SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 SEBUAH "TAWARAN"
Tiga hari berikutnya...
Pertengkaran hebat malam itu membuat Pak Diki semakin merasa tak karuan...
Hati dan pikirannya dipenuhi dengan beban SPP Gendis, dipenuhi juga dengan ancaman sang istri untuk berpisah darinya jika ia tak segera mendapatkan uang, atau tak segera mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik.
Akan tetapi, walau hati dan pikirannya penuh dengan beban, ia tetap saja tampil biasa, normal, seolah tak terjadi sesuatu.
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🏘️🏘️🏘️🏘️🏘️🏘️🏘️
Hari ini...
Pak Diki beserta puluhan pekerja bangunan lainnya sedang mengerjakan proyek pembangunan di sebuah komplek perumahan. lokasinya agak jauh dari rumahnya. Tapi lokasi yang agak jauh itu tak membuat Pak Diki dan seluruh pekerja bangunan menjadi kendur semangatnya.
Pak Diki terlihat menguras seluruh tenaganya, saling bantu dengan pekerja lain. Mengangkat material bangunan, mengaduk semen, mengecor tiang, sampai mondar-mandir demi target kerja yang harus dipenuhi.
Tak terasa, jam makan siang pun tiba. Seluruh pekerja bangunan mulai beristirahat. Ada yang duduk-duduk di bawah pohon rindang sambil menikmati kopi dan rokok, ada yang berteduh di dalam salah satu rumah yang sedang dibangun, dan tak sedikit juga yang pergi menuju warung makan terdekat untuk mengisi perut mereka yang terasa lapar.
Sedangkan Pak Diki, hanya duduk di salah satu sudut bangunan yang sedang ia kerjakan. Berteduh dari teriknya matahari siang ini.
Tampak ia mengelap wajah dan leher menggunakan handuk kecil yang selalu menempel di pundaknya itu. Kemudian mengipasi wajahnya dengan topi yang ia pakai.
Saat sedang duduk sendirian itu, salah satu rekan kerjanya datang dengan membawakan segelas kopi panas dan sebungkus rokok untuknya.
"Nih, ngopi dulu Ki." ucap rekan kerja Pak Diki itu, yang bernama Yanto.
"Oh, iya To, makasih." jawab Pak Diki.
"Huuufffttt... Panasnyaaa..." ucap Yanto sambil mulai duduk di samping Pak Diki. Mereka berdua duduk di atas tumpukan semen yang belum dibuka.
"Bagi rokok dong To..." ucap Pak Diki.
"Iya, isap aja Ki." jawab Yanto sambil ia menyeruput kopinya.
Cekrek cekrek! Cekrek!
Suara korek api yang dinyalakan Pak Diki, langsung membakar rokok yang sudah ia minta dari Yanto.
"Ssss... Huuufff..." suara Pak Diki yang mulai menikmati rokok itu. Mengepul tebal asapnya di udara.
"Tumben banget si Hasan gak dateng dari pagi ya..." ucap Yanto kemudian, dan ia juga menyalakan sebatang rokok.
Hasan adalah mandor para pekerja bangunan di proyek perumahan komplek ini.
"Iya, tumben gak dateng pagi tuh orang..." jawab Pak Diki.
"Ya mungkin udah males kali si Hasan buat jadi mandor Ki." lanjut Yanto.
"Males kenapa? Kan emang udah jadi tugas dia buat jadi mandor kita To..." respon Pak Diki.
Yanto sejenak diam, kemudian menghisap rokoknya, dan langsung mengepul asapnya lagi di udara, bercampur dengan asap rokok Pak Diki.
"Ya gimana gak males coba? Si Hasan itu sekarang udah punya usaha baru." kata Yanto.
"Hah? Usaha baru?"
"Iya Ki, punya usaha baru dia sama istrinya."
"Usaha apaan lagi? Bukannya dia udah bangkrut usahanya yang lama itu?" tanya Pak Diki yang mulai penasaran.
"Iya, usaha dia yang sebelumnya punya lapak dagang buah di pasar itu, emang udah bangkrut. Tapi kata orang-orang, dia bikin usaha baru lagi. Usaha rumah makan kalo gak salah."
"Ah, serius kamu To? Punya banyak duit tuh si Hasan. Kan pasti butuh modal gede banget bikin usaha rumah makan To."
"Ya iya lah... Emang kamu pikir murah modal buat usaha rumah makan?"
Sejenak mereka berdua saling diam. Saling menyeruput kopi panas, dan kembali menghisap rokok masing-masing.
"Si Hasan punya duit banyak gitu, gimana caranya ya To?" tanya Pak Diki.
"Ya mana ku tahu Ki, mungkin dia dapet modal dari keluarga istrinya kali." jawab santai Yanto.
"Hemm... Enak banget ya bisa punya uang banyak kayak dia. Mau ngapa-ngapain enak, gak susah, gak bingung kaya kita begini To." kata Pak Diki.
Pak Diki diam sejenak, mengkhayal jika dirinya bisa punya uang banyak seperti mandornya itu.
"Ya di syukuri aja sih Ki, masih beruntung kita bisa dapet kerjaan lagi. Dari pada di rumah terus-terusan, nganggur..." respon Yanto.
"Iya sih, tapi kalo begini terus, kapan bisa jadi kaya To?"
"Hahahaha... Ya mana ku tahu Ki!"
Kembali mereka berdua saling mengobrol, sambil menikmati kopi dan rokok masing-masing. Obrolan mereka berdua ngalor-ngidul. Membicarakan kesulitan hidupnya masing-masing.
"Eh, gimana anak kamu?" tanya Yanto di tengah-tengah obrolan.
"Sehat anakku..." jawab singkat Pak Diki.
"Aku kasihan sih sama anakmu itu Ki. Emang gak bisa berobat?"
"Ya bisa To... Dari baru lahir juga sebenernya bisa langsung di operasi mata anakku itu. Tapi kan kamu tau sendiri, aku gak punya uang."
"Hemm... Sabar ya Ki. Semoga nanti bisa berobat deh anakmu itu. Kasihan anakmu masih SD, tapi gak bisa lihat apa-apa. Pasti belajarnya juga kan jadi susah anakmu itu."
"Iya To... Makasih..."
Setelah mengobrol cukup lama, Yanto hendak menuju ke warung terdekat. Terasa lapar juga perutnya.
"Ki, mau ke warung gak?" tanya Yanto.
"Enggak ah, kamu aja." jawab Pak Diki.
"Bener nih? Aku mau beli gorengan. Buat ganjel perut. Mau nitip gak?"
"Udah, gak usah. Gak laper aku To."
"Hebat banget perutmu Ki... Ya udah, aku ke warung dulu."
"Iya, sana..."
Yanto pun berjalan meninggalkan Pak Diki yang masih duduk di atas tumpukan semen yang belum dibuka.
Kembali Pak Diki menyeruput kopinya yang tinggal sedikit. Dan kembali menyulut rokok yang tadi diberikan oleh Yanto.
Setelah itu, karena jam bekerja sedikit lagi akan kembali dimulai, Pak Diki berdiri dan berjalan, menuju tempat untuk mengaduk semen.
Dengan tenaga yang sedikit sudah pulih, ia tampak cukup cekatan dalam mengolah dan mengaduk bahan-bahan semen itu.
Dan segera pekerja lainnya datang membantu. Mereka semua kembali mengerjakan pembangunan sebuah rumah di komplek tersebut.
.....
.....
Di tengah kesibukan seluruh pekerja bangunan, Pak Diki melihat sebuah mobil berwarna putih datang. Terlihat mobil tersebut masih dalam kondisi baru. Dan mobil itu berhenti tak jauh, di dekat Pak Diki yang masih mengaduk semen itu.
Keluarlah seorang laki-laki yang sudah dikenal oleh Pak Diki dari dalam mobil baru itu. Dia adalah Hasan, sang mandor.
"Gilaaa... Si Hasan udah punya mobil baru lagi aja..." gumam Pak Diki dalam hati.
Terlihat Hasan langsung menghampiri beberapa pekerja, dan mengontrol semua pekerjaan mereka dengan teliti. Hasan tak ingin jika ada salah satu bagian bangunan yang tidak sesuai standar.
Setelah beberapa lama, Hasan berjalan santai mendekati Pak Diki yang masih mengaduk semen, dibantu oleh rekan pekerja lainnya.
Dengan tertawa pelan, Pak Diki sedikit melirik lagi ke arah mobil barunya Hasan.
"Widiiih... Mobil baru nih!" kata Pak Diki.
"Hahaha... Iya dong... Gue gitu loooh..." jawab Hasan dengan ekspresi sedikit sombong.
"Pasti mahal tuh mobil!" kata Pak Diki lagi.
"Hahaha... Iya lah... Yang jelas, lo gak akan mampu beli Ki! Hahaha..."
Sontak, sedikit berubah raut wajah Pak Diki mendengar jawaban Hasan itu.
Sebenarnya, Hasan memang suka bercanda dengan agak sombong pada semua pekerja yang dibawah pengawasannya.
Akan tetapi, kali ini candaan tersebut terdengar agak tak mengenakkan di telinga Pak Diki.
"Halaaah... Sombong banget!" respon Pak Diki, sambil kembali mengaduk semen.
"Ya elaaah... Gitu aja langsung kelihatan sewot lo Ki. Santai aja kaliii..." respon Hasan dengan gaya candaan sombongnya itu.
Hasan merogoh kantong bajunya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok baru. Dan segera ia menyalakan sebatang rokoknya itu.
