NovelToon NovelToon
Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: Oceanluv_

Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.

Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.

Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Kak Zak!"

"Hm?"

"Kak Zak?"

"Ish apasih Din, udah fokus kerjaan aja sono!" kesal Zakia. Pasalnya Pak Jamrud sudah berbicara dari cctv dan bisa dipastikan pria tua satu itu pasti sedang memantau mereka, tapi bocah badung satu ini tidak ada takut-takutnya sedikitpun.

"Yaelah Kak Zak, tumben lo kak! Kenapa sih? Lagi tanggal tua ya?" sahut Dinda. Tangannya dengan cepat memasukkan barang yang dipacking ke dalam kardus, tapi mulutnya tetap berbicara kepada Zakia dan pandangannya melihat ke arah wanita itu.

Zakia menghela nafas dan duduk sebentar, tubuhnya mudah lelah namun pekerjaan yang dia ambil membuat dirinya harus mengesampingkan rasa lelah itu. Dinda yang merasa adanya perubahan dari diri Zakia merasa tidak enak, dengan pelan dia mengambil bon di tangan Zakia dan muali menyiapkan semua barang yang dibutuhkan.

"Kak Zak kalau ga enak badan duduk aja kak, biar gue sama Reza yang nyiapin, entar kita aja yang ngantar barang, kakak di toko aja," kata Dinda.

"Makasih ya Din," ujarnya parau. Sejujurnya Zakia memang sedang merasa tidak enak badan, tubuhnya sedikit meriang dan kepalanya terasa pusing, ini pasti akibat kelelahan dan kurangnya istirahat.

Usai kejadian sial yang menimpa hidupnya, Zakia terpaksa bekerja tanpa kenal lelah agar bisa membantu keuangan ibunya, ayahnya meninggal dalam keadaan ikut meninggalkan hutang, hutang diatasnamakan dengan. nama ibunya, sehingga status ibu yang masih hidup membuat mereka harus menanggungnya.

Syukurnya hutang sang ayah sudah tinggal sedikit lagi dan kini Zakia tinggal mikirkan hutang motor yang belum lunas yang ia miliki. Tubuh Zakia terasa berat kala mengingat betapa besarnya beban yang ia tampung

Ia menyenderkan tubuhnya ke tumpukan karung yang diisi gula, kepalanya diangkat ke atas dan menatap plafon yang berwarna putih bersih.

'Andai aja kemaren ga kayak gini, pasti hidup gue agak lumayan,' gumamnya dalam hati.

"Tapi mau gimana lagi, toh hidup tetap berjalan selagi masih diberi umur," monolognya sambil terkekeh pelan.

"Woy, denger-denger hari ini anak Pak Jamrud, bang Daren pulang." Reza tiba-tiba datang dengan becak barang yang langsung masuk ke dalam gudang.

"SERIUS?" teriak Dinda yang sedang membawa jajanan di pundaknya. Reza dengan sigap mendekati teman wanitanya itu, bisa bahaya jika mereka kelelahan dan berujung libur, bisa-bisa Reza kerepotan jika dua wanita ini tidak datang.

"Reza lo serius? Bang Daren jadi pulang, akhhh, gue seneng banget!"

Teriakan dan rasa kebahagiaan terdengar jelas dari cara bicara dan intonasi bicara yang dikeluarkan Dinda. Dia sampai menggoyang-goyangkan bahu Reza saking senangnya dengan berita itu.

Tapi tidak dengan Zakia, ia hanya menggeleng saat melihat kelakuan teman kerjanya satu ini. Ia memang tahu kalau Dinda ada rasa kagum terhadap anak token mereka satu itu, entah itu kagum atau suka atau cinta Zakia juga tidak paham, yang penting ketika Dinda berbicara mengenai Daren maka dia akan semangat empat lima, lebih semangat dari pada saat bekerja.

"Emangnya kapan pulangnya Za?" sahut Zakia.

"Katanya sih bentar lagi nyampe kak," jawab Reza. Begitu mendengar berita itu, mata Dinda langsung melotot, Daren bentar lagi sampai? Bentar lagi sampai? Oh my god!

