leon membuktikan padanya bahwa Reka tidak sedang bercanda.
Reka menggenggam tangan Georgina yang berada di atas meja.
"Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk menutup-nutupi hal ini darimu, Georgina, aku hanya sedang mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya agar tidak sampai menimbulkan kesalahpahaman diantara kita."
Menyadari raut wajah Ibnu yang nampak biasa saja, Georgina pun menyadari bahwa dalam hal ini hanya dirinya yang baru mengetahuinya. Georgina merasa menjadi manusia paling bodoh. Kini ia kembali teringat pada wajah baby Richard yang begitu mirip dengan wajah Leon. Mana mungkin ada kebetulan yang terlalu kebetulan.
Georgina tersenyum namun senyuman itu tak sampai ke matanya. Itu hanyalah sebuah senyuman seolah mengakui dirinya terlalu naif atas apa yang terlihat dengan kasat mata. Georgina jadi bingung sendiri, apakah ia harus kecewa atau justru berterima kasih atas kejujuran Reka.
"Jujur, aku sangat syok dengan pengakuan kamu ini, namun aku pun tidak bisa menyalahkan masa lalu karena itu semua terjadi sebelum aku mengenal Leon. Tetapi, aku berharap masa lalu tidak akan menjadi alasan bagi kalian untuk mengkhianati pasangan kalian masing-masing. Dan untuk baby Richard, sebagai calon istri Leon, aku pasti akan menerima keberadaannya layaknya anak kandung sendiri."
Air mata Reka langsung jatuh membasahi pipi. Sikap Georgina yang sebaik dan setulus inilah yang membuat Reka merasa harus menjaga perasaan wanita itu.
Reka bangkit dari duduknya dan menghampiri Georgina.
Georgina pun ikut bangkit dari duduknya dan menyambut pelukan Reka.
"Terima kasih....dan maaf karena aku terlambat mengungkapkan semua ini padamu." Ungkap Reka.
Leon hanya menghela napas melihat interaksi keduanya. Ia tak dapat berkata apa-apa. Juga tak dapat menjanjikan apapun pada Georgina yang notabenenya adalah calon istrinya, karena kenyataannya ia tidak memiliki perasaan apapun pada wanita itu. Rencana pernikahan mereka murni perjodohan orang tua.
Reka mengurai pelukannya, menatap Georgina. "Aku harap kamu tidak pernah berpikir bahwa aku berniat merebut mas Leon darimu, karena aku tidak berniat sedikitpun untuk melakukannya. Kedepannya, hubungan di antara kami hanyalah sebatas orang tua bagi baby Richard, tidak lebih." Reka ingin meyakinkan Georgina bahwa hubungan wanita itu bersama Leon tetap akan berjalan dengan semestinya, yakni calon pasangan suami-istri yang sebentar lagi akan segera meresmikan hubungan ke jenjang pernikahan.