"Ssss... Huuufff..." suara hisapan rokok Hasan.
"Ki, gimana rumah yang lagi lo bikin? Aman kan?" tanya Hasan kemudian, sambil bertolak pinggang dirinya.
"Aman lah... Tenang aja..." jawab Pak Diki.
"Jangan ngomong aman-aman aja lo Ki... Terakhir kali gua kasih lo kerjaan bikin rumah, kan gak sesuai standar yang diminta sama pemilik rumahnya. Gue gak mau lo ngulang kesalahan yang sama lagi ya! Awas aja lo!"
Ucapan Hasan itu kembali mengingatkan pekerjaan Pak Diki beberapa bulan lalu.
Sempat terjadi hal yang tak diharapkan. Yaitu robohnya sebagian bangunan rumah yang dikerjakan oleh Pak Diki. Membuat sang pemilik rumah marah besar dan menuntut ganti rugi kepada Hasan sebagai mandor.
"Iya-iya... Kali ini aman lah..." jawab Pak Diki dengan agak sedikit kesal. Tapi dirinya juga tak bisa membela diri.
Beberapa saat, Pak Diki terus melanjutkan mengaduk semen. Dan Hasan duduk di sebuah tumpukan papan kayu bangunan di depan Pak Diki.
Sesekali Hasan terlihat menegur beberapa pekerja yang agak malas. Dan sesekali juga ia memuji pekerja yang terlihat semangat.
Lalu, Hasan bertanya sesuatu pada Pak Diki...
"Eh, Ki... Hutang lo dua tahun lalu itu kapan mau dibayar?"
Mendengar pertanyaan itu, Pak Diki seketika berhenti mengaduk semen. Dan ia berjalan mendekati Hasan, lalu duduk di sampingnya.
"Nanti lah, belom punya uang..." jawab Pak Diki.
"Eh Ki, udah dua tahun loh! Dua tahun!" respon Hasan sambil mengarahkan dua jari ke wajah Pak Diki.
"Iya, tau!" jawab Pak Diki agak ketus.
"Gitu melulu lo kalo gue tagih. Ya terus kapan mau dibayarnya?!"
"Ya gak tau, namanya juga belom punya uang."
"Gila lo ya! Seandainya dua tahun lalu itu gue tau kalo lo bakal susah buat bayar, gak bakal gue kasih uang buat minjemin lo Ki!" respon Hasan sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya maaf, habis gimana lagi? Waktu itu kan gue minjem buat bayar pendaftaran sekolah anak gue San!" Pak Diki mencoba membela diri.
"Haaahhh... Dikiii... Dikiii... Hidup lo aja udah susah, malah nyusahin orang lain juga lo!" respon Hasan sambil menepuk agak kencang pundak Pak Diki.
Pak Diki hanya terdiam, sambil merengut wajahnya mendengar ucapan Hasan.
"Eh, ngomong-ngomong, lo mau sesuatu gak?" ucap Hasan kemudian.
"Mau apaan San?" tanya Pak Diki.
"Duit... Duit..." jawab Hasan dengan gestur menggesekkan dua jari telunjuk dan jempolnya di depan wajah Pak Diki.
"Ya mau lah! Siapa juga yang gak mau duit, aneh lo San..."
"Hahahaha... Kalo lo mau, nanti lo dateng aja ke rumah gue Ki."
"Bentar-bentar, lo mau ngasih gue proyek lagi?" tanya Pak Diki sedikit penasaran.
"Bukan proyek laaah... Tapi jalan pintas buat dapetin duit Ki!"
"Hah? Jalan pintas? Maksud lo?" semakin penasaran Pak Diki.
"Iya, jalan pintas. Pokoknya lo bisa dapetin duit sebanyak apapun yang lo mau."
"Apaan sih maksud lo San? Gak ngerti gue..."
"Halaaah... Pantesan aja hidup lo susah terus Ki!"
"Ya kasih tau gue dong..."
"Hahaha... Kalo emang lo mau tau, gue tunggu di rumah. Nanti aja, gak harus buru-buru, kalo lo udah ada waktu luang. Oke?"
"Oke deh..."
"Pokoknya, nanti lo bakal bisa punya banyak duit. Bisa bayar semua utang-utang lo ke gue, bayar utang-utang istri lo, bisa beliin apapun buat anak lo. Dijamin hidup lo bakal berubah total."
Mendengar penjelasan Hasan itu, membuat Pak Diki semakin penasaran dan tergiur dengan tawaran "jalan pintas" yang dimaksud.
Akhirnya, tak banyak kata lagi, Hasan kembali mengontrol seluruh area pekerjaan yang dikerjakan oleh pekerja.
Dan juga Pak Diki kembali melanjutkan bagian pekerjaannya...
Dengan isi kepala yang kali ini seperti mendapat harapan besar dari penjelasan sang mandor...
😆😆 lanjut kak👍👍👍