"Beneran bentar lagi nyampe? Ih mana muka gue butek banget, baju juga lagi kotor-kotornya, ihh kenapa sih datengnya waktu gue lagi jadi gembel," keluh Dinda. Kalau begini keadannya kan dia tidak bisa kedip-kedip genit ke pria tampan satu itu.

"Ya suka-suka dialah, dia juga pulkam bukan mau ketemu elo kan dia mau ketemu keluarganya, lo nya aja yang kegeeran, dasar kadal gosong!"

Menyadari betapa merahnya mata Dinda dan sudah dipenuhi api kemarahan, ia cepat naik ke atas becak, menyalakannya dan cepat pergi dari sana. Tak lupa ia mengeluarkan tawa ejekan yang membuat Dinda kesal bukan main.

"Jangan benci-benci banget, entar jodoh tau rasa lo!" canda Zakia.

"Ihh ga mau! Siapa juga yang mau sama orang kayak dia!"

"Ye elo lah, siapa lagi!" sahut Zakia. Tawa renyah tak bisa Zakia tahan saat wajah masam Dinda semakin kecut begitu Zakia mengatakan hal itu.

"Ga mauuu!!" teriak Dinda dan berlari ke luar dari gudang. Zakia hanya tertawa dan mengambil sebagian barang yang ketinggalan lalu pergi menuju toko, gudang mereka ada di tepi jalan besar sedangkan gudang mereka masuk ke dalam gang, tapi jaraknya tidak terlalu jauh sehingga masih memudahkan mereka untuk bolak-balik mengambil barang.

"Din, itu tuh bang Daren udah sampai," kata Reza sambil menyenggol siku Dinda.

Di depan sana sudah terlihat pria dengan tubuh tinggi, kulit kuning langsat, bahu lebar dan tak lupa hidung mancung yang ia miliki, seketika beberapa pembeli yang sedang datang langsung menoleh ke arah pria yang bernama Daren itu.

Pak Jamrud begitu datang langsung memeluk anaknya dan mengusap bahunya pelan. Akhirnya setelah lama merantau ke ibu kota dengan tujuan berkuliah, sang anak kembali ke kampung halaman dan memilih untuk melanjutkan usaha yang sudah diwariskan kepadanya sejak dulu.

"Daren, anak bapak udah gede aja," kata pak Jamrud. Pria yang bernama Daren itu terkekeh pelan, baru lagi rasanya ia diajari naik sepeda oleh ayahnya sekarang pria itu sudah bisa bawa mobil sendiri dan tubuhnya jauh lebih tinggi dan lebih tegap dibanding dengan ayahnya.

"Bunda mana?"

"Ini! Bunda di sini! Nih makan dulu bolu pisang kesukaan Daren, bunda sengaja bikin tadi pagi biar kamu makan masih enak." Bu Lili ke luar dari dalam toko dengan sepiring bolu pisang di tangannya, satu suapan ia berikan kemudian ia memeluk anaknya dan menangis penuh haru.

"Bang Daren disayang banget ya sama keluarganya," gumam Reza sembari mengikat barang yang sudah disusun dibecak.

"Hooh, tapi emang pak Jamrud sama bu Lili kayaknya tipe orang tua yang soft gitu deh, toh ke kita juga mereka baik banget, pdahal cuman karyawan, apalagi ke anak sendiri, keluarga mereka pasti cemara banget, ya kan kak Zak?" tanya Dinda.

Zakia mengangguk setuju, melihat bagaimana cara pak Jamrud dan bu Lili memperlakukan mereka, otomatis perlakuan yang lebih baik bakal disalurkan ke anak kandung mereka sendiri.

"Duh gue kalau jadi menantunya bu Lili bakal beruntung kayaknya, dapat kakak ipar yang baik, suami idaman, mertua apalagi, beuh keknya hidup gue bakal sejahtera," kata Dinda.

Bibirnya tidak bisa menahan senyuman yang akan ke luar, senang rasanya membayangkan hal yang tidak akan terjadi, bagaimanapun Dinda juga sadar diri dengan statusnya, tidak mungkin dia bisa bersanding dengan Daren, dia hanya kagum toh dia juga penasaran siapa wanita yang akan berhasil menjadi pendamping hidup sang pria pujaan hatinya itu.

1
Oceanluv_
Hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!