NovelToon NovelToon
Tawanan Hati Sang Don Mafia

Tawanan Hati Sang Don Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.

Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.

Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.

Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.

Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7 : Pria Aneh

Aurora mengusap hidungnya pelan sambil mengerutkan kening. "Aneh... kenapa rasanya seperti ada yang sedang membicarakanku?"

Isabel yang sedang menuangkan teh hangat hanya tersenyum tipis. "Mungkin karena cuaca sedang dingin, Nona."

Aurora menggeleng pelan. "Entahlah."

Pandangannya beralih ke berbagai hidangan yang memenuhi meja kecil di kamarnya. Roti panggang, telur, buah segar, sup hangat, hingga beberapa jenis kue yang bahkan belum pernah ia lihat.

"Apa semua ini untukku?"

"Iya."

Aurora langsung mengangkat kedua tangannya. "Astaga... sebanyak ini? Aku makan untuk satu orang, bukan satu keluarga."

Isabel terkekeh pelan. "Itu sudah menjadi kebiasaan di keluarga Moretti."

Aurora mengambil sepotong roti. "Kalau setiap hari seperti ini, aku bisa gemuk."

"Don mengatakan Anda terlalu kurus."

Aurora yang baru saja menggigit roti langsung tersedak. "Uhuk... uhuk... Apa?"

Isabel segera memberikan segelas air.

Aurora meminumnya dengan cepat sebelum menatap Isabel. "Dia bilang aku kurus?"

Isabel mengangguk polos. "Don memerintahkan dapur menyiapkan makanan bergizi untuk Anda."

Aurora menghela napas panjang. "Pria itu benar-benar suka ikut campur."

Sementara itu...

Di ruang kerja, Johan masih berdiri di depan meja Adrian.

"Don."

"Ada satu hal lagi."

Adrian mengangkat pandangannya. "Apa?"

Johan membuka halaman terakhir dari map hitam itu. "Menurut penyelidikan kami... utang Maria Laurent sebenarnya tidak sebesar itu."

Adrian mengernyit. "Maksudmu?"

"Biaya pengobatan hanya sekitar seratus lima puluh ribu franc."

"Lalu sisanya?"

Johan menarik napas. "Rentenir itu terus menaikkan bunga secara ilegal. Setiap kali Nona Aurora membayar, jumlah utangnya justru bertambah."

Brak!

Telapak tangan Adrian menghantam meja. Suara benturan itu menggema di seluruh ruangan. Tatapan Johan langsung berubah serius. Sudah lama ia tidak melihat Don mudanya semarah ini.

"Mereka mempermainkan seorang wanita yang bahkan tidak berutang." Suara Adrian terdengar sangat dingin. "Siapa pemimpin kelompok rentenir itu?"

"Namanya Matias Haas. Dia bekerja sama dengan organisasi kecil yang berada di bawah perlindungan keluarga Dragovic."

Mendengar nama Dragovic, sorot mata Adrian berubah tajam.

"Ternyata dia lagi?"

"Ya, Don... sepertinya mereka mulai sudah berani menyentuh wilayah kita."

Adrian berdiri perlahan. "Batalkan rencana pelunasan."

Johan tampak terkejut. "Don? Bukankah Anda tadi....aku berubah pikiran." Adrian berjalan mendekati jendela. "Kalau aku hanya melunasi hutangnya. Besok akan muncul korban berikutnya." Ia menoleh ke arah Johan. "Sudah saatnya kelompok rentenir itu menghilang dari Zurich."

Johan langsung memahami maksud pemimpinnya. "Perintah diterima."

"Kumpulkan seluruh informasi tentang Matias Haas. Aku ingin tahu semua bisnisnya. Tempat persembunyiannya, anak buahnya. Sampai rekening banknya."

"Baik, Don."

"Dan..."

Johan kembali berhenti.

"Jangan ada satu pun dari mereka yang tahu kalau Aurora berada di markas ini."

"Saya pastikan tidak ada informasi yang bocor."

Adrian mengangguk pelan.

Di lantai tiga...

Aurora baru saja selesai sarapan ketika Isabel datang membawa beberapa kotak pakaian.

"Nona."

"Silahkan memilih."

Aurora melihat isi kotak itu. Di dalamnya terdapat beberapa stel pakaian kerja yang elegan namun sederhana.

"Kata Don Adrian, hari ini Anda harus ikut ke mansion."

Aurora langsung menghela napas panjang. "Dia bahkan sudah mengatur jadwalku."

Isabel tersenyum kecil. "Don memang seperti itu."

Aurora mengambil salah satu kemeja putih dan rok hitam. "Kalau aku menolak?"

Isabel menjawab dengan tenang. "Don Adrian kemungkinan akan datang sendiri ke sini."

Aurora langsung menutup matanya. "Lagi-lagi begitu."

Ia benar-benar mulai menyadari satu hal. Selama berada di bawah atap keluarga Moretti. Tidak ada seorang pun yang bisa mengubah keputusan Adrian Moretti, bahkan dirinya sendiri.

Aurora hanya bisa mengembuskan napas panjang. "Baiklah... daripada dia benar-benar datang ke sini."

Isabel tersenyum tipis. "Keputusan yang bijaksana, Nona."

Aurora mendengus pelan sebelum membawa pakaian itu ke kamar mandi.

Sekitar tiga puluh menit kemudian...

Pintu kamar kembali terbuka.

Isabel yang sedang menunggu di luar sempat terdiam beberapa detik. Aurora kini mengenakan kemeja putih lengan panjang yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan rok span hitam selutut serta sepatu pantofel hitam sederhana. Rambut panjangnya diikat menjadi ekor kuda rendah sehingga wajahnya terlihat semakin segar.

Bekas tamparan di pipinya memang masih terlihat samar, tetapi salep yang diberikan semalam membuat kemerahannya jauh berkurang.

"Nona terlihat cantik," puji Isabel tulus.

Aurora tersenyum canggung. "Ini bahkan pakaian paling mahal yang pernah kupakai."

"Itu memang dipilih langsung oleh Don."

Aurora langsung memijat pelipisnya. "Dia lagi..."

Isabel hanya tertawa kecil. "Kalau begitu, mari kita turun."

Aurora mengangguk pelan. Mereka berjalan menyusuri lorong panjang menuju lantai dasar. Setiap pelayan yang berpapasan langsung membungkukkan badan kepada Isabel, lalu tersenyum ramah kepada Aurora.

"Selamat pagi, Nona Aurora."

Aurora menjadi kikuk. "Mereka... menyapaku?"

"Tentu."

"Kenapa?"

Isabel menjawab santai. "Karena Anda adalah tamu Don."

Aurora langsung menggeleng. "Bukan tamu. Lebih tepatnya tahanan."

Isabel hanya tersenyum tanpa berkomentar. Sesampainya di aula utama, Aurora kembali dibuat kagum oleh kemegahan bangunan itu.

Saat itulah, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga utama. Seluruh pelayan yang sedang bekerja langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka serempak membungkukkan badan.

"Selamat pagi, Don."

Aurora ikut menoleh, Adrian berjalan turun dengan langkah tenang. Hari ini ia mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi. Kemeja putih di balik jasnya membuat penampilannya terlihat jauh lebih elegan dibanding malam sebelumnya.

Tatapannya tetap dingin, wajahnya tetap tanpa ekspresi. Namun auranya begitu kuat hingga seluruh aula kembali dipenuhi keheningan. Aurora tanpa sadar memperhatikannya beberapa detik.

"Pria ini... kalau tidak menyebalkan... memang tampan juga." Ia langsung menggeleng pelan. "Astaga, Aurora! Apa yang kau pikirkan?"

Tak lama kemudian Adrian telah berdiri tepat di depan mereka. Tatapannya menyapu penampilan Aurora dari ujung kepala hingga kaki. Beberapa detik... tanpa mengatakan apa pun, Aurora mulai merasa tidak nyaman.

"Mengapa kau melihatku seperti itu?" Adrian akhirnya membuka suara. "Pakaiannya pas."

Aurora berkedip. "Hanya itu?"

Adrian mengangguk singkat. "Ya."

Aurora mendengus pelan. "Kirain ada apa."

Johan yang baru datang hampir saja tersenyum melihat perubahan ekspresi Don mudanya. Ia tahu betul, Adrian sebenarnya sedang memastikan pakaian itu nyaman dipakai Aurora.

Hanya saja... pemimpinnya memang tidak pandai mengungkapkan perhatian dengan kata-kata. Adrian kemudian mengalihkan pandangan kepada Isabel.

"Apakah dia sudah sarapan?"

"Sudah, Don."

"Habis?"

Isabel mengangguk. "Ya."

Adrian terlihat cukup puas.

Aurora langsung melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau ini sebenarnya apa? Dokter? Polisi? Atau pengawas makan?"

Johan spontan menundukkan kepala agar tawanya tidak terdengar. Sementara beberapa pelayan lain saling bertukar pandang. Hanya Aurora yang berani berbicara seperti itu kepada Don mereka.

Namun, hal yang lebih mengejutkan terjadi. Adrian sama sekali tidak marah. Ia justru menjawab dengan tenang.

"Aku hanya memastikan orang yang berada di bawah perlindunganku tidak sakit."

Aurora terdiam sesaat. Entah kenapa, kalimat itu terdengar begitu tulus. Sebelum ia sempat menjawab, Adrian sudah berbalik.

"Kita berangkat."

Aurora mengernyit. "Berangkat ke mana?"

"Mansion."

"Aku belum bilang mau ikut."

Adrian berhenti melangkah, tanpa menoleh ia berkata singkat, "Kau harus ikut."

Aurora langsung mendesah panjang. "Tuh, kan... mulai lagi."

Sambil menggerutu pelan, Aurora akhirnya mengikuti langkah Adrian keluar menuju halaman depan, tempat Rolls-Royce Phantom hitam telah menunggu dengan pintu yang sudah dibukakan oleh para pengawal.

Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, sepasang mata sedang mengamati iring-iringan kendaraan keluarga Moretti dari balik pagar luar markas.

Pria itu segera mengangkat ponselnya. "Bos... Saya baru saja melihat seorang wanita keluar bersama Don Adrian Moretti. Tampaknya... dia adalah gadis yang semalam lolos dari kita."

Sebuah suara berat terdengar dari seberang telepon. "Terus awasi, jangan bertindak gegabah. Kalau informasi ini benar... gadis itu bisa menjadi kelemahan pertama Adrian Moretti."

1
It's me Sky
terimakasih kakak🙏
Arditya
Mafia lali ini seru thoor, kagak kalah seru sama buku sebelumnya👍
Arditya
sukses terus thor, bukunya selalu menceritakan yang tidak membosankan/